
Nindi pulang ke rumahnya dengan taksi yang ia kenakan, saat itu juga ia terkejut melihat suaminya bersama Rifka tengah membereskan barang-barang milik mereka dan menaruhnya ke dalam bagasi mobil. Sontak Nindi yang penasaran langsung mendekati mereka dengan wajah bingungnya, Nindi juga heran apa sebenarnya yang hendak dilakukan Leon maupun Rifka saat ini.
Baru saja Nindi hendak meminta maaf pada Leon dan menyesal atas perbuatannya selama ini yang selalu mengabaikan pria itu, tetapi semua terlambat lantaran sekarang ia melihat Leon tengah menaruh semua barang miliknya ke dalam mobil dan seolah hendak pergi meninggalkannya. Maka dari itu, Nindi langsung merasa sedih dan mencoba menghalangi niat pria itu untuk pergi dari sana.
"Mas, ini ada apa? Ka-kamu mau kemana sama mbak Rifka? Mas, tolong maafin aku! Kamu jangan pergi dong mas!" rengek Nindi.
Leon dan Rifka kompak menoleh ke arah Nindi, keduanya sama-sama terlihat memendam amarah yang sedari tadi mereka rasakan karena kelakuan Nindi yang makin hari makin tidak beres. Leon pun menutup bagasinya, lalu beralih mendekati istrinya itu dan menatapnya tajam. Sedangkan Rifka, kini wanita itu masuk ke dalam rumah untuk mengambil sisa barang-barangnya dan juga Daiva.
"Darimana aja kamu? Belakangan ini kamu sering banget gak pulang loh Nindi, apa kamu benar-benar udah gak anggap aku sebagai suami kamu ya?" sentak Leon.
"Mas, dengerin aku dulu! Semalam itu kan aku udah bilang sama kamu, aku ada janji sama teman aku. Ya aku sekalian nginep disana," ucap Nindi.
"Bohong! Kamu kira aku anak bayi umur lima tahun yang gampang kamu bohongin? Enggak Nindi, aku sudah dewasa. Bahkan, aku lebih tua dari kamu. Aku tahu kalau kamu bukan pergi temuin teman kamu, aku kecewa sama kamu Nindi!" kesal Leon.
"Ta-tapi mas, ini kamu mau pergi kemana? Kenapa mendadak begini?" tanya Nindi.
"Enggak mendadak, aku udah rencanain ini dari kemarin-kemarin. Cuma karena kamu selalu gak perduli dan gak mau tahu tentang aku, jadinya kamu gak tahu sekarang!" ketus Leon.
"Hah??" Nindi tercengang tak mengerti.
Leon menggelengkan saja kepalanya, ia sudah muak dengan kelakuan istrinya yang semakin kurang ajar dan berlaku seenaknya itu. Selama ini Leon selalu berusaha sabar menghadapi tingkah Nindi yang kekanakan, tetapi setelah ia tahu bahwa Nindi menjalin hubungan dengan lelaki lain di luar sana, maka Leon tidak bisa menahan dirinya lagi.
Apalagi, semalam jelas-jelas Leon melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Nindi memasuki bar tempat orang-orang hidung belang berkumpul. Leon juga mendapat kabar dari seorang temannya yang bekerja sebagai bartender disana, bahwa Nindi sudah seringkali datang ke bar itu dan selalu keluar dalam keadaan mabuk bersama banyak pria.
Leon benar-benar sedih, ia juga kecewa karena ternyata wanita yang ia cintai itu telah tega mengkhianatinya. Kini Leon bertekad untuk pergi saja dari rumah itu, tak lupa tentu ia akan mengikuti kemauan Nindi untuk bercerai dan berpisah. Selain itu, Leon pun akan membawa Daiva ikut bersamanya karena ia merasa Nindi tidak mungkin mau dan bisa mengurus putrinya.
Rifka pun kembali bersama Daiva, saat itu juga Nindi merasa bingung dan semakin heran. Nindi belum tahu jika Leon akan membawa serta Daiva dalam rencana perginya kali ini, tapi wanita itu sudah memiliki rasa curiga padanya. Tidak mungkin Leon meminta Rifka mengambil Daiva, jika pria itu tidak mengajak Daiva untuk pergi bersamanya dari sana.
