Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 191. Suka om-om


__ADS_3

Ciara tiba di sekolahan tempatnya mengajar, ya ia memilih kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasa untuk menghilangkan suntuk akibat keributan yang ia alami bersama suaminya. Ciara hanya ingin menenangkan hatinya, karena belakangan ini pikirannya terus saja merasa kacau. Mulai dari pengkhianatan yang dilakukan suaminya, sampai sikap keras kepala putrinya yang sulit diberitahu itu.


Rasanya kepala Ciara hendak pecah karena semua masalah yang ia alami itu, untungnya ia masih bisa memiliki kegiatan lain untuk setidaknya membuat pikirannya tidak terus mengarah ke arah perceraian. Meski begitu, Ciara tentu tak akan pernah lupa untuk mengurus proses perceraian mereka. Kesabaran Ciara sudah habis, karena kelakuan Libra tidak mungkin dapat ia maafkan lagi sampai kapanpun.


Begitu sampai di sekolah, Ciara langsung disambut oleh seorang pria yang juga merupakan guru disana. Pria itu pun berhenti tepat di dekatnya, lalu menyapa Ciara dengan lembut disertai senyum lebarnya. Tampak Ciara sedikit terkejut dengan kemunculan pria itu, tapi kemudian ia juga ikut tersenyum kali ini. Ya Ciara amat mengenal siapa lelaki itu, karena dia juga pengajar di sekolah yang sama.


"Bu Ciara, baru datang ya bu? Hari ini ngajar berapa kelas?" sapa pria itu.


Ciara tersenyum dibuatnya, "Eh pak Chris, iya nih saya baru datang. Hari ini agak sedikit sih pak, cuma empat kelas. Kalau bapak sendiri gimana?" ucapnya dengan lembut.


"Wah saya lebih banyak satu kelas dibanding ibu, soalnya saya ngajar di lima kelas nih. Yaudah, kita masuk bareng yuk bu!" ucap pria bernama Chris itu.


"Boleh." Ciara mengangguk setuju.


Disaat mereka hendak melangkah lebih jauh, tiba-tiba saja kaki Ciara tak sengaja tersandung dan membuatnya hampir terjatuh.


"Eh eh..." Ciara tersentak dan mulai kehilangan keseimbangan.


Beruntung Chris dengan cekatan menangkap tubuh wanita itu, ia menahannya agar Ciara tidak terjatuh ke bawah saat ini. Akibatnya, mereka pun berada dalam satu pelukan kali ini. Keduanya saling bertatapan, entah kenapa jantung Chris berdetak begitu kencang ketika berada dalam posisi yang sangat dekat dengan guru cantik itu.


"Ciara, kenapa kamu sangat cantik? Andai kamu bukan istri orang, pasti saya sudah pacarin kamu!" gumam Chris dalam hati.


"Ehem ehem!" deheman itu mengejutkan mereka berdua, dan membuat Chris reflek melepaskan pelukan karena tidak ingin terjadi salah paham.


Rupanya ada sosok guru wanita lain yang tak sengaja melihat kebersamaan mereka, sebut saja namanya Sofi atau bu Sofi. Ya kebetulan Sofi juga pengajar disana dan merupakan sahabat dekat Ciara selama mengajar di sekolah itu, sehingga Sofi tampak senyum-senyum saja melihat Ciara berpelukan dengan Chris sebelumnya.


"Hey hey! Kalian ini bukannya pada ngajar di dalam, malah asyik berduaan disini. Emang kalian gak ada kelas apa?" tegur Sofi.


"Eee kamu bicara apa sih, Sof? Kita gak berduaan kok, kita ini baru sampe disini. Ya kan bu Ciara?" ucap Chris mengelak dari tuduhan Sofi.


"Iya benar Sofi, kamu jangan salah kira dulu ya!" sahut Ciara sambil tersenyum.


Sofi pun semakin gencar menggoda keduanya, ia tahu sekali kalau saat ini Ciara dan Chris terlihat begitu grogi karena tertangkap basah olehnya. Kini bahkan Sofi bergerak mendekati Ciara disana, berdiri tepat di dekatnya dan mencolek wajah wanita itu seolah menggodanya.


