Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 103. Berkata jujur


__ADS_3

Di pagi hari yang indah ini, Galen tengah asyik berkutat dengan laptop miliknya di ruang kerja yang khusus ia bangun sebagai tempatnya menyendiri sekaligus menyelesaikan semua pekerjaannya yang tak perlu sampai Tiara tahu. Galen tampak tengah mengecek cctv di setiap sudut rumahnya, pria itu reflek menganga begitu melihat istrinya menemui sosok lelaki di luar pagar yang tak lain ialah Nico.


Sontak Galen langsung mengepalkan tangannya, emosi mulai menguasai tubuhnya saat ini setelah mengetahui kebenaran itu. Ia kesal, marah dan juga tak terima tentunya dengan sikap Tiara yang masih saja menemui mantan kekasihnya itu meski ia tak tahu apa yang mereka bicarakan. Rasanya Galen begitu marah saat ini, ingin sekali ia memberi pelajaran kepada istri kecilnya itu untuk tidak lagi main-main padanya seperti itu.


TOK TOK TOK


Tiba-tiba saja, pintu ruangannya diketuk oleh seseorang dari luar sana. Seketika Galen bertanya siapa yang ada disana, lalu ia mendapatkan jawaban yang mengejutkan karena rupanya Tiara lah yang hendak masuk kesana.


"Masuk!"


Akhirnya Galen mengizinkan istrinya itu untuk masuk kesana pertama kalinya, ya biasanya ia selalu menolak Tiara saat wanita itu memaksa masuk apapun alasannya. Namun, kali ini sepertinya Galen hendak memberi pelajaran pada Tiara sehingga ia tak lagi melarang istrinya itu.


Pintu pun dibuka, Tiara kini melangkahkan kakinya bersama secangkir kopi yang ia pegang di tangannya. Wanita itu tersenyum, kemudian meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja sambil menyapa suaminya dengan lembut. Hanya senyum tipis yang Galen berikan sebagai balasan, karena jujur pria itu masih emosi saat ini.


"Mas, kamu ngapain sih pagi-pagi udah masuk kesini aja? Apa kamu gak capek kerja mulu, hm? Belakangan ini juga kamu sering pulang larut malam mas, pasti kamu lagi sibuk banget kan?" ujar Tiara.


"Hm, ya. Memangnya kenapa kalau aku pulang malam, kamu keberatan?" ketus Galen.


"Eee ah enggak, mas. A-aku cuma tanya aja, kan gak biasanya kamu kayak gitu. Malahan pernah kamu pulang sore-sore kan waktu itu?" ucap Tiara.


Galen memalingkan wajahnya, ia kembali fokus menatap layar laptopnya disana. Akan tetapi, kini pria itu sudah tidak lagi memandangi video cctv yang tadi ia tonton sejak kedatangan Tiara. Galen tidak mau Tiara mengetahuinya lebih dulu, karena ia ingin melihat seperti apa ekspresi Tiara nantinya.


"Kita tidak usah bahas soal itu, karena ada hal yang lebih penting daripada aku pulang larut malam!" ucap Galen dingin.


"Ha? Apa itu mas?" tanya Tiara penasaran.


"Kamu."


Seketika Tiara terkejut, ia membelalakkan matanya begitu mendengar perkataan sang suami. Apa yang dimaksud Galen, mengapa pria itu malah mengatakan ingin membahas dirinya? Sebenarnya apa sih yang hendak dibahas oleh suaminya itu? Ya, pertanyaan terus muncul di benak Tiara dan begitu juga rasa kecemasannya.


"Aku, mas? Memangnya aku kenapa?" Tiara kembali mengajukan pertanyaannya.


Galen tersenyum seringai sembari beranjak dari kursinya, ia mendekati istrinya itu dan memojokkan tubuh Tiara ke tembok di dekatnya sambil menahan kedua tangannya di atas.


"Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu masih aja ketemu sama mantan kamu itu?" ujar Galen.


"Apa? Mantan aku?" Tiara tersentak mendengarnya.


