Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 23. Ciara sadar


__ADS_3

Terry meletakkan tubuh Ciara yang pingsan di atas ranjang tempat rawat sekolah, ia tampak sangat khawatir dan mencemaskan kondisi gadis itu. Tanpa berlama-lama, Terry juga langsung memanggil dokter yang bertugas disana untuk memeriksa Ciara. Sungguh Terry tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ciara, sebab ia masih sangat menyayangi gadis itu, meskipun mereka tak bisa bersatu.


Kebetulan sekali dokter masih berada disana, akhirnya dokter itu segera mengecek kondisi Ciara sesuai arahan Terry. Di sela-sela kecemasannya, Terry sempat berpikir apa yang terjadi pada Ciara sampai gadis itu bisa terkunci di kamar mandi dalam kondisi basah. Terry yakin kalau ada seseorang yang mengusili gadis itu dan tidak suka melihat Ciara kembali ke sekolah.


"Ciara, siapa yang lakuin ini ke kamu? Saya benar-benar gak terima, pokoknya siapapun itu saya pastikan dia akan menerima akibatnya!" gumam Terry dalam hati.


Setelahnya, tak butuh waktu lama bagi dokter itu untuk memeriksa kondisi Ciara dan mengobatinya. Dokter itu pun beralih menatap Terry sambil tersenyum, lalu berjalan menghampirinya. Sang dokter tampak menunjukkan ekspresi tenang, tentu saja Terry dibuat amat penasaran dengan apa yang terjadi pada Ciara saat ini.


"Dok, gimana sama Ciara? Dia gak kenapa-napa kan dok?" tanya Terry cemas.


Dokter bernama Marsya itu mengangguk sambil tersenyum, "Pak Terry gak perlu terlalu khawatir begitu, Ciara hanya pingsan karena kedinginan. Beruntung anda bisa cepat membawa Ciara kemari, jadinya dia dapat ditangani segera," jawabnya.


"Oh syukurlah, saya benar-benar lega mendengar kabar itu dok. Tapi, beneran kan Ciara gak kenapa-napa dok? Dia gak ada luka berat atau apa gitu kan?" ucap Terry memastikan.


"Anda tenang saja pak Terry, saya sudah memberikan suntikan pereda rasa dingin ke tubuh Ciara. Nantinya cairan di dalam suntikan itu akan merambat ke seluruh tubuh Ciara dan membuatnya merasakan hangat," ucap dokter Marsya.


"Baiklah, terimakasih ya dok? Berarti Ciara akan segera sadar kan?" ujar Terry agak lega.


Dokter Marsya kembali mengangguk kecil, "Iya pak, anda tidak perlu khawatir. Oh ya, omong-omong apa yang terjadi sama Ciara sampai dia bisa pingsan dan kedinginan seperti ini?" ucapnya heran.


"Eee saya juga tidak tahu, tadi saya menemukan dia di dalam toilet dan sudah dalam kondisi basah kuyup seperti ini. Tak lama kemudian, dia langsung pingsan begitu saja sebelum sempat saya tanyakan," jawab Terry.


"Waduh, kok bisa ya Ciara ada di toilet dan basah kuyup? Apa dia dikerjain sama seseorang di sekolah ini ya pak?" ucap dokter Marsya.


"Saya juga berpikir seperti itu, tapi saya masih belum tahu siapa pelakunya. Mungkin nanti akan saya coba selidiki, setelah Ciara sadar. Sekali lagi terimakasih ya dok atas bantuannya?" ucap Terry.


"Sama-sama pak, ini kan memang tugas saya untuk membantu setiap murid disini yang membutuhkan bantuan saya," ucap dokter Marsya.


"Ya," singkat Terry.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya mohon permisi ya pak? Saya akan kembali nanti jika diperlukan," pamit Marsya.


"Ah iya, silahkan dok!" ucap Terry memberi jalan.


Dokter Marsya pun pergi dari sana membiarkan Terry berduaan dengan Ciara, tentu saja Terry langsung bergerak mendekat ke tempat Ciara berbaring pingsan disana. Terry terus menatap penuh kasihan ke arah tubuh Ciara, ia sungguh tak percaya kalau nasib Ciara akan seburuk ini.


"Kasihan sekali kamu Ciara, saya sampai tidak tega melihat kamu seperti ini!" lirih Terry.


"Uhuk uhuk uhuk.." tiba-tiba saja, Ciara terbatuk dan sadar dari pingsannya saat Terry hendak menyentuh tubuhnya.


