
Saat di dalam restoran, Cyra serta Faiz pun tampak menikmati makanan yang mereka pesan. Cyra sangat senang siang ini, meski tadi ia sempat kesal karena ucapan pamannya. Bahkan kini Cyra terlihat semakin dekat dengan sang paman, padahal mereka sempat saling bertengkar satu sama lain. Tentu saja Cyra senang dengan kondisi ini, karena ia pun malas sekali jika harus bertengkar terus dengan Faiz.
Tanpa sadar, Cyra terus memandangi wajah sang paman yang tepat berada di hadapannya. Ia akui kalau memang Faiz memiliki wajah yang sangat tampan dan begitu menarik perhatiannya, bahkan Faiz tak terlihat seperti seorang paman yang sudah memiliki keponakan. Cyra pun sedikit merasa menyesal, karena pria setampan Faiz harus menjadi pamannya dan bukan kekasihnya.
"Hey, ngapain kamu ngeliatin aku kayak gitu? Apa ada yang salah sama aku?" tanya Faiz.
Seketika Cyra langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena terkejut dengan ucapan Faiz barusan, ia juga tak menyangka kalau ternyata Faiz menyadari bahwa sedari tadi ia memandanginya. Cyra pun terlihat gugup, ia tak mau pamannya itu bertambah sombong nanti.
"Eee enggak kok, siapa yang lihatin kamu? Aku aja lagi ngeliatin jalan tuh," elak Cyra dengan gugup.
"Heleh alasan aja kamu, padahal jelas-jelas kok kamu tadi ngeliatin aku. Kamu pasti udah mulai terpesona ya sama aku? Wajar aja sih, aku kan emang laki-laki tampan," ucap Faiz percaya diri.
"Dih, kepedean banget sih kamu!" Cyra langsung mencibir dan kembali fokus pada makanannya.
Tanpa diduga, mereka didatangi oleh seorang pria yang baru datang ke restoran itu dan membuat Cyra sangat terkejut. Pria itu adalah Libra, sepertinya Libra tak sengaja datang kesana dan melihat Cyra tengah bersama Faiz. Tentu saja Libra penasaran, selain itu ia juga ingin sekali bertemu dengan putrinya yang cantik itu.
"Cyra!" Libra pun memanggilnya, berdiri tepat di dekatnya dan tersenyum ke arah gadis itu.
"Papa??" sontak Cyra terkejut, spontan ia bangkit dari tempat duduknya dan terlihat membulatkan kedua matanya.
Cyra sungguh tak percaya akan bertemu dengan papanya saat ini, apalagi dalam kondisi dimana ia tengah bersama Faiz sang paman. Cyra merasa bingung kali ini, ia tak tahu harus senang atau sedih ketika bertemu dengan papanya disana. Pasalnya, Cyra masih ingat betul perkataan mamanya yang ingin bercerai dengan lelaki itu.
"Cyra sayang, papa kangen banget sama kamu! Papa senang bisa ketemu kamu disini," ucap Libra yang langsung mendekat dan memeluk putrinya.
Cyra terdiam saja tak merespon apapun, namun ia membiarkan papanya itu memeluknya dan tidak menolak walau ia masih agak ragu untuk bisa menerima papanya lagi. Sampai kini Cyra juga belum tahu, apakah papanya sudah bercerai dengan mamanya atau belum.
"Kamu kesini sama siapa sayang? Kok bukan sama Askha, dimana dia?" tanya Libra keheranan.
__ADS_1
"Eee iya pa, kenalin ini om Faiz anaknya oma Nadira yang baru datang ke indo! Papa pasti tau kan soal itu?" jawab Cyra sambil menunjuk ke arah pamannya yang juga ikut bangkit.
Libra melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Faiz sambil tersenyum. Mereka saling berjabat tangan, memang Libra juga sudah tahu kalau Nadira memiliki anak dari Gavin dan itulah Faiz. Namun, Libra belum pernah bertemu dengan Faiz sebelumnya karena pria itu bersekolah di luar negeri.
"Pa, kenapa papa gak pernah pulang ke rumah lagi? Apa papa sibuk banget ya di rumah sakit?" tanya Cyra tiba-tiba.
Deg
Betapa syoknya Libra, ia bingung harus menjawab apa dan reflek memalingkan wajahnya.
