
Dikala dokter Syifa tengah menghadapi masalahnya, pasangan Libra dan Ciara justru saat ini sedang asyik saling bercumbu di dalam kamarnya dan menikmati gairah pagi hari yang mencuat begitu melihat wajah masing-masing saat bangun tadi. Ya sepasang suami-istri itu masih terbaring di atas kasur dengan kondisi bibir saling memagut satu sama lain, tampaknya mereka terlihat begitu bergairah pagi ini dan tak ingin mengakhirinya.
Bukan hanya Libra yang bangun saat ini, tetapi miliknya di bawah sana juga ikut tegang lantaran tubuh Ciara yang begitu menggoda. Rasanya permainan mereka semalam belum cukup, dan Libra ingin kembali mengulangi hal itu bersama istrinya. Setelah tidak lagi bekerja, maka Libra memiliki banyak waktu untuk bisa berdua dengan Ciara dan menghabiskannya dengan bercinta.
"Mmhhh, kita mandi dulu yuk mas! Abis itu kita sarapan bareng, aku capek kalau harus main kayak semalam lagi!" ucap Ciara setelah melepas ciumannya.
Libra tersenyum memandangi wajah istrinya, ia kecupi bertubi-tubi seluruh area wajah sang istri sampai Ciara pun terpejam dibuatnya. Libra memang sangat senang melakukan itu, karena Ciara amat menggemaskan dan pantas untuk dicium olehnya. Bukannya berhenti, Libra justru semakin gencar menciumi pipi serta bibir Ciara seolah tak ingin berhenti melakukannya.
"Gak boleh apa satu ronde lagi sayang? Aku masih kepengen tau, terutama yang di bawah sana juga udah pengen banget nih!" pinta Libra.
"Mas, jangan bandel deh! Emang kamu lupa sama ucapan dokter kemarin? Aku gak boleh terlalu capek, terus kalau mau main juga harus hati-hati. Kamu gak pengen kan terjadi sesuatu sama calon bayi kita?" ucap Ciara sambil tersenyum.
"Hmm, iya sih aku juga takut ada apa-apa sama calon anak kita. Tapi, gimana dong caranya aku bisa bikin yang di bawah sana turun? Kamu mau bantu kan?" goda Libra.
"Ish, ngeselin banget sih kamu! Iya deh iya, sini aku bantu turunin punya kamu!" kesal Ciara.
Libra amat senang mendengarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dalam posisi terlentang bersiap menerima kenikmatan. Sedangkan Ciara tampak bangkit dan mengikat rambutnya, wanita itu perlahan mulai menyentuh serta melepas celana milik suaminya. Hal itu membuat Libra makin tak tahan, seolah ingin segera menikmati sentuhan istrinya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja ponsel milik pria itu berbunyi dan membuat Ciara mengurungkan niatnya. Ciara beralih menuju nakas, lalu mengambil ponsel suaminya dari atas sana. Ia melihat siapa yang menelpon Libra saat ini, dan ternyata ada nama Gita di layar ponselnya. Ciara pun terlihat jengkel, ia menyerahkan saja ponsel itu kepada Libra.
"Nih teman kamu telpon, angkat dulu gih!" suruh Ciara dengan lesu.
Libra mengambil ponselnya, melihat sejenak dan tersenyum karena mengetahui Ciara cemburu setelah Gita menelponnya. Pria itu bangkit, merangkul pundak istrinya kemudian kembali mengecup bibirnya untuk menggoda wanita itu. Ciara hanya tersenyum tipis, lalu meminta Libra segera mengangkat telpon tersebut.
Pria itu menurut, demi kesejahteraan bersama akhirnya Libra mengangkat telpon itu di depan Ciara. Ia ingin Ciara juga mengetahui apa yang dibicarakan dirinya dan Gita saat ini, sehingga Ciara tentunya tidak akan curiga lagi atau merasa cemas. Ya karena memang hubungan Libra dan Gita hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih.
📞"Halo Gita! Ada apa kamu telpon saya? Saya kan sekarang sudah tidak bertugas di rumah sakit itu, jadi harusnya kamu gak punya kepentingan untuk menghubungi saya," ucap Libra ketus.
