Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 84. Penyerangan


__ADS_3

Nindi mendatangi taman yang selama ini sering menjadi tempat untuknya berbagi kesedihan, hingga kini Nindi masih belum mengetahui siapa ayah dari anaknya, meski ia sudah berusaha mencari tahu. Apalagi saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan ketiga, hampir sama dengan usia kandungan milik kakaknya sendiri, Tiara. Sungguh Nindi sangat tidak ingin bila nantinya sang anak bertanya padanya mengenai keberadaan ayahnya, karena ia sendiri pun tidak tahu siapa yang sudah menghamilinya kala itu sampai seperti ini.


Dikala ia sedang bersedih sembari menatap sekitar, tiba-tiba saja sebuah bunga muncul di hadapannya dan membuat ia terkejut. Sontak Nindi mendongak untuk mencari tahu siapa yang membawa bunga itu, dan ternyata Leon lah yang ada disana dan tengah menatap ke arahnya sambil tersenyum. Nindi bergegas bangkit, menghapus air matanya serta turut memandang wajah pria itu dengan bingung.


"Kak Leon, kenapa kamu bisa ada disini? I-ini kan jauh dari kantor kamu," tanya Nindi dengan gugup.


Leon tersenyum menatapnya, kemudian melangkah mendekati wanita itu dan meraih satu tangan Nindi untuk mengambil bunga yang ia bawa. Ya Nindi hanya diam kali ini memperhatikan tindakan pria itu, ia tak mengerti mengapa Leon masih saja mendekatinya hingga saat ini, padahal pria itu telah mengetahui semua mengenai kehamilannya.


"Kak, sebenarnya apa sih mau kamu? Aku kan udah bilang, tolong jauhi aku! Kenapa kamu masih aja deketin aku? Apa kamu lupa kalau aku ini sekarang sedang mengandung anak orang?" ujar Nindi.


Leon menggeleng perlahan, "Enggak, saya gak lupa. Saya ingat betul tentang itu, dan itulah salah satu alasan saya tetap bertahan sama kamu," ucapnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Nindi penasaran.


"Iya Nindi, saya akan tunjukkan ke kamu kalau rasa sayang saya ini tidak main-main. Saya benar-benar cinta sama kamu, dan saya akan terus berada di dekat kamu sampai kapanpun!" jawab Leon.


Sontak wanita itu membalikkan tubuhnya membelakangi Leon, ia menangis tak bisa lagi membendung kesedihannya. Leon yang melihat itu turut merasakan kesedihan yang dialami Nindi, dia tahu seperti apa perasaan Nindi saat ini karena harus hidup menderita setelah diperkosa oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


"Aku tahu Nindi, itu bukan kesalahan kamu. Disini kamu korban, dan aku akan terus bantu kamu untuk menyelidiki semuanya! Aku gak akan pernah pergi tinggalin kamu, aku janji!" ucap Leon tegas.


"Gak perlu kak, kamu berhak dapetin wanita yang lebih baik daripada aku!" ucap Nindi terisak.


Leon menggeleng perlahan, "Itu gak mungkin aku lakuin Nindi, karena aku cinta sama kamu. Selamanya aku akan terus di dekat kamu!" ujarnya.


"Kenapa bisa kamu cinta sama wanita kotor kayak aku? Aku ini gak pantas buat kamu!" ucap Nindi.


Seketika Leon yang mendengar itu langsung merasa geram, dengan sigap ia memeluk erat tubuh wanitanya dari belakang dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nindi. Tak lupa Leon juga membenamkan wajahnya di bahu sang wanita, ia lalu mengatakan sesuatu yang berbunyi bahwa dirinya sangat mencintai wanita itu apa adanya.


"Kamu gak boleh bicara begitu Nindi, kamu itu wanitaku dan aku sayang banget sama kamu! Selamanya Nindi cuma untuk Leon seorang!" ucap Leon dengan tegas.


Nindi terkejut dengan perkataan Leon, wanita itu tak menyangka ternyata di dunia ini masih ada lelaki yang begitu baik dan setia seperti Leon. Sungguh Nindi amat bahagia saat ini, ia bersyukur bisa memiliki Leon dan mengenalnya. Mereka pun terus berpelukan di dekat pohon yang rindang, seolah tak ingin mengakhiri momen romantis itu.




Disisi lain, Galen baru selesai mengantar istrinya mengecek kondisi kandungannya di rumah sakit sesuai jadwal. Mereka pun tampak sangat senang, karena tinggal beberapa bulan lagi mereka bisa resmi menjadi seorang ayah dan ibu. Ya Galen dan Tiara sudah tidak sabar untuk itu, mereka ingin segera melihat buah hati mereka secara langsung.


