Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 55. Hamil


__ADS_3

Hari sudah malam, namun Ciara begitu cemas lantaran hingga kini pamannya tak kunjung pulang ke rumah. Padahal tak biasanya Libra seperti ini, bahkan Ciara juga sudah berupaya menghubungi nomor Libra, tetapi tidak bisa karena ponsel pria itu memang sengaja dimatikan. Ciara pun bingung dan heran, ia tak tahu dimana pamannya dan sedang apa dia sampai tidak bisa dihubungi seperti ini.


Gadis itu juga sulit untuk fokus menyantap makanan yang sudah tersedia di meja, sebab pikirannya terus mengarah ke sang paman yang entah ada dimana saat ini. Ciara khawatir terjadi sesuatu pada Libra di luar sana, karena tak biasanya Libra belum pulang ke rumah malam-malam begini. Bahkan kalau diingat, mungkin Libra belum pernah bepergian di malam hari dan selalu menjadi anak rumahan.


"Duh, om Libra kemana ya? Kok sampai sekarang belum pulang juga sih? Gak tahu apa kalau aku disini cemas nungguin dia? Mana handphone nya gak aktif, terus gimana coba cara aku buat hubungin dia sekarang?" gumam Ciara lirih.


Melihat majikannya yang tampak gusar dan tidak memakan makanan yang sudah ia sajikan, bik Vita selaku pekerja di rumah itu pun bergerak menghampiri Ciara untuk memastikan semuanya baik-baik saja atau ada masalah. Bik Vita juga yakin kalau Ciara tengah mencemaskan sesuatu, sebab sedari sore gadis itu selalu saja melamun dan tidak bisa diam seperti menunggu seseorang.


"Eee non, non Ciara kenapa? Kok kayak lagi cemas gitu?" tanya Vita menegur gadis itu.


"Eh bibik, gak kok ini aku cuma lagi nungguin om Libra pulang. Udah sampai selarut ini, tapi dia belum pulang-pulang juga. Kira-kira bibik tahu gak om Libra pergi kemana?" ucap Ciara.


"Ohh, bibik sih juga kurang tahu ya non. Soalnya abis anterin non Ciara ke sekolah tadi pagi, den Libra itu gak balik-balik lagi kesini non," ucap Vita.


"Yang bener bik? Berarti lama banget dong om Libra gak pulang? Ih kemana sih dia? Bikin cemas aja deh!" ujar Ciara.


Bik Vita tersenyum mendengarnya, "Sabar aja non! Mungkin den Libra lagi ada urusan penting di luar yang gak bisa ditinggal, non sekarang makan aja dulu sampai habis ya!" ucapnya.


"Gimana aku bisa makan, bik? Pikiran aku aja gak tenang mikirin om Libra ada dimana," ucap Ciara.


Senyum bik Vita pun semakin lebar melihat ekspresi Ciara saat ini, tanpa merasa berdosa bik Vita malah merasa jika Ciara sudah mulai perduli dan mungkin jatuh hati kepada Libra, sebab terlihat dari wajah gadis itu yang benar-benar tampak panik saat Libra belum pulang hingga kini. Meski begitu, bik Vita tetap menahan diri tidak mau membahas hal tersebut karena khawatir Ciara akan risih.


"Lah kok bibik malah senyum-senyum gitu sih? Apa bibik gak cemas sama om Libra yang belum pulang?" tanya Ciara keheranan.


"Eh gak gitu non, bibik juga khawatir kok. Ya tapi kan den Libra sudah besar, pasti dia bisa jaga diri non. Mendingan sekarang non Ciara makan aja dulu yang lahap ya!" ucap Vita.


"Gak bisa bik, aku mau cari om Libra aja sampai ketemu!" ucap Ciara memaksa.


Ciara langsung beranjak dari kursinya dan berniat untuk pergi mencari pamannya, akan tetapi bik Vita yang khawatir pun mencoba mencegah gadis itu. Tentu bik Vita tidak mau jika sampai terjadi sesuatu kepada Ciara nantinya, apalagi ia tahu kalau sebelum ini Ciara pernah juga diculik dan membuat semua orang panik serta kerepotan.

__ADS_1


"Eh non, jangan non! Non Ciara disini aja ya sama bibik, nanti pasti den Libra pulang kok!" ujar Vita.


Ciara menggeleng, "Enggak bik, aku khawatir banget sama om Libra dan aku harus cari dia sekarang!" ucapnya kekeuh.


"Oh ternyata kamu cemas banget ya sama saya?"


Gadis itu amat terkejut mendengar suara yang mirip pamannya tiba-tiba muncul di telinganya, ia coba memastikan dengan cara menoleh mencari asal suara. Dan benar saja, Ciara melihat pamannya yang ternyata sudah pulang dan kini tengah melangkah ke arahnya sambil tersenyum lebar. Sontak wajah Ciara berubah merah lantaran ia tak menyangka kalau Libra akan mengetahui semuanya saat ini.




Disisi lain, Galen juga baru menyelesaikan santap malamnya bersama sang istri di rumah. Memang tadi seusai menjemput Ciara di sekolah dan mengantarnya ke rumah Nadira, pria itu langsung kembali pulang karena merasa kasihan pada Tiara juga ditinggal sendiri disana. Oleh sebab itu, Galen pun terpaksa meninggalkan adiknya begitu saja.