📞"Maaf Libra, aku gak bermaksud ganggu kamu! Tapi, aku punya informasi penting buat kamu. Dokter Syifa sekarang udah dipecat dari tugasnya, terus pak Sulistyo juga panggil kamu untuk datang kesini!" ucap Gita lirih.
Libra terkejut mendengarnya, ia heran bagaimana bisa Sulistyo memecat dokter Syifa dengan begitu cepat setelah kemarin saja pria itu malah lebih membela dokter Syifa dibanding dirinya.
•
•
Sementara itu, Nindi terbangun dengan perasaan sakit di tubuhnya. Wanita itu merasakan nyeri yang amat sangat pada bagian tubuhnya, terutama pada bagian bawahnya yang memang semalaman dihajar habis-habisan oleh lelaki berkumis. Nindi pun bangkit dan tampak bersedih, air mata mulai mengalir sembari mencengkram kuat selimut yang menutupi tubuh polosnya itu.
Nindi amat menyesali perbuatannya yang sudah semakin liar, ia menangis terisak sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyesal, karena semuanya pun sudah terlanjur terjadi. Dirinya benar-benar kotor, dalam waktu beberapa hari saja Nindi telah dinikmati oleh empat pria sekaligus. Dan yang semakin menambah kesedihannya, ia menikmati setiap permainan yang diberikan pria-pria itu.
Kini ia perlahan-lahan beranjak dari ranjangnya, memungut kembali pakaiannya yang terletak di atas lantai dalam kondisi kusut. Ia memakai semula pakaiannya itu, lalu berjalan tertatih ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia menyalakan shower disana, membasuh tubuhnya dengan air yang dingin itu sambil mengingat kembali momen menyedihkan malam tadi.
Ia ingat betul bagaimana dirinya menyebut nama lelaki berkumis itu dengan mulutnya sembari menunjukkan kepuasan yang luar biasa, entah berapa kali dirinya dimasuki oleh lelaki itu semalam, sebab ia lebih dulu pingsan sebelum lelaki itu berhenti. Ketika ia melihat sekujur tubuhnya di depan cermin, ia syok karena cukup banyak tanda merah disana yang sangat mencolok.
__ADS_1
Wanita itu menangis semakin deras, ia tak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Leon nanti bila melihat semua itu. Pastinya Leon akan sangat kecewa, dan mungkin saja pria itu bisa langsung menceraikannya seperti yang ia inginkan. Untuk sesaat ia menyesal telah melakukan itu, tetapi dari sebelumnya Nindi juga memang sudah ingin Leon segera menceraikannya.
Akhirnya karena dirasa sudah cukup, Nindi berjalan keluar dari kamar mandi tersebut dengan mengenakan bathrobe yang tersedia. Nindi bingung hendak memakai baju apa, karena saat ini pakaian miliknya sudah dalam kondisi lusuh dan tidak bisa dipakai lagi. Ya itu semua tentu sebab dari kejadian semalam, karena lelaki berkumis yang bercinta dengannya bersikap cukup kasar semalam.
Disaat ia melangkah ke dekat lemari, tanpa sadar ia melihat sebuah bingkisan di atas nakas. Karena penasaran, Nindi pun mengambil bingkisan itu lalu segera membukanya. Ia terkejut karena ternyata di dalam sana berisi satu set pakaian untuknya, disertai sebuah surat yang ternyata ditulis oleh si lelaki sebelum dia pergi dari hotel itu.
"Si mesum itu kasih aku baju sama uang? Apaan sih ini maksudnya, dia kira aku wanita bayaran apa? Emang cowok sekarang pada seenaknya semua," geram Nindi.
Mau tidak mau, Nindi pun terpaksa memakai pakaian pemberian lelaki itu karena ia tidak memiliki pilihan lain. Nindi juga mengambil sejumlah uang yang ada di dalam bingkisan itu, nantinya ia akan menggunakan uang tersebut untuk menjalani perawatan di salah satu tempat andalannya. Tentu tak mungkin Nindi pulang dalam keadaan seperti sekarang, karena pastinya Leon akan curiga.
"Aku bingung sekarang, kenapa Rama tega banget sama aku? Dia udah jual aku demi uang, padahal tadinya aku kira dia benar-benar sayang sama aku. Kamu jahat Ram, aku benci sama kamu!" ucap Nindi yang tiba-tiba teringat pada sosok Rama.
