Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 107. Kepergok


__ADS_3

Libra akhirnya berhasil mengejar Ciara, ia cekal lengan wanita itu dari belakang dan membuat sang empu tidak bisa melanjutkan langkahnya. Libra menarik tubuh Ciara, memutarnya seraya menangkup wajah wanita itu dan menyeka air mata yang mengalir disana. Libra benar-benar sedih, ia tak kuat melihat istrinya menangis seperti itu.


Ciara memang merasa kesal dan kecewa dengan hasil tes tersebut, ia tak mengira jika hasilnya akan sesuai dengan ketakutan yang sedari tadi ia rasakan di dalam pikirannya. Ciara sangat sedih kali ini, karena bagaimanapun ia amat mengharapkan kehadiran seorang anak di hidupnya. Pastinya Ciara juga tak mau akan kehilangan orang tercintanya, hanya karena ia tidak bisa memberikan keturunan.


"Sayang, kamu jangan kayak gini dong! Kamu harus tenangin diri kamu, aku gak mau ada yang tahu mengenai masalah kita ini! Aku yakin pasti ada jalan keluarnya sayang, kamu pasti bisa hamil!" ucap Libra membujuk wanita itu.


Ciara menggeleng terisak, "Gimana lagi, om? Ini semua udah nyata, aku gak bisa hamil. Aku mandul om! Aku ini cuma istri yang gak berguna, aku gak pantas jadi istri om!" ucapnya.


"Hey hey, kamu jangan bicara begitu sayang! Semua itu gak bener, aku bahagia kok punya istri kayak kamu! Kamu itu sangat berguna buat aku, dan aku cinta sama kamu!" ucap Libra.


"Enggak om, lepasin aku! Aku ini wanita payah, gak berguna! Gimana bisa aku nyenengin kamu, kalau hamil aja aku gak bisa? Tujuan seseorang menikah itu untuk memiliki keturunan om, lantas gimana kalau aku aja sekarang mandul?" ucap Ciara.


"Itu bukan suatu masalah besar, Ciara. A-aku akan buktikan ke kamu, kalau aku ini setia sama kamu!" bujuk Libra.


Ciara langsung menyingkirkan tangan Libra dari tubuhnya, menatap wajah pria itu dengan serius sembari memperlihatkan betapa sedihnya ia setelah mengetahui bahwa dirinya tidak bisa mengandung. Kini Ciara mendorong tubuh Libra menjauh darinya, ia juga berkata kalau dirinya sedang tak ingin diganggu oleh Libra.


Akhirnya Ciara memutuskan pergi dari sana meninggalkan suaminya, ia melangkah dengan isak tangis yang terus mengaliri pipinya. Meski Ciara tak tahu akan kemana, tetapi ia merasa bahwa saat ini yang ia perlukan hanyalah kesendirian dan ketenangan. Ciara pun menghilang dari pandangan Libra, membuat lelaki itu terlihat panik lalu berniat kembali mengejarnya keluar.


Namun, lengannya tiba-tiba ditahan dari belakang oleh seseorang yang entah siapa. Libra sontak terkejut, apalagi saat ia menoleh dan menemukan sosok Gita tengah berdiri di belakangnya sembari memegang tangannya. Gita tampak tersenyum ke arah pria itu, kemudian menanyakan apa yang terjadi padanya dan juga Ciara.


"Libra, sebentar dulu! Aku penasaran deh, itu Ciara kenapa lari-lari sambil nangis kayak gitu? Kalian ada masalah lagi, ya?" ujar Gita.


Dengan sangat terpaksa, Libra menoleh ke arah Gita dan mengurungkan niatnya mengejar Ciara. Pria itu menyingkirkan tangan Gita dari lengannya, biar gimanapun Libra tidak nyaman jika Gita menyentuh lengannya. Meski Ciara tak melihatnya, tetap saja Libra ingin menjaga hati istrinya itu.


"Gak ada apa-apa kok, biasalah suami-istri kan kadang ribut-ribut kecil. Kamu kalau udah nikah, nanti juga tahu," ucap Libra sambil tersenyum.


