
Kini Cyra dan Rila tengah berbincang cukup serius mengenai siapa sosok Gio sebenarnya, Cyra tentu masih amat emosi dengan kelakuan sohibnya itu yang sudah keterlaluan. Apalagi, dengan sengaja Rila hendak menjual Cyra dan memberikan gadis itu kepada pria asing kaya raya. Tentu saja Cyra tak terima, meski sekarang ini Cyra berhasil selamat dari cengkraman maut sosok pria mesum alias Gio itu.
Rila kini masih berusaha menjelaskan pada Cyra bahwa ini semua bukan murni kesalahannya, ya Rila tentu ketakutan jika Cyra akan membawanya ke kantor polisi. Bagaimanapun, saat ini Rila masih terduduk di bangku sekolah dan tidak mungkin ia mau masuk ke penjara. Untuk itu, Rila berusaha meyakinkan Cyra kalau apa yang terjadi pada gadis itu bukan karena kesalahan Rila semata.
"Kamu harus percaya sama aku, Cyra! Aku tahu kamu pasti benci banget sama aku karena aku udah jebak kamu disini, tapi aku ngelakuin itu atas perintah dari Celo. Aku sebenarnya gak mau, tapi dia ancam aku loh Cyra," ucap Rila.
Deg
Cyra terkejut mendengarnya, ia menggeleng tak percaya begitu saja pada apa yang dikatakan Rila. Ia yakin jika Rila sedang berbohong kali ini dan mencari alibi, namun Rila terus saja berkata bahwa ini semua adalah rencana dari Celo yang memang dikenal sangat membenci Cyra dan tidak menyukai gadis itu karena kalah populer.
"Kamu gausah bawa-bawa orang lain deh Rila, kamu akui aja kalau ini semua ulah kamu! Kamu kan yang emang punya niat buat jual aku?" sentak Cyra.
"Iya Cyra, emang aku yang jual kamu ke om Gio. Tapi aku terpaksa, aku ngelakuin ini semua karena ancaman Celo. Dia itu mau menyingkirkan kamu dari sekolah," ucap Rila.
"Kamu pikir aku bakal percaya gitu aja sama kamu, ha? Mana buktinya kalau kamu emang diancam sama Celo?" tanya Cyra.
Rila terdiam sesaat dan terlihat kebingungan, ia seolah tengah mencari cara untuk bisa meyakinkan Cyra bahwa apa yang ia katakan tadi adalah benar dan ia tidak mengada-ada. Meski begitu, sikap yang ditunjukkan Rila sekarang tentunya semakin membuat Cyra tak mempercayai wanita itu.
"A-aku gak punya buktinya sekarang, karena dia itu ancam aku secara langsung. Tapi, nanti aku bakal tunjukin ke kamu sewaktu aku ketemu sama Celo. Kamu tunggu aja ya Cyra!" ucap Rila kekeuh.
Cyra dibuat bingung kali ini, karena dari cara bicaranya Rila memang terlihat seperti tidak sedang membohonginya. Namun, entah mengapa Cyra masih merasa ragu dan tidak tahu harus percaya pada Rila atau tidak. Apalagi, baru saja ia mendapat info yang sangat mengejutkan kala Rila menjual dirinya kepada pria asing.
"Aku mohon sama kamu Cyra, kasih aku kesempatan untuk buktikan semuanya! Lagipula, kita bisa cepat pergi dari sini sebelum om Gio kembali. Dengan begitu, kamu akan aman Cyra dan om Gio gak bakal bisa dapetin kamu," ucap Rila.
"Gimana kalau orang itu masih berusaha buat cari aku nanti, ha?" tanya Cyra.
"Aku akan urus semuanya, asalkan kamu mau maafkan aku dan gak bawa aku ke kantor polisi. Please Cyra, dengerin aku ya! Cuma aku yang bisa bantu kamu loh," ucap Rila merengek.
"Hm, okay aku kasih kamu kesempatan satu kali lagi. Sekarang juga aku minta kamu buat antar aku pergi dari sini!" ucap Cyra.
__ADS_1
"I-i-iya Cyra, ayo cepat kita pergi!" ucap Rila.
Baru saja mereka hendak melangkah, tanpa diduga Gio justru muncul tepat di hadapan mereka dan menghalangi jalan kedua gadis itu sambil tersenyum menyeringai menatap keduanya.
"Mau kemana kalian, hm?" tegur Gio.
