
Tiara masih setia menemani suaminya saat ini di rumah sakit, kebetulan Galen masih harus dirawat satu malam lagi disana karena siang tadi kondisinya kembali memburuk setelah sempat dinyatakan baik-baik saja dan diperbolehkan pulang. Galen pun menurut saja, meski sebenarnya ia sudah tidak tahan berada disana dan ingin segera pulang ke rumah berkumpul bersama keluarganya kembali.
Tampak Tiara dengan telaten menyuapi suaminya itu sambil sesekali memberikan senyum manisnya saat digoda oleh pria itu, Galen memang sulit mengendalikan diri saat sudah berdua bersama Tiara dalam sebuah ruangan seperti itu. Jika tidak dalam kondisi sakit, mungkin saja Galen sudah meminta jatahnya pada Tiara yang sudah lama tak ia dapatkan semenjak banyaknya kesibukan.
"Sayang, kapan sih aku bisa pulang ke rumah? Jujur loh aku udah gak tahan pengen bikin anak sama kamu lagi, junior aku ini loh meronta-ronta mulu dari kemarin!" ucap Galen lirih.
Tiara menggeleng sambil tersenyum, "Kamu apa sih, mas? Bisa-bisanya kamu sempat bahas begituan disini? Kamu kan lagi sakit, mending kamu fokus dulu sama kesembuhan kamu sekarang dan jangan bahas yang lain!" ucapnya.
"Gimana aku bisa fokus? Kamu aja cantik begini sayang, aku jadi makin gak tahan dan pengen serang kamu sekarang juga," kekeh Galen.
"Aih kamu ini, udah ya jangan bahas itu terus! Nih kamu makan lagi, habisin!" pinta Tiara.
Galen mengangguk perlahan, kemudian membuka mulutnya dan menikmati suapan demi suapan yang diberikan sang istri padanya. Senyum di wajahnya mengembang, entah mengapa Galen merasa istrinya itu tampak lebih cantik malam ini dibanding malam-malam biasanya saat ia berada di rumah dan bisa bebas meminta jatah darinya.
"Kenapa kamu bisa secantik ini sih sayang? Aku beneran gak tahan lagi nih," ujar Galen.
"Ya terus aku harus gimana, mas? Gak mungkin kita ngelakuin itu disini, ini rumah sakit dan ada banyak orang!" ucap Tiara.
"Mungkin aja kali, udah yuk kamu naik ke atas sini sama aku!" ucap Galen sambil tersenyum.
"Mas, jangan ngada-ngada deh ah! Sebentar lagi itu mama sama papa bakal datang, kalau mereka lihat dan mergokin kita gimana?" ucap Tiara.
"Biarin aja, aku yakin mama papa pasti maklumin kok. Ayolah sayang, aku udah gak kuat nih!" ucap Galen terus membujuk istrinya.
Tiara tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Gak bisa mas, maaf ya? Nih mending kamu abisin dulu makanan kamu sayang!" ucapnya pelan.
"Ah parah kamu mah! Okay, sekarang kamu bisa tolak aku. Tapi, jangan harap nanti begitu aku pulang kamu bisa lepas lagi!" ucap Galen tegas.
__ADS_1
"Iya iya, nanti di rumah mah sepuas kamu deh," ucap Tiara pasrah saja.
Galen terkekeh mendengarnya, lalu Tiara kembali menyuapi suaminya itu sampai makanannya habis tak bersisa. Tampak Galen memang begitu semangat untuk segera bisa sembuh dan kembali ke rumahnya, karena ia ingin menikmati tubuh sang istri yang sudah lama tidak dapat ia rasakan itu.
"Sayang, kalau gak bisa anu-anu sekarang, minimal cium aku dong!" pinta Galen.
"Hah??" Tiara membelalakkan matanya mendengar permintaan Galen, namun karena kasihan akhirnya Tiara menuruti kemauan suaminya itu dan bergerak mendekat ke arah ranjang.