"Oh, tapi kayaknya masalah kalian besar deh. Buktinya Ciara sampai nangis begitu, terus dia juga pergi ninggalin kamu kan. Mending kamu jujur deh, siapa tahu aku bisa bantu!" ucap Gita.


Libra menggeleng perlahan, "Maaf Gita, aku gak bisa ceritakan masalah keluarga aku ke orang lain! Sudah ya, permisi!" ucapnya ketus.


Setelah itu, Libra langsung melangkah pergi meninggalkan Gita begitu saja. Tampak Gita merasa heran dengan sikap Libra barusan, ia tahu bahwa pria itu sedang memiliki masalah besar dengan istrinya. Namun, Gita tak tahu apa yang terjadi dan ia sangat prihatin melihat kesedihan di wajah Libra.




Ciara kini telah keluar dari rumah sakit, ia masih terus menangis terisak sembari menyusuri jalan di pinggir trotoar. Ia tak tahu harus pergi kemana saat ini, rasanya ia tidak kuat lagi jika pulang ke rumah dan kembali bertemu dengan Libra. Ia menyesal, lalu merutuki dirinya sendiri karena gagal memberikan keturunan untuk Libra alias suaminya tercinta.


Dikala ia sedang berjalan pelan di sekitar sana, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekatnya dan membunyikan klakson ke arahnya. Ciara pun terkejut, ia menoleh dan menatap heran saat mobil tersebut mendekatinya. Lalu, seseorang turun dari mobil tersebut dan menyapanya. Ciara hanya bisa melongok kali ini, karena orang yang muncul saat ini adalah Seno si pria yang mencintainya.


"Hai Ciara! Kamu ngapain jalan sendirian kayak begini, suami kamu itu mana? Terus, kok kamu nangis begitu sih? Ada masalah?" tanya Seno tampak cemas saat melihat Ciara menangis.


Ciara reflek menyeka air matanya, menggeleng pelan dan mengatakan jika dirinya tidak sedang mengalami masalah. Namun, Seno tahu bahwa wanita itu sedang membohonginya dan menyembunyikan sesuatu darinya. Seno pun ingin jika Ciara bercerita padanya, karena ia paling tidak bisa melihat wanita yang dicintainya menangis.


"Sudahlah Ciara, kamu tidak usah berbohong sama aku! Kamu jujur aja sekarang, kasih tahu aku apa yang terjadi sama kamu!" ucap Seno.


"Kak, aku gak apa-apa kok. Aku cuma lagi butuh tempat untuk sendiri, tenangin pikiran aku. Aku mohon kak, jangan ganggu aku dulu ya sekarang ini!" ucap Ciara.


Seno mengernyitkan dahinya, "Memangnya kamu ada masalah apa Ciara? Kemana suami kamu sekarang, kok dia gak kejar kamu?" tanyanya.

__ADS_1


"Udah deh kak, jangan banyak tanya dulu sekarang! Aku harus pergi jauh dari sini, sebelum om Libra datang dan berhasil temuin aku. Mending sekarang kamu minggir deh, biarin aku lewat!" pinta Ciara.


"Sepertinya masalah kamu berat banget ya, Ciara? Yaudah, biar aku aja yang antar kamu!" ucap Seno.


"Hah??" Ciara sempat tersentak dan melongok lebar mendengar tawaran dari Seno barusan.


Namun, pada akhirnya Ciara menyetujui saran dari Seno tersebut dan mau ikut bersamanya agar bisa pergi dengan cepat. Mereka kini sama-sama naik ke atas mobil, duduk berdampingan dan saling memandang satu sama lain. Jujur Ciara tak ingin berdekatan dengan Seno saat ini, tetapi ia tak memiliki pilihan lain dan terpaksa menerimanya.


"Kita mau kemana nih sekarang?" tanya Seno.


Ciara berpikir sejenak seraya memalingkan wajahnya, ia sendiri pun tak tahu hendak kemana saat ini.


"Umm, jalan aja dulu kak!" ucap Ciara.


"Okay."