Mereka melangkah keluar dari rumah sakit itu sambil terus tersenyum memandangi hasil USG yang mereka lakukan tadi, Galen juga tak henti-hentinya mengusap perut Tiara yang sudah mulai membesar itu sebagai tanda kasih sayangnya terhadap sang anak. Namun, kemudian Tiara baru teringat pada adiknya yang juga tengah mengandung dan usianya tak jauh darinya.


"Umm mas, aku jadi kepikiran sama Nindi. Dia itu kan juga lagi hamil, kondisinya gimana ya sekarang?" ucap Tiara merasa cemas.


Galen tersenyum menatap wajah sang istri, "Kamu tenang aja! Leon kan udah janji sama kita waktu itu, dia bakal bertanggung jawab dan mengurus Nindi serta calon bayinya," ucapnya menenangkan.


"Iya aku tahu, tapi entah kenapa aku mikirnya tuh kayaknya bukan Leon deh pelakunya. Aku gak yakin aja gitu sayang," ucap Tiara.


"Maksud kamu? Jelas jelas Leon sendiri yang ngaku di depan kita waktu itu, dan dia bilang kalau semua itu dia lakukan karena dia cinta sama Nindi. Masa kamu gak percaya sih?" ujar Galen.


"Ya abis aku masih bingung aja, masa iya Leon tega ngelakuin itu ke Nindi?" ucap Tiara.


"Ya namanya juga cowok, semua pikirannya itu gak jauh-jauh dari begituan. Yang penting kan dia mau tanggung jawab kayak aku," ucap Galen.


"Hm, kamu mah emang dasarnya mesum. Kalau Leon tuh aku gak yakin dia begitu," ucap Tiara.

__ADS_1


"Terus kalau emang bukan Leon, siapa dong pelakunya yang udah menodai Nindi? Kenapa juga Leon mesti ngaku-ngaku hayo?" ujar Galen.


Tiara menggeleng keheranan, "Gak tahu, aku kan juga lagi coba cari tahu," ucapnya.


Galen akhirnya kembali mendekap tubuh sang istri, mengusapnya dengan lembut bermaksud menenangkan wanita itu agar tidak terus memikirkan adiknya. Menurut Galen, semua itu pasti akan baik-baik saja dan Nindi tidak mungkin merasa sedih karena ada Leon yang selalu setia di sisinya menemani dalam senang maupun susah.


"Yaudah, kamu gausah mikirin yang berat-berat dulu!Aku takut nanti terjadi apa-apa sama anak kita, kamu ngerti kan maksud aku sayang?" bujuk Galen.


Tiara mengangguk lesu, "Iya mas, aku minta maaf ya? Aku janji bakal jaga bayi kita baik-baik, aku gak mau bikin kamu kecewa dan juga kesel sama aku!" ucapnya disertai senyum tipis.


"Okay, kalo gitu yuk kita pulang sekarang! Aku mau masak makanan spesial buat kamu," ucap Galen.


"Hah? Kamu gak salah nih, mas? Beneran kamu yang mau masakin buat aku? Bukannya kamu gak bisa masak ya?" tanya Tiara keheranan.


"Eh jangan salah, gini-gini aku jago masak tau!" ucap Galen dengan percaya diri.


Tiara tersenyum saja mempercayai ucapan suaminya, kemudian mereka berniat masuk ke dalam mobil agar bisa langsung pulang karena hari juga sudah semakin siang. Namun, baru saja mereka hendak melangkah sudah ada sebuah motor yang berhenti tepat di depan mereka dan memperlihatkan seorang laki-laki yang menatap ke arah mereka.


Lalu, lelaki pengendara motor itu membuka helmnya dan menunjukkan wajahnya, membuat Tiara terbelalak seketika menyaksikan sosok pria tersebut. Sedangkan Galen yang tak mengenalnya, hanya bisa diam tanpa melepas pelukannya dari sang istri. Galen memang suami idaman, dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.


"Nico..."




Ciiittt


Sementara Ciara juga terlihat panik, gadis itu khawatir jika seseorang di dalam mobil itu adalah orang jahat yang ingin melukai mereka. Karena biasanya begal atau rampok sering sekali mencegat mobil orang di jalanan seperti itu, dan itulah alasan mengapa Ciara berpikir kalau bisa saja pengemudi mobil tersebut memiliki niat jahat pada mereka.


"Om, gimana ini om? Mereka kayaknya punya niat gak bener deh om, aku takut. Cepetan om jalanin mobilnya, kita pergi aja!" ucap Ciara merasa resah.