"Mas, ini apa-apaan? Kenapa kamu mau bawa Daiva juga? Dia itu anak aku mas, gimana bisa aku hidup tanpa dia?" tanya Nindi penasaran.
Leon melirik wajah istrinya dengan mata tajam, ia heran dengan sikap Nindi saat ini yang seolah-olah tidak bisa berpisah dengan Daiva. Padahal, dari kemarin saja Nindi selalu tidak perduli pada Daiva dan malah lebih sering pergi ke luar rumah. Leon tentu saja semakin emosi, karena kelakuan Nindi benar-benar tidak bisa dimaafkan.
"Daiva memang anak kamu, tapi kamu tidak pernah menunjukkan sikap yang baik sebagai seorang ibu untuk Daiva. Selama ini kemana aja kamu, ha? Apa kamu pernah urus Daiva?" sentak Leon.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Nindi, wanita itu sadar betul bahwa selama ia telah lalai dalam mengurus Daiva. Seharusnya ia memang lebih mementingkan Daiva dari apapun, tetapi ia malah terus saja meninggalkan rumah demi bisa menemui Rama yang ternyata orang jahat dan sudah tega menjualnya semalam.
Kali ini Nindi terisak, dengan perlahan ia merendahkan tubuhnya dan berlutut di hadapan sang suami sambil mendongak menatap wajahnya. Kemudian, satu tangannya menyentuh kaki Leon seolah meminta ampunan dari pria itu. Nindi sungguh menyesali semua perbuatan dan kelakuannya selama ini, ia tidak tahu jika semua itu akan berakibat fatal pada dirinya sendiri.
"Aku minta maaf mas, aku mohon maafkan aku! Beri aku kesempatan sekali lagi mas, aku janji akan jadi istri dan ibu yang baik untuk Daiva!" rengek Nindi.
"Kenapa Nindi? Bukannya ini yang kamu mau, kamu selalu minta cerai kan dari aku? Sekarang keputusan aku sudah bulat, aku akan menceraikan kamu dan bawa Daiva sama aku!" tegas Leon.
Deg
__ADS_1
Betapa terkejutnya Nindi saat ini, rupanya Leon begitu emosi dan sampai tidak bisa mendengarkan lagi kata-kata maaf darinya. Leon sudah terlanjur kecewa dengan sikap Nindi, pria itu tidak bisa lagi menahan diri dan terpaksa mengambil keputusan untuk menceraikan Nindi demi bisa memberi pelajaran kepada wanita tersebut.
Rifka juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia sadar kalau Nindi salah dalam hal ini dan Nindi pantas mendapat semua itu. Namun, sebagai seseorang yang sudah sangat dekat dengan Nindi, maka Rifka juga turut merasakan kesedihan yang dialami Nindi dan jujur Rifka pun tidak tega melihat Nindi menangis seperti itu di depan suaminya.
"Nindi, sudah kamu tidak usah menangisi semua ini! Apa yang kamu tuai sekarang, itu berdasarkan apa yang kamu tanam sebelumnya. Jadi, kamu harus bisa menerima semuanya!" ucap Rifka.
Hanya tangis yang bisa dilakukan Nindi saat ini, semua yang dikatakan Rifka memang benar kalau masalah yang ia hadapi sekarang semata-mata karena kelakuan buruknya yang ia lakukan kepada Leon maupun Daiva. Nindi benar-benar menyesal, andai saja ia tidak melakukan itu maka pasti Leon tidak akan semarah ini padanya.
"Sudah, ayo kita pergi Rifka! Saya akan bawa kamu ikut dengan kami, karena cuma kamu yang bisa diandalkan untuk mengurus Daiva!" ucap Leon.
Lagi-lagi Nindi dibuat kaget dengan keputusan yang diambil oleh Leon, pria itu lebih memilih mengajak Rifka untuk ikut bersamanya dibanding Nindi yang jelas-jelas adalah istrinya. Sontak Nindi bangkit lalu menyeka air matanya, ia terus memohon-mohon pada Leon sekaligus meminta Leon agar tidak pergi meninggalkannya.
