
Ciara bersama Galen akhirnya tiba di lokasi yang ditentukan oleh Davin. Mereka sampai dengan cepat karena memang jarak dari tempat mereka tadi kesana lebih dekat, namun tampak kini Ciara masih kebingungan tak tahu harus menjawab apa pada kakaknya nanti. Ia juga tidak mau jika sampai Galen bertemu dengan Davin, pastinya nanti mereka akan terlibat keributan hebat.
Galen pun tampak heran melihat Ciara melamun terus sedari tadi sejak mereka berada di mobil, sontak Galen bergerak mendekat dan menatap wajah adiknya itu dari jarak dekat. Ciara yang asyik melamun memikirkan cara untuk membuat Galen pergi dari sana, tidak sadar jika kakaknya itu telah berada di dekatnya. Akibatnya, saat Ciara menoleh ia terkejut melihat kakaknya ada di sebelahnya.
"Hah kakak? Ih kakak tuh ngagetin aku aja deh, ngapain sih dekat-dekat banget begini? Kurang kerjaan banget sih jadi orang!" protes Ciara.
"Hey, makanya kamu jangan melamun! Kakak tuh daritadi tegur kamu loh, ajak bicara kamu. Eh kamu malah diam aja gak nanggepin, yaudah kakak deketin aja kamu biar kamu sadar," ucap Galen.
"Ah lebay! Untung aja aku gak jantungan tadi gara-gara kakak!" ucap Ciara.
"Ahaha, yaudah kalem dong sayang! Nih kita dah sampe nih di tempat teman kamu, sana gih kamu turun katanya mau ketemu temen!" ucap Galen.
"I-i-iya kak, tapi kakak pergi dulu ya? Soalnya aku gak mau kelihatan ada kakak disini," ucap Ciara.
"Loh kenapa gitu? Emangnya kamu mau ketemu sama teman kamu yang mana sih, apa kakak kenal?" tanya Galen penasaran.
"Eee kakak pasti gak kenal, udah ya aku turun mau temuin teman aku dulu?" ucap Ciara gugup.
Galen mengangguk saja, lalu Ciara pun turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam cafe yang sudah ditentukan oleh Davin sebelumnya. Galen kini melajukan mobilnya, tetapi ia tiba-tiba berhenti tak jauh dari cafe tersebut. Ya Galen ingin memantau Ciara dari jauh, ia hendak memastikan apakah Ciara benar-benar bertemu dengan temannya.
"Huft, apa om Davin beneran udah keluar dari penjara? Kok bisa sih ya?" gumam Ciara.
Langsung saja Ciara memasuki cafe tersebut dan mulai celingak-celinguk ke kanan serta kiri untuk mencari dimana pamannya, tapi kemudian tanpa diduga seseorang justru menutup matanya dari belakang menggunakan telapak tangan. Sontak Ciara terkejut, ia berontak sambil berusaha melepaskan diri dan terus teriak karena ketakutan.
"Hey hey Ciara, ini saya! Kamu gak perlu takut sayang!" ya orang itu adalah Davin, yang memang sengaja melakukan itu untuk mengejutkan Ciara.
"Hah om Davin? Jadi benar kalau om itu udah bebas dari penjara? Kok bisa sih?" ujar Ciara terkejut.
Davin tersenyum menyeringai, "Ya tentu, apa sih yang gak bisa dilakukan oleh seorang Davin? Saya ini bisa melakukan semuanya sayang, termasuk merebut kamu dari Libra," ucapnya.
Deg
Ciara terkejut bukan main mendengar ucapan pamannya, ia tak percaya karena ternyata pria itu masih saja mengincarnya. Ciara pun sangat takut kali ini, namun ia berusaha tetap tenang dan mengikuti perintah Davin untuk duduk berdua di tempat yang sudah tersedia sambil memesan makan serta minuman.
"Om tuh masih aja ya kayak gitu? Om lupa, aku ini udah jadi tunangannya om Libra. Aku gak mungkin berpaling ke lain hati, apalagi itu sama om Davin!" ucap Ciara dengan tegas.