"Ish, kamu kenapa sih Sofi? Kamu masih gak percaya ya sama kita?" heran Ciara.


"Gak juga kok Ciara, aku senang aja godain kamu. Abisnya kamu itu mukanya merah gitu sih pas aku pergokin kalian tadi," kekeh Sofi.


Deg


Ciara terdiam, wajahnya semakin bersemu dan reflek ia menunduk untuk menutupinya.




"Mas, mas Galen tunggu! Mas sebentar mas, kita bicara dulu!" Tiara kini masih mengejar mantan suaminya yang pergi secara tiba-tiba itu, setelah menyerahkan surat somasi kepadanya.


Namun, upaya Tiara itu tampaknya tak digubris oleh Galen. Ya terbukti Galen saat ini masih terus berjalan tanpa perduli dengan teriakan Tiara di belakang sana, tampaknya Galen sengaja ingin membuat Tiara merasa ketakutan. Itu sebabnya mengapa Galen terus saja mendekati Tiara, karena ia ingin supaya Tiara mau menuruti kemauannya.

__ADS_1


"Mas Galen, berhenti dulu! Tunggu aku!" ucap Tiara yang tak mudah untuk menyerah.


Bruuukkk


Tapi naas, sangking terburu-buru nya Tiara sampai tak melihat jalan dan malah tersandung lalu terjatuh di lantai. Kakinya pun terkilir kali ini, tampak Tiara juga meringis sembari mengurut pergelangan kakinya yang terasa sakit. Sedangkan Galen sudah menjauh, bahkan menghilang dari pandangannya dan membuat Tiara sangat kesal.


Galen seperti tak perduli pada Tiara yang terjatuh disana, pria itu malah terus berjalan dan meninggalkan Tiara sendirian. Tiara pun terlihat kesakitan sembari terus mengurut kakinya, ia tak menyangka kalau Galen ternyata benar-benar serius ingin mengambil alih hak asuh Askha darinya. Padahal, Galen selama ini tak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Kamu kenapa sih, mas? Kenapa kamu harus menambahkan luka di hati aku seperti ini? Apa belum cukup kesakitan yang kamu buat selama ini?" gumam Tiara.


Tiba-tiba saja, sebuah uluran tangan datang tepat di depan matanya. Tiara terkejut, lalu menoleh dan menemukan sosok Adrian disana. Sontak Tiara terdiam selama beberapa saat, pikirannya semakin kacau saat ini. Ya karena kedekatannya dengan Adrian, justru Galen memanfaatkan itu untuk menekannya agar mau menyerahkan Askha.


"Tiara, yuk saya bantu! Kaki kamu sepertinya sakit ya, itu harus segera diobati sih. Biar saya antar kamu ke ruang pengobatan," ucap Adrian.


Tiara menggeleng, "Gak perlu pak, saya masih bisa jalan kok. Saya mohon sama bapak, tolong kita bersikap seperti seorang atasan dan bawahan saja! Saya gak mau ada salah paham diantara para karyawan lain nanti," ucapnya.


"Kamu ini kenapa sih Tiara? Saya biasa aja kok, saya cuma mau bantu kamu loh. Apa seorang atasan tidak boleh membantu bawahannya, hm?" ucap Adrian terheran-heran.


"Saya bisa sendiri pak, jadi lebih baik bapak pergi dari sini!" pinta Tiara.


Adrian sungguh tak mengerti mengapa Tiara bersikap seperti itu padanya, ia pun curiga kalau ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu. Namun, Tiara seolah menutupi itu semua darinya dan tak mau jika Adrian mengetahui itu. Adrian memang masih tertarik pada Tiara, meski hingga kini ia belum bisa membuat Tiara menjadi miliknya seutuhnya.


Disaat Tiara hendak bangkit dengan usahanya sendiri, ia justru kembali terjatuh dan membuatnya meringis menahan sakit. Bagian pinggulnya mengalami benturan cukup keras saat ini, akibat Tiara memaksakan untuk bangkit. Sontak Adrian mendekatinya, pria itu tampak cemas melihat kondisi Tiara yang seperti itu.