•
•
Disisi lain, Tiara telah berdiri di depan ruangan pribadi bosnya dengan membawa sebuah surat di tangannya. Kali ini tekadnya sudah bulat, ia akan mengundurkan diri dari pekerjaan itu karena tak ingin terjadi masalah yang lebih besar nantinya. Apalagi, ia tahu betul jika Adrian menyukainya dan terus saja memaksanya untuk mau menerima cinta pria yang sudah beristri itu.
Akhirnya Tiara memutuskan mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk, Adrian yang mendengar suara itu segera mempersilahkan Tiara masuk ke dalam ruangannya. Tanpa basa-basi lagi, Tiara pun segera membuka pintu dan melangkah masuk menemui Adrian yang ada di dalam sana.
"Permisi pak," ucap Tiara dengan ramah.
"Apa yang mau kamu bicarakan Tiara?" tanya Adrian sesaat setelah Tiara terduduk di hadapannya.
Wanita itu terlihat bingung dan terus menunduk, sebelum kemudian ia meletakkan surat di tangannya itu tepat ke atas meja dekat Adrian berada. Saat itu juga Adrian terbelalak, matanya seolah bertanya apa isi surat tersebut. Tiara pun mencoba menenangkan diri, ia ingin semua masalahnya dengan pria itu selesai saat ini juga.
"Itu apa Tiara? Surat apa yang kamu kasih ke saya, hm?" tanya Adrian dengan wajah bingungnya.
"Ini surat pengunduran diri saya, pak. Seperti yang saya bilang waktu itu ke bapak, saya sudah tidak sanggup untuk bekerja disini lagi sebagai sekretaris bapak," jelas Tiara.
Deg
Betapa syoknya Adrian ketika mendengar penjelasan dari Tiara barusan, ia spontan berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Tiara. Tentu Adrian tak terima begitu saja dengan perkataan Tiara yang ingin mengundurkan diri dari sana, karena ia masih membutuhkan tenaga wanita itu untuk memajukan perusahaannya kali ini.
"Kamu apa-apaan sih Tiara? Saya gak terima ya, surat ini saya tolak! Kamu gak bisa resign dari sini, kamu itu karyawan terbaik saya, Tiara!" sentak Adrian.
__ADS_1
"Maaf pak, tapi saya rasa itu bukan suatu masalah buat bapak! Saya yakin, banyak orang yang mau bekerja di perusahaan ini kok!" ucap Tiara.
"Ck, bukan itu masalahnya Tiara! Memang banyak yang mau bekerja disini, tapi secara kualitas tentu saja jarang orang yang bisa seperti kamu. Lagipula, saya cinta sama kamu dan saya gak akan melepaskan kamu Tiara!" ucap Adrian tegas.
"Tidak bisa pak, saya akan tetap pergi dari sini. Terserah bapak mau menerima surat ini atau tidak, intinya sekarang saya sudah bukan karyawan di perusahaan ini lagi," ucap Tiara.
"Gak bisa begitu Tiara, kamu mau saya tuntut atas pengunduran sepihak ini?" ancam Adrian.
Tiara benar-benar tak menyangka jika Adrian akan bersikap seperti itu padanya, terlihat jelas Adrian memang tidak main-main kali ini. Ya Adrian sengaja mengatakan itu pada Tiara untuk bisa menahan wanita itu agar tetap berada disana, karena hanya Tiara yang ia inginkan saat ini.
"Bagaimana Tiara, kamu masih mau coba-coba resign dari sini?" tanya Adrian sembari melangkah ke dekat wanita itu.
Tiara terdiam saja kali ini, namun tiba-tiba Adrian mendekat dan sedikit membungkuk ke arahnya. Pria itu menarik dagunya perlahan, lalu mengecup singkat bibir ranum sang sekretaris. Tiara melotot lebar dibuatnya, reflek ia menjauhkan tangan Adrian dari dagunya dan menatap tajam wajahnya.
"Jangan kurang ajar ya pak!" sentak Tiara.
"Kenapa? Saya cuma mau mencium wanita yang saya cintai, apa itu salah? Hari ini kita akan mengulangi kejadian waktu itu Tiara, kamu mau kan?" goda Afrian.
"Bapak bicara apa sih—hmmphh..." belum sempat protes, mulut Tiara sudah lebih dulu dibungkam dengan sebuah ciuman panas oleh Adrian.
Pria itu terus menekan tengkuk sang sekretaris untuk memperdalam ciuman mereka, tanpa sadar jika seseorang di luar sana sedang berdiri dan membuka pintu ruangan itu secara tiba-tiba sampai membuatnya amat syok.
Ceklek
"Mas Rian!" teriak seorang wanita, yang tidak lain adalah Salma.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1