
"Apa???"
Ciara terkejut bukan main ketika mendengar penjelasan dari Cyra dan juga Faiz mengenai apa yang terjadi pada gadis itu di hotel tadi, ya Cyra terpaksa mengakui semua itu di depan mama serta papanya karena memang tidak memiliki pilihan lain selain berkata jujur. Reaksi Ciara tentu sesuai dengan apa yang Cyra pikirkan, itulah sebabnya Cyra agak ragu untuk menceritakan semuanya tadi.
"Kamu dijual sama teman kamu sayang? Kok bisa sih? Siapa nama teman kamu itu, ha? Bilang sama mama sekarang, biar mama samperin dia dan kasih hukuman ke dia!" sentak Ciara.
"Ma, jangan ma! Udah biar aku yang urus semuanya, mama sama papa gak perlu ikut campur sama masalah aku!" pinta Cyra.
"Gak bisa begitu Cyra, kamu anak mama dan mama harus lakukan apapun untuk membela kamu! Mama gak terima kamu diperlakukan seperti itu sama teman kamu, karena dulu mama juga sering dapat bully-an dari teman-teman mama!" ucap Ciara.
"Iya Cyra, papa setuju sama mama kamu. Ini sudah bukan masalah kecil lagi, kamu udah dijual loh sama teman kamu itu!" sahut Libra.
Cyra terdiam saja dan menundukkan kepalanya, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membela temannya itu karena kedua orangtuanya sudah sangat terpancing emosi. Lagipula, Cyra sendiri belum yakin apakah memang Rila melakukan itu atas perintah dari Celo atau justru Rila hanya membohonginya saja waktu itu.
"Faiz, kamu tahu kan siapa teman Cyra itu? Kasih tahu aku sekarang, Faiz!" tanya Ciara pada sang adik.
Faiz yang semula melamun kini terkejut saat tiba-tiba kakaknya menatap ke arahnya dan bertanya seperti itu, entah ia sendiri pun bingung harus menjawab apa karena ia hanya mengetahui wajah serta bentuk dari teman Cyra itu dan belum mengenal jelas siapa sosok gadis itu.
"A-aku tahu sih mbak, aku lihat dia juga di depan hotel tadi pas lagi sama Cyra. Tapi, aku gak kenal siapa dia. Ya mungkin aku bisa tanyain tentang dia ke teman aku," jawab Faiz santai.
Ciara mengernyitkan dahinya, "Teman kamu? Maksudnya apa?" ujarnya terheran-heran.
"Iya mbak, aku mau minta maaf sebelumnya sama kamu! Jadi yang beli Cyra dari temannya itu teman aku, dia namanya Gio. Ya tapi aku gak tahu menahu soal jual-beli beli ini mbak," jelas Faiz.
"Ah yasudah, kalo gitu itu lebih bagus dong. Sekalian aja kita temuin teman kamu itu, terus kita bawa dia ke kantor polisi biar jelas!" ucap Ciara.
Deg
Faiz sampai melongok lebar mendengar ucapan kakaknya, ia bingung harus bagaimana saat ini karena Gio juga merupakan sahabatnya dan ia sudah mengenal pria itu cukup lama. Namun, apa yang dilakukan Gio memang cukup mengerikan dan sebagai pihak keluarga tentunya Faiz tak terima jika Gio menyentuh keponakannya yang cantik itu.
"Kenapa kamu diam Faiz? Katakan dimana teman kamu itu, kita berangkat sekarang dan temui dia bersama-sama!" ucap Ciara dengan tegas.
"Ma, mama apaan sih? Gak perlu lah pake kayak gini segala, yang salah itu Rila dan mama gausah cari-cari teman om Faiz itu dong! Lagian aku bisa kok urus semua ini sendiri," sela Cyra.
"Rila? Jadi, nama teman kamu yang biadab itu Rila? Okay, mama akan telpon om Davin sekarang buat tanyain soal si Rila itu!" ucap Ciara.