"Kamu gausah pura-pura polos gitu deh, aku tahu kok kamu masih suka temuin mantan kamu yang namanya Nico itu!" kesal Galen.


"Ah apa sih mas? Aku gak pernah ya kayak gitu, kamu jangan asal tuduh deh!" elak Tiara.


Galen mengepalkan tangannya menahan emosi yang hendak meluap, ia semakin mendekatkan dirinya pada sang istri dan saat itu juga Tiara terpejam dengan perasaan takutnya. Galen benar-benar kesal karena Tiara masih mengelak dan tak mau mengakuinya, padahal sudah jelas tadi Galen melihat Tiara bertemu dengan Nico.


"Masih aja kamu gak mau ngaku ya? Aku udah tahu semuanya sayang," ucap Galen dengan serius.


"Ma-maksud mas?" Tiara membuka matanya, menatap tak mengerti ke arah Galen seolah bertanya apa yang dimaksud oleh pria itu.


"Udah gausah banyak tanya, kamu jujur aja mending sebelum aku hukum kamu!" sentak Galen.


Jantung Tiara berdetak lebih kencang dibanding biasanya, wanita itu benar-benar terkejut sekaligus ketakutan dengan ekspresi Galen saat ini yang menurutnya sangat menyeramkan. Amarah pria itu sudah memuncak, membuat Tiara mau tidak mau harus mengakui semuanya.

__ADS_1


"Okay mas, aku emang waktu itu ketemu sama Nico disini. Ya tapi itu semua bukan salah aku, dia sendiri kok yang datang kesini temuin aku," jelas Tiara.


"Alasan, pasti kamu kan yang undang dia kesini pas aku gak ada? Kamu emang masih cinta sama mantan kamu itu, benar kan? Kalau enggak, gimana mungkin dia bisa tahu alamat rumah kita sayang!" geram Galen.


Tiara menggeleng perlahan, "Gak mas, beneran bukan aku yang kasih tahu. Aku juga bingung waktu itu pas dia datang ke rumah kita," ucapnya mengelak.


"Kamu masih gak mau ngaku, hm? Kalo gitu aku akan kasih hukuman buat kamu!" ujar Galen.


"Hah??" Tiara tersentak mendengarnya.


Galen yang sudah terbawa emosi, kini menarik dua tangan Tiara dan membawa wanita itu keluar dari ruangannya secara paksa. Ia akan memberikan hukuman kepada Tiara saat ini, karena Galen menganggap Tiara sudah melakukan kesalahan dengan mengajak lelaki lain ke rumahnya.




Sementara itu, Ciara baru menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di tubuhnya. Wanita itu langsung menuju lemari pakaiannya dan terduduk di kursi rias sambil merengut, ya Ciara masih kecewa pada suaminya karena kejadian kemarin yang mana lelaki itu malah mengajak Gita untuk ikut bersama mereka.


Ciara juga sudah membuang semua perhiasan yang diberikan Libra kemarin ke tempat sampah, wanita itu bertekad tidak ingin menerima dan memakai apapun barang yang berhubungan dengan Gita. Tentu saja Ciara tak mau suaminya lebih dekat bersama wanita lain, sebagai seorang istri ya pasti Ciara merasa cemburu karena itu.


"Hai sayang!" tiba-tiba saja, pintu kamar itu terbuka dan menampakkan sosok Libra alias suaminya yang masuk kesana mendekatinya.


Ciara terdiam saja, ekspresinya seolah menunjukkan bahwa ia belum bisa memaafkan pria itu. Kini Libra berdiri tepat di sampingnya, memandangi Ciara dari jarak dekat sembari melebarkan senyumnya dan membelai lembut rambut sang istri. Tak ada respon apa-apa dari Ciara, wanita itu hanya diam dan terus menatap cermin tanpa perduli dengan kelakuan Libra yang berusaha membujuknya.