Sontak Terry tersenyum melihatnya, ia terkejut sekaligus senang ketika Ciara telah sadar. Meskipun Terry agak kecewa lantaran ia belum berhasil menyentuh tubuh mulus Ciara yang menggoda, tetapi sebagai seorang pria yang menyayangi gadisnya, tentu Terry tak menyesali itu.


"Ciara, syukurlah kamu sudah sadar! Kamu pelan-pelan aja bangunnya, jangan terlalu dipaksa kalau memang kamu belum bisa!" ucap Terry.


Ciara mengernyit heran menatap ke arah Terry, "Pak Terry? Ini dimana pak? Kenapa saya bisa disini sama bapak?" tanyanya keheranan.


"I-i-iya Ciara, tadi saya temukan kamu di kamar mandi dalam kondisi terkunci dan basah kuyup. Apa kamu ingat kejadian itu?" jawab Terry.


Dan tentu saja Ciara dapat mengingatnya kembali dengan jelas, ia tahu betul kalau tadi ada seseorang yang sengaja menyiram air ke tubuhnya dan juga menguncinya di dalam toilet. Namun, Ciara masih belum tahu siapa pelakunya karena ia tidak dapat melihat orang itu tadi.


"Iya pak, saya ingat. Tadi itu ada orang yang siram saya pake air dari pintu sebelah, terus abis itu dia langsung kunciin saya dan tinggalin saya gitu aja," jelas Ciara.


"Hah? Siapa yang ngelakuin itu Ciara? Apa kamu tahu?" tanya Terry panik.


Ciara menggeleng saja dengan wajah merengut, karena memang ia sendiri tak tahu siapa pelaku yang sudah menguncinya di toilet. Tapi, entah kenapa Ciara seolah yakin kalau pelakunya itu adalah Hanum, sebab hanya Hanum lah yang masih membencinya hingga kini.


"Yaudah, kamu istirahat aja dulu ya Ciara! Biar saya yang urus semuanya," ucap Terry.


Kali ini Ciara mengangguk-anggukkan kepalanya, rasanya ia ragu untuk mengatakan pada Terry jika saat ini ia sedang curiga pada Hanum, karena Ciara yakin kalau Hanum memang masih menyimpan dendam kepadanya. Namun, Ciara juga tak mau asal menuduh tanpa adanya barang bukti.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Anin serta Cleo muncul ke tempat Ciara dirawat itu. Mereka tampak sangat khawatir dengan kondisi Ciara yang tengah terbaring lemah disana, tanpa basa-basi lagi mereka langsung saja menghampiri gadis itu dan berdiri di dekatnya sembari menatap penuh kecemasan.


"Duh Ciara, ya ampun lu kenapa bisa jadi gini sih? Lu gapapa kan Ciara? Kita panik banget loh pas dengar kabar kalau lu dikunciin di kamar mandi," ujar Anin.


"Iya Ciara, beneran deh kita khawatir banget sama lu. Makanya kita berdua langsung susulin lu kesini, kondisi lu sekarang gimana Ciara? Udah baikan?" sahut Cleo tak kalah panik.


Ciara mengangguk lesu sambil tersenyum ke arah dua sahabatnya itu, "Tenang aja guys, aku gapapa kok. Pak Terry yang udah tolongin aku," jawabnya.


"Hah??" Anin dan Cleo sontak menatap ke arah Terry berada, mereka baru sadar kalau pria itu sedari tadi ada disana dan terus memantau mereka.


"Eh pak Terry? Hehe, maaf tadi kita gak lihat kalau ada bapak disini. Makasih juga ya pak udah tolongin sahabat kita?" ucap Anin sambil mencium tangan guru magang itu.


"Sama-sama, kalau begitu saya titip Ciara sama kalian ya? Saya masih harus menyelidiki semua ini, permisi!" ucap Terry.


"I-i-iya pak.." Anin dan Cleo mengiyakan saja.


Lalu setelah itu, Terry pun pergi meninggalkan Ciara disana bersama dua sahabatnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...•...


...•...


...HALO! APA KABAR GUYS? MASIH PADA LIBURAN ATAU UDAH MULAI KERJA NIH? APAPUN ITU, SEMANGAT SELALU YA DAN JANGAN PUTUS ASA!...


...SEMOGA KALIAN SUKA SAMA CERITAKU, MOHON BANTUANNYA BIAR CERITA INI MAKIN RAMAI....

__ADS_1


...TERIMAKASIH, AUTHOR SAYANG KALIAN DEH...


...♥️♥️♥️...


__ADS_2