
Seluruh kelompok telah memulai permainan, bahkan ada beberapa juga yang berhasil langsung menemukan bendera sesuai warna kelompok mereka dan terlihat bahagia. Begitu pula dengan kelompok Ciara yang dipimpin oleh Hanum, mereka berhasil mendapatkan dua buah bendera berwarna biru walau permainan baru dimulai beberapa menit yang lalu. Oleh karena itu, Hanum pun tampak besar kepala dan yakin kalau mereka akan menang.
Kini perjalanan mereka semakin jauh, Hanum sebagai ketua pun memimpin kelompoknya sembari memegang peta dan memerintahkan semua untuk menatap sekeliling agar tidak kelewatan saat ada bendera di sekitar mereka. Ciara menurut saja, meski ia sebenarnya tidak yakin kalau Hanum akan mampu membawa mereka menuju kemenangan. Namun, Ciara tak bisa protes karena ia takut Hanum tersinggung dan terjadilah pertikaian diantara mereka nantinya seperti saat itu.
Lambat laun waktu mulai terus berlalu dan mereka juga sudah berhasil mendapat lima bendera warna biru itu, hanya saja Hanum tiba-tiba merasa bingung saat ini dan memilih menghentikan langkahnya. Sontak Ciara serta yang lain terheran-heran dengan apa yang dilakukan Hanum, mereka khawatir Hanum membawa mereka menuju jalan yang salah dan bisa tersesat. Apalagi di sekitar mereka juga sudah tak terlihat lagi anggota kelompok yang lain, tentunya Kania dan Elma langsung panik karena tidak ingin tersesat di hutan liar yang menyeramkan itu.
"Eh Num, lu kenapa berhenti sih? Buruan dong jalan, bentar lagi kayaknya mulai gelap deh! Kalau kita masih disini terus, yang ada kita bakal kejebak," ucap Kania panik.
"Ish, lu bisa diem gak? Ini gue juga lagi bingung tau, gue gak tahu kenapa tiba-tiba jadi ngeblank. Padahal daritadi tuh gue lihat petanya bener kok, tapi kenapa ya kita malah kesasar kayak gini? Apa tadi gue salah ambil jalan?" ujar Hanum.
"Ya mana kita tau Hanum? Kan lu yang pegang peta terus daritadi," ucap Elma kesal.
"Tau ih gimana sih lu? Harusnya tadi tuh kalo lu bingung, ya lu tanya ke kita dong Hanum jangan ambil keputusan sendiri! Sekarang gimana nih kalau kita kesasar?" sahut Kania.
Ciara pun bergerak maju menyela obrolan mereka, "Guys, udah jangan pada ribut! Kita sama-sama cari cara aja biar gak tersesat," ucapnya pelan.
"Aih Ciara, tapi ini nih si Hanum gak bisa diandelin banget! Kalau aja dari awal tadi dia bilang ke kita, pasti gak bakal gini jadinya. Mana coba gue mau lihat petanya!" ucap Kania.
"Ih gausah, gue aja yang boleh lihat peta ini!" ucap Hanum menghalangi.
"Hanum, kamu jangan gitu dong! Masa kita gak boleh lihat petanya juga? Terus gimana coba caranya kita bisa bantu kamu?" protes Ciara.
"Ish Ciara, kok lu jadi ikutan nyalahin gue sih? Mentang-mentang gue yang pegang peta, terus lu bisa salahin gue aja gitu?" kesal Hanum.
"Hah? Aku gak—"
"Udah Ciara, emang bener kok ini salahnya si Hanum! Tapi dia malah gak mau disalahin, dasar ketua egois!" sela Kania.
"Apa lu bilang, ha? Udah berani kurang ajar ya lu sama gue?" kesal Hanum.
"Iya, udah siniin petanya kita mau lihat juga!" Kania yang emosi langsung menarik peta itu dari tangan Hanum berusaha merebutnya.
