
Ciara masih terus menangis di dalam pelukan mamanya saat ini, ia tak bisa menahan kesedihan yang amat sangat itu ketika mengingat ucapan Libra pada rekaman suara yang diberikan Davin kala itu. Ciara sungguh sakit hati mendengarnya, apa yang dikatakan Libra seolah menusuk jantungnya. Ciara pun begitu emosi, tak mungkin ia bisa terima setelah apa yang dilakukan suaminya itu kepadanya saat ini.
Nadira memahami situasi yang tengah dialami oleh putrinya itu, namun ia tak menyangka kalau Ciara juga akan terkena imbas dari perbuatan buruk Albert di masa lalu. Kini berganti Ciara lah yang disakiti oleh suaminya, setelah sebelumnya Tiara harus dikhianati oleh Galen. Nadira benar-benar bingung, ia tidak tahu harus melakukan apa demi bisa membuat Ciara tenang saat ini dan tidak terus menangis.
"Ciara, udah ya sayang jangan nangis! Mama sedih loh lihat kamu begini sayang, mama juga jadi bingung harus gimana buat menghibur kamu. Stop ya nangisnya, kan ada mama disini!" bujuk Nadira.
"Hiks hiks, aku gak bisa ma. Aku selalu sedih banget tiap keinget sama kata-kata yang diucapkan mas Libra tentang aku, dia bilang kalau aku ini udah gak menarik lagi. Terus dia juga bosen sama aku ma," ucap Ciara sambil terisak.
"Iya iya sayang, mama ngerti kok. Mama pasti juga bakal sakit hati dan sedih kalau jadi kamu, tapi mama yakin kamu pasti kuat sayang! Kamu harus kuat, jangan jadi wanita lemah!" ucap Nadira.
Ciara mengangguk kecil, akan tetapi air matanya masih tetap mengalir dan belum bisa ia hilangkan dari wajahnya saat ini. Ciara begitu sedih dan kecewa pada kelakuan suaminya, ia sendiri tak menyangka Libra tega berkata seperti itu. Padahal, selama ini di depannya Libra selalu bersikap baik dan tidak pernah mengucapkan kata yang buruk.
"Kalau kamu terus sedih begini, yang ada suami kamu itu bakal makin besar kepala. Dia pasti ngira kamu ini susah melupakan dia, lalu dia juga akan semakin menginjak-injak kamu sayang. Kamu hapus air mata kamu ya, tenang!" ucap Nadira.
Perlahan Ciara mencoba mengikuti perintah mamanya, karena menurutnya apa yang dikatakan Nadira itu ada benarnya. Ciara pun menghapus air mata di wajahnya, ia juga berusaha melupakan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Meski, rasanya cukup sulit bagi Ciara untuk menghilangkan rasa sedih di dalam hatinya.
Drrrtt drrrtt
Tiba-tiba, ponselnya berdering dan membuat fokus Ciara teralihkan. Sontak Ciara mengambil ponsel miliknya itu dari meja, lalu melihat siapa orang yang menelponnya. Kata Ciara terbelalak lebar, ia hapus semua air matanya dan bersiap mengangkat telpon yang ternyata dari pengacaranya itu. Ciara pun penasaran, ia berharap ada informasi penting yang akan disampaikan si pengacara kali ini.
"Ma, bentar ya? Ini pak Willy pengacara kita telpon," ucap Ciara yang diangguki oleh Nadira.
Tanpa banyak berpikir lagi, Ciara pun segera mengangkat telpon tersebut tepat di dekat Nadira karena memang sudah tidak ada yang bisa ia tutup-tutupi lagi dari mamanya itu.
📞"Halo pak! Ada apa ya?" tanya Ciara dalam telpon.
📞"Halo bu Ciara! Begini bu, saya baru dapat info dari seseorang. Beliau melihat pak Libra masuk ke hotel bersama seorang perempuan bu," jawab Willy.
__ADS_1
📞"Apa??" Ciara tersentak dan menganga lebar, ia tak menyangka dengan semua ini.
Sontak Ciara menjauhkan ponselnya, hatinya terasa begitu sakit saat mendengar kabar bahwa suaminya berada di hotel bersama wanita lain.
"Tega kamu mas, tega!" batinnya.
•
•
Disisi lain, Libra menghentikan sejenak aktivitas panasnya bersama Aline disaat wanita itu mencapai puncaknya. Libra pun mencabut miliknya dari dalam sana, lalu bangkit dan mengambil segelas air mineral di atas nakas. Tentu saja Libra memberikan air itu untuk Aline, ia tahu kalau Aline pasti sangat merasa haus setelah permainan panas mereka tadi.
