
Siang harinya di waktu pulang sekolah, Cyra sudah bersama Davin saat ini dan bersiap untuk ikut pergi dengan pria itu sesuai janjinya tadi. Meski ragu, namun tak ada pilihan lain bagi Cyra selain menuruti kemauan Davin untuk bisa mendapatkan ponsel miliknya kembali. Lagipula, tak ada salahnya bagi Cyra untuk ikut menemani Davin mengingat pria itu juga telah sering berada di dekatnya selama ini.
Kini keduanya berada di tempat parkir sekolah, Davin pun telah membuka pintu mobilnya dan meminta Cyra untuk segera masuk. Gadis itu masih saja menatap sekitar, berharap-harap cemas kalau ada murid lain yang melihat mereka disana. Tapi untungnya tempat parkir itu khusus guru, sehingga murid jarang ada yang kesana atau bahkan tidak ada sama sekali kecuali dirinya tentu saja.
"Ayo Cyra, kamu masuk duluan ya! Kamu tenang aja, saya gak akan macam-macam kok sama kamu! Saya cuma mau bawa kamu ke suatu tempat yang indah, saya yakin kamu belum pernah kesana!" ucap Davin sambil tersenyum.
"Iya pak Davin, saya juga percaya kok kalau bapak gak akan apa-apain saya! Tapi, pertanyaannya tuh bapak mau bawa saya kemana?" ucap Cyra.
"Ada deh, nanti kamu juga tau. Masuk aja dulu, abis itu kita pergi sekarang!" ucap Davin.
Cyra menatap sejenak ke arah gurunya, ia sempat ragu dan berpikir kalau mungkin saja Davin akan berbuat sesuatu yang merugikan baginya saat ini. Apalagi, papanya dulu pernah mengatakan jika Davin bukanlah orang yang baik. Akan tetapi, Cyra coba menepis semua pikiran buruk mengenai Davin itu dari kepalanya dengan cara memejamkan mata.
Akhirnya Cyra memilih masuk ke dalam mobil Davin tanpa rasa ragu sedikitpun, tentu saja Davin senang melihat itu karena ia tidak perlu susah-susah membujuk Cyra untuk mau ikut bersamanya. Hanya dengan cara mengambil ponsel gadis itu, kini Davin sudah bisa pergi berdua bersama Cyra yang sangat ia kagumi dari sejak pertama mereka bertemu.
Tanpa menunggu lama, Davin juga ikut masuk ke dalam dan terduduk tepat di samping Cyra. Ia melirik wajah gadis itu sekilas sambil tersenyum tipis, sedangkan Cyra tampak terdiam menunduk dengan kedua tangan menyatu. Davin menggeleng melihat ekspresi gadis itu, apalagi sekarang Cyra juga belum mengenakan sabuk pengaman.
"Sini saya pasangin deh!" Davin mendekat, lalu memasangkan sabuk pengaman di tubuh Cyra.
Seketika Cyra tersentak dan melongok lebar melihat Davin mendekatinya, bahkan kini jarak diantara mereka sudah semakin sempit. Entah mengapa perasaan Cyra tak karuan saat ini, ia merasa bingung sekaligus gugup ketika Davin melakukan itu. Namun, Cyra tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan saja Davin memasangkan sabuk di tubuhnya.
"Nah udah, kalo begini kan aman. Kamu itu kenapa bengong mulu sih, hm? Kamu masih takut sama saya ya? Tenang aja Cyra, saya gak akan jahatin kamu kok!" ucap Davin tersenyum lebar.
"I-i-iya om, eh pak... sa-saya gak mikir begitu kok," ucap Cyra sangat gugup.
__ADS_1
"Bagus deh, kita berangkat sekarang ya?" ucap Davin yang kini telah kembali duduk pada tempatnya dan menjauh dari gadis itu.
Sontak Cyra menghela nafasnya, merasa lega karena Davin akhirnya mau menjauh. Meski begitu, jantungnya masih tetap tidak bisa tenang karena ia belum tahu kemana kiranya Davin akan membawanya kali ini. Pikirannya terus berkelahi saat ini, ia mencoba tenang tapi entah kenapa sulit sekali untuk membuat ia menepis pikiran buruk itu.
"Aku harus tenang, gak mungkin juga om Davin bakal jahatin aku kok!" batin Cyra.