"Mau jalan kemana sayang? Gak lihat tuh udah ditutup gitu sama mobil di depan?" ujar Libra.


"Terus gimana dong om? Aku takut kalau mereka bakal ngerampok kita, aku gak mau kita kenapa-napa om!" ucap Ciara panik.


"Iya iya, tenang ya sayang udah gausah panik gitu! Biar aku yang hadapi semuanya," ucap Libra.


Ciara terkejut mendengarnya, lalu kemudian tiga orang pria bertopeng turun dari mobil di depan sana dan melangkah ke dekat mereka. Sontak Ciara semakin panik melihat itu, apalagi kini mereka berada di tempat yang agak sepi dan sulit untuk bisa meminta pertolongan. Sedangkan ketiga pria itu semakin mendekati mereka, sehingga Ciara tak tahu harus melakukan apa saat ini.


"Om, mereka kesini om. Aku takut banget om, tolong lakukan sesuatu!" ucap Ciara merengek.


"Iya udah udah, kamu gak perlu panik sayang! Biar aku yang turun dan temuin mereka, kamu disini aja jangan kemana-mana!" ucap Libra menenangkan.


"Ta-tapi om..."


"Ciara, kali ini aja kamu dengerin aku! Aku mau kamu tetap disini, okay?" sela Libra.


Akhirnya Ciara mengangguk menuruti permintaan pamannya, setelah itu Libra pun keluar dari mobil bermaksud menemui ketiga pria yang sudah menunggu di luar. Langsung saja ketiga pria itu mendekat ke arahnya, mengepung Libra dengan tatapan menjurus tajam seolah ingin menghabisi Libra saat itu juga.


"Mau apa kalian? Kalau mau uang, bilang aja butuh berapa biar saya ambil dan kasih ke kalian secara sukarela! Supaya urusan kita cepat selesai, terus saya bisa pulang dengan selamat," ucap Libra.


"Kita gak mau uang, kita mau nyawa lu! Serang!"

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, ketiga pria itu langsung bergerak maju menyerang Libra secara membabi buta. Tentu saja Libra terkejut, namun ia berusaha menangkis serta melawan pukulan dari ketiganya dengan cekatan. Bahkan Ciara yang di dalam mobil pun tercengang melihatnya, gadis itu berharap-harap cemas melihat pamannya dikeroyok oleh tiga orang.


Beberapa detik berlalu, karena tenaga yang terkuras akhirnya Libra terkena pukulan serta tendangan dari ketiga pria itu secara bergantian sampai tersungkur ke aspal dengan posisi terlentang memegangi bagian dadanya yang sesak. Ketiga pria itu tertawa puas melihatnya, mereka saling memberi kode untuk meneruskan aksi mereka selanjutnya.


Mata Libra membulat saat mendapat seorang lelaki yang berjalan melewatinya dan menuju mobilnya, ya sepertinya laki-laki itu hendak menemui Ciara yang memang berada di dalam sana. Libra yang melihat itu berupaya menahannya, tetapi kakinya lebih dulu diinjak oleh seorang yang lain sampai membuatnya berteriak kesakitan dan tak sanggup melawan.


"Aakkhh!! Hey, jangan apa-apakan pacar saya! Berhenti kamu!" rengek Libra.


"Diam lu! Lu gausah mikirin nasib pacar lu, mending lu pikirin aja nasib lu sendiri karena sebentar lagi lu bakal kita buang ke jurang!" ucap orang itu.


Deg


Mendengar itu, seketika Libra terbelalak dan langsung panik. Ia benar-benar penasaran siapa sebenarnya orang-orang ini dan mau apa mereka ingin membunuhnya, karena selama ini Libra tak merasa pernah memiliki musuh. Sedangkan satu orang dari mereka itu kini sudah mendekat ke arah mobil dan bersiap membuka pintu, membuat Ciara panik dan tidak tahu harus apa saat ini.


"Aaaaa jangan! Jangan mendekat!" suara jeritan Ciara dari dalam mobil begitu ia melihat orang tersebut ada di sebelahnya.


Bugghhh


Disaat orang itu hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja seseorang datang dan langsung menendang kasar orang tersebut sampai terhempas mengenai rekannya sendiri. Ya kedua pria bertopeng itu pun jatuh bertumpukan, sedangkan yang satunya tampak terkejut melihat dua rekannya justru terjatuh hanya karena tendangan seorang lelaki.


"Woi! Siapa lu? Kenapa lu ikut campur urusan kita?" sentak si pria bertopeