Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 163. Kalah dewasa


__ADS_3

Cyra dan Askha masih terus berlarian serta saling kejar mengejar di dalam rumah itu, mereka sampai tak sadar bahwa sedari tadi Ciara sudah ada disana dan tengah memperhatikan mereka dengan wajah geram disertai tatapan yang tajam. Sampai akhirnya Cyra pun tak sengaja menabrak tubuh mamanya dan membuatnya mengaduh kesakitan, Cyra langsung terkejut bukan main ketika melihat mamanya disana.


Tentu saja baik Cyra maupun Askha sama-sama merasa gugup ketika menyadari keberadaan Ciara disana, apalagi Ciara yang terus menatap tajam ke arah mereka seolah hendak marah. Cyra bahkan langsung memundurkan langkahnya menjauh dari sang mama, ia khawatir Ciara akan marah padanya atau malah membentaknya karena sudah menabrak tubuh Ciara saat asyik berlari bersama Askha tadi.


"Ma-mama?" Cyra begitu gemetar ketakutan, ia terus menunduk dan tidak berani menatap wajah mamanya saat ini.


Namun, sepertinya Ciara malah bersikap biasa saja dan tersenyum ke arah putrinya itu. Tidak mungkin memang Ciara memarahi Cyra yang merupakan putri tercintanya, apalagi wajar saja kalau Cyra masih bersikap kekanak-kanakan mengingat usianya yang juga belum terlalu dewasa. Lagipula, Ciara juga bukan tipe orang yang mudah marah.


"Kamu udah pulang sayang? Syukurlah, mama senang lihatnya dan lega juga!" ucap Ciara lembut.


Cyra tampak terkejut mendengar ucapan mamanya barusan, ia tak menyangka kalau Ciara justru tidak memarahinya kali ini. Padahal, tadi Cyra sudah menabrak tubuh mamanya dan berlari-larian di dalam rumah bersama Askha. Namun, tentu saja Cyra senang karena setidaknya ia bisa aman kali ini dari amukan mamanya itu.


"I-i-iya ma, aku baru aja sampai kok. Tadi aku juga ketemu sama papa di luar, terus sempat ngobrol sebentar," ucap Cyra.


"Oalah, yaudah kamu ke kamar gih mandi terus ganti baju! Nanti abis itu kamu makan siang ya, tuh mama udah siapin makanan buat kamu sama Askha di meja!" ucap Ciara.


"Iya ma, tapi sebelumnya aku mau cerita deh sama mama. Tadi aku ketemu sama orang baik loh yang nolongin aku di jalan," ucap Cyra.


"Oh ya? Siapa dia sayang?" tanya Ciara penasaran.


"Namanya om Davin, ma. Dia baik deh, dia tolong aku terus juga iketin tali sepatu aku biar aku gak jatuh lagi. Baik banget kan, mas?" jawab Cyra.


Deg


Ciara langsung syok saat itu juga ketika Cyra menyebut nama Davin di hadapannya, setelah sekian lama kini Ciara kembali mendengar nama itu disebut lagi dan oleh putrinya. Ciara pun merasa sangat khawatir, ia tak mau jika Cyra terlalu dekat dengan Davin dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.


"Eee iya iya sayang, tapi kamu ingat ya kata-kata mama soal orang asing! Kamu gak boleh terlalu dekat atau percaya sama dia, karena gimanapun juga dia tetap orang asing sayang!" ucap Ciara.


"Iya ma, tapi menurut aku om Davin itu orangnya baik kok. Dia gak ada niatan jahat sama aku," ucap Cyra disertai senyum manisnya.


Ciara menghela nafasnya sembari memegang pundak putrinya, ia ingin meyakinkan Cyra untuk menjauhi Davin dan tidak lagi bertemu atau berhubungan dengan pria itu. Pasalnya, Ciara tahu betul watak Davin seperti apa dan ia tak mau Davin merusak putrinya sebagaimana Davin dulu merusak dirinya saat masih duduk di bangku sekolah.