Setelah memastikan kondisinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Nindi segera mengemas barang-barang miliknya dan berjalan keluar dari kamar hotel tersebut. Nindi menghela nafasnya sebelum membuka pintu, karena berat rasanya bagi Nindi untuk bertemu dengan Leon di rumah nanti karena merasa tidak pantas.
•
•
Begitu tiba di lobi hotel, Nindi malah tak sengaja bertemu dengan Rama yang baru datang. Sontak Nindi langsung mengalihkan pandangan ke arah pria itu, matanya menatap tajam disertai tangan yang mengepal kuat menahan emosi. Ingin sekali ia meluapkan emosinya itu dan memukul Rama, apalagi pria itu sudah sangat sengaja menjualnya lalu mempermainkan perasaannya.
Rama kini hanya bisa menundukkan wajahnya saat melihat raut emosi di wajah Nindi, ia sadar akan kesalahannya yang sudah menjual Nindi dan memberikan wanita itu pada lelaki lain. Rama pun terima jika Nindi akan membencinya, karena memang semua yang ia lakukan semalam sungguh di luar batas dan pasti menyakiti hati Nindi.
"Nindi, aku minta maaf sama kamu. Aku nyesel banget udah setuju sama usul Erland semalam, maafin aku ya!" bujuk Rama.
"I-i-iya Nindi, aku tahu itu semua emang salah aku. Aku juga gak pantas dimaafkan," ucap Rama.
"Aku kecewa sama kamu, Ram! Aku kira kamu beneran tulis cinta sama aku, tapi ternyata kamu malah manfaatin aku!" sentak Nindi.
"Hah? A-aku....."
Nindi mengangkat satu tangannya dan meminta Rama untuk diam, ia tidak mau lagi berbicara dengan pria itu dan memilih untuk pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Nindi sudah terlanjur kesal dan kecewa pada pria itu, sehingga ia tentu tidak ingin berada dekat dengan Rama maupun Erland untuk sekarang ini.
Rama berusaha menahan kepergian Nindi, ia juga memohon-mohon pada wanita itu agar mau memaafkannya. Rama memang benar-benar mencintai wanita itu, akan tetapi entah mengapa sejak ia membawa Erland kini seolah-olah hidupnya bergantung pada pria itu. Padahal, Rama saja sampai susah payah untuk bisa menemukan alamat rumah serta nomor telpon Nindi sebelumnya.
Tidak mungkin Rama bisa terima jika Nindi membencinya, karena ia sungguh tulus mencintai Nindi dan tak ingin kehilangan wanita itu. Bagi Rama, Nindi adalah segalanya dan ia harus bisa menjadi pemilik dari Nindi untuk selamanya. Meski saat ini ia tahu bahwa Nindi telah banyak dicicipi oleh para lelaki, tetapi itu tidak sama sekali menghilangkan rasa cintanya dari wanita itu.
Akhirnya setelah bersusah payah mengejar-ngejar wanita yang dicintainya itu, Rama pun berhasil membuat Nindi menghentikan langkahnya sebelum naik ke dalam taksi. Rama tampak memelas dan memohon di hadapan wanita itu, ia tidak ingin Nindi pergi darinya apalagi membencinya. Hanya Nindi yang ia cintai, dan Rama rela melakukan apapun demi bisa mendapatkan wanita itu.
Bahkan, kini Rama berlutut di hadapannya dengan dua telapak tangan yang ia tempelkan di depan. Ia menunjukkan kesedihannya setelah Nindi mengatakan jika dia membenci pria itu, betapa syoknya Nindi melihat Rama melakukan itu saat ini. Akan tetapi, kelakuan Rama sama sekali tidak membuat Nindi merasa kasihan dan tetap masih tidak menyukai pria itu.
"Aku mohon Nindi, maafkan aku! Aku beneran tulus cinta sama aku, semalam aku khilaf dan kemakan omongan Erland. Aku janji sama aku, aku gak akan dengerin dia lagi seterusnya!" ucap Rama.
Nindi terdiam saja dan bahkan tidak mau menatap wajah pria itu, ia melipat kedua tangannya lalu membuang muka seolah tak ingin melihatnya. Sedangkan Rama terus berusaha membujuknya, karena pria itu ingin mendapat maaf dari Nindi dan diterima oleh wanita itu.