"Tiara, tuh kan kamu itu belum bisa jalan sendiri! Udah kamu nurut aja sama saya, gausah sok malu atau menolak!" ucap Adrian dengan tegas.


"Apaan sih pak? Jangan sentuh-sentuh saya!" Tiara coba berontak dari sentuhan pria itu.




Sepulang sekolah, Ciara bersama Sofi dan Chris sama-sama berjalan menuju gerbang untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Ya jam mengajar telah usai, anak murid mereka juga sudah pulang seluruhnya tanpa ada yang tersisa. Kini saatnya bagi mereka juga pulang ke rumah, terutama Ciara yang sudah tak sabar ingin bertemu anak-anaknya.


Sofi masih tampak terus menggoda Chris dan juga Ciara, sebab momen pagi tadi memang cukup membuatnya terkejut. Sebelumnya baik Chris ataupun Ciara tak pernah terlihat sedekat itu, namun tadi semuanya justru berbeda. Hanya saja, Ciara tetap menyangkal tuduhan Sofi dan mengatakan kalau itu adalah sebuah ketidaksengajaan.


Saat mereka tengah asyik berbincang-bincang di jalan, tanpa sengaja Sofi melihat sosok Libra alias suami sahabatnya itu berdiri di depan sana. Sontak Sofi segera memberitahu pada Ciara akan hal itu, karena ia mengira Ciara pasti akan senang. Namun, tentu saja reaksi Ciara sungguh malas dan seolah tidak ingin bertemu dengan suaminya itu.


"Eh eh Ciara, itu suami kamu udah jemput tuh! Sana gih kamu samperin dia, kayaknya dia juga udah gak sabar mau ketemu istri cantiknya ini!" goda Sofi.


Ciara melirik sekilas ke arah Libra, rasa kecewanya pada pria itu masih belum hilang dan sampai kapanpun mungkin tak akan bisa terlupakan. Tekad Ciara juga sudah bulat, ia akan menggugat cerai Libra dan mengambil hak asuh atas anak-anaknya. Setelah itu, barulah Ciara bisa hidup bahagia bersama ketiga anaknya.


"Kenapa kamu malah diam aja sih Ciara? Itu loh kamu udah ditungguin suami kamu, kan biasanya juga kamu senang banget kalau suami kamu datang jemput kamu kesini," ucap Sofi.


"Ah iya, ini aku juga senang kok. Aku kesana dulu ya? Bye semua!" ucap Ciara.


Sofi dan Chris kompak mengangguk, namun mereka masih bingung mengapa sikap Ciara terlihat berbeda saat melihat suaminya. Kini Ciara pun bergerak cepat menghampiri Libra di depan sana, sedangkan Sofi serta Chris juga memilih pergi. Ya meski awalnya Ciara tak ingin bertemu dengan sang suami, tetapi ia tak memiliki pilihan lain.


Libra yang melihat kemunculan istrinya, sontak tersenyum dan ikut bergerak mendekati Ciara disana. Ia sangat tidak sabar ingin segera berbicara dengan istrinya itu, apalagi ia tahu kalau Ciara sudah menggugat cerai dirinya di pengadilan. Libra tak ingin berpisah dengan Ciara, ia juga menyesal karena telah berkata seperti itu sebelumnya.

__ADS_1


"Ciara sayang, akhirnya kamu keluar juga! Kita masuk yuk, aku mau bicara empat mata sama kamu!" ucap Libra tampak bahagia.


Tanpa berkata apapun, Ciara langsung melewati tubuh Libra begitu saja dan masuk ke dalam mobil sesuai kemauan pria itu. Libra pun mengikuti langkah sang istri, tetapi ia heran mengapa Ciara justru terduduk di kursi belakang. Padahal, biasanya Ciara selalu mau duduk di sebelahnya agar mereka bisa berdekatan seperti biasa.


"Sayang, kamu kenapa duduknya di belakang? Sini dong pindah ke depan, aku kan mau bicara sama kamu sayang! Gak enak lah kalau kamu malah duduk disana," ucap Libra.


"Kenapa? Emangnya kalau aku duduk disini, kamu gak bisa ajak ngobrol aku gitu? Kan sama aja, lagian aku malas duduk di samping kamu. Kita ini sebentar lagi bercerai, jadi ya sekarang aku anggap kamu seperti supir aku aja," ucap Ciara ketus.