•
•
Sementara itu, Ciara datang ke rumah mamanya bersama kedua anak kembarnya yang baru selesai pergi jalan-jalan. Ciara ingin meminta saran dari Nadira saat ini, mengingat ia baru saja bercerai dengan Libra dan belum berani mengatakan semua itu kepada ketiga anaknya. Sebagai seorang ibu, tentu Ciara tidak tega jika harus berkata pada ketiga anaknya mengenai hal itu.
"Nah Lia sama Lio, sini yuk main sama opa! Opa punya sesuatu loh buat kalian, ikut yuk sama opa!" ajak Gavin dengan ramah.
"Iya opa." Adel dan Lio serempak mengangguk dan mengikuti kemauan kakek mereka itu.
Setelahnya, Gavin pun membawa kedua cucunya itu menjauh dan membiarkan Nadira berbicara dengan Ciara disana. Ya sontak Nadira mengajak Ciara untuk duduk di sofa bersamanya, sudah tersedia dua gelas minuman buatan bik Vita yang membuat Ciara langsung meminumnya sampai sisa setengah.
"Jadi gimana Ciara, apa yang mau kamu bicarakan nih sama mama sekarang? Mama lihat-lihat kamu kayak lagi banyak pikiran, ada apa sih sayang?" tanya Nadira sembari mengusap punggung putrinya.
"A-aku masih bingung aja ma, aku gak tahu harus bilang apa ke anak-anak sekarang. Mereka terus aja nanyain soal papanya, gak mungkin kan aku bohongi mereka terus. Apalagi, Cyra itu sudah besar dan dia pasti gak bakal mudah dibohongi," ucap Ciara.
"Oalah, kamu bingung soal itu ya? Kalau menurut mama, ada baiknya kamu bicara pelan-pelan dulu sama mereka. Mama yakin lambat laun mereka juga pasti bisa terima semua ini kok!" ucap Nadira.
__ADS_1
"Tapi ma, gimana kalau mereka justru marah dan kecewa sama aku?" tanya Ciara.
Nadira tersenyum, "Kecewa itu wajar, tapi pasti nanti mereka juga akan baik-baik aja dan bisa terima semuanya kok," jawabnya.
"Aku gak tahu harus mulai darimana ma, mama bisa bantu aku gak?" ucap Ciara.
Nadira terdiam sesaat, ia memikirkan lebih dulu perkataan Ciara tadi sebelum menjawab apakah ia bisa membantu putrinya itu atau tidak. Nadira sendiri juga merasa bingung, karena ia pun belum pernah berada dalam posisi seperti itu. Namun, Nadira tetap akan berusaha untuk bisa membantu Ciara dalam menjelaskan kepada putra-putrinya.
"Nanti mama pikirin dulu ya sayang? Sekarang kamu abisin nih minumnya, tenangin diri kamu ya Ciara!" ucap Nadira dengan lembut.
Ciara mengangguk kecil dan menghabiskan minuman di dalam gelas itu sampai tak bersisa, sedangkan Nadira terlihat masih memikirkan apa kiranya ucapan yang tepat untuk bisa ia katakan kepada Adel maupun Lio nanti. Pasalnya, Nadira juga kebingungan untuk bisa membantu putrinya itu.
"Oh ya sayang, terus mantan suami kamu itu sekarang tinggal dimana? Apa kamu tahu gak soal itu?" tanya Nadira penasaran.
"Eee kalau itu sih aku kurang tau, ma. Aku juga gak mau terlalu banyak berurusan lagi sama mas Libra, ya walau rasanya sulit buat aku lupain dia karena dulu aku kan cinta banget sama dia," jawab Ciara.
"Mama ngerti kok sayang, wajar kalau kamu masih cinta sama mantan suami kamu itu. Lagian kalian kan baru bercerai satu hari, gak mungkin kamu bisa lupain dia secepat itu," ucap Nadira.
"Iya ma, tapi kenapa mama malah nanyain soal mas Libra?" tanya Ciara.
"Gapapa, tadinya mama berpikir kalau Libra bisa aja bantu kamu buat jelasin semuanya ke Adel, Lio dan juga Cyra soal perceraian kalian," jelas Nadira.
Sontak Ciara terbelalak, perkataan mamanya tadi membuatnya merasa bingung dan kesal. Tidak mungkin Ciara meminta bantuan pada Libra untuk menjelaskan semua itu, karena ia sudah sangat membenci mantan suaminya itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1