Namun, Hanum yang tak terima pun terus berusaha mempertahankan peta itu di tangannya. Akhirnya terjadilah perebutan peta disana, Hanum serta Kania tampak saling tarik menarik memperebutkan peta tersebut. Elma yang tak mau kalah, bergerak maju ikut membantu Kania untuk merebut peta itu dari tangan Hanum yang memang egois.
Ciara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan tiga gadis itu, ia juga panik dan berusaha melerai mereka agar tidak bertikai. Akan tetapi, mereka tidak mau dengar dan terus berebut peta sampai akhirnya peta itu robek terbagi dua bagian. Dan bagian yang satu harus terbang ke angkasa karena angin kencang menerpanya.
Sreekk
"Yah tuh kan jadi robek, ini semua gara-gara kalian!" sentak Hanum.
"Apaan? Perasaan lu deh yang egois, coba aja lu mau berbagi peta itu sama kita, pasti semua gak bakal begini! Lu udah bikin kita tersesat, terus sekarang semua jadi berantakan!" ucap Kania.
"Diem lu Kania! Lu ambil tuh peta yang terbang, cari! Gue gak mau tau ya, pokoknya lu harus bisa dapetin peta itu!" ucap Hanum.
"Ogah banget, lu cari aja sana sendiri!" tolak Kania.
"Eee udah udah guys, jangan ribut! Biar aku aja yang cari peta satu itu ya, kalian tunggu disini!" ucap Ciara menyela.
"Lo serius Ciara? Lo mau cari kemana emang?" tanya Elma khawatir.
Ciara mengangguk perlahan, "Iya, kalian tenang aja! Aku bakal cari di dekat sini kok, semoga aja peta tadi nyangkut gak terlalu jauh!" jawabnya.
"Yaudah, gue temenin lu ya Ciara?" sela Ayu.
"Nah iya tuh, sana gih lu temenin tuh si Ciara!" ujar Hanum setuju.
"Okay." Ayu manggut-manggut paham.
Setelahnya, Ciara pun pergi bersama Ayu mencari sobekan peta yang tadi terbawa angin. Sedangkan Hanum beserta yang lainnya tetap menunggu disana sambil senyum-senyum licik, tampaknya Hanum sangat senang karena Ciara mau pergi mengusulkan diri tanpa disuruh olehnya tadi. Dan tanpa disangka, Hanum justru melakukan tos bersama kedua temannya tadi sembari tersenyum puas.
"Yaudah yuk kita lanjut jalan sekarang, keburu gelap dan gak kelihatan nantinya!" ucap Hanum.
"Yuk!" Kania dan Elma tampak sepakat dengan perkataan Hanum untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Susi yang juga ada disana pun terheran-heran dengan sikap ketiga gadis tersebut, "Eh tapi Ciara sama Ayu gimana? Mereka kan masih cari peta yang hilang itu, masa mau ditinggal?" ujarnya.
"Ah biarin aja, nanti mereka juga bisa balik sendiri ke tenda. Sekarang yang penting kita jalan duluan sebelum malam tau! Emang lu mau kejebak di hutan ini dalam kegelapan, ha?" ucap Hanum.
"Ya enggak sih, tapi kasihan tahu Ciara sama Ayu kalau ditinggal! Terus lagian kan kata kak Seno, kita harus saling menjaga!" ucap Susi.
"Banyak omong lu! Terserah lu deh mau ikut kita apa enggak, kalau lu pengen tetap disini ya gapapa. Tapi, jangan salahin kita kalau nanti lu ketemu hewan buas terus dimakan deh tuh!" ucap Hanum.
"Hah? Ih amit-amit, jangan sampe! Yaudah deh, gue ikut sama kalian aja!" ucap Susi ketakutan.
"Nah gitu dong, yaudah ayo semuanya kita jalan sekarang!" ujar Hanum.
Akhirnya keempat gadis itu memutuskan melangkah lebih dulu menuju tempat tenda mereka berada, mereka tak perduli dengan Ciara maupun Ayu yang masih sibuk mencari sobekan peta itu. Sebenarnya ini memang rencana Hanum untuk menjebak Ciara, dan dari awal mereka juga tidak tersesat karena Hanum hanya berpura-pura saja.