"Dasar suami mesum!" ejek Tiara sesaat sebelum menyatukan bibir mereka.
Ceklek
"Sayang?" tiba-tiba saja, pintu kamar itu terbuka dan membuat sepasang suami-istri yang tengah dimadu kasih itu terkejut bukan main dan spontan menyudahi aksi mereka karena kehadiran dua orang tua Galen disana.
"Mama, papa?" ucap Tiara dan Galen bersamaan dengan nada panik.
•
•
"Tadi kamu kan katanya digangguin preman, terus kenapa kamu gak kasih kabar ke aku? Padahal aku udah coba telpon kamu berkali-kali loh, kasih pesan chat juga udah," ucap Libra.
"Ya itu dia om, awalnya hp aku dijambret sama orang di jalan. Terus baru abis itu malah aku ketemu sama empat orang cowok yang ternyata mau godain aku, untung aja ada kak Seno datang tolong aku. Walau dia harus kena pukulan juga," jelas Ciara.
"Hadeh, bisa gak gausah bawa-bawa cowok itu? Ceritain aja tentang si premannya, jangan bahas soal Seno di depan aku! Ngerti gak sih kamu Ciara?!" ucap Libra dengan tegas.
"Hah? Kan emang bener om, kak Seno itu udah tolongin aku," ujar Ciara.
__ADS_1
Libra yang kesal langsung mencengkram rahang Ciara dan memajukan wajahnya, saat itu juga Ciara terbelalak karena cemas dengan apa yang ingin dilakukan pamannya itu selanjutnya. Kondisi mereka saat ini saling bertatapan dari jarak yang amat dekat, tentu saja hal itu membuat jantung Ciara berdegup kencang tak karuan dan benar-benar gugup.
"Om, om mau apa?" tanya Ciara dengan nada ketakutan.
Semakin lama wajah pamannya itu semakin mendekat, Ciara yang tak tahu harus apa akhirnya memilih pasrah dan memejamkan matanya seolah tahu apa yang hendak dilakukan pria itu padanya. Namun, suatu hal yang tidak dipikirkan olehnya justru terjadi. Ya Libra ternyata hanya mengusap rambut gadis itu dan membuat sang empu bingung.
"Kamu ngapain tutup mata segala? Emang ngiranya aku mau apain kamu, hm? Ciara Ciara, masih kecil udah mesum aja sih!" goda Libra.
Ciara sontak membuka matanya dan langsung berpaling karena malu, "Om apaan sih ih! Gak lucu tau kayak gitu!" ucapnya kesal.
"Apanya? Kamu kepengen banget ya dicium sama aku?" ucap Libra terus menggodanya.
"Ah tau ah, lepasin aku om! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" pinta Ciara.
"Nanti dulu," Libra kembali menahan pergerakan Ciara dan fokus menatap wajah gadis itu dari jarak yang sama.
Cup!
Kali ini Libra benar-benar melakukannya, ya pria itu menempelkan bibirnya sekilas pada bibir mungil sang ponakan tanpa melakukan gerakan apapun lagi. Saat itu juga Ciara terkejut, matanya terbuka lebar menatap wajah sang paman seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Libra sebenarnya ingin meneruskan aksinya ke arah yang lebih serius, namun ia tahu itu salah dan tidak boleh dilakukan mengingat Ciara adalah keponakannya. Libra juga tak ingin merusak gadis itu, apa yang dia lakukan tadi semata-mata hanya karena ingin mengerjai Ciara saja.
"Itu kan yang kamu mau, hm?" ucap Libra lirih tepat di dekat telinga Ciara, yang tentunya langsung membuat jantung gadis itu berdebar-debar dan berdegup sangat kencang.
Ciara sampai tidak dapat berbicara apa-apa selama beberapa detik hanya karena kecupan singkat yang diberikan pamannya, oleh karena itu Libra berpikir bahwa barusan tadi adalah ciuman pertama Ciara dan tentu Libra akan sangat menyesal jika memang benar itulah kenyataannya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...