
Jessica tengah bersama Bagas alias kekasihnya itu di parkiran rumah sakit, wanita itu baru saja usai melakukan tes kesehatan sekaligus mengecek kondisi kandungannya di dalam sana. Bagas pun tampak setia menemani, menunggu sampai wanitanya selesai dan pulang bersamanya.
Kini keduanya sama-sama tersenyum puas karena rencana yang mereka berdua lakukan sebentar lagi akan terlaksana, keinginan mereka untuk membuat Galen hancur dan menderita tidak lama lagi akan terjadi. Bagas pun tampak sudah tidak sabar dengan itu, mengingat ia benar-benar benci pada Galen karena ia kehilangan papanya.
"Kamu tenang aja Bagas! Gak lama lagi kita bisa menguasai harta Galen sepenuhnya, karena aku akan menikah dengan dia nanti. Kamu percaya aja sama aku ya sayang!" ucap Jessica menyeringai.
Bagas mengangguk perlahan, "Ya Jessica, orang seperti Galen itu harus diberi pelajaran! Dia dan papanya dulu sama-sama kejam, aku gak akan pernah bisa maafkan dia sebelum aku bikin dia benar-benar menderita!" ucapnya menggeram.
"Iya sayang, aku paham kok sama kesedihan kamu. Kalau aku jadi kamu, pasti aku juga bakal dendam banget sama si Galen itu!" ujar Jessica.
"Hm, thanks ya sayang karena kamu udah mau bantu aku buat jalanin rencana ini! Aku percaya sama kamu, pasti kamu bisa melakukan semuanya dan bikin si jahat Galen itu menderita!" ucap Bagas.
"Oh tentu sayang, dengan anak ini maka semua itu bisa kita lakukan. Dia juga gak akan tahu, kalau sebenarnya anak ini bukan anak dia!" ucap Jessica.
Bagas pun tersenyum menyeringai dibuatnya, ia turut mengusap perut Jessica yang masih belum terlalu membesar itu dan mendekap tubuh wanitanya sembari mengecup keningnya. Bagas sangat senang memiliki kekasih seperti Jessica, sebab tentunya Jessica mau menuruti semua yang ia katakan dan membantunya menjalankan misi balas dendam kepada Galen saat ini.
"Apa??" tanpa disadari oleh keduanya, rupanya sedari tadi ucapan mereka didengar oleh seorang wanita di belakang mereka.
Disaat mereka berdua menoleh ke asal suara, ternyata sudah berdiri sosok Ciara disana yang tentu saja baru selesai juga melakukan tes medis di rumah sakit itu. Tadinya Ciara memang tak sengaja mendengar kedua orang itu menyebut-nyebut nama Galen alias kakaknya, sehingga Ciara pun memilih untuk mendekati mereka dan mendengarkan ucapan Jessica serta Bagas disana.
"Jadi, kalian ini mau bikin kak Galen menderita? Sebenarnya kalian siapa, kenapa kalian dendam banget sama kakak aku?" tanya Ciara pada mereka dengan wajah penasaran.
Baik Bagas maupun Jessica sama-sama bingung harus menjawab apa, kini mereka juga tahu kalau yang berdiri di hadapan mereka adalah adik dari Galen. Tentu jika mereka memberitahukan semua rencana mereka pada Ciara, pasti Ciara akan segera memberitahu juga kepada kakaknya itu.
"Ohh, jadi ini adik dari si kejam Galen itu? Wah, aku gak nyangka bakal ketemu kamu disini! Salam kenal ya cantik, aku Jessica!" ucap Jessica.
Ciara menatap heran ke wajah wanita itu pertanda tak mengerti mengapa Jessica malah menyambutnya dengan ramah, terlebih saat ini Jessica juga mengulurkan tangannya seolah mengajak Ciara untuk bersalaman. Namun, pada akhirnya Ciara juga meraih telapak tangan itu dan mereka pun saling berjabat tangan disana.
"Aku Ciara, dan aku gak akan biarin kalian berdua untuk menyakiti kakak aku walau sedikit! Kalian mending jelasin deh ke aku, apa yang mau kalian lakuin ke kakak aku!" ucap Ciara dengan tegas.