"Kamu nurut aja ya sama mama, jangan bantah atau banyak bicara!" pinta Ciara.


"Siap ma!" mau tidak mau, Cyra pun terpaksa mengiyakan ucapan mamanya kali ini agar sang mama tidak memarahinya.




Singkat cerita, Cyra telah berada di kamarnya bersama Askha yang selalu setia menemani gadis itu dimanapun dan kapanpun. Tugas Askha memang adalah untuk melindungi serta menjaga Cyra, untuk itu Askha rela melakukan apapun demi bisa menjaga keselamatan sepupunya itu. Meski terkadang mereka tidak akur, namun pada akhirnya selalu saja mereka berbaikan semula dan tidak bermusuhan.


Askha begitu menyayangi Cyra dan menganggap Cyra sebagai adik kandungnya sendiri, walaupun status Cyra hanyalah sepupunya. Bahkan, seringkali juga Askha membantu Cyra dalam banyak hal yang gadis itu tidak bisa. Tak hanya Cyra, melainkan juga dua adik gadis itu yang saat ini masih berusia sepuluh tahun dan masih imut-imut nya.


"Cyra, ada pr gak lu? Jangan main hp aja, kerjain dulu tuh tugas atau pr kalo ada! Gue gak mau ya lihat lu besok dihukum lagi sama guru buat berdiri depan kelas atau bersihin toilet, capek!" ucap Askha.


Cyra tak perduli dengan ucapan kakak sepupunya itu, menurutnya Askha terlalu bawel dan tidak bisa mengerti kondisinya saat ini. Cyra masih asyik bermain game di ponselnya bersama teman-teman sekolahnya, itu memang hobinya dan Askha sendiri tidak bisa melarang Cyra untuk berhenti bermain game walau sebentar.

__ADS_1


"Heh Cyra! Lo itu gak bisa dibilangin baik-baik ya? Jadi anak gadis kok bandel banget, nurut dikit gitu loh sama gue!" tegur Askha.


Karena tidak kunjung ada jawaban dari Cyra, akhirnya Askha yang kesal memutuskan untuk mengambil ponsel milik gadis itu dari tangannya dan menyembunyikannya. Hal itu sontak membuat Cyra merasa jengkel, dengan cepat Cyra bangkit lalu berusaha merebut kembali ponselnya dari tangan Askha sembari mengoceh.


"Ish, kak Askha balikin hp aku! Kalo kakak mau main game juga, main lah di hp kakak sendiri!" ucap Cyra tampak kesal.


"Sssttt, gue gak bakal balikin nih hp! Kecuali lu mau kerjain tugas-tugas lu yang numpuk itu, biar lu gak dihukum lagi sama guru di sekolah! Lo gak capek apa kena hukum mulu?" ucap Askha geram.


"Enggak, aku tuh malah senang dihukum sama pak Doni. Abis dia ganteng sih!" ucap Cyra dengan genit.


"Hah??" Askha sampai melongok lebar dan tak habis pikir dengan sikap Cyra yang sudah mulai berani menggoda seorang guru di sekolahnya.


"Cyra, itu gak bener ya! Lu gak boleh kayak gitu sama guru lu sendiri, masih banyak kali yang ganteng dan seumuran sama lu. Lagian lu itu masih kecil, anak SMP kok udah berani kayak gitu!" ucap Askha menasehati adiknya itu.


"Bodoamat, kak Askha sendiri juga udah pacaran tuh sama kak Laura! Kenapa aku gak boleh pacaran juga coba?" ucap Cyra membela diri.


Askha sampai harus menepuk jidat karena mendengar ucapan gadis itu tadi, bisa-bisanya Cyra menyamakan dirinya dengan Askha yang jelas-jelas lebih tua dibanding dirinya. Sungguh Askha tak habis pikir dengan pola pikir Cyra, sepertinya gadis itu sudah tertular sikap narsis dan genit yang dimiliki Daiva selaku sepupunya dari Nindi.