__ADS_1
•
•
Libra tiba di parkiran rumah sakit, dengan cepat ia langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju halaman tempat itu. Ia mencari-cari dimana Gita, karena sebelumnya gadis itu lah yang menghubunginya dan mengatakan jika Sulistyo selaku atasan disana memanggilnya. Meski Libra sudah bertekad mengundurkan diri dari sana, tetapi ia masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Ya tidak mungkin jika Sulistyo memecat dokter Syifa begitu saja tanpa alasan yang jelas, itu sebabnya ia datang kesana karena ingin mengetahui apakah memang Sulistyo telah mengetahui semuanya. Selain itu, Libra juga penasaran apa niat Sulistyo ingin menemuinya saat ini. Untuk itu, Libra pun masuk ke dalam rumah sakit tanpa menyadari bahwa ia sedang dipantau dari jauh.
Baru melangkah beberapa detik, Libra sudah langsung bertemu dengan Gita yang tengah bersama Sulistyo di depan sana. Tanpa menunggu lama, pria itu segera menghampiri mereka berdua untuk menanyakan ada hal apa yang sampai membuat dirinya dipanggil disana.
"Permisi!" ujar Libra menegur kedua manusia yang seperti tengah berbicara itu.
Sontak baik Sulistyo maupun Gita sama-sama menoleh ke arahnya, mereka tersenyum melihat Libra telah datang. Tentu saja Sulistyo langsung mendekat ke arah Libra berada dan meminta Libra untuk ikut bersamanya, karena penasaran akhirnya Libra menurut saja dan berjalan bersama-sama menuju ruang pribadi Sulistyo. Sedangkan Gita, memilih tetap disana menunggu mereka kembali.
Di dalam sana, kedua pria itu terduduk saling berhadapan dan tampak tersenyum satu sama lain. Sulistyo menyesali keputusannya kemarin yang membiarkan Libra keluar dari rumah sakit, padahal kinerja Libra sungguh luar biasa dan amat dibutuhkan disana. Apalagi, setelah ia tahu jika dokter Syifa adalah orang yang tidak benar.
"Eee Libra, saya sungguh menyesal dengan kejadian kemarin. Seharusnya saya lebih berpikir jernih untuk menyikap masalah kamu dan dokter Syifa, maafkan saya ya Libra!" ucap Sulistyo.
Libra mengernyitkan dahinya, "Maksud bapak gimana ya?" tanyanya bingung.
"Iya Libra, saya sudah tahu kebenarannya. Dokter Syifa itu memang orang jahat, dia yang sengaja memalsukan hasil tes kamu dan istri kamu waktu itu. Saya sungguh kecewa dengan sikap dia, itu sebabnya saya memecat dia dari sini," jelas Sulistyo.
Libra cukup terkejut mendengarnya, ternyata benar dugaannya bahwa Sulistyo telah mengetahui semua kebusukan dokter Syifa itu. Ia senang karena itu, tetapi tentu saja ia masih kebingungan. Ya Sulistyo belum menjelaskan apa maksud dan tujuan pria itu mengajaknya bertemu disana, untuk itu Libra kembali bertanya padanya kali ini.
"Maka dari itu, saya meminta kamu untuk mau kembali bekerja disini. Rumah sakit ini membutuhkan kamu Libra, dan hanya kamu yang bisa melakukan itu. Kamu mau kan?" ucap Sulistyo.
Libra terkekeh kecil, ia sudah menebak jika ini pasti terjadi. Memang menjadi dokter adalah impiannya sejak kecil, tetapi jika pihak rumah sakit sudah pernah meragukannya dan membuatnya kecewa maka pasti Libra tidak akan pernah mau lagi untuk bekerja disana. Tentu saja Libra menolak, ia bangkit dari kursinya dan berbicara dengan tegas.
"Maaf pak, kalau untuk itu saya tidak bisa. Saya ini orang yang memegang teguh prinsip, dan saya tidak akan mau kembali bekerja disini!" ucap Libra.
"Ta-tapi Libra, saya—"
"Sudah cukup pak, sekarang waktunya saya pergi. Tolong bapak hargai keputusan saya, permisi!" sela Libra sebelum berbalik dan melangkah keluar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
...KIRA-KIRA LIBRA KERJA DIMANA LAGI YA?...
...🤔...
__ADS_1