"Hm, kamu lebih baik tidak usah ikut campur Ciara! Kami juga tidak akan melibatkan kamu, tenang saja ya!" ucap Jessica dengan senyum seringainya.
"Jangan anggap remeh aku ya kak! Aku bisa bantu dan melindungi kak Galen dari orang-orang seperti kalian, jadi sebaiknya kalian jangan pernah berpikir untuk macam-macam sama kakak aku!" ucap Ciara.
Bagas tersenyum dan mendekati wanita itu, "Okay Ciara, kita gak akan anggap remeh kamu lagi kok. Karena kamu berbahaya dan bisa menjadi ancaman bagi kami, maka aku akan menculik kamu sekarang!" ucapnya dengan pelan.
Deg
Ciara terbelalak lebar mendengar perkataan pria itu barusan, ia mendadak ketar-ketir karena cemas jika memang mereka akan menculiknya. Apalagi, saat ini Jessica tampak menyeringai menatapnya seolah sedang merencanakan sesuatu padanya bersama lelaki di sebelahnya. Namun, Ciara memilih tenang dan tidak gentar meski sedikitpun.
"Kenapa Ciara? Kamu takut ya sama ancaman aku tadi? Kalau iya, aku bolehin kamu pergi kok sekarang!" ucap Bagas terkekeh.
"Cih, aku gak akan pergi sebelum kalian berhenti ganggu kakak aku!" sentak Ciara.
Bagas dan Jessica tampak saling pandang sambil tersenyum, mereka sepertinya sudah menyiapkan sesuatu rencana untuk bisa membuat Ciara bungkam dan tidak ikut campur pada urusan mereka. Biar bagaimanapun, Bagas tetap harus waspada mengingat Ciara adalah adik Galen dan bisa saja menggagalkan rencananya.
•
•
__ADS_1
Dari sisi yang tak jauh, tanpa sengaja Keenan melihat Ciara tengah bersama dua orang asing yang tidak ia kenali. Keenan pun terlihat penasaran, ia juga cemas dengan Ciara yang sepertinya sedang dalam bahaya disana. Tanpa banyak berpikir lagi, langsung saja Keenan bergerak mendekat untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Meski sudah tidak bekerja dengan keluarga Nadira lagi, namun bagi Keenan mereka tetap saja sudah ia anggap seperti keluarga sendiri yang memang harus ia jaga dengan baik. Jika sampai Ciara terluka atau mengalami kejadian buruk, maka Keenan pun juga akan merasa bersalah nantinya.
"Ciara, kamu lagi ngapain disini? Siapa mereka?" tanya Keenan dengan wajah bingung.
Kehadiran Keenan disana membuat Ciara serta sepasang kekasih itu terkejut, mereka tak menyangka jika Keenan akan datang mendekati Ciara saat ini. Terlebih Jessica maupun Bagas juga sama-sama tidak mengenal siapa Keenan, dan baru kali ini lah mereka bertemu dengan pria itu.
"Om, ini om tadi aku gak sengaja dengar kalau mereka mau balas dendam ke kakak aku dengan manfaatin bayi yang dikandung sama cewek ini. Aku gak terima dong om!" jawab Ciara tegas.
"Apa? Kok bisa mereka mau ngelakuin itu sama Galen, memangnya atas dasar apa?" heran Keenan.
"Heh pak tua! Anda lebih baik tidak usah ikut campur, pergi dari sini sekarang dan jangan ganggu kami!" sentak Bagas.
Sontak Keenan menoleh dan menatap tajam ke arah Bagas, emosinya terpancing mendengar olokan dari pria tersebut kepadanya. Satu tangannya kini terkepal kuat disertai rahang yang bergetar, ia seakan-akan hendak memukul Bagas saat ini juga karena tidak terima dengan perkataannya tadi.
"Apapun yang akan kalian lakukan kepada Galen, maka itu juga menjadi urusan saya. Saya gak mungkin biarkan Galen terluka, camkan itu!" ucap Keenan dengan tegas dan kesal.
"Aduh pak tua, anda itu gausah sok jadi pahlawan deh! Ini urusan kami sama si jahat Galen, gak ada urusannya sama anda!" geram Bagas.
