Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 188. Gugatan cerai


__ADS_3

Cyra telah bersiap untuk pergi ke sekolah pagi ini seperti biasanya, ia keluar dari kamar dan pergi menuju meja makan menyusul yang lain. Terlihat disana sudah ada kedua orangtuanya bersama dua adiknya disana, tanpa basa-basi Cyra menyapa mereka lalu terduduk di dekat adiknya. Namun, tiba-tiba saja Ciara menatap ke arahnya seraya meraih satu tangan gadis itu dan menggenggamnya.


Cyra sontak terkejut, ia bingung mengapa mamanya melakukan itu dan tampak penasaran apa yang terjadi pada mamanya itu. Sepertinya Ciara masih belum melupakan perdebatan diantara mereka sebelumnya, karena Ciara kini seperti hendak menegur Cyra yang sulit diberitahu. Cyra hanya diam membisu sambil memandangi wajah mamanya, sebab ia masih belum tahu apa yang terjadi.


"Cyra, kamu hari ini gausah sekolah dulu ya! Kamu di rumah aja sampai beberapa hari ke depan, biar mama sewakan guru privat untuk kamu yang bisa mengajari kamu banyak hal!" ucap Ciara.


Cyra tersentak dan mengernyitkan dahinya, ia tentu tak ingin mengikuti perintah mamanya untuk belajar di rumah melalui les privat. Mungkin saja ini semua hanyalah siasat mamanya, ya sebab Ciara ingin supaya Cyra menjauh dari Davin. Cyra tahu betul tentang itu, spontan Cyra menarik tangannya dan terlihat begitu kesal.


"Maksud mama apa sih? Buat apa coba mama mau sewa guru privat? Aku tuh gak butuh yang kayak gitu ma, aku mau di sekolah aja!" ucap Cyra.


"Ini semua demi kebaikan kamu sayang, papa kamu juga udah setuju kok. Mulai sekarang kamu sekolah di rumah aja, karena mama gak mau kamu disakiti sama om Davin itu!" ucap Ciara tegas.


"Tapi ma, om Davin tuh baik ke aku dan dia gak pernah berbuat jahat!" ucap Cyra.


Lagi-lagi Ciara dibuat kesal dengan sikap keras kepala putrinya itu, ia bingung darimana Cyra bisa memiliki sikap seperti itu. Rasanya sulit sekali bagi Ciara untuk memberitahu Cyra, ia pun semakin pusing dan kebingungan saat ini. Cyra seperti sudah dipengaruhi oleh Davin, sehingga gadis itu lebih percaya pada Davin dibanding dirinya.


"Apa mama perlu perjelas lagi kalimat mama kemarin itu, ha? Kamu masih kurang percaya ya sama ucapan mama itu? Kamu mau bukti sayang?" tanya Ciara coba menahan emosinya.


"Ciara, udah jangan diperpanjang lagi! Gak enak sama Lia dan Lio itu, kamu tenang ya sayang!" ucap Libra menengahi.


Ciara terdiam kali ini, ia melirik ke arah Adel dan juga Lio yang memang tepat berada di dekatnya. Ciara tak mau jika kedua anaknya itu tahu kalau saat ini ia sedang memiliki masalah dengan Cyra, karena pasti itu akan mengundang banyak pertanyaan. Untuk itu, Ciara memilih menurut saja dengan ucapan suaminya dan tidak lagi membahas hal itu.


"Berarti aku masih boleh sekolah kan, ma? Aku gak mau belajar privat, itu bosenin banget pasti. Apalagi, kalau gurunya gak asyik nanti," ucap Cyra.


Ciara tak menjawab apa-apa kali ini, ia terlihat masih emosi lantaran Cyra begitu sulit diberitahu. Namun, Libra tampak tersenyum ke arah putrinya dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Libra memang juga tak suka melihat kedekatan antara Cyra dan Davin, tapi untuk saat ini Libra tak mungkin bisa memaksa Cyra menjauh dari Davin.


"Boleh kok sayang, kamu berangkat sekolah diantar sama Askha seperti biasa ya! Udah kamu sama mama jangan saling bertengkar gitu dong, gak enak tau didengarnya!" ucap Libra.