•
•
Waktu cepat berlalu, pada akhirnya mereka pun sampai di lokasi yang sudah ditentukan oleh Davin sebelumnya. Mobil mereka berhenti di sebuah tempat yang cukup asing bagi Cyra, tempat itu juga sepi dan hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Cyra pun reflek menatap wajah Davin, seolah bertanya padanya.
Baru kali ini Cyra datang kesana, ia sama sekali tak mengenali tempat tersebut dan rasanya ia begitu penasaran. Davin yang melihat ekspresi di wajah Cyra, sontak menatapnya dan mengajak gadis itu turun. Tapi sebelumnya, Davin berusaha menjelaskan terlebih dahulu pada Cyra saat ini.
"Eee enggak sih pak, saya cuma kaget aja sama tempat ini. Kok disini sepi banget ya pak, terus kenapa saya belum pernah lihat tempat ini tuh sebelumnya?" ucap Cyra terheran-heran.
"Kita turun aja dulu, nanti saya akan jelaskan semua ke kamu! Saya yakin kamu pasti suka sama keindahan tempat ini!" ucap Davin.
Cyra terdiam, matanya tak bisa berhenti menatap wajah Davin yang seolah-olah berbicara serius mengenai keindahan di tempat tersebut. Jujur Cyra sangat penasaran kali ini, ia ingin tahu keindahan apa yang dimaksud Davin itu. Walau rasanya Cyra masih ragu dan cemas, tapi rasa penasarannya kali ini berhasil mengalahkan keraguan itu.
"Jadi gimana Cyra, kamu mau kan ikut turun sama saya sekarang?" tanya Davin.
Setelah berpikir selama beberapa menit, Cyra pun menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Davin dan mau ikut bersamanya. Cyra juga turun dari mobil bersama pria itu, rasanya ia sudah tidak tahan ingin segera menyaksikan pemandangan disana. Apalagi, Davin terus mengatakan padanya kalau keindahan disana tidak kalah indahnys dibanding di tempat lain yang sering Cyra kunjungi itu.
__ADS_1
"Lihat itu disana Cyra, tempat itu yang jadi favorit disini dan saya sering kesana!" ucap Davin seraya menunjuk ke sebuah tempat yang indah.
Cyra melongok seketika, ia baru melihat ada sebuah air terjun yang sangat indah disana. Cyra sungguh tak menyangka kalau Davin akan mengajaknya ke tempat itu, baru kali ini Cyra melihat air terjun secara langsung dan itu membuatnya amat kagum. Ternyata air terjun itu lebih indah saat dilihat langsung, itu membuat Cyra begitu terpesona.
"Wah iya pak, indah banget!" tanpa ragu, kini Cyra melangkah mendekati air terjun itu.
"Hey Cyra, hati-hati!" ucap Davin berteriak memperingati, ia khawatir Cyra tersandung atau terpeleset jika pergi tergesa-gesa.
"Pak, ternyata ucapan bapak tadi benar ya? Disini indah banget, tapi kenapa sepi yang datang kesini pak?" tanya Cyra keheranan.
"Entahlah, tapi itu gak penting. Bukannya lebih enak ya kalau sepi, hm?" jawab Davin.
Cyra mengangguk setuju, lalu tanpa diduga Davin meraih tangannya dan menggenggam dengan erat sembari mengusapnya. Tak ada penolakan dari Cyra, justru gadis itu lebih fokus melihat air terjun yang ada di depannya. Ya Cyra belum sadar kalau Davin menyentuh tangannya, apalagi keindahan air terjun itu berhasil menghipnotis dirinya.
"Ini keren banget pak, saya belum pernah lihat tempat seindah ini sebelumnya! Bahkan, papa saya juga gak pernah ajak saya ke tempat-tempat kayak gini," ucap Cyra.
Davin tersenyum mendengarnya, keinginannya untuk membuat Cyra lebih dekat dengannya kini semakin terwujud.
"Sepertinya kamu sudah harus mulai berhati-hati, Libra. Sekarang kedekatan saya dan Cyra sudah semakin intens, dan nantinya saya akan rebut Cyra dari kamu seutuhnya Libra!" batin Davin.
Niat Davin itu sudah ia tekadkan sedari lama, terutama semenjak ia bertemu dengan Cyra kala itu. Davin hanya ingin membalas dendam pada Libra, sebab dulu Libra lah yang membuat hidupnya hancur dengan cara merebut Ciara darinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...