•
•
Sementara itu, Libra tengah membawa Gita ke dalam ruang UGD bersama para perawat yang membantunya mendorong brankar itu. Gita tampak membuka matanya, menatap ke arah Libra dan mencoba untuk berbicara padanya. Libra sontak mendekat, lalu menanyakan seperti apa kondisi Gita saat ini setelah ditabrak oleh orang tak dikenal.
Gita tampak sangat lemas dan tidak bisa banyak bergerak, apalagi tubuhnya sudah banyak mengeluarkan darah akibat tabrakan yang terjadi tadi. Libra benar-benar khawatir, karena Gita semakin mengkhawatirkan kondisinya dan sungguh membuatnya cemas. Biar bagaimanapun, Libra tidak ingin kehilangan sahabat sebaik Gita.
"Iya Gita, ada apa? Apa yang kamu inginkan?" tanya Libra sengaja memberi kesempatan bagi Gita untuk bicara lebih dulu dan menghentikan langkahnya.
"A-aku cuma mau bicara sesuatu sama kamu, sebelum ajal datang menjemput aku sekarang. Aku yakin waktu aku sebentar lagi, jadi aku harus katakan semua ini ke kamu!" ucap Gita lirih.
Gita menggeleng perlahan, "Gausah repot-repot Libra, aku cukup minta kamu buat jaga Ciara aja! Kamu harus bisa lindungi dia dari Syifa, jaga dia sebaik mungkin ya Libra!" ucapnya.
"Itu pasti, sebagai suami aku akan jaga istri aku dengan baik. Lalu, cuma itu yang mau kamu bicarakan sama aku?" ucap Libra.
Gita terdiam sesaat dan memikirkan apakah mungkin ia harus menceritakan semua rasa yang ia pendam selama ini kepada Libra, karena jujur Gita ragu untuk mengatakannya mengingat Libra telah memiliki istri. Namun, dalam kondisi seperti sekarang tentunya Gita tidak dapat berbuat apapun selain mengatakan yang sejujurnya.
"Sebenarnya selama ini aku jatuh cinta sama kamu, Libra. Aku ngerasain itu sejak lama, tapi aku menghargai status kamu yang sudah beristri. Aku cuma bisa memendam rasa itu, tanpa bisa memiliki kamu seutuhnya!" ucap Gita dengan jujur.
Deg
Betapa syoknya Libra ketika mendengar ucapan Gita barusan, ia baru tahu kalau ternyata Gita memang benar memiliki rasa padanya. Kini Libra pun semakin merasa kasihan pada Gita, apalagi melihat kondisi gadis itu yang semakin memburuk dan banyak darah keluar dari tubuhnya.
"Uhuk uhuk uhuk, maafin aku Libra! Aku seharusnya gak bicara begini sama kamu, a-aku...."
"Sudah Gita, kamu jangan banyak bicara lagi! Ayo kamu harus diperiksa di UGD, kamu pasti bisa selamat!" ucap Libra menyela.
Namun, Gita menahan lengan Libra dengan telapak tangannya dan mencengkram seraya menggeleng perlahan. Saat itu juga Gita tersenyum, sebelum sedetik kemudian Gita terpejam dan cengkeramannya pada lengan pria itu terlepas sampai membuat sang empu terkejut.
"Hah? Gita, Git sadar Git! Kamu harus bisa tahan, Gita!" ucap Libra cemas.
__ADS_1
Lelaki itu coba mengecek denyut nadi Gita saat ini, dan ternyata sudah tidak bergerak lagi sehingga Gita dapat dipastikan telah tiada. Libra pun sungguh bersedih, ia menangis sejadi-jadinya dan menyesal karena gagal dalam menyelamatkan Gita. Seharusnya ini semua tak terjadi, maka dari itu Libra berniat mencari siapa orang yang sudah menabrak Gita dengan sengaja di luar tadi.