Deg


Libra tersentak, ucapan Ciara seolah menusuk ke jantungnya dan membuat Libra semakin cemas. Ciara memang tampak begitu kecewa padanya, seperti tidak ada harapan lagi bagi pria itu saat ini.




Cyra kini berada di sebuah cafe yang dekat dari sekolahnya, ia bersama Askha yang memang tadi sempat menjemputnya lebih dulu di sekolah. Cyra tampak melamun sembari mengaduk-aduk minuman miliknya, entah mengapa pikirannya masih belum bisa lepas dari perkataan mamanya kemarin mengenai sosok Davin yang sudah melecehkannya.


Askha terlihat heran karena sedari tadi Cyra lebih sering melamun dibanding bicara padanya, itulah yang membuat Askha kini mendekat dan menarik gelas minuman adiknya itu menjauh. Seketika Cyra terkejut, lalu tersadar dari lamunannya. Askha pun tersenyum saat Cyra menatapnya, seolah sengaja ingin membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Ish, kak Askha ngapain sih? Gangguin momen aku aja deh, kan aku lagi enak-enak ngaduk kopinya itu!" ucap Cyra melayangkan protes.


Askha menggelengkan kepalanya, "Hadeh Cyra, ini nih minuman harusnya lu minum! Bukan malah lu aduk-aduk doang kayak gitu, kasihan dong dia nanti!" ucapnya tegas.


"Hehe, ya kan aku belum mau minum, kak. Lagian emang kenapa sih?" ucap Cyra.


"Pake nanya emang kenapa, gue tau nih lu kalo kayak gini nih pasti lagi ada masalah kan! Nah, mending lu cerita dah sama gue!" ucap Askha.


"Hah? Enggak kok gak ada," elak Cyra.


Bukan Askha namanya jika langsung percaya begitu saja kepada ucapan adiknya, ia pun menarik wajah Cyra dan mencengkram dagunya dengan kuat seraya menatap tajam wajahnya. Cyra tersentak, tapi tak dapat berbuat apa-apa mengingat tenaganya kalah kuat dibandingkan Askha. Ya Askha sengaja melakukan itu, agar Cyra mau bercerita padanya.


"Ayo cepat cerita, gue gak mau dibohongin terus sama lu! Gue tau lu lagi ada masalah besar, karena gak mungkin lu ngelamun begitu terus kalau gak ada apa-apa," ucap Askha tegas.


"Ih i-i-iya kak iya, aku cerita nih. Tapi, lepasin dulu tangannya sakit tau!" pinta Cyra.


Akhirnya Askha melepaskan rahang Cyra dari cengkeramannya, ia kemudian menagih janji gadis itu untuk bercerita. Cyra tampak ragu kali ini, sebab tak mungkin ia mengatakan pada Askha kalau mamanya pernah dilecehkan seseorang. Namun, Askha terus saja mendesaknya dan memintanya agar mau bercerita padanya.


"Umm, aku itu sebenarnya lagi mikirin ucapan mama kemarin. Mama bilang ke aku kalau om Davin itu jahat, padahal nyatanya enggak loh," ucap Cyra.


"Oh soal itu, yah elah Cyra Cyra! Lo kenapa dibikin ribet kayak gini sih? Padahal kan lu tinggal nurut aja sama permintaan nyokap lu, jauhin tuh si om Davin! Lagian lu lebih pilih ortu lu itu apa om Davin sih?" ucap Askha memberi solusi.


"Hm, udah aku duga kakak bakal bela mama sama papa. Padahal kan ucapan mereka belum tentu benar, aku tahu kok om Davin itu orang baik," ucap Cyra tampak merengut.


"Haish, gue gak bela siapa-siapa. Gue cuma gak mau lu jadi sedih terus kayak gini!" ucap Askha.


"Yaudah, harusnya kak Askha bantu aku dong buat yakinin ke mama kalau om Davin itu orang baik dan aku suka sama dia!" ucap Cyra.


"Hah? Kamu suka sama om-om??" Askha terkejut bukan main mendengarnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2