"Santai Ciara, tidak usah terburu-buru begitu! Kamu perlu tahu kelakuan bejat Libra di belakang kamu, supaya kamu bisa berpikir lebih jernih!" ucap Davin.
Perkataan Davin barusan membuat Ciara tampak kebingungan, gadis itu tak mengerti apa maksud ucapan Davin yang mengatakan jika Libra berlaku bejat di belakangnya. Tapi apapun itu, Ciara tahu jika ini pasti bagian dari rencana Davin untuk membuat Ciara membenci Libra. Maka dari itu, Ciara pun tidak akan mudah mempercayai ucapannya.
Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba dan Davin meminta Ciara untuk memakannya lebih dulu. Mau tidak mau, Ciara pun terpaksa melakukan perintah pamannya meski ia sebenarnya ragu untuk memakan makanan yang diberikan Davin itu. Mereka tampak asyik menikmati makanan tersebut, sampai kemudian Davin tiba-tiba berhenti dan mengambil ponsel miliknya dari saku celana.
"Ngapain om taruh hp om itu di meja? Emangnya ada apa disitu?" tanya Ciara yang penasaran.
Davin tersenyum menatap Ciara, "Ya Ciara, disini ada sesuatu yang mau saya tunjukkan ke kamu. Saya yakin setelah melihatnya nanti, kamu pasti akan merubah pikir kamu tentang Libra!" jawabnya.
"Apa sih om? Gausah kebanyakan bicara deh, langsung aja om tunjukin apa yang mau om tunjukin ke aku itu!" ucap Ciara tampak kesal.
"Hahaha, kamu gak sabaran banget ya Ciara? Baiklah, saya akan perlihatkan video itu ke kamu. Tapi sebelumnya, kamu tenang dulu ya cantik!" ucap Davin sambil tersenyum menyeringai.
"Iya aku tenang kok, udah buruan kasih lihat sekarang!" pinta Ciara.
__ADS_1
Davin mengangguk senang dan tentu saja langsung mengambil ponselnya, tanpa berlama-lama lagi ia bergegas membuka galeri di hpnya itu dan menyetel video yang sebelumnya telah diberikan oleh Bella untuknya. Davin pun memberikan ponsel itu kepada Ciara, memperlihatkan bagaimana kelakuan Libra yang terekam disana.
"See? Kamu lihat kan seperti apa kelakuan pacar kamu itu, orang yang kamu cintai? Sebejat-bejatnya saya, gak pernah tuh saya tidur berdua dengan wanita lain disaat saya sudah memiliki seorang kekasih!" ucap Davin memanas-manasi.
Ciara benar-benar syok melihatnya, bahkan ia sampai menutup mulut dengan tangan karena tak percaya pada video tersebut. Bagaimana mungkin, rupanya Libra semalaman memang bersama Bella dan itulah alasan mengapa Libra tidak pulang ke apartemennya. Ciara pun tak dapat menahan sedihnya, air mata tiba-tiba muncul dan mengalir begitu saja setelah melihat video tersebut.
"Ini gak mungkin, om dapat darimana video ini?" tanya Ciara.
"Itu gak penting Ciara, intinya apa isi di video itu. Kamu sudah tahu kan sekarang, kalau Libra tidak sebaik yang kamu kira loh," ucap Davin.
Ciara menggeleng, "Enggak om, ini pasti gak benar. Om mau coba-coba hasut aku kan?" ucapnya.
"Untuk apa Ciara? Saya beritahu yang sejujurnya loh, kalau kamu gak percaya silahkan tanya langsung ke Libra soal video ini dan kemana dia semalam! Saya yakin, dia pasti tidak akan bisa menjawab dengan jujur!" ucap Davin.
"Aku gak percaya sama om Davin, aku benci om!" sentak Ciara.