"Maafin saya Gita, saya gagal selamatin kamu! Saya janji, saya akan usut semuanya sampai tuntas dan tangkap orang yang sudah melakukan ini ke kamu!" gumam Libra dalam hatinya.
•
•
Singkat cerita, Libra dan Ciara tengah menghadiri acara pemakaman Gita yang telah meninggal dunia dalam keadaan mengerikan itu. Keduanya pun tampak bersedih saat ini, terutama Libra yang memang melihat langsung bagaimana kejadian tabrakan di rumah sakit tadi. Libra menyesal, karena ia gagal dalam menyelamatkan sahabatnya itu.
Ciara pun terus menenangkan suaminya, meminta Libra agar ikhlas dan tidak terus bersedih. Ia paham betul apa yang dirasakan Libra saat ini, karena kehilangan sosok sahabat terdekat adalah suatu hal yang menyedihkan. Meski, dahulu Ciara sempat merasa cemburu dengan kedekatan antara Libra dan juga Gita yang terlalu berlebihan itu.
"Mas, sabar ya! Aku yakin Gita pasti tenang di atas sana sekarang, kamu gak perlu sedih dan menyalahkan diri kamu sendiri sekarang!" ucap Ciara membujuknya.
Libra mengangguk perlahan, mengiyakan ucapan istrinya itu dan coba menyeka air mata yang keluar di wajahnya. Libra tidak mau juga terus larut dalam kesedihan, apalagi sekarang ada Ciara di sampingnya yang bisa saja merasa cemburu. Libra pun ingat betul pesan Gita tadi, bahwa ia harus bisa menjaga dan melindungi Ciara.
"Yaudah, semuanya kan udah selesai sekarang. Gimana kalau kita pulang? Tapi, kita pamit dulu sama orang tua Gita!" ucap Libra.
"Iya mas."
Setelahnya, mereka sama-sama mendekati kedua orang tua Gita yang tengah menangis di depan batu nisan makam putrinya itu. Baik Libra maupun Ciara, sama-sama merasa tak tega melihat kesedihan yang dialami kedua orang tua itu. Apalagi, Libra cukup mengenal keduanya karena beberapa kali ayah serta ibu Gita itu sering datang ke rumah sakit.
"Permisi om, tante! Saya dan istri saya mau pamit pulang, sekali lagi kami turut berdukacita ya om! Saya juga berharap, om sama tante bisa mengikhlaskan kepergian Gita!" ucap Libra.
Sang ayah dari Gita menoleh ke arahnya, ia bangkit dan menghadap ke tubuh Libra dengan tatapan tajam. Sedangkan ibu Gita masih terus menangis disana sembari memeluk papan nisan, sepertinya wanita itu amat merasa kehilangan atas kepergian putri tercintanya.
"Libra, kamu tahu siapa yang sudah menyebabkan Gita seperti ini? Katakan Libra!" ucap sang ayah.
"Eee saya belum tahu sih om, tapi saya janji kalau saya akan cari tahu semuanya. Saya akan cek cctv di rumah sakit, lalu mencari siapa pelaku yang membawa mobil itu!" ucap Libra.
"Iya Libra, kamu harus lakukan itu! Saya tidak akan pernah bisa tenang, sebelum pelaku yang sudah menabrak Gita ditangkap!" geram sang ayah.
"Itu benar!"
Tiba-tiba saja, sang ibu pun turut bangkit dan berdiri di dekat mereka. Tampak wanita itu masih terus menangis mengeluarkan air mata, namun saat ini sepertinya ia sangat emosi dan ingin pelaku yang sudah menyebabkan anaknya meninggal itu tertangkap dan dihukum seberat-beratnya.
"Kamu harus bisa tangkap orang itu, Libra! Tante percaya sama kamu, tolong bantu kami!" ucap sang ibu dengan tegas.
Libra hanya bisa menganggukkan kepalanya, tak mungkin ia menolak permintaan dari kedua orang tua sahabatnya yang sedang berduka itu. Apalagi, Libra pun juga belum bisa menerima kepergian Gita yang menurutnya terlalu cepat dan mengerikan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1