Seno menuruti saja permintaan wanitanya itu, ia lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut dan membawa Ciara pergi. Ciara sempat menoleh ke belakang sejenak untuk memastikan Libra tidak mengejarnya, dan ternyata benar suaminya itu memang tidak ada disana.


"Kamu lebih pilih Gita daripada kejar aku, om? Apa karena aku mandul?" batin Ciara.




Malam harinya, Galen terlihat sudah rapih dan seolah hendak pergi keluar. Pria itu kini melangkah keluar kamar, senyum terpampang di bibirnya menandakan ia tidak sabar untuk bertemu sang wanita di luar sana. Entah karena apa, Galen sepertinya sudah sangat kecanduan dengan tubuh Jessica perempuan yang dahulu ia sewa untuk memuaskannya.


Disaat ia hendak meneruskan langkahnya keluar dari rumah miliknya itu, tiba-tiba saja Tiara muncul bersama Askha yang sedang digendong olehnya. Tiara terlihat heran melihat kondisi suaminya saat ini yang begitu rapih dan wangi, karena penasaran Tiara pun mendekat untuk menanyakan pada Galen kemana suaminya itu akan pergi.


"Eee iya sayang, aku ada urusan di luar. Mungkin aku pulangnya juga besok pagi, udah ya aku pergi dulu! Kamu tidur aja sama Askha, gausah tungguin aku!" jawab Galen santai.


"Tapi mas, emangnya kamu mau pergi kemana? Kok wangi banget begini?" tanya Tiara lagi.


"Kan udah aku bilang tadi, aku ada urusan penting. Kamu gak perlu tahu aku kemana, besok kan juga aku pulang kok!" kesal Galen.


"Aku ini istri kamu loh mas, wajar kalau aku mau tahu suami aku kemana!" tegas Tiara.


"Meski begitu, kamu gak berhak buat larang aku pergi Tiara! Udah deh aku buru-buru, jangan ajak aku berdebat!" ucap Galen.


Tiara menggelengkan kepalanya, sikap suaminya itu belakangan ini selalu membuatnya bingung. Apalagi Galen memang sering sekali pergi dan tidak betah berada di rumah, bahkan sekarang pria itu malah ingin keluar disaat hari sudah malam. Tentu Tiara merasa curiga, ia khawatir suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Galen pun berpamitan dengan Askha, ia kecup sejenak pipi putranya itu sebelum kembali melangkah keluar rumah. Galen pergi dengan mobilnya, sedangkan Tiara dan Askha hanya bisa mengamati kepergian lelaki itu tanpa mampu berbuat apa-apa.


Namun, tiba-tiba Tiara kepikiran untuk menghubungi Leon selaku asisten pribadi suaminya. Ya Tiara berencana meminta Leon mengikuti kemana suaminya itu pergi, tentunya agar Tiara bisa tahu apa yang dilakukan Galen saat ini. Sebagai seorang istri, tentunya Tiara tak mau jika Galen melakukan hal yang tidak benar di luaran sana.


📞"Halo Leon! Kamu bisa kan bantu saya sebentar?" ucap Tiara di dalam telpon.


📞"I-i-iya bu Tiara, saya selalu siap kok. Memangnya apa yang bisa saya bantu, bu?" tanya Leon.


📞"Tolong kamu pantau suami saya ya! Dia sekarang baru aja pergi dari rumah, saya tidak tahu dia mau kemana. Tapi, saya curiga dia sedang bermain api di belakang saya!" jelas Tiara.

__ADS_1


📞"Oh begitu ya bu, baik bu akan saya laksanakan dengan segera!" ucap Leon tegas.


📞"Baiklah, terimakasih ya Leon!" ucap Tiara.


📞"Sama-sama, bu."


Tut Tut Tut....


Tiara pun memutus telponnya, ia berharap dengan ini dirinya mampu mengetahui apa yang dilakukan suaminya di luar sana. Perubahan sikap Galen dari lembut menjadi kasar, juga membuatnya semakin curiga jika pria itu memiliki wanita lain di belakangnya. Tapi karena tidak adanya bukti, maka Tiara hanya bisa diam hingga sekarang.