Cyra terbelalak mendengarnya, ia tak menyangka Ciara langsung bertindak seperti itu dan hendak menghubungi Davin untuk menanyakan mengenai Rila sahabatnya. Bahkan, Ciara juga bangkit dari tempat duduknya dan berjalan cepat menuju kamar untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
•
•
Cyra menyusul mamanya itu ke kamar dan mencoba menghalangi niat sang mama untuk menghubungi Davin, pasalnya Cyra masih ingin memastikan semua dengan benar sebelum membawa masalah ini ke kantor polisi. Ya Cyra tak mau mamanya sampai bertindak gegabah, lalu malah membuat masalahnya semakin besar nanti.
"Ma, aku mohon tahan dulu ma! Mama jangan terbawa emosi kayak gini, nurut sama aku ya ma!" ucap Cyra memohon pada mamanya.
"Kamu apa sih Cyra? Kenapa kamu gak mau banget mama telpon om Davin, ha? Mama ini cuma pengen bantu kamu sayang, terus mama akan urus semua ini di kantor polisi supaya teman kamu itu cepat ditangkap!" ucap Ciara dengan tegas.
"Tolong ma, biarin aku urus ini semua sendiri! Aku cuma mau tau apa benar ada orang lain yang udah ancam Rila buat jual aku atau enggak, mama ngertiin aku ya!" pinta Cyra.
"Tapi sayang, ini udah kelewatan. Biar mama aja yang selidiki semuanya sayang!" ucap Ciara.
"Kenapa mama kekeuh banget sih? Sekali aja gitu mama ngertiin aku, aku ini cuma mau belajar dewasa dan bisa urus masalah aku sendiri tanpa bantuan mama ataupun papa. Masa mama gak ngerti sih?" rengek Cyra.
"Iya mama ngerti sayang, tapi ini beda. Mama gak mungkin bisa diam aja kalau tahu kamu dijual sama teman kamu," ucap Ciara.
Tak ada jawaban dari gadis itu, namun ia justru melangkah pergi meninggalkan mamanya karena merasa kecewa setelah mamanya itu tak mau mendengarkan apa yang ia katakan. Ciara hanya menghela nafas sambil menggeleng perlahan, ia sengaja membiarkan putrinya itu pergi agar kini ia bisa menghubungi Davin dengan leluasa tanpa gangguan lagi dari Cyra.
📞"Bantuan apa itu Ciara? Kamu katakan aja sama saya, pasti saya akan bantu kamu!" ucap Davin.
📞"Om kan guru di sekolah Cyra, pasti om tahu kan semua murid disana. Om tahu gak murid yang namanya Rila? Dia teman Cyra om," ucap Ciara.
📞"Rila, kenapa kamu tanya soal dia? Emangnya ada apa sih?" ujar Davin terheran-heran.
📞"Udah om jangan banyak tanya dulu, jawab aja om pertanyaan aku! Om kenal kan sama yang namanya Rila? Aku mohon jawab dengan jujur om, aku butuh banget bantuin om!" ucap Ciara.
📞"Iya Ciara iya, saya jawab kok ini. Kamu gak perlu panik gitu dong, selagi saya bisa bantu pasti saya bantu kamu kok. Saya tahu Rila yang ada di kelasnya Cyra, tapi kamu jelaskan dulu ini ada apa sebenarnya!" ucap Davin.
📞"I-i-iya om, jadi aku baru tahu kalau ternyata Cyra dijual sama temannya. Dia dijebak, terus dibawa ke suatu hotel untuk ketemu sama si lelaki yang udah beli Cyra om," ucap Ciara menjelaskan.
📞"Apa??" Davin benar-benar terkejut kali ini.
Ya tentu saja Davin terkejut, ia tak menyangka jika Cyra bisa sampai mengalami hal seperti itu. Dijual oleh temannya sendiri merupakan sesuatu yang amat mengerikan tentunya, apalagi Cyra masih berusia 14 tahun dan belum mengerti banyak tentang kerasnya kehidupan di dunia ini.
Disaat Davin tengah terdiam karena masih belum mempercayai hal itu, tiba-tiba saja Ciara malah teringat pada sebuah obat pencegah hamil yang ia temukan di dalam tas milik Cyra. Sontak Ciara mengaitkan peristiwa ini dengan obat tersebut, ia menebak jika mungkin saja putrinya itu tidak sepolos yang ia tahu.