•
•
Sementara itu, Ciara dan Ayu telah berhasil mendapatkan sobekan peta tadi yang ternyata menyangkut di pohon dekat sana. Untungnya mereka tak perlu pergi terlalu jauh, karena sejujurnya Ciara juga takut akan tersesat di hutan liar yang luas dan menyeramkan itu. Setelahnya, mereka pun bergegas kembali ke tempat tadi untuk menemui Hanum beserta yang lainnya.
Namun, mereka dibuat keheranan lantaran di sekitar sana sudah tidak ada siapa-siapa. Padahal tadi Ciara meminta pada Hanum untuk menunggu disana, tapi baru ditinggal sebentar saja mereka semua malah menghilang. Sontak Ciara serta Ayu langsung panik dan ketakutan, kedua gadis itu tak menyangka kalau Hanum akan setega ini meninggalkan mereka.
"Duh Ci, gimana ini? Kayaknya mereka tinggalin kita deh, kalo kita kesesat di hutan ini gimana?" tanya Ayu tampak panik dan bingung.
"Eee kamu tenang aja ya! Kita gak akan tersesat kok, kita coba lihat peta yang sobek ini dulu siapa tahu bisa bantu kita sampai ke tempat tenda. Udah ya gausah panik!" ucap Ciara menenangkan.
"I-i-iya Ci, tapi emangnya peta ini bisa diandelin? Bukannya itu cuma sobekan ya? Kan yang satu ada sama Hanum," ucap Ayu.
"Ini emang cuma sobekan, tapi aku yakin kalau kita bisa keluar dari sini kok! Ya walau peta ini gak tunjukin tempat kita berada sekarang, jadinya aku juga gak tahu kita harus kemana," ucap Ciara.
"Tuh kan, terus lu mau ambil jalan asal gitu? Nanti yang ada kita bisa makin kesasar, Ci!" ucap Ayu.
Ciara menggeleng pelan, "Enggak kok, kita coba lurus aja ikutin jalan. Jangan lupa juga berdoa supaya kita bisa sampai ke tempat tenda dengan selamat!" ucapnya santai.
Lalu, kedua gadis itu memulai langkah mereka dengan perlahan mengikuti jalanan yang ada. Ciara juga terus berdoa untuk diberi keselamatan dan bisa sampai di tempat tujuan mereka, suasana semakin mencekam dan gelap membuat keduanya amat ketakutan kali ini. Ditambah adanya beberapa pohon besar serta burung-burung yang berterbangan, mereka tentu tidak ingin berlama-lama ada disana.
"Ci, gue takut banget! Gue belum pernah kesasar di hutan sebesar ini tau," ucap Ayu.
"Ya sama aku juga, tapi kamu tenang ya dan berdoa aja semoga kita bisa selamat dan gak makin jauh kesasar disini!" ucap Ciara.
Mereka terus melangkah menyusuri hutan yang lebat itu, Ayu benar-benar cemas dan khawatir kali ini karena disana tidak ada siapapun lagi selain mereka. Ayu juga mengira kalau ini semua adalah rencana dari Hanum untuk menjebak Ciara, sebab ia tahu Hanum memang masih membenci gadis itu. Hanya saja selama ini Hanum selalu berpura-pura baik di depan Ciara untuk mengelabuhi gadis itu.
Kini keduanya tiba di sebuah pertigaan hutan, Ciara mulai bingung karena tak tahu harus mengambil jalan ke arah mana. Tentunya tanpa peta yang sesuai, membuat Ciara kebingungan untuk memilih jalan tersebut. Jika saja Ciara salah memilih, maka nasib mereka bisa semakin buruk dan mereka akan tersesat lebih jauh di hutan itu. Tentu Ciara serta Ayu sama-sama tidak mau hal itu terjadi pada mereka.