"Sudah saya bilang, apapun yang menyangkut Galen dan Ciara sudah pasti akan menjadi urusan saya. Disini saya berdiri untuk melindungi mereka, dan saya pastikan kalian berdua akan menyesal jika berani macam-macam dengan Galen!" ucap Keenan.
"Hahaha...."
Bukannya takut dan mengurungkan niatnya, Bagas serta Jessica justru kompak menertawakan ucapan Keenan barusan. Seolah-olah mereka menganggap ramah pada ancaman Keenan, serta tidak takut jika Keenan benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan tadi. Bagi mereka, dendam itu harus segera dibalas kan pada Galen dengan cepat.
"Hey pak tua, jangan kira kami akan takut dengan ancaman anda ya! Mau anda melindungi Galen sampai matipun, anda tidak akan bisa menghalangi niat kami berdua untuk menghancurkan Galen!" ucap Bagas dengan penuh emosi.
"Sebenarnya kalian ini siapa, dan kenapa kalian begitu dendam pada Galen? Apa salah Galen sama kalian, ha?" tanya Keenan penasaran.
"Oh anda mau tahu? Saya ini Bagas, putra kandung dari mister Harrison yang terhormat sekaligus adik dari kak Vanessa. Jika anda ingin tahu, orang tua Galen lah yang sudah menghabisi keluarga saya! Itu sebabnya, saya ingin balas dendam sama dia!" ucap Bagas menjelaskan dengan emosi.
Seketika Keenan terperangah mendengarnya, ia baru tahu jika Harrison masih memiliki seorang putra lagi yang bernama Bagas. Ia pun tampak memalingkan wajahnya, lalu mencoba mencari cara untuk bisa menghentikan permusuhan ini. Bagaimanapun, dahulu ia juga terlibat dalam pembunuhan terhadap Harrison serta Vanessa yang dilakukan oleh Albert.
•
•
Nadira mengajak Tiara untuk datang ke rumahnya, selagi Tiara menunggu waktu agar bisa segera datang ke pengadilan dan mengajukan surat perceraian dengan Galen. Nadira mendukung penuh keputusan Tiara untuk bercerai dengan Galen, karena menurutnya kesalahan yang dilakukan pria itu sudah sangat fatal seperti yang Albert lakukan dahulu saat bersamanya.
Ya sebelumnya Tiara sudah menceritakan semua yang ia alami kepada Nadira, tentu saja Nadira langsung amat syok dan tak percaya jika Galen meniru jejak papanya dengan berselingkuh di belakang Tiara. Sebagai seorang ibu, Nadira sangat kecewa dengan kelakuan Galen dan memutuskan tidak lagi menganggap pria itu sebagai anaknya.
"Ma, apa aku aman ada disini? Gimana kalau mas Galen datang dan temuin aku? Jujur ma, aku masih malas banget ketemu sama dia!" ujar Tiara.
Nadira tersenyum seraya mendekati menantunya itu dan mengusap perlahan rambut panjangnya, Nadira paham betul apa yang dirasakan Tiara saat ini karena dulu ia pun merasakannya. Diselingkuhi adalah hal yang sangat menyakitkan, dan siapapun pastinya tidak akan bisa melupakan kejadian itu.
"Kamu tenang ya sayang! Mama udah minta sama seluruh penjaga yang ada di rumah ini, supaya mereka melarang Galen untuk masuk kesini dan ganggu kamu!" ucap Nadira dengan lembut.
"Makasih ya ma, aku beruntung banget punya mertua seperti mama!" ucap Tiara.
__ADS_1
"Kamu jangan anggap mama ini sebagai mertua kamu lagi! Tapi, anggap aja kalau mama itu mama kandung kamu sayang!" pinta Nadira.
Dengan senang hati Tiara menganggukkan kepalanya, ia tentu sangat bahagia bila bisa mendapat orang tua kandung seperti Nadira yang selain cantik juga baik hati itu. Nadira pun membawa Tiara ke dalam dekapannya, perlahan dia juga mengusap punggung wanita itu sambil berusaha untuk menenangkannya.
"Kamu gak perlu khawatir lagi, kalau Galen berani macam-macam sama kamu biar mama yang hadapi dia!" ucap Nadira.
