Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 111. Donor darah


__ADS_3

Nadira serta Gavin tiba di rumah sakit dengan kondisi panik, mereka sama-sama mencemaskan keadaan Galen yang saat ini tengah dirawat di dalam sana setelah mengalami kecelakaan tadi. Mereka langsung bergegas kesana begitu Tiara mengabari melalui telpon, dan kini mereka berusaha mencari dimana Galen dirawat. Nadira benar-benar cemas, meski Galen bukan putra kandungnya tetapi ia sudah menganggap pria itu sama seperti Ciara.


Begitu melihat Tiara dan Leon yang tengah berdiri di depan sebuah ruangan dengan wajah cemas, akhirnya Nadira tahu jika disana lah Galen dirawat. Tanpa banyak berpikir, langsung saja mereka berlari menghampiri Tiara serta yang lainnya disana. Tentunya Nadira sudah tidak sabar ingin segera mengetahui bagaimana kondisi putranya, sebagai seorang ibu pastinya Nadira sangat khawatir dan tidak mau Galen kenapa-napa.


"Tiara, Tiara sayang!" panggil Nadira, yang membuat Tiara menoleh lalu menghampirinya.


Keduanya pun berpelukan disana sambil saling menangis, Tiara menumpahkan air matanya di tubuh sang ibu mertua untuk menyalurkan kesedihan yang ada di dalam hatinya. Baik Tiara maupun Nadira, tentunya sama-sama bersedih dengan kejadian yang menimpa Galen saat ini. Mereka pun berharap, semoga Galen dapat selamat.


"Sayang, gimana kondisi Galen sekarang? Dia baik-baik aja kan?" tanya Nadira setelah melepas pelukan, dan beralih menangkup wajah menantunya itu dengan diiringi isak tangis.


"Eee mas Galen masih dirawat sama dokter, ma. Kondisinya tadi kritis, tapi aku juga belum tahu kelanjutannya gimana," jawab Tiara lirih.


"Yaudah, kita sama-sama berdoa aja ya buat kesembuhan suami kamu!" Nadira kembali mendekap dan memeluk erat tubuh Tiara, lalu juga mengusap punggungnya perlahan.


Tiara mengangguk saja, menikmati sentuhan lembut Nadira yang berhasil membuatnya lebih tenang. Jujur sebenarnya Tiara masih sakit hati setelah tahu kalau suaminya berselingkuh dan sampai menghamili wanita lain, tetapi ia juga tak mau kehilangan Galen untuk sekarang ini karena ia masih belum siap hidup tanpa sosok suami.


"Tapi Tiara, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Galen bisa kritis seperti ini dan masuk ke rumah sakit sayang?" tanya Nadira penasaran.


"Ta-tadi...."


Tiara menghentikan ucapannya, begitu terdengar suara pintu terbuka dari belakang. Tiara pun mengalihkan pandangannya, begitu juga dengan Nadira yang menatap ke arah pintu. Tampak dokter muncul dari sana dengan wajah murung, membuat Nadira dan Tiara semakin penasaran. Keduanya pun kompak bergerak mendekati dokter itu, lalu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


"Dok, gimana kondisi anak saya dok? Dia baik-baik aja kan? Dia udah sadar dan bisa dijenguk kan?" tanya Nadira tampak begitu cemas.


"Iya dok, suami saya gak kenapa-napa kan? Bolehin saya ketemu sama dia, dok!" sahut Tiara.


"Tenang ya ibu ibu semuanya! Pasien kondisinya masih belum pulih, sekarang beliau kehilangan banyak darah dan memerlukan donor. Apa disini ada yang golongan darahnya O?" jelas dokter itu.


"Apa??" Nadira dan Tiara kompak terkejut.


Kedua wanita saling menatap satu sama lain, tidak ada dari mereka yang memiliki golongan darah sama dengan milik Galen. Kini mereka pun tampak kebingungan, sebab Galen memang sangat membutuhkan donor darah itu agar bisa berjuang hidup lebih lama lagi.


"Bagaimana bu, apa ada yang punya golongan darah O?" tanya dokter itu lagi.