__ADS_1
"Oh iya, soal obat itu aku belum tanya langsung ke Cyra. Apa benar ya itu punya Cyra? Kalau iya, berarti selama ini Cyra udah salah pergaulan dong?" pikir Ciara di dalam hatinya.
•
•
Sementara itu, Tiara tampak melamun sembari menangis dan terduduk di atas kursi taman yang kosong setelah kejadian dimana Salma melabrak Adrian serta dirinya di dalam kantor. Tiara sungguh bingung kali ini, rasanya ia benar-benar tidak tega ketika melihat ekspresi Salma saat Adrian berkata ingin menceraikan wanita itu sebelumnya.
Sebagai sesama perempuan, tentu saja Tiara dapat merasakan sakit hati yang dirasakan oleh Salma saat ini. Apalagi, hubungan rumah tangga Salma dan Adrian hancur karena dirinya yang hadir di dalam kehidupan Adrian. Seandainya malam itu ia tak tidur bersama bosnya itu, mungkin saja sekarang semua ini tidak akan terjadi padanya.
"Hiks hiks, apa yang akan terjadi selanjutnya ya sekarang? Aku benar-benar takut banget, aku gak mau bu Salma jadi benci sama aku nantinya!" gumam Tiara disertai isak tangisnya.
Tak lama kemudian, seorang pria muncul di dekatnya dan menyodorkan selembar tisu ke arahnya secara tiba-tiba. Tentu saja Tiara merasa terkejut dibuatnya, ia reflek menoleh untuk memastikan secara langsung siapa orang yang ada di dekatnya saat ini. Namun betapa syoknya wanita itu, ternyata Galen lah sosok pria itu.
"Hapus air mata kamu Tiara, ambil tisu ini dan lupakan semua tentang Adrian! Kamu gak perlu mikirin bos kamu itu lagi, karena dia cuma bisa menyakiti hati kamu! Lagipula, kamu gak mau kan dicap sebagai pelakor?" ucap Galen.
"Mas!" Tiara sungguh emosi, ia bangkit dan menatap tajam ke arah mantan suaminya itu.
"Kamu itu kenapa sih selalu ngatain aku kayak gitu? Apa salah aku sama kamu coba, ha? Bukannya selama ini kamu ya yang selalu nyakitin aku? Tapi kenapa seolah-olah aku yang jahat ya disini? Mau kamu itu apa sih mas, hm?" sambungnya.
"Hey, sssttt tenang Tiara! Aku gak ada niatan ngatain kamu kok, aku disini membela kamu loh. Aku gak mau kamu dicap sebagai pelakor sama orang di kantor nanti," ucap Galen.
"Cukup ya mas, kamu pergi sekarang dari sini!" sentak Tiara mengusir pria itu.
Namun, tiba-tiba saja Tiara merasa pusing yang amat sangat dan membuatnya tidak bisa terus berdiri tegak kali ini. Akibatnya, Tiara kembali terduduk di kursi itu sambil terus memegangi kepalanya. Ia sungguh heran mengapa hal itu bisa terjadi padanya, karena sebelumnya ia merasa baik-baik saja dan tidak sakit sama sekali.
"Awhh akhh!!" Tiara meringis saat ini, entah kenapa kepalanya terasa begitu pusing dan pandangannya semakin kabur.
"Tiara, kamu kenapa? Jangan bikin aku panik deh, hey jawab!" tegur Galen.
Bukannya menjawab, Tiara justru jatuh pingsan dan membuat Galen amat panik kali ini. Tentu Galen bergerak cepat untuk menolong mantan istrinya itu, bagaimanapun Galen juga masih menyayangi Tiara seperti dulu ketika mereka menikah. Tanpa banyak berpikir, Galen bergerak cepat dan membawa tubuh Tiara ke dalam mobilnya.
"Kamu harus baik-baik aja Tiara, harus! Aku gak mau kamu kenapa-napa," ucap Galen penuh cemas.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1