"Sayang, kamu masih marah sama aku? Ini udah pagi loh sayang, mau sampai kapan kamu cuekin aku terus kayak gini? Kita ini kesini mau honeymoon tau, harusnya kamu senyum dong baby!" bujuk Libra.


"Nah itu kamu tahu, mas. Terus kenapa kemarin kamu mau ajak orang lain buat ikut sama kita, ha?" ucap Ciara dengan ketus.


"Terserah kamu, sana gih kamu temuin aja tuh si Gita! Dia kan lagi kosong tuh sendirian, kamu minta temenin aja sama dia!" kesal Ciara.


Libra tersenyum lebar, kini ia duduk di sebelah Ciara dan membuat wanita itu menggeram kesal. Ya kursi disana hanya ada satu, namun Libra malah memaksakan untuk ikut duduk dan tidak perduli pada ruang yang sempit. Libra juga mengangkat tubuh Ciara, memangkunya sembari mengusap wajah serta mengendus leher wanita itu.


"Hmm, wangi banget kamu baby! Aku paling gak bisa nih kalau kamu abis mandi begini," ujar Libra.


"Ih lepas ah om! Jangan sembarangan cium-cium aku kayak gitu ya, aku gak mau! Om mending keluar deh sana, cari tuh perempuan seksi yang om suka!" sentak Ciara.


Libra mengernyitkan dahinya, "Loh, kok kamu panggil aku om lagi sih sayang? Aku kan udah bilang, panggil aku daddy!" ucapnya.


"Bodoamat!" ketus Ciara.


Libra terkejut mendengar ucapan Ciara barusan, namun ia malah tersenyum lebar dan lalu mendekap tubuh Ciara lebih erat sambil terus mengecupi lehernya hingga meninggalkan bekas disana. Ciara pun terus berontak mencoba lepas dari dekapan suaminya, tetapi hal itu tidak berhasil karena Libra telah menguatkan dekapannya kali ini.


"Mulut kamu ini kayaknya harus dikasih pelajaran deh, gak sopan banget sih ngomongnya sama suami!" geram Libra.


Ciara hanya diam tak menyangkal, lalu kemudian Libra menarik wajah wanita itu dan menahan tengkuknya dengan sangat kuat sampai membuat Ciara tidak bisa bergerak. Tak lama setelahnya, Libra langsung melahap bibir mungil nan ranum milik wanita itu dengan sangat rakus.


Ciara sampai nyaris kehabisan nafas, ia coba memukul-mukul bahu Libra dan meminta pria itu menghentikan aktivitasnya. Namun, Libra seolah tak perduli dan malah terus menekan tengkuk kepala Ciara dengan kuat. Pria itu juga berhasil membuat Ciara membuka mulut, sehingga dia dapat mengakses area rongga mulut istrinya itu.


"Itu hukuman buat kamu sayang, karena mulut kamu sudah berani berkata yang enggak-enggak ke aku! Kalau kamu berbuat itu lagi, aku akan lakukan yang lebih dari itu!" bisik Libra sensual.


"Mmhhh, udah ah om cukup! Aku bilang gak mau ya gak mau, kamu minggir ah!" sentak Ciara.

__ADS_1


"Sssttt, kamu diam aja sayang! Kita main lagi yuk, semalam kan kita gak ngelakuin itu karena kamu diem terus!" bujuk Libra.


Ciara menggeleng menolaknya, ia malah mendorong tubuh lelaki itu dan bangkit dari duduknya. Libra sontak terkejut dan coba membujuk istrinya agar tidak terus marah padanya, ya pria itu juga beranjak dari kursinya lalu mendekati Ciara dan berusaha memeluk wanita itu dengan erat.


"Jangan sentuh aku dulu om! Aku lagi pengen sendiri, om mending keluar sekarang dan jangan ganggu aku dulu!" ucap Ciara dengan tegas.


"Gak Ciara, aku gak mau keluar atau tinggalin kamu. Aku akan tetap disini sampai kamu mau maafin aku, please Ciara jangan marah-marah terus dong sama aku!" ucap Libra kekeuh.