Akhirnya gadis itu memilih pergi dari sana meninggalkan pamannya sembari menangis, Davin pun tersenyum puas melihatnya dan ia yakin Ciara pasti akan pergi menemui Libra kali ini. Tentunya ini semua adalah sesuatu yang diharapkan oleh Davin sedari dulu, sebab ia tak rela jika Ciara direbut oleh lelaki lain dan ia tidak terima itu.
"Om Davin!!" tanpa diduga, tiba-tiba saja Galen muncul dan menghampiri pamannya itu dengan penuh emosi.
"Hah Galen? Bagaimana bisa kamu ada disini?" tanya Davin terheran-heran.
"Tidak usah banyak bertanya om, apa yang tadi om lakuin ke Ciara sampai dia menangis begitu? Katakan om!" sentak Galen.
"Hahaha..."
Bukannya menjawab, Davin justru tertawa keras dan membuat Galen semakin emosi. Akhirnya Galen tidak dapat lagi menahan dirinya, ia mendekat lalu memberikan pukulan ke arah Davin sebagai balas dendam atas apa yang pria itu lakukan pada adiknya. Sebagai seorang kakak, Galen tak terima jika ada satu orang pun yang menyakiti sang adik.
•
•
Disaat ia sedang sedih, sebuah motor datang ke arahnya dan berhenti tepat di dekatnya. Tentu saja Ciara menatap bingung ke pengemudi motor tersebut, lalu ia pun terkejut karena ternyata si pengendara merupakan Arka alias sepupunya. Arka tampak memberi senyum sambil turun dari motornya, kemudian mendekati gadis itu.
"Hey! Lagi ngapain lu disini sendirian? Sambil nangis lagi, mana tuh cowok lu ha?" tanya Arka heran.
Ciara terdiam saja tak menjawab apapun, gadis itu sepertinya masih sangat sedih sehingga ia tak sanggup untuk berbicara apa-apa. Namun, Arka yang penasaran akhirnya memutuskan mendekat dan mengajak Ciara duduk di kursi yang ada disana. Ciara menurut, lalu terduduk bersama Arka masih sambil menangis terisak.
"Gue gak ngerti lu kenapa, tapi pasti lu lagi ada masalah berat. Entah itu sama cowok lu, atau yang lain. Gue disini cuma mau bantu lu, siapa tahu lu butuh teman curhat," ucap Arka.
Ciara menggeleng sebagai jawaban, lagi-lagi ia tak berkata apa-apa kepada Arka kali ini. Jujur hal itu membuat Arka sedikit jengkel dan rasanya ingin memukul gadis di sebelahnya, tetapi tidak jadi karena ia tahu Ciara sedang tertimpa masalah. Ya meski Arka masih bingung sebenarnya apa yang dialami Ciara sampai gadis itu menangis deras.
"Lo mungkin belum bisa cerita, yaudah lu nangis aja dulu deh sepuas lu! Kalau lu butuh sandaran, bahu gue siap nampung nih," ucap Arka.
Karena terkejut, Ciara pun reflek menatap wajah Arka dan melotot tajam dibuatnya. Sontak Arka agak kaget karena tiba-tiba gadis itu memberikan tatapan tajam kepadanya, tapi kemudian Arka terkekeh dan merasa senang dengan reaksi Ciara saat ini. Tanpa meminta persetujuan, Arka pun merangkul Ciara sembari mengusap lembut bahunya.
"Lo sebenarnya kenapa sih? Ayolah, cerita dong sama gue jangan diem aja! Gue ini udah anggap lu kayak adik gue sendiri tau, jadi kalau lu sedih ya gue bakalan ikut sedih Ciara!" ucap Arka.
"A-aku ga—"
"Jangan bilang gapapa! Lo udah nangis kayak gini kok masih bilang gak ada apa-apa, emangnya lu pikir gue bakal percaya gitu?" sela Arka.
__ADS_1
"Apaan sih? Kamu gausah ikut campur, ini masalah aku!" ucap Ciara tegas.
"Ya gue tahu, tapi mulai sekarang semua masalah lu itu masalah gue juga. Kalau lu kenapa-kenapa, gue bakal selalu ada buat lu!" ucap Arka.