"Makasih papa!" Cyra tampak sangat senang dan antusias, berbeda jauh dengan Ciara tentunya.




TOK TOK TOK....

__ADS_1


Suara ketukan pintu dari arah luar membuat Davin yang sedang asyik terduduk di dalam kini terkejut, ia pun meletakkan sejenak ponselnya dan meminta seseorang di luar sana untuk masuk. Ya meski ia agak jengkel kali ini, namun ia harus tetap bersikap profesional sebagai seorang guru. Apalagi, jika yang datang adalah murid atau guru lainnya yang memiliki urusan penting dengannya saat ini.


Begitu pintu dibuka, Davin melongok seketika karena ternyata yang datang adalah Daiva alias murid dari sekolah sebelah. Davin pun tak mengerti mengapa gadis itu datang kesana, padahal ia sama sekali tidak ada hubungannya dengan sekolah tingkat SMA. Davin masih terdiam memandangi wajah gadis itu, ia coba mencari tahu apakah niat Daiva sebenarnya datang ke ruangannya kali ini.


"Permisi pak, selamat pagi! Benar kan ini dengan pak Davin, ya?" ucap Daiva yang kini sudah berada tepat di hadapan lelaki itu.


"Ya benar, saya sendiri. Kamu ini siswi SMA kan, mau apa kesini?" ucap Davin terheran-heran.


"Begini pak, bapak dipanggil sama kepala sekolah. Katanya sih ada rapat penting yang akan segera dimulai sebentar lagi," jelas Daiva dengan lembut.


"Hm, rapat apa?" tanya Davin terlihat bingung.


Daiva hanya menggeleng, pandangannya kali ini fokus kepada tonjolan di celana Davin yang terlihat begitu menggoda. Bahkan, Daiva sampai menjilat bibirnya sendiri dan merasakan tubuhnya begitu tergoda dengan tonjolan besar itu. Ia makin penasaran dengan milik Davin, rasanya ia ingin bermain bersama pria itu dan memuaskannya.


"Hey, kamu!" Davin bangkit dari tempat duduknya, lalu menegur siswi yang ada di hadapannya itu.


Sontak Daiva terkejut, matanya membulat lebar dan tak menyangka kalau saat ini Davin sudah berada tepat di hadapannya. Degup jantungnya bergerak begitu kencang, ia sampai tidak bisa berkedip ketika sosok pria yang ia kagumi berdiri dekat dengannya. Apalagi, Daiva semakin penasaran pada tonjolan besar yang ada di bawah lelaki itu.


"Kamu namanya Daiva? Kenapa kamu diam aja daritadi, hm? Saya itu lagi bicara sama kamu, harusnya kamu jawab bukan malah lihat ke arah lain!" ucap Davin dengan tegas.


Deg


"Ohh, yaudah kamu ikut saya! Jaga-jaga aja kalau ternyata kamu bohongi saya, soalnya saya udah pernah dibohongi sama murid seperti kamu," ucap Davin langsung menggandeng tangan Daiva.


"Eh eh pak..." Daiva terkejut dan tak sempat mengelak saat Davin meraih tangannya.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Davin.


Daiva menggeleng sebagai jawaban, ia tak berani melawan Davin saat ini. Selain itu, Daiva juga merasa nyaman ketika Davin menyentuh tangannya seperti ini. Tentu saja ini adalah sebuah kesempatan bagi Daiva untuk coba menggoda Davin, meski ia belum tahu cara apakah yang cocok untuk bisa membuat Davin tergoda padanya.


Setelah itu, mereka sama-sama melangkah ke luar dari ruangan Davin menuju wilayah SMA yang tak jauh dari sana. Hanya saja, entah sengaja atau tidak Davin justru mengambil jalan yang lebih jauh, yakni melewati belakang gedung sekolah. Hal itu membuat Daiva merasa heran, namun terlihat senang dan mengharapkan sesuatu.