"Duh Ciara, gimana nih? Jalannya ada dua lagi, lu mau pilih yang mana? Jangan sampai salah pilih Ci, gue gak mau kesasar!" ucap Ayu.
"Eee a-aku..."
"Ciara!!" tiba-tiba saja, seseorang memanggilnya dan membuat kedua gadis itu menoleh bersamaan.
•
•
Kini Hanum bersama teman-temannya telah berhasil sampai di lokasi perkemahan mereka semula, keempatnya tampak terengah-engah dan tersenyum lega karena tidak jadi tersesat di hutan yang mengerikan itu dan berhasil kembali dengan selamat tanpa luka sedikitpun. Mereka pun menemui yang lainnya yang memang sudah berada disana sedari tadi, karena tak melakukan drama.
Sontak Anin serta Cleo dibuat heran melihat Hanum datang tidak bersama Ciara, mereka langsung saja menghampiri Hanum dan teman-temannya itu untuk menanyakan mengenai keberadaan Ciara. Ya entah kenapa Anin memiliki pikiran yang buruk terhadap Ciara kali ini, ia khawatir akan terjadi sesuatu pada sahabatnya tersebut dan ia tak ingin tentunya hal tersebut sampai benar-benar terjadi.
"Huh akhirnya kita selamat juga sampai sini ya guys, dan kita juga bisa dapetin banyak bendera nih!" ucap Hanum merasa lega.
"Yoi, gue yakin banget tim kita pasti menang!" ucap Kania ikut senang.
"Yaudah, sana gih lu kasih bendera ini ke kak Seno sama yang lain biar bisa dihitung dan kita jadi pemenang kali ini!" suruh Hanum.
__ADS_1
"Oke!" Kania menyetujui ucapan sohibnya itu.
Disaat Kania pergi membawa tempat berisi bendera itu, Anin dan Cleo pun muncul di hadapan Hanum dengan tatapan tajamnya. Kedua gadis itu tentu saja ingin melabrak Hanum semisal terjadi sesuatu pada Ciara, apalagi saat ini mereka tak menemukan dimana keberadaan Ciara. Dan pasti mereka yakin sekali kalau Hanum adalah dalang dibalik hilangnya Ciara itu, karena Ciara tadi pergi bersamanya.
"Eh Hanum, kok lu balik sini cuma berempat sih? Ciara mana? Lu gak ngelakuin sesuatu yang buruk kan ke dia? Ingat janji lu tadi Hanum, katanya lu gak bakal apa-apain Ciara!" geram Anin.
"Hadeh, apaan sih ini orang datang-datang main ngamuk aja? Gak jelas banget deh lu!" ujar Hanum.
"Tau ih aneh, kita mana tau Ciara kemana! Salah dia sendiri tadi main tinggalin kita gitu aja, yaudah paling juga dia nyasar tuh!" cibir Elma.
Anin mengernyitkan dahinya tak percaya, "Lo pasti bohong kan! Gak mungkin Ciara kayak gitu, pasti kalian berdua yang udah tinggalin dia kan! Emang dasar licik, kalian itu pasti masih dendam kan sama Ciara!" ucapnya tegas.
"Lo kalo ngomong bisa santai aja gak sih? Udah nuduh gak jelas, terus marah-marah lagi! Dibilang bukan kita yang salah, ngeyel amat sih!" ucap Elma.
"Bohong! Mending kalian sekarang ngaku aja deh, kalian udah tinggalin Ciara dimana!" sentak Anin.
"Apaan sih lu? Dasar gak jelas! Udah ah mending kita istirahat yuk disana, orang kayak dia mah gausah diladenin!" ucap Hanum.
"Betul tuh, dasar cewek aneh!" sahut Elma.
Saat Hanum hendak pergi, Anin dengan cepat menarik tubuhnya dan memutar lengan Hanum sampai gadis itu meringis kesakitan. Anin tampak sangat emosi pada Hanum, tentunya karena ia tak terima setelah apa yang diperbuat Hanum pada Ciara kali ini. Meski Hanum terus menolak, namun Anin tetap yakin jika Hanum telah berbuat sesuatu yang tidak-tidak pada Ciara di hutan tadi.