"Gausah lebay deh, lagian aku cuma lagi ada masalah sama om Libra kok," ucap Ciara.
"Nah kan, berarti bener dugaan gue. Lu itu lagi berantem kan sama pacar lu? Kasih tahu ke gue, dia ngapain sama lu?" ucap Arka.
"Kepo banget sih kamu, udah ah lepasin!" Ciara langsung berontak dan melepaskan diri.
"Ciara, gue ini perhatian loh sama lu. Gue gak mau ngeliat lu sedih kayak gini, jadi udah lah lu cerita sama gue sekarang!" ucap Arka.
"Aku barusan dikasih tahu sama seseorang, kalau om Libra itu semalam tidur sama perempuan lain. Itu yang bikin aku sedih Arka, aku sakit hati lihatnya!" ucap Ciara terisak.
"Apa? Kok bisa dia kayak gitu sama kamu? Eh bentar deh, siapa orang yang kasih tahu kamu tentang itu? Terus kok dia bisa tahu sih kalau pacar kamu tidur sama perempuan lain?" heran Arka.
Ciara menggeleng disertai isak tangis, "Aku gak tahu, intinya orang itu kasih video ke aku yang nunjukin kalau om Libra lagi sama cewek lain," jelasnya.
"Haish, darimana coba dia bisa dapat videonya? Lu gak boleh langsung percaya gitu aja, bisa jadi semua ini cuma rekayasa. Orang itu gak suka sama hubungan kalian, makanya dia mau coba buat pisahin kalian berdua," ucap Arka.
"Tapi di video itu jelas banget loh, om Libra emang lagi tidur berdua sama cewek lain. Aku juga kenal kok sama ceweknya," ucap Ciara.
"Gini deh Ciara, lu tuh cinta gak sama pacar lu itu?" tanya Arka tiba-tiba.
"Kamu kenapa nanya begitu? Ya jelas lah aku cinta sama om Libra, kalau enggak ngapain coba aku mau tunangan sama dia?" jawab Ciara tegas.
"Yaudah, seharusnya lu lebih percaya sama dia dong dibanding video itu!" ucap Arka.
Ciara terdiam, gadis itu memikirkan perkataan Arka yang memang ada benarnya. Sebagai seorang kekasih, Ciara seharusnya lebih mempercayai pacarnya sendiri dibanding dengan video yang diberikan oleh Davin tadi. Namun, entah kenapa rasanya sakit sekali saat ia melihat sebuah video dimana Libra bersama wanita lain.
"Iya kamu benar, Arka. Tapi, aku bingung harus bersikap gimana sekarang ini," ucap Ciara lirih.
"Simpel sih, lu temuin aja pacar lu itu dan tanya ke dia secara langsung! Kalau emang dia tidur sama perempuan lain, baru deh lu benci dia dan lu boleh putusin hubungan sama dia!" ucap Arka.
"Gak mungkin, kalau aku tanya langsung ke dia pasti dia akan mengelak," ucap Ciara.
Arka menggeleng seraya menggenggam tangan gadis itu, "Dia pasti akan jujur sama lu, percaya deh sama gue!" ucapnya.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Bukannya kalau cowok bikin salah, dia gak akan mau ngaku ya?" ucap Ciara.
"Itu kalau si cowok gak tulus cinta sama ceweknya, tapi kan menurut gue pacar lu itu beneran sayang dan jatuh cinta sama lu," ucap Arka.
"Ah kamu mah sok tau!" cibir Ciara.
Arka terkekeh dan melepas tangan Ciara begitu saja, lalu ia pun mengusulkan untuk mengantar Ciara ke apartemen tempat Libra berada dan menemui pria tersebut. Tentu saja Ciara mengangguk setuju, mereka berdua pun sama-sama bangkit dan berniat pergi dari sana. Akan tetapi, tiba-tiba saja mereka mendengar suara keributan yang berasal dari cafe.
"Hah itu ada apa ya? Kok banyak banget orang pada ngumpul disana?" ujar Ciara keheranan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1