Nadira menggeleng perlahan, "Enggak dok, kami tidak ada yang golongan darahnya O. Tapi, apa di rumah sakit ini gak ada stok darah O gitu dok?" ucapnya cemas.


"Maaf bu, barusan saya cek dan persediaan disini sedang kosong. Saya juga sudah coba minta bantuan ke PMI, semoga saja kita bisa dapat darah itu segera ya bu! Tapi selagi ada yang lebih cepat, mungkin bisa dibawa kemari," ucap dokter itu.


"I-i-iya dok, saya akan kabari keluarga saya yang lain dan bawa darah O itu dengan segera. Yang terpenting anak saya harus selamat dok!" ucap Nadira.


Dokter itu mengangguk perlahan, kemudian membiarkan Nadira serta Tiara untuk pergi mencari bantuan. Mereka bertanya pada Gavin maupun Leon, tapi tak ada satupun diantara mereka yang memiliki golongan darah O. Akibatnya, Tiara pun semakin panik saat ini dan tidak tahu lagi harus mencari darah itu kemana.



Dari tempat yang tak jauh, Jessica rupanya tengah memantau kondisi tersebut dengan menyamar menggunakan pakaian yang tertutup agar tidak dikenali oleh orang-orang disana. Jessica pun mendengar langsung kabar mengenai Galen yang membutuhkan golongan darah O, tentunya ia tersenyum karena golongan itu sama persis dengan yang ia miliki.


"Hahaha, Galen butuh donor darah? Ini kesempatan bagus buat aku, aku bisa manfaatkan momen ini untuk terus menggerus kekayaan Galen. Aku harus temui istrinya sekarang juga!" gumam Tiara.


Wanita itu menutupi wajahnya dengan masker, lalu berjalan mengikuti Tiara yang sebelumnya telah pergi untuk mencari seseorang yang bisa membantunya. Jessica akan melancarkan aksinya, ia berpura-pura ingin membantu Tiara dalam menyembuhkan Galen dengan memberikan donor darahnya.


Bagaimanapun caranya, Jessica tentu berharap dirinya bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya dan juga bayinya itu. Meski belum tentu anak yang dikandungnya adalah anak Galen, namun sesuai rencana Jessica akan terus mencecar Galen serta Tiara untuk membuat mereka berdua hancur.

__ADS_1



"Tiara tunggu!" Jessica langsung berteriak memanggil nama Tiara dan bergerak mendekat ke arahnya dengan berlari kecil.


Sontak saja Tiara terkejut mendengarnya, ia menoleh lalu menghentikan langkahnya. Bola matanya membulat seketika begitu melihat Jessica ada disana, memang ia masih belum mengenalinya karena Jessica mengenakan masker. Untuk itu, Tiara pun tampak terheran-heran melihatnya.


"Kamu siapa? Apa aku kenal sama kamu?" tanya Tiara dengan wajah penasaran.


Jessica langsung membuka maskernya dan menunjukkan wajahnya di hadapan Tiara, ia tersenyum kemudian menghentikan langkahnya. Tiara pun tak bisa melakukan apa-apa selain diam, wanita itu sangat syok melihat keberadaan Jessica disana yang merupakan selingkuhan suaminya.


"Hah kamu? Mau apa kamu datang kesini, siapa yang kasih tahu ke kamu kalau aku ada disini?" Tiara kembali bertanya, ia terlihat geram dan kesal setiap kali melihat wajah wanita itu.


"Tenang dulu Tiara, aku kesini justru mau bantu kamu!" ucap Jessica coba menenangkan Tiara.


Tiara mengernyitkan dahinya, "Gausah ngada-ngada deh, apa coba yang bisa kamu bantu sekarang? Ini semua terjadi juga gara-gara kamu, dasar pelakor gak tahu diri!" ucapnya kesal.


"Pelakor? Kamu sebut aku pelakor, Tiara? Kamu gak salah tuh bilang begitu? Asal kamu tahu, Galen duluan yang deketin aku. Dia minta aku buat puasin dia, dikala kamu sebagai istri tidak bisa melakukan kewajiban kamu itu!" ucap Jessica tegas.