"Ini untuk kamu, diminum dulu! Aku yakin kamu pasti haus setelah aktivitas kita tadi, apalagi kamu kan habis pelepasan," ucap Libra menyodorkan gelas ke arah sahabatnya itu.
Entah masih bisa dibilang sahabat atau tidak, sebab mereka kini sudah melakukan hal yang di luar dari batas sebagai sahabat. Gairah Libra memang cukup menggelora dan sulit untuk ditahan, apalagi saat ini ia sedang dalam masalah. Mungkin salah satu cara untuk bisa menenangkan diri, hanyalah bermain bersama wanita di atas ranjang.
"Huft, lemes banget aku rasanya. Kamu ganas banget sih Libra, gila dasar!" keluh Aline.
"Ahaha, capek ya? Kamu sih seksi banget jadi cewek, gimana aku gak bergairah coba? Tapi ini belum tuntas loh Lin, aku aja belum keluar nih. Sengaja aku berhenti dulu sebentar, biar kamu gak pingsan nanti," kekeh Libra.
Aline menggeleng dibuatnya, "Kamu emang gila ya Libra? Aku gak bisa bayangin gimana jadinya istri kamu yang harus melayani kamu terus? Apa mungkin ini alasan dia gugat cerai kamu?" ujarnya.
"Hehe, gak tahu juga sih Aline. Tapi emang belakangan ini dia tuh sering banget ngajak aku bertengkar, padahal aku udah berulang kali minta dia buat diam tenangin diri," ucap Libra.
"Hm, kamu sabar aja ya Libra! Sekarang aku bakal bikin kamu puas deh," goda Aline.
Libra pun mencolek gemas pipi wanita itu, ia ikut tersenyum dan perlahan mendekati kembali tubuh Aline yang masih polos itu. Diusapnya dengan lembut sembari hendak menciumnya, hasrat pria itu telah kembali bergejolak kali ini. Libra tak mungkin bisa menahan lama, apalagi mereka memang belum menuntaskan permainan panas mereka.
__ADS_1
TOK TOK TOK....
Namun, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar dari arah luar dan mengacaukan kegiatan mereka. Seketika Libra panik, ia akhiri ciumannya dengan Aline dan bergegas memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Ya disaat seperti ini, butuh waktu lama jika Libra harus memakai kembali pakaiannya yang tergeletak di lantai itu.
"Lin, kamu diam disini ya! Tutupi tubuh kamu pakai selimut, biar aku yang keluar lihat siapa yang datang. Tunggu sebentar ya!" ucap Libra.
Aline mengangguk pelan, "Okay, jangan lama-lama ya Libra!" pintanya.
Setelahnya, Libra bergegas mengecek ke depan dengan handuk yang melingkar di pinggangnya saat ini. Libra berdecak kesal, ia merasa tidak senang dengan kedatangan seseorang di luar sana itu, karena telah mengganggu momen indahnya. Padahal, Libra sedang diburu waktu untuk bisa mencapai puncak pertamanya.
Ceklek
Begitu pintu dibuka, rasa marah Libra seketika berubah menjadi rasa terkejut dan panik. Dua bola matanya membulat lebar, ia benar-benar tak menyangka kalau yang datang ke kamar hotelnya adalah Ciara bersama sekumpulan pria. Bahkan, ada juga Willy selaku pengacara keluarga mereka yang jelas sangat Libra kenali.
"Bagus mas, begini ya kerjaan kamu selama ini? Kamu bilang kamu sibuk kerja urus pasien, tapi kamu malah enak-enakan di hotel kayak gini. Apa tempat kerja kamu udah berubah ya sekarang?" ucap Ciara dengan tegas.
Libra menggeleng, "Enggak Ciara, kamu salah paham. A-aku kesini karena mau menghilangkan suntuk," ucapnya.
"Minggir mas, aku mau masuk!" ucap Ciara yang langsung bergerak menerobos tubuh suaminya.
Libra sontak terkejut, tapi ia terlambat dan tidak bisa menahan tubuh istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar hotel itu. Ciara pun berhasil memasuki kamar itu, betapa syoknya Ciara ketika melihat seorang wanita tengah berbaring di atas ranjang dan terdapat banyak pakaian berserakan disana yang ia yakini sebagai milik mereka.
"Ciara, tunggu! Kamu gak bisa main sembarangan masuk gitu aja dong, ini privasi aku!" tegur Libra yang kini mencengkram kuat lengan istrinya.
Ciara menatap tajam wajah pria itu, tetes air mata mengalir di wajahnya menandakan betapa sakitnya hati ia saat ini. Ia tak menyangka, Libra sudah bertindak sejauh ini di belakangnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...