Sepanjang jalan, Daiva terus berpikir keras untuk bisa menggoda Davin di sebelahnya. Daiva akui kalau Davin adalah guru paling tampan di sekolahnya, sebagai wanita biasa tentunya Daiva pun juga tergoda pada pesona pria itu. Walau bisa dibilang, Davin memang sudah berumur dan tak pantas jika Daiva menggodanya.


__ADS_1



Selepas Cyra pergi ke sekolah bersama Askha, kini Ciara dan Libra berada di dalam kamar mereka untuk membicarakan sesuatu yang penting. Tampak Ciara mengambil sesuatu dari laci mejanya, lalu memberikan itu kepada suaminya. Ciara terlihat begitu kesal, tatapan matanya seolah menunjukkan bahwa saat ini ia masih membenci pria itu.


Libra pun mengambil lembaran yang diberikan sang istri, ia membukanya dan membaca sebuah surat di dalamnya dengan santai. Tapi kemudian, betapa syoknya Libra setelah mengetahui apa isi surat yang diberikan istrinya itu. Rupanya selama ini, Ciara sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan dan sedang dalam proses.


"Sayang, ini maksudnya apa? Kamu gugat cerai aku, ha?" tanya Libra untuk memastikan semuanya.


Ciara tersenyum menyeringai, ia senang melihat ekspresi suaminya saat ini yang begitu terkejut ketika mengetahui hal itu. Memang Ciara telah mengurus semua itu selama ini, ia juga meminta bantuan dari pengacara keluarganya agar proses perceraian ini bisa cepat terlaksana dan ia dapat berpisah secara resmi dari suaminya.


"Iya mas, kenapa? Kamu kaget ya lihat surat itu? Selama ini aku emang udah urus semuanya mas, supaya kamu hanya perlu datang ke pengadilan besok di sidang perceraian kita," ucap Ciara.


"Apa-apaan sih kamu sayang? Aku gak pernah setuju ya sama perceraian ini, aku gak akan mau bercerai dari kamu!" sentak Libra.


"Hm, kenapa gitu mas?" tanya Ciara.


Libra membanting surat itu ke ranjang dan dengan tegas menolak untuk hadir di dalam persidangan besok, sebab ia memang tidak pernah setuju untuk bercerai dengan istrinya itu. Sampai kini Libra masih mencintai Ciara, tak mungkin baginya untuk pergi jauh dari wanita itu atau bahkan berpisah dengannya seperti kemauan Ciara sendiri.


"Sampai kapanpun, aku gak akan pernah mau tandatangani ini atau hadir ke persidangan besok! Kamu dengar ya sayang, perceraian ini gak mungkin bisa terjadi! Aku cinta sama kamu, dan akan selamanya seperti itu!" ucap Libra dengan tegas.


"Cinta, mas? Cinta kamu bilang? Kalau emang kamu cinta sama aku, gak mungkin kamu bicara seperti itu di depan om Davin!" ucap Ciara.


Libra terdiam sesaat, pandangannya tak lepas dari wajah sang istri yang kini terlihat dipenuhi amarah akibat kejadian beberapa waktu lalu. Libra tak menyangka, ternyata perkataannya kala itu di hadapan Davin dan dua orang wanita penghibur akan menjadi biang masalah yang cukup besar di dalam rumah tangganya.


"Aku gak akan gugat cerai kamu mas, kalau kamu bisa menghargai aku sebagai seorang istri. Tapi apa, selama ini kamu selalu jarang di rumah dan entah pergi kemana!" sambung Ciara.


"Apapun alasan kamu, ini tetap gak dibenarkan sayang. Aku gak mau pisah dari kamu, kita akan terus jadi suami-istri selamanya!" tegas Libra.


"Terserah kamu mas, aku udah capek debat sama kamu! Perpisahan itu jalan terbaik bagi kita, mas. Buat apa kita masih bertahan, kalau kamu selalu aja nyakitin aku?" ucap Ciara.


Deg


Saat itu juga Libra tersentak, ia tak tahu kalau selama ini tindakannya itu sudah menyakiti hati wanita yang ia cintai. Libra sungguh menyesal, karena ia tak pernah berniat untuk menyakiti Ciara apalagi membuat hatinya terluka.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2