Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 35. Meluapkan kesedihan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, Ciara pun tiba di rumah orangtuanya bersama Terry yang dengan setia mengantar. Ciara sengaja meminta Terry mengantarnya kesana dan bukan ke rumah Galen, sebab ia ingin menemui sejenak mamanya dan meluapkan semua kesedihan yang sedari tadi ia tahan akibat perlakuan yang ia dapatkan dari pamannya saat di rumah aneh tadi.


Kini Terry tampak menoleh ke arah Ciara dengan senyum mengembang di wajahnya, perlahan ia ulurkan tangan untuk mengusap rambut gadis itu bermaksud menguatkannya. Terry tahu betul kalau apa yang dialami Ciara sungguh berat, dan ia tidak ingin gadis itu terus-menerus merasakan kesedihan seperti sekarang ini.


"Ciara, kamu gausah sedih lagi ya sayang! Ini kita udah sampai di rumah mama kamu, jadinya kamu udah aman sekarang!" ucap Terry lembut.


Ciara menoleh dengan mata berkaca-kaca, "Iya pak, terimakasih ya atas pertolongannya?" ucapnya.


"Kamu gak perlu bilang makasih ke saya, semua ini saya lakukan karena saya sayang sama kamu, Ciara. Saya berjanji akan selalu ada untuk kamu apapun yang terjadi," ucap Terry.


Ciara benar-benar terkejut mendengar perkataan Terry barusan, hati gadis itu semakin dibuat kacau oleh ucapan yang dilontarkan Terry. Namun, Ciara tak mau ambil pusing untuk saat ini dan memilih tersenyum saja seraya meraih tangan Terry dari wajahnya dan menggenggamnya. Baru mendapat perlakuan seperti itu dari Ciara, jantung Terry sudah langsung berdetak kencang tak karuan.


"Aku beruntung banget bisa kenal sama kamu, semoga kamu sehat-sehat terus ya supaya kamu bisa jagain aku tanpa halangan!" ucap Ciara dengan nada bercanda.


Terry tersenyum lebar mendengarnya, "Ya Ciara, saya pastikan itu terus terjadi!" ucapnya tegas.


"Eee kalo gitu aku mau turun dulu ya, pak?" pamit Ciara seraya melepaskan tangan Terry dan berniat turun dari mobil itu.


"Oh okay, mau saya antar sampai ke depan pintu atau enggak?" ucap Terry menawarkan diri.


Ciara menggeleng pelan, "Gausah pak, sampai sini aja juga gapapa. Lagian ini sudah malam, gak enak kalau kamu ikut ke dalam," ucapnya.


"I-i-iya sih, yasudah kamu hati-hati ya Ciara! Saya akan tunggu kamu sampai masuk ke dalam," ucap Terry sambil tersenyum.


"Okay." kali Ciara mengangguk sembari melepaskan sabuk pengaman yang ia kenakan dan bersiap turun.


Terry hanya dapat memandangi saja gadis itu dari tempatnya terduduk saat ini, jujur ia masih belum ingin berpisah dengan Ciara dan ingin terus bersamanya. Namun, Terry tidak mungkin bisa menahan Ciara tetap disana karena ia tahu gadis itu sangat ingin menemui mamanya.


"Pak, saya duluan ya? Sekali lagi terimakasih atas bantuannya, kalau gak ada kamu gak tahu deh saya bakal gimana tadi," ucap Ciara pamit.

__ADS_1


Terry tersenyum menatapnya, "Iya Ciara, sudah kamu tidak perlu bilang terimakasih terus sama saya. Saya ini ikhlas bantuin kamu, dan saya justru akan sangat menyesal kalau saya gagal tolong kamu," ucapnya.


Ciara tersenyum sesaat dan saling bertatapan dengan pria itu, lalu barulah ia membuka pintu mobil tersebut dan turun ke luar. Terry tampak melambaikan tangannya dari arah kaca yang terbuka, Ciara pun membalas sembari berjalan menuju pintu rumahnya meninggalkan Terry yang masih setia menunggu disana.


Gadis itu kini mengetuk pintu dengan perlahan, ia menunggu cukup lama sampai akhirnya pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan mamanya yang sudah bersiap untuk tidur. Sontak saja Ciara langsung tersenyum lebar menatap mamanya dan bergerak maju memeluk erat sang mama disana, air matanya juga mengalir begitu saja membasahi pundak Nadira hingga membuat sang empu terkejut.