"Apapun yang kamu bilang, tetap aja aku sebut kamu pelakor. Sekarang mending kamu pergi dari sini, aku gak ada waktu buat ladenin kamu!" ketus Tiara.


Disaat Tiara berbalik dan hendak pergi, tiba-tiba Jessica menahannya dengan erat. Tiara pun tampak semakin kesal, ia hentak tangannya hingga lepas dari genggaman wanita itu. Lalu, satu tamparan melesat di pipi Jessica sebagai pelampiasan emosi yang selama ini ia pendam.


Plaaakk


"Itu balasan buat kamu, dasar pelakor!" umpat Tiara dengan penuh emosi.


"Tiara, tahan emosi kamu!" pinta Jessica memelas.


"Kamu minta aku buat tahan emosi aku? Gimana bisa aku gak emosi kalau berhadapan sama pelakor kayak kamu, ha? Pelakor itu pantasnya dihajar dan diarak keliling kota!" cibir Tiara.


"Maksudnya?" tanya Tiara penasaran.


Jessica melebarkan senyumnya, "Iya Tiara, aku bisa donorin darah aku buat Galen sekarang. Karena, golongan darah aku juga O," jawabnya pede.


Deg


Tiara terbelalak lebar mendengarnya, tak menyangka jika Jessica memiliki golongan darah yang sama dengan suaminya itu. Tentu saja ia dibuat bingung saat ini, haruskah ia menerima tawaran Jessica atau tidak untuk membantu suaminya yang membutuhkan bantuan darah.


"Aku gak perlu bantuan dari pelakor kayak kamu, aku bisa cari orang lain yang golongan darahnya sama dengan mas Galen!" sentak Tiara keras.


"Kamu yakin Tiara? Susah loh cari orang yang golongan darahnya O, ini mumpung ada kesempatan harusnya kamu terima dong! Aku baik loh Tiara, aku mau bantu suami kamu itu!" ucap Jessica.


"Haish, yaudah kamu boleh donorin darah buat suami aku. Tapi, jangan harap aku kasih restu kamu untuk dekat sama mas Galen!" ucap Tiara.


"It's okay Tiara, kamu gak perlu melakukan itu kok. Aku cuma pengen bantu Galen dengan ikhlas, aku gak akan minta apa-apa dari kamu. Sekarang kamu antar aja aku ke ruang donor!" ucap Jessica.


Tiara mengangguk perlahan, ia pun terpaksa menerima tawaran Jessica karena tak memiliki pilihan lain. Benar memang yang dikatakan Jessica tadi, tidak mudah menemukan orang dengan golongan darah O disaat genting seperti ini. Nyawa suaminya nomor satu, dan tak mungkin Tiara mengesampingkan itu.



__ADS_1


Sementara itu, Libra datang ke rumah sakit menemui Nadira dan juga Gavin yang terlihat tengah menunggu di depan ruang rawat Galen. Pria itu baru mendapat kabar dari Gavin sebelumnya, sehingga ia langsung bergerak cepat datang kesana menyusul kedua kakaknya. Tentu saja Libra ikut cemas setelah mengetahui Galen mengalami kecelakaan, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada ponakannya.


"Mbak, mas!" Libra langsung menyapa dan menemui kedua kakaknya itu dengan wajah cemas.


"Libra, kamu tahu darimana kami ada disini?" tanya Nadira penasaran.


"Eee mas Gavin yang kasih tahu aku, mbak. Katanya Galen kecelakaan dan lagi butuh donor darah, makanya aku cepat-cepat kesini sama teman aku. Kebetulan dia golongannya sama kayak Galen," jelas Libra sembari mengenalkan Gita pada kakaknya.


Ya Libra memang datang bersama Gita saat ini, sebab ia tahu bahwa wanita itu memiliki golongan darah O yang juga sama dengan Galen. Namun sekali lagi, ia sudah terlambat. Tiara sudah lebih dulu membawa Jessica ke dalam ruang pendonor, sehingga sia-sia saja apa yang dilakukan Libra.