Tiara manggut-manggut perlahan, "Makasih ma! Tapi, tadi apa maksud mama bilang kalau mas Galen itu anak pelakor? Memangnya mas Galen bukan anak kandung mama?" ujarnya.
Deg
Nadira tersentak dan membelalakkan matanya saat Tiara mengajukan pertanyaan itu, ia sungguh bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Tiara tampak sudah menantikan jawaban dari Nadira saat ini, wanita itu benar-benar penasaran dan ingin tahu siapa sebenarnya Galen.
"Eee ya itu masa lalu Tiara, sebenarnya Galen memang bukan anak kandung mama. Jadi dulu itu, papanya Galen juga selingkuh sama wanita lain seperti yang dia lakukan sekarang," jawab Nadira.
"Apa??" Tiara terbelalak tak menyangka mendengar penjelasan dari Nadira saat ini.
"Tapi ma, berarti selama ini mama mengurus anak yang bukan lahir dari rahim mama? Kok bisa begitu sih ma?" tanya Tiara dengan heran.
Nadira menundukkan wajahnya sejenak, barulah ia menceritakan bagaimana sulitnya ia untuk bisa menerima Galen dan merawatnya seperti anak kandungnya sendiri. Ia juga mengatakan kalau dulu ia sangat membenci pria itu, bahkan pernah sekali ia hampir ingin membuangnya dan tidak mau lagi mengurus anak dari perebut suaminya itu.
Namun, Nadira akhirnya terpaksa merawat dan membesarkan Galen sampai pria itu dewasa. Bahkan, ia juga memberikan hak pada Galen berupa perusahaan yang dulu dibangun oleh suaminya dan meminta Galen mengurusnya. Akan tetapi, sekarang ini Galen justru membuatnya kecewa dengan berselingkuh di belakang Tiara.
•
•
Galen sendiri sedang kebingungan harus mencari Tiara kemana, ia sudah memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mengitari satu kota hanya demi bisa menemukan keberadaan Tiara serta putranya. Kini Galen kembali ke rumah dengan penuh penyesalan, karena hampir setengah hari ia mencari Tiara dan belum berhasil menemukannya dimanapun.
Saat Galen keluar dari mobilnya, tiba-tiba sudah berdiri sosok Leon di hadapannya dengan tanpa menggunakan seragam seperti biasa. Galen terlihat bingung menatapnya, ia menghampiri asistennya itu dan bertanya dengan wajah heran mengapa saat ini Leon tak mengenakan baju seragamnya.
"Ada apa ini, kenapa kamu kelihatan lesu begitu? Terus dimana seragam kamu yang saya kasih waktu itu, ha?" tanya Galen dengan ketus.
Leon beralih menghadap ke arah bosnya dengan wajah menunduk serta kedua tangan terlipat di depannya, Leon sungguh gemetar saat hendak menjelaskan apa maksudnya datang ke tempat itu. Ya biar bagaimanapun, ia sudah cukup lama bekerja untuk Galen sebagai seorang asisten.
"Maaf pak, saya kesini justru ingin mengembalikan baju seragam itu! Ini saya sudah siapkan di dalam tas ini, bajunya juga sudah saya cuci bersih kok pak!" ucap Leon dengan gugup.
Galen mengernyitkan dahinya, "Apa maksudnya? Kamu sudah gak mau bekerja lagi untuk saya gitu?" tanyanya penasaran.
"Betul pak, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Saya rasa sekarang sudah waktunya bagi saya untuk keluar dari zona nyaman saya, sekali lagi maafkan saya pak!" jawab Leon.
Galen menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya bahwa Leon akan mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini, padahal Leon sudah cukup lama bekerja padanya dan selalu membantunya untuk mengurus beberapa masalahnya. Namun, kali ini Leon malah ingin berhenti dari pekerjaan itu.
"Mohon maafkan saya pak, saya tidak ada maksud apa-apa kok!" ucap Leon sekali lagi.
Galen tampak terpancing emosinya, langsung saja pria itu mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul wajah Leon. Tapi belum sampai ia berhasil melakukan itu, tiba-tiba suara teriakan adiknya terdengar dari arah belakang dan membuat Galen mengurungkan niatnya.
"Kak Galen!!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!! ...