"Lo pikir gue bakal lepasin lu gitu aja, ha? Gak bakal Hanum, lu harus tanggung jawab dan bawa Ciara kesini atau gue patahin tangan lu!" ucap Anin mengancam.
"Akh lepasin! Gue gak tahu Ciara dimana, lu jangan gila deh Anin!" kesal Hanum.
"Anin, Cleo!" tanpa diduga, suara itu muncul di telinga mereka dan membuat seluruh gadis itu terkejut mendengarnya.
Mereka menoleh bersamaan ke asal suara, dan betapa kagetnya mereka saat melihat Ciara sudah kembali bersama Ayu dan juga Terry. Tentu saja Anin pun reflek melepaskan tangan Hanum, ia bergegas menghampiri Ciara karena sangat bahagia melihat sahabatnya itu baik-baik saja. Sedangkan Hanum justru tampak heran melihatnya, ia tak menyangka jika Ciara bisa kembali dengan selamat.
"Apa-apaan sih ini? Kok mereka bisa balik secepat ini? Terus gak kenapa-napa lagi, ah sial! Rencana gue gagal lagi deh ini!" geram Hanum.
"Gak tahu nih, kayaknya Ciara itu pake jimat deh Num. Buktinya dia lolos mulu dari rencana kita, mungkin kita harus lepas dulu tuh jimat dari tubuhnya!" ucap Elma.
Pletakkk
Hanum pun menjitak kepala Elma dengan kasar, "Jimat jimat, mata lu tuh jimat!" ucapnya kesal.
"Ihhh apa sih salah gue Num?" heran Elma sembari mengusap-usap kepalanya yang sakit.
Setelah itu, Hanum langsung pergi begitu saja dari sana dan tak perduli lagi pada hasil permainan yang akan diumumkan. Menurutnya, kegagalan dirinya dalam membuat Ciara celaka saja sudah membuat ia merasa kesal dan ia harus memikirkan cara lain untuk bisa mencelakakan gadis itu lain waktu.
•
•
"Hiks hiks hiks..."
Disisi lain, Nindi tengah menangis terisak di bawah guyuran air shower yang menimpa tubuh polosnya itu. Ya Nindi saat ini memang sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, namun ia justru merasa sangat bersedih dan terus duduk menekuk kedua lututnya sembari bersandar pada dinding kamar mandi yang dingin.
Gadis itu terlihat memegang sebuah alat pengetes kehamilan di tangannya yang menunjukkan hasil positif, ia terus memandangi benda itu diiringi isak tangis yang semakin membasahi pipinya. Suara air dari shower itu berhasil menyamarkan tangisannya, sehingga Rifka tidak dapat mengetahui jika kini Nindi sedang menangis karena sesuatu.
"Ini gak mungkin, kenapa semuanya jadi seperti ini? Gimana kalau kak Tiara tahu, gimana kalau pak Leon tahu? Aku bisa dibenci sama semua orang, aku emang wanita kotor!" gumamnya lirih.
"Aaaaakkkk!!!" tiba-tiba saja Nindi berteriak melampiaskan emosinya, ia melempar benda tersebut sampai membentur tembok.
Lalu, Nindi tampak mengacak-acak rambutnya dan sesekali membenturkan kepalanya ke dinding. Ia sangat emosi sekaligus bersedih, kini dirinya sudah tidak suci lagi akibat perbuatan pria yang tak bertanggung jawab kala itu. Nindi pun tak tahu harus melakukan apa selain menangis, karena tidak mungkin ia menceritakan ini kepada Tiara maupun Leon. Bahkan sejak lama juga Nindi sudah berusaha menjauh dari Leon, hanya saja pria itu selalu mendekatinya dan membujuknya.
"Apa yang terjadi nanti kalau kamu tahu soal ini, pak? Apa kamu masih bisa terima aku yang kotor ini?" batin Nindi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1