"Cyra, gue ini lebih dewasa daripada lu. Gue udah SMA ya, nah lu tuh masih SMP. Mana boleh coba anak SMP pacaran?" ucap Askha.


"Teman-teman aku udah ada yang pacaran tuh, malah mereka sampe ciuman loh!" ucap Cyra.


Deg


Askha syok sendiri mendengar pengakuan Cyra mengenai teman-temannya yang sudah berpacaran dan berciuman, ia merasa tidak berguna saat ini sebagai orang dewasa karena dirinya saja belum pernah merasakan yang namanya ciuman dengan sang kekasih selama berpacaran.




Ketampanan yang dimiliki Amar membuat Daiva terpikat, meski usianya yang masih ada di bawah gadis itu sendiri. Daiva memang dikenal memiliki sikap yang centil dan suka menggoda setiap lelaki tampan di dekatnya, termasuk juga Amar tentunya. Paras cantik Daiva juga dimanfaatkan dengan baik olehnya, sehingga banyak lelaki yang ia dekati akan turut merespon dan mau diajak bicara olehnya.


"Eee Amar, ini kita jalan berdua kayak gini gak ada yang marah kan?" tanya Daiva secara tiba-tiba.


Amar cukup terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Daiva padanya, mengingat mereka sudah cukup lama pergi berdua dan baru kali ini Daiva bertanya seperti itu. Tentu saja Amar agak terkekeh mendengarnya, sehingga Daiva sendiri merasa bingung dan heran mengapa Amar malah terkekeh dikala Daiva menanyakan hal tadi.


"Ih kamu kenapa malah ketawa? Aku serius nanya loh ini, selama ini kan aku belum tahu kamu udah punya pacar apa belum. Kali aja kan aku jalan sama pacar orang nih sekarang?" sentak Daiva.


"Ahaha, kakak tenang aja kali! Mana ada aku punya pacar? Aku ini masih jomblo kak, ya tapi aku tetap bahagia sih," ucap Amar.


Daiva langsung cemberut ketika Amar menyebut namanya dengan tambahan kata kakak di depannya, tentu Daiva tak terima karena sudah berulang kali ia memperingati Amar untuk memanggilnya dengan sebutan nama saja. Namun, sepertinya Amar tak mau menurut karena pria itu merasa usia Daiva yang masih lebih tua dibanding dirinya.


"Ish, kamu lupa apa gimana sih Amar? Jangan panggil aku pake kak dong, panggil aja aku Daiva! Lagian usia kita gak terlalu beda jauh, ya walau kamu masih SMP dan aku udah SMA. Tapi, aku gak suka dipanggil kak!" ucap Daiva dengan ketus.


"Iya iya, maaf Daiva! Omong-omong, Cyra sekarang lagi dimana ya?" ucap Amar.


Lagi-lagi Daiva dibuat kesal dengan ucapan Amar, setelah tadi pria itu memanggilnya kak, kini Amar malah menanyakan mengenai Cyra kepadanya. Daiva pun tampak tidak bahagia mendengarnya, ya karena ia merasa Amar tak menghargai dirinya saat ini. Bukannya membahas mengenai kedekatan mereka, Amar justru terus saja bertanya tentang Cyra yang ia sendiri tak tahu Cyra ada dimana.

__ADS_1


"Eh aku salah bicara lagi ya? Maaf Daiva, aku beneran cuma nanya kok! Abisnya aku bingung harus ngobrol apa sama kamu, daritadi aku gugup banget tahu," ucap Amar grogi.


"Oh ya? Kamu tahu gak, kalau kamu gugup itu tandanya kamu mulai suka loh sama aku! Hati-hati aja, nanti lama-lama bisa jatuh cinta deh," goda Daiva.


"Hahaha, ngaco aja kamu Daiva! Aku mungkin bisa aja jatuh cinta sama kamu, tapi kamu sendiri masa mau sih sama bocah kayak aku?" ucap Amar.