"Ah ini teman kamu? Makasih ya kamu sudah mau repot-repot datang kesini, tapi maaf kami sudah dapat pendonor yang rela mendonorkan darahnya untuk membantu Galen!" ucap Nadira.


"Oh ya? Bagus dong mbak, aku senang dengarnya! Terus, sekarang kondisi Galen gimana? Dia udah sadar dong mbak?" ucap Libra antusias.


Nadira menggeleng perlahan, "Belum Libra, Galen sekarang masih menjalani operasi di dalam. Ini kami juga sedang mendoakan supaya operasinya berjalan lancar," ucapnya lirih.


"Oh begitu, yaudah semoga aja Galen bisa cepat sadar ya mbak!" ucap Libra.


"Aamiin."


Mereka semua kompak mengaminkan ucapan Libra barusan, termasuk juga Gita yang tetap setia berdiri di sebelah lelaki itu. Ya meski dirinya ternyata tidak diperlukan kali ini, sebab Tiara sudah lebih dulu menemukan orang yang mau mendonorkan darahnya untuk Galen.


Kini Nadira tampak menatap fokus ke arah Gita, ia betul-betul penasaran siapa wanita itu dan mengapa baru kali ini ia melihatnya. Tidak elok tentu menurutnya, jika lelaki yang sudah beristri seperti Libra memiliki seorang sahabat wanita. Apalagi wanita itu masih muda dan cantik, pastinya akan menimbulkan kecurigaan di mata orang lain.


"Umm Libra, teman kamu ini siapa namanya? Mbak kok baru sekarang ini ya ketemu dia, kalian kenal sejak kapan?" tanya Nadira.


Libra spontan menatap Gita di sebelahnya, "Iya mbak, dia teman aku di rumah sakit. Namanya Gita, dan dia salah satu perawat terbaik yang pernah bekerja bareng aku," jawabnya dengan bangga.


"Iya nih kak, halo salam kenal!" sahut Gita.


Nadira pun tersenyum lebar dibuatnya, "Salam kenal juga, saya Nadira kakaknya Libra! Jadi, kamu perawat hebat dong ya?" ucapnya.


"Eee biasa aja kok, masih ada yang lebih hebat dari pada saya kak. Nah kalau Libra, baru deh dia ini gak ada tandingannya!" ucap Gita merendah.


"Apaan sih? Aku yang biasa aja mah, kamu itu justru yang luar biasa!" elak Libra.


Gita senyum-senyum kali ini sambil saling pandang dengan Libra, entah kenapa menyaksikan itu membuat Nadira merasa tidak suka dan muak. Tak sepantasnya lelaki yang sudah beristri seperti Libra, justru tampak akrab dengan wanita lain meskipun diantara mereka tidak ada hubungan spesial.


"Libra, boleh kita bicara sebentar disana?" tiba-tiba Nadira mengatakan itu, dan mengajak adiknya untuk berbicara menjauh dari sana.


"Bicara apa ya mbak?" tanya Libra keheranan.


"Ini penting, ayo kamu ikut sama mbak sebentar!" paksa Nadira.


"I-i-iya mbak..."


Akhirnya Libra ditarik paksa oleh Nadira untuk berbincang agak jauh dari tempat itu, ya karena ia memang ingin membahas mengenai Gita yang merupakan sahabat karib pria itu. Jujur saja Nadira tak menyukai kedekatan antara Libra dan Gita, pasalnya Libra merupakan suami dari putrinya yang tak lain adalah Ciara.


Mereka pun duduk dan berbincang di sebuah kursi yang jauh dari ruang rawat Galen, tampak Libra begitu penasaran melihat kakaknya yang terlihat sangat serius. Libra sedikit cemas kali ini, ia takut Nadira akan menanyakan mengenai Ciara yang ia sendiri pun tak tahu Ciara ada dimana.


"Libra, mana Ciara? Kenapa kamu malah datang sama wanita lain, bukan istri kamu?" tanya Nadira menginterogasi.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2