"Mama hiks hiks.." Ciara terus menangis meluapkan kesedihannya pada mamanya itu, sedangkan Nadira hanya terdiam tak mengerti tetapi berusaha menenangkan putrinya itu.


Sementara Terry yang menyaksikan kejadian itu pun turut merasa terharu, tapi kemudian ia memutuskan pergi dari sana karena dirasa kondisi Ciara sudah membaik dan tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi selama Ciara ada di rumahnya. Ya Terry pun melajukan mobilnya meninggalkan area perumahan Nadira dengan perasaan tak rela.


"Ciara, saya gak terima dengan semua yang kamu dapatkan kali ini. Saya janji saya akan balas perbuatan orang itu, ya saya harus kembali ke tempat tadi dan membalaskan dendam karena dia sudah berani menyentuh kamu!" gumam Terry.


Tanpa berpikir panjang, pria itu mengalihkan mobilnya menuju rumah tempat dimana Ciara disekap tadi. Entah mengapa Terry tidak bisa terima dengan apa yang didapatkan Ciara tadi, ya ia pun bertekad untuk membalaskan semuanya dan membuat si penculik itu kapok.




Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya, namun Bella yang tak ingin Libra pergi pun berusaha menahannya untuk tetap disana bersamanya. Bella tampak menunjukkan sikap manjanya pada Libra, gadis itu melingkarkan tangannya di sela-sela lengan Libra sembari menempelkan wajahnya pada bahu sang kekasih agar Libra tidak pergi kemana-mana.


"Sayang, kamu mau kemana sih? Jangan tinggalin aku dong! Kamu nginep disini aja ya sayang?" bujuk Bella dengan manja.


Libra menghela nafas sembari menyingkirkan tangan Bella dari pundaknya, "Gak bisa sayang, kita ini sekarang di Indonesia dan kita gak mungkin tidur satu rumah seperti sebelumnya," ucapnya pelan.


"Yah apa salahnya sih sayang? Kan kita cuma tidur dan gak ngapa-ngapain," ucap Bella heran.


"Iya aku ngerti, tapi pikiran orang tentang kita pasti buruk dan nantinya kita malah jadi bahan perbincangan mereka loh," ucap Libra.


"Ih biarin aja sih, ngapain juga kita perduliin omongan orang lain?" ucap Bella.

__ADS_1


"Maaf sayang, tapi tetap gak bisa. Aku harus pulang sekarang sebelum kemalaman, lain kali aja ya aku nginep disini nya?" ucap Libra.


Bella pun memasang wajah cemberut menandakan dirinya kesal pada sang kekasih, "Huh terserah deh, sana pulang!" ucapnya ketus.


"Hey sayang, jangan kayak gitu dong! Masa kamu ngambek sama aku cuma gara-gara ini?" ujar Libra.


Namun, Bella tak perduli dan malah membuang muka. Disaat Libra hendak membujuknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi sehingga Libra terpaksa mengurungkan sejenak niatnya itu untuk mengecek siapa yang menghubunginya. Sedangkan Bella masih tampak kecewa pada kekasihnya itu.


"Tiara? Ada apa ya?" lirih Libra setelah melihat layar ponselnya.


Tanpa banyak berpikir lagi, Libra langsung mengangkat telpon dari Tiara tepat di samping kekasihnya.


📞"Halo Tiara! Ada apa?" ucap Libra di telpon.


📞"Ha-halo om! Om, bisa bantu kita gak? Ciara diculik om, dan sekarang penculiknya minta tebusan uang lima milyar. Mas Galen nurut aja dan dia langsung pergi ke tempat si penculik, tapi aku khawatir sama dia, om." ucap Tiara menjelaskan.


Deg!


Seketika Libra terkejut bukan main mendengar penjelasan Tiara, ia sungguh tak menyangka jika Ciara tengah diculik oleh seseorang dan saat ini gadis itu tentunya berada dalam bahaya. Sebagai seorang paman, Libra pun mengiyakan permintaan Tiara dan berkata kalau dirinya akan segera membantu Galen membebaskan Ciara. Lalu setelah itu, ia mematikan telpon tersebut dan berniat pergi.


"Eh sayang, kamu mau kemana sih? Siapa Tiara yang barusan telpon kamu itu?" tanya Bella mencegat kekasihnya yang hendak pergi dengan cara mencekal lengannya.


"Eee nanti aku jelasin ke kamu, ya? Sekarang aku harus cepat-cepat pergi, keponakan aku diculik!" jawab Libra panik.


"Hah??" Bella terperangah tak percaya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2