"Eits jangan salah! Aku itu bisa suka sama siapapun loh, termasuk ya kamu Amar. Apalagi kita ini kan udah lama dekat, gak ada yang gak mungkin di dunia ini Amar," ucap Daiva.


"Iya sih." Amar tampak semakin gugup dan berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Daiva yang melihat tingkah Amar itu hanya cekikikan seraya menutupi mulutnya, ia tahu betul bahwa Amar saat ini begitu gugup dan malu-malu.




Disisi lain, Tiara hendak mengantarkan berkas menuju ruangan Adrian untuk ditandatangani oleh bosnya itu. Awalnya semua tampak baik-baik saja, bahkan Tiara juga terlihat begitu ceria dan mau menyapa orang-orang yang ia temui. Namun, semua berubah ketika tanpa sengaja ia berpapasan dengan Galen yang baru keluar dari lift di depannya.


Saat itu juga Tiara merubah ekspresinya, senyum yang sedari tadi melingkar di pipinya menghilang dan berganti dengan wajah merengut. Pertemuan mereka memang seringkali terjadi disana, sebab saat ini Galen sudah bekerja di kantor itu meski hanya sebagai staf biasa. Tentunya Tiara amat merasa risih, karena hampir setiap hari ia harus bertemu dengan mantan suaminya itu.


"Eh bu Tiara, maaf bu permisi saya cuma mau numpang lewat!" ucap Galen dengan ramah dan langsung melangkah melewati Tiara.


Benar saja, Galen bahkan tidak terlalu banyak basa-basi dan memilih melangkah melewati Tiara seolah tak ingin membuat keributan. Galen seperti tahu bahwa Tiara masih membencinya, sehingga pria itu memutuskan menghindar. Walau begitu, sebenarnya di dalam hatinya Galen sangat ingin berbincang kembali dengan Tiara disana.


Sementara Tiara masih melamun di tempatnya berdiri saat ini, entah mengapa Tiara selalu saja teringat pada momen pernikahannya dulu. Andai Galen tidak selingkuh dengan Jessica kala itu, maka mungkin hubungan rumah tangga mereka masih berlangsung hingga kini. Tiara pun tidak perlu menjadi janda, dan kesulitan mengurus Askha.


Disaat ia sedang asyik melamun memandangi punggung Galen yang semakin menjauh, tiba-tiba saja Adrian muncul dan menepuk pundaknya dari belakang. Sontak Tiara terkejut, lalu spontan berbalik ke arah sang bos. Adrian tersenyum melihat reaksi wanita itu, apalagi Tiara terlihat menarik nafas dan mengelus dadanya dengan kuat.


"Huft, ternyata bapak. Saya kira tadi orang jahat yang mau lukai saya loh pak," ucap Tiara merasa lega.


Adrian terkekeh dibuatnya, "Hahaha, mana ada orang jahat di kantor ini Tiara? Lagian kamu ngapain ngelamun aja kayak gitu coba? Mana berkasnya? Saya tungguin loh daritadi," ucapnya.


"Oh iya pak, duh maaf saya sampai lupa kasih berkas ini ke bapak! Ini padahal saya udah siapin semua loh disini," ucap Tiara tampak gugup.


"It's okay, makasih Tiara! Sekarang kamu gak perlu ke ruangan saya lagi, kamu kembali aja kerja dan selesaikan semuanya sebelum waktu pulang tiba!" ucap Adrian.


"Baik pak, sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya!" ucap Tiara merasa tidak enak.


"Gak masalah, kamu kan tahu kesalahan saya ke kamu lebih besar daripada melamun dan lupa kasih berkas ini ke saya," ucap Adrian tersenyum tipis.


Deg


Seketika Tiara terdiam dan teringat pada peristiwa belasan tahun lalu yang terjadi antara dirinya dan sang bos, dimana malam itu mereka berdua melakukan hubungan terlarang yang mana tidak seharusnya mereka lakukan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2