Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 45. Om mau apa?


__ADS_3

Dikarenakan tak kunjung berhasil menemukan keberadaan Ciara, akhirnya Libra memutuskan untuk mengantar kekasihnya pulang ke rumah lebih dulu karena hari sudah mulai sore. Bella pun setuju, meski awalnya ia ragu karena ia tak ingin membiarkan Libra berduaan dengan Ciara jika nanti gadis itu berhasil ditemukan olehnya. Namun, Bella tak ada pilihan lain dan terpaksa menuruti kemauan Libra demi menjaga keutuhan hubungan mereka.


Mobil yang dikendarai Libra pun tiba di kediaman gadis itu, keduanya saling bertatapan selama beberapa detik di dalam mobil sembari meraih satu tangan masing-masing. Bella bermaksud menghibur kekasihnya itu agar tidak terlalu mencemaskan Ciara yang belum berhasil ditemukan, sebab sedari tadi pria itu tampak murung dan sedih karena merasa gagal dalam menjaga serta melindungi ponakannya.


"Sayang, udah ya kamu gausah sedih mulu kayak gitu? Kamu itu gak salah, Ciara nya aja yang gak sabaran dan main pergi gitu aja. Harusnya nanti kamu kasih hukuman deh ke dia," ucap Bella.


"Gimana caranya aku bisa kasih hukuman ke Ciara, sayang? Belum tentu juga malam ini dia bisa pulang ke rumah, sekarang aja aku gak tahu dia ada dimana. Kita udah keliling-keliling cari dia, tapi gak ketemu juga," ucap Libra.


"Itu dia sayang, mending kamu coba cari dia di rumah kakak kamu itu! Ya siapa tahu aja ternyata dia udah sampai disana duluan," usul Bella.


Libra mengangguk perlahan, "Iya sayang, nanti abis ini aku pulang ke rumah mbak Dira. Yaudah, kamu turun gih sayang! Maaf ya aku gak bisa mampir ke rumah kamu sekarang?" ucapnya lirih.


"It's okay sayang, aku ngerti kok kalau kamu harus cari ponakan kamu itu," ucap Bella.


"Makasih ya sayang, kamu emang pacar aku yang paling pengertian dan cantik!" ucap Libra memuji.


"Sama-sama, yaudah aku turun ya? Sampai ketemu besok lagi sayang!" pamit Bella.


"Iya sayang, love you." Bella tersenyum lebar mendengar ucapan Libra barusan, terlebih saat lelaki itu mendekat dan mengecup keningnya.


Cup!


Bella serasa ingin terbang saat itu juga, kelakuan Libra memang terkadang membuatnya bahagia dan juga bisa membuat dirinya emosi atau sedih. Itulah yang dinamakan berhubungan, jadi Bella sudah tahu diri dan tidak perlu lagi merasa cemburu pada Ciara yang hanya keponakan kekasihnya itu.


"I love you too, sayang.." balas Bella sambil tersenyum sebelum turun dari mobil.


Setelah itu, Bella segera membuka pintu dan meninggalkan Libra disana. Keduanya saling berbalas lambaian tangan, sampai kemudian Bella memilih masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat. Sedangkan Libra juga bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Nadira untuk mengecek apakah Ciara ada disana atau tidak.




Begitu tiba di rumah Nadira, dengan cepat Libra turun dari mobil dan berteriak memanggil-manggil nama Ciara sembari berjalan masuk ke dalam rumah itu. Namun, ia tak mendapat jawaban apapun dari sana dan hanya kekosongan yang ada. Libra pun berjalan menuju kamar gadis itu, kembali berteriak dan mengetuk pintu berharap Ciara ada disana. Ya tapi nyatanya memang tidak ada siapa-siapa.


"Haish, kamu dimana sih Ciara? Kalau kamu juga belum pulang, terus sekarang kamu ada dimana?" ucap Libra kebingungan.


Tak lama kemudian, Libra mendengar suara motor datang ke rumah itu dan berhenti. Sontak ia pun penasaran dan ingin tahu siapa yang datang, maka dari itu Libra langsung melangkah cepat ke luar rumah untuk memastikan siapa itu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Ciara turun dari motor bersama seorang lelaki di dekatnya.


"Ciara?" pria itu spontan memanggil sang ponakan dan mendekatinya.


"Eh om," balas Ciara lirih sambil menunduk takut. Ia khawatir Libra akan banyak mengajukan pertanyaan padanya karena pulang bersama Seno.


"Kamu darimana aja sih Ciara? Kamu tahu gak, daritadi aku cariin kamu loh keliling-keliling! Eh ternyata yang dicari malah asyik-asyikan sama cowok," cibir Libra.


"Om, jangan salah paham dulu! Ini kak Seno, dia kakak kelas aku di sekolah. Tadi tuh dia yang antar aku pulang," ucap Ciara menjelaskan.


Pandangan Libra beralih menatap wajah Seno dengan dingin, "Hah antar pulang? Kamu itu pulang dari jam dua siang Ciara, masa dianterin pulang ke rumah sampainya jam segini? Ngaku deh, darimana aja kamu!" ucapnya ketus.


"Eee tadi itu..." Ciara tak sanggup meneruskan ucapannya, ia tak mau membuat pamannya semakin cemas dan bertindak berlebihan nantinya.


"Halo om! Biar saya jelaskan apa yang terjadi, tapi sekarang mending Ciara istirahat dulu deh om di dalam!" sela Seno.


"Heh! Kamu itu siapa sebenarnya? Kenapa kamu bisa sama Ciara, hm?" tanya Libra dengan tegas.

__ADS_1


"Umm sa-saya Seno, om. Saya senior Ciara di sekolah, dan tadi kebetulan aja kami gak sengaja ketemu di jalan sewaktu Ciara ditangkap sama empat orang preman," jawab Seno.


"Apa??" Libra sontak terkejut bukan main mendengar kata-kata Seno, ia langsung menatap ke arah Ciara dan memegang tiap anggota tubuhnya.


"Beneran kamu diganggu preman, sayang? Terus ada yang luka gak? Mana sini kasih unjuk ke aku!" ucap Libra panik.


"Om om, tenang dulu! Aku gak kenapa-napa kok, om gak perlu cemas kayak gitu! Kan tadi ada kak Seno yang tolongin aku, jadinya ya aku gapapa. Tapi, wajah kak Seno yang luka," ucap Ciara.


Libra terdiam menatap Seno, saat itu juga Seno menutupi lebam di wajahnya dengan telapak tangan sambil menahan rintihan. Namun, tentunya Libra tak perduli dengan luka Seno karena yang ia khawatirkan hanyalah Ciara, ponakan tercintanya. Bahkan, Libra mengabaikan ucapan Ciara tadi dan malah merangkul gadis itu dari samping.


"Yaudah, baguslah kalau kamu gapapa. Yuk sekarang kamu masuk!" ucap Libra.


"Bentar om, kak Seno ayo masuk juga! Luka kak Seno itu harus diobatin, biar nanti aku yang urus ya?" ucap Ciara sambil tersenyum.


"Gausah Ciara, aku bisa sendiri kok. Nanti di rumah bakal aku urus," ucap Seno menolak.


"Tuh, kamu dengar sendiri kan si Seno bilang apa? Biarin aja dia pulang, udah ayo kamu masuk dan jangan urusin dia lagi!" ucap Libra memaksa.


"Ta-tapi om.." belum sempat Ciara bicara, pamannya itu sudah langsung menarik tubuhnya secara paksa dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Sementara Seno terdiam saja di tempatnya memandangi kepergian Ciara, sebenarnya ia masih ingin bersama gadis itu dan belum ingin pulang, tetapi tak mungkin jika ia memaksa karena paman Ciara sendiri sudah mengusirnya dan terlihat tidak menyukai keberadaannya disana. Akhirnya Seno pun memutuskan pulang menggunakan motornya, ia tetap senang lantaran berhasil menyelamatkan Ciara dan mengantarnya pulang dengan selamat.




Di dalam, kini Ciara berontak dari rangkulan pamannya dan memberikan tatapan kesal. Tentu saja Ciara tak terima dengan apa yang dilakukan pamannya itu pada Seno tadi, ia merasa Libra sudah keterlaluan karena mengusir Seno dari sana, padahal Seno sudah menolongnya saat diganggu preman.


Libra pun kebingungan dengan sikap Ciara yang tiba-tiba emosi padanya, ia coba menghampiri gadis itu dan bertanya apa yang terjadi. Namun, Ciara malah menepis tangannya dan membuang muka seolah pertanda bahwa gadis itu sedang tidak ingin berbicara dengannya.


"Ih apaan sih om? Aku tuh bete sama om, kenapa coba tadi om malah usir kak Seno!" ujar Ciara.


"Oh soal itu, yah elah kamu ini lebay banget sih. Aku usir Seno dari sini, itu karena aku gak suka lihat dia dekat sama kamu sayang!" ucap Libra.


"Om, bisa gak jangan panggil aku sayang! Gak tahu kenapa aku jijik aja gitu dengarnya," pinta Ciara.


Libra menggeleng seraya menepuk jidatnya, "Okay, aku gak akan panggil kamu sayang lagi. Ya tapi intinya, aku gak suka lihat kamu dekat sama cowok siapapun itu Ciara! Mau itu senior kamu kek, atau siapa kamu kek," ucapnya.


"Kenapa om? Apa salahnya kalau aku dekat sama cowok?" tanya Ciara keheranan.


"Pake nanya lagi, jelaslah karena gue cemburu lihatnya! Lu gimana sih Ciara?" batin Libra.


Namun, tentunya Libra belum berani mengatakan apa yang ada di isi kepalanya saat ini kepada Ciara mengingat gadis itu pastinya akan sangat syok jika mengetahui Libra cemburu melihat Ciara dekat dengan laki-laki lain. Apalagi saat Ciara memuji laki-laki tersebut, hati Libra pun hancur seketika.


"Banyak, salah satunya karena aku tahu sifat laki-laki itu gimana. Kamu dengerin aku deh, nurut aja gitu sama aku!" ucap Libra agak memaksa.


"Ngapain aku harus nurut sama om? Mama papa aku aja gak larang aku buat dekat sama siapa-siapa tuh, kenapa jadi om yang repot?" kekeuh Ciara.


"Karena mulai sekarang, mbak Dira sama mas Gavin sudah percayakan kamu sama aku. Mereka minta aku buat jagain kamu, jadi ya kamu harus nurut sama aku!" ucap Libra.


"Masa sih? Kok mama papa gak ada bilang apa-apa sama aku?" tanya Ciara.


"Nanti kamu tanya aja sama mereka kalau kamu gak percaya, aku yakin jawabannya pasti sama. Udah, sekarang kamu naik ke atas dan mandi sampai bersih!" ucap Libra.

__ADS_1


Ciara mendengus kesal, tapi kemudian ia menurut dan berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Libra terlihat mengacak-acak rambutnya sembari memukul kepalanya berkali-kali, pria itu sepertinya mulai dibuat bingung antara harus menyatakan perasaannya pada Ciara atau tetap bertahan seperti ini saja.


"Aaarrrgghhh, gue ini kenapa sih? Ciara tuh adik mbak Nadira, kakak gue sendiri. Masa iya sih gue malah suka sama dia? Apa kata orang-orang coba nanti?" gumam Libra.


"Den Libra!" tiba-tiba saja, bik Vita yang bekerja di rumah itu datang dan menegurnya.


"Eh bik?" sontak Libra tampak panik, ia khawatir bik Vita mendengar semua ucapannya tadi mengenai Ciara. Apalagi terlihat wajah bik Vita yang terus tersenyum seolah menyimpan sesuatu.




"Om!" selesai mandi, Ciara langsung turun menemui pamannya dan menyapa pria yang sedang terduduk seorang diri di sofa itu.


"Ya Ciara, kenapa?" tanya Libra dingin.


Sontak Ciara mengernyit kebingungan, ia heran mengapa sikap Libra berubah mendadak seperti itu padanya. Padahal tadi saat ia baru datang, Libra terasa cukup hangat dan perhatian pada dirinya. Namun, saat ini justru pria itu terlihat dingin dan seolah tidak perduli dengan kehadirannya disana.


Karena kesal merasa tidak diperhatikan, Ciara pun duduk di samping pamannya itu dan terus memandangi wajah sang paman. Tiba-tiba, gadis itu mengambil paksa ponsel yang sedari tadi dipegang oleh Libra dari tangannya dan melihat apa yang sebenarnya sedang dilakukan pamannya saat ini.


"Hey Ciara! Kamu apa-apaan sih? Balikin gak hp aku!" sentak Libra emosi.


"Ahaha, ternyata om lagi chatting-an sama kak Bella toh? Pantas aja aku sapa tadi kayak cuek gitu, dasar bucin!" cibir Ciara.


"Apaan sih kamu? Siniin hp aku cepat!" geram Libra tampak begitu kesal.


"Iya om iya, ini aku balikin kok. Om gak perlu marah-marah kayak gitu kali," ucap Ciara terkekeh sembari mengembalikan ponsel itu ke pamannya.


"Kamu itu gak sopan, gak boleh kayak gitu lagi! Awas loh!" kesal Libra.


"Ih kenapa sih om jadi tempramen begitu sama aku? Apa gara-gara tadi sore aku belain kak Seno dan marah sama om, iya?" tanya Ciara heran.


Libra menggeleng, "Enggak, udah sana kamu jangan ganggu aku!" ucapnya ketus.


"Siapa yang ganggu om sih? Aku cuma pengen bilang, kita ke rumah sakit yuk! Aku mau lihat kondisi kak Galen," ucap Ciara.


"Ohh, yaudah sana siap-siap! Tapi sebelum itu, aku mau tanya satu hal deh sama kamu," ucap Libra.


"Hm, apa?" Ciara terlihat penasaran melihat wajah Libra yang begitu serius menatapnya.


Pria itu menyingkirkan ponselnya dan fokus menatap Ciara dari jarak sangat dekat, bahkan tangan Libra bergerak menggenggam dua tangan gadis itu dengan erat. Ciara diam saja dan terus memandangi wajah pamannya, dia sungguh heran apa sebenarnya yang dilakukan Libra saat ini.


"Tadi kamu kan katanya digangguin preman, terus kenapa kamu gak kasih kabar ke aku? Padahal aku udah coba telpon kamu berkali-kali loh, kasih pesan chat juga udah," ucap Libra.


"Ya itu dia om, awalnya hp aku dijambret sama orang di jalan. Terus baru abis itu malah aku ketemu sama empat orang cowok yang ternyata mau godain aku, untung aja ada kak Seno datang tolong aku. Walau dia harus kena pukulan juga," jelas Ciara.


"Hadeh, bisa gak gausah bawa-bawa cowok itu? Ceritain aja tentang si premannya, jangan bahas soal Seno di depan aku! Ngerti gak sih kamu Ciara?!" ucap Libra dengan tegas.


"Hah? Kan emang bener om, kak Seno itu udah tolongin aku," ujar Ciara.


Libra yang kesal langsung mencengkram rahang Ciara dan memajukan wajahnya, saat itu juga Ciara terbelalak karena cemas dengan apa yang ingin dilakukan pamannya itu selanjutnya. Kondisi mereka saat ini saling bertatapan dari jarak yang amat dekat, tentu saja hal itu membuat jantung Ciara berdegup kencang tak karuan dan benar-benar gugup.


"Om, om mau apa?" tanya Ciara dengan nada ketakutan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2