Kini Tiara tampak terus tersenyum menatap wajah Galen seolah tengah menyembunyikan sesuatu, sontak Galen pun dibuat penasaran dan coba bertanya langsung pada wanita itu. Namun, Tiara justru hanya diam sambil tersenyum dan tidak mau memberitahu apa-apa pada Galen. Akhirnya Galen terpaksa beranjak dari kursinya, lalu mendekat ke arah istrinya itu dan merangkulnya lembut.


"Sayangku yang cantik, ada apa sih hm? Kenapa kamu senyum-senyum terus kayak gitu? Lagi bahagia banget kayaknya, apa sih yang kamu sembunyiin dari aku sayang?" tanya Galen.


Galen mengernyit tanda heran, "Hah? Emang kamu mau kasih surprise apa sih sayang ke aku? Udah lah kasih tahu sekarang aja, lagian ulang tahun aku kan masih lama loh!" ujarnya penasaran.


"Kamu kepo banget sih mas, sabar dulu dong tunggu waktu yang pas! Aku yakin pasti kamu nanti juga bakal bahagia dengarnya," ucap Tiara.


"Yaudah, kamu kasih tahu dong sayang! Aku udah penasaran banget loh ini, kamu gak kasihan apa sama aku? Gini deh, kalau kamu mau kasih tahu nanti abis ini aku bakal puasin kamu," ucap Galen.


"Ih apa sih? Dasar mesum!" Tiara langsung mencubit lengan suaminya dengan keras karena kesal.


Galen justru tertawa melihat reaksi istrinya, kemudian ia kembali merapatkan tubuh mereka dan bertanya pada wanita itu mengenai apa yang sedang dirahasiakan olehnya. Tiara tersenyum dan menyingkirkan tangan Galen dari pundaknya, lalu wanita itu bangkit dari duduknya dan membuat Galen menatap bingung.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Galen heran.

__ADS_1


"Ayo kita ke kamar, mas! Katanya kamu mau puasin aku," ucap Tiara menggodanya.


"Hah??" Galen tercengang melihatnya.


Setelah itu, Tiara langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Galen masih tidak percaya dengan tingkah istrinya tadi, tanpa berpikir panjang akhirnya Galen memutuskan mengejar sang istri ke dalam kamar karena dia sendiri juga sudah menginginkan hal itu. Galen pun menutup pintu dan tak lupa menguncinya rapat agar tak ada gangguan, lalu ia menghampiri Tiara yang sudah terduduk di pinggir ranjang.


"Sayang, ini kamu beneran mau kasih aku jatah? Aku gak ada maksa kamu loh, kalau kamu gak mau yaudah gak masalah," ucap Galen yang kini duduk di sebelah wanita.


Tiara tersenyum lebar, "Iya mas, tapi sebelum itu aku ada sesuatu buat kamu. Sebentar ya mas?" ucapnya sembari beranjak dari ranjang.


Galen terlihat amat penasaran dibuatnya, terlebih saat Tiara membuka laci dan seolah mengambil sesuatu dari dalam sana. Tiara juga langsung berbalik begitu benda tersebut terambil, wanita itu menyembunyikan benda yang ia ambil tadi di belakang tubuhnya dan berjalan maju mendekati Galen dengan perlahan-lahan.


"Itu apa sayang, kamu ambil apa? Kenapa mesti disembunyiin segala?" tanya Galen penasaran.


"Taraaa!!" wanita itu menunjukkan sesuatu di tangannya dan membuat Galen terheran-heran melihatnya.


Ya Tiara tampak memegang sebuah testpack di tangannya dengan hasil dua garis, sontak Galen langsung tercengang dan bangkit dari duduknya mendekati sang istri. Galen masih tidak percaya dengan apa yang ditunjukkan wanita itu, pasalnya selama ini ia belum tahu kalau istrinya ternyata tengah mengandung anak darinya.


"Ka-kamu hamil sayang? Ini serius?" tanya Galen memastikan sembari mengambil testpack itu dari tangan sang istri.


Tiara mengangguk sambil tersenyum, "Iya mas, ini dia kejutannya," ucapnya santai.


"Hah? Aku benar-benar gak nyangka sayang, ya ampun aku bahagia banget lihatnya! Akhirnya setelah sekian lama, aku bakal jadi ayah juga!" ucap Galen tampak antusias.


"Betul mas, aku juga bahagia banget pas tahu kalau aku hamil. Makanya aku mutusin buat rahasiakan ini dari kamu," ucap Tiara.


"Ah kamu ini ya!" Galen pun menarik tubuh Tiara ke dalam pelukannya, kemudian merebahkannya di atas ranjang dengan posisi terlentang.


Tiara terkekeh saja saat Galen mengusilinya, mereka berdua sama-sama diambang kebahagiaan dan tidak perduli pada apapun lagi. Akhirnya momen itu diakhiri dengan sebuah ciuman panas yang hangat, pertanda betapa bahagianya mereka setelah diberi anugrah dari Tuhan berupa seorang anak.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2