Keesokan paginya, Galen terbangun lebih dulu dan menatap ke sampingnya. Ia tersenyum lebar saat melihat Jessica masih terlelap disana dalam kondisi polos tanpa sehelai benangpun, langsung saja Galen mendekat dan memeluk erat tubuh wanita itu yang semalaman habis ia gempur sampai pukul 3 pagi.


Tak ada rasa cukup baginya, pria itu terus saja meminta nambah meskipun Jessica telah lelah dan tidak bisa melanjutkannya lagi. Galen memang memiliki hasrat yang luar biasa, terlebih setelah ia menikah dengan Tiara. Entah karena apa, tetapi rasanya sekarang ia tak memiliki selera lagi pada istrinya itu sejak mengenal Jessica.


Kini Galen kembali menyentuh tubuh Jessica, menciumnya berkali-kali sampai membuat sang empu melenguh di dalam mimpinya. Ia singkap selimut itu dari tubuh Jessica, membuat matanya membulat lebar melihat keindahan tubuh si wanita yang selalu menggairahkan baginya. Tanpa basa-basi, Galen pun langsung bermain disana.


"Mmhhh mas, kamu apa-apaan sih?" Jessica yang merasa terganggu akhirnya sadar, lalu terkejut saat Galen tengah menyusu di tubuhnya seperti orang yang kehausan.


Jessica pun berusaha bangkit dan menghentikan gerakan Galen, tetapi ia gagal karena Galen sepertinya begitu ingin bermain disana. Jessica meminta Galen berhenti sejenak, karena ia masih merasa lelah akibat permainan semalam yang tiada hentinya. Namun, ya tetap saja Galen tak mau perduli dan terus memainkan benda kenyal itu.


"Galen, tunggu dulu ih! Kamu mesum banget sih masih pagi juga! Aku masih capek ini, aku mau istirahat dulu!" rengek Jessica.


"Sebentar sayang, aku haus nih mau susu kamu. Udah kamu tiduran aja disitu, aku gak akan minta jatah yang lain kok pagi ini! Aku kan juga tahu kamu masih capek sayang," ujar Galen.


"Ish, kamu stress ya? Punyaku belum ada susunya tahu, kandungan aku aja baru beberapa Minggu. Lepas deh mas, udahan ah!" mohon Jessica.


Bukan Galen namanya jika langsung menurut begitu saja, ia dan ayahnya sama-sama memiliki sikap keras kepala serta keinginan yang berlebih terhadap permainan panas. Galen bahkan mencengkram dua tangan Jessica, menahannya di atas kepala supaya wanita itu tidak berontak.


Braakkk


Tiba-tiba saja, pintu kamar itu terbuka paksa dari luar dan membuat keduanya terkejut. Bahkan Galen sampai melepaskan kulumannya, lalu menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Mata keduanya pun terbelalak lebar, saat melihat seorang lelaki berdiri disana.


"Ohh, jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku? Pantas saja kamu selalu gak ada waktu buat aku, ternyata kamu selingkuh sayang!" sentak si pria.


Galen menatap kebingungan pada pria itu, ia tak mengerti apa maksud ucapan pria itu tadi. Apalagi ia juga tidak mengenal siapa lelaki itu, yang dengan sembarangan masuk ke kamar mereka lalu mengucapkan hal yang tidak-tidak.


Galen kini bangkit mendekati pria itu, kondisinya saat ini memang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Sedangkan Jessica tampak menutupi kembali tubuh polosnya, ia diam saja di ranjangnya ketika melihat dua pria itu sedang berhadapan.


"Maksud anda apa? Anda ini siapa?" tanya Galen kebingungan.


"Saya pacarnya Jessica!" jawab lelaki itu dengan lantang sembari menunjuk ke arah Jessica.


Deg


Betapa terkejutnya Galen, ia baru tahu ternyata Jessica memiliki seorang pacar dan selama ini wanita itu menyembunyikannya. Galen pun melirik ke arah Jessica, raut kekesalan terpampang di wajahnya karena ia telah dibohongi oleh wanita itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2