"Ah terserah kamu lah!" Ciara tampak kesal, lalu pergi begitu saja menjauhi suaminya.


Libra pun menghela nafasnya, ia terlihat bingung dan tak tahu harus melakukan apa lagi untuk bisa membujuk wanitanya itu. Semua yang ia lakukan kini seolah tak berhasil membuat Ciara memaafkannya, bahkan wanita itu malah semakin marah padanya.


"Gimana ini? Apa saya biarin aja Ciara sendiri dulu ya seperti permintaan dia?" gumam Libra dalam hatinya.




Kini Nindi datang menemui seseorang di taman dekat rumahnya, wanita itu terlihat celingak-celinguk begitu sampai disana seolah mencari orang yang hendak ia temui. Nindi memang telah membuat janji sebelumnya disana, dengan seorang pria yang tak lain ialah mantan teman sekolahnya dulu. Meski Nindi ragu, namun ia terpaksa mengiyakan ajakan pria tersebut karena tak memiliki pilihan lain.


Tak lama kemudian, terlihat seorang lelaki datang menyapanya sembari melambaikan tangan. Sontak Nindi terkejut, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pria tersebut sambil tersenyum lebar. Mereka pun terduduk bersama-sama di kursi yang tersedia, tampak pria itu tak henti-hentinya menatap wajah Nindi yang terlihat lebih cantik.


"Nindi, kamu apa kabar? Aku gak nyangka, udah lama kita gak ketemu terus sekarang kamu tampil makin cantik gini. Btw katanya kamu udah nikah, kok gak undang-undang aku sih?" ucap lelaki itu.


Nindi menunduk seraya mengusap rambutnya, "Iya Rama, aku nikah sama laki-laki yang aku cintai. Aku juga udah punya anak kok dari hasil pernikahan kami, dan sekarang hidup aku jauh lebih bahagia dibanding sebelumnya," ucapnya.


"Oh ya? Terus dimana anak kamu sekarang, kenapa gak sekalian diajak aja kesini? Aku punya feeling, anak kamu pasti cakep banget!" ucap Rama.


"Hm, itu sih pasti. Kalau kamu mau ketemu dia, yaudah nanti kapan-kapan aku akan kenalin kamu ke dia. Untuk sekarang ini cukup kita berdua aja dulu yang ketemu," ucap Nindi.


"It's okay, tapi omong-omong anak kamu itu cewek atau cowok?" tanya Rama penasaran.


"Dia perempuan, namanya Daiva." Nindi menjawab dengan santai disertai senyuman lebarnya.


"Dari namanya aja udah cantik, aku yakin banget orangnya pasti juga cantik!" puji Rama.


"Aamiin, yaudah sekarang kamu mau apa ajak aku ketemuan disini? Katanya ada yang penting kan, langsung aja bicara!" ucap Nindi.


"I-i-iya Nindi.."


Tampak kegugupan di wajah pria itu, seketika juga ia memalingkan wajahnya tak berani menatap Nindi. Hal itu tentu saja membuat Nindi penasaran ingin tahu sekali apa yang hendak dibicarakan pria itu padanya, sampai-sampai wanita itu terus saja memandang ke arah Rama seperti menantikan ucapan pria itu.


"Hal penting itu adalah perasaan aku ke kamu, Nindi. Sampai sekarang, aku masih belum bisa menghilangkan rasa cinta aku itu. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, Nindi!" sambung Rama.


"Apa??" Nindi terkejut bukan main, ia tak menyangka jika Rama akan mengatakan itu padanya. Sungguh ia tak habis pikir, berani sekali Rama berbicara seperti itu dan membuatnya kebingungan.


"Ka-kamu serius, Ram? Beneran kamu masih cinta sama aku? Kamu gak lagi bercanda kan?" tanya Nindi tampak terheran-heran.


Rama menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda bahwa ia memang serius mencintai wanita itu. Rama adalah lelaki pemberani, dan ia sudah menyembunyikan rasa ini sejak lama kepada Nindi bahkan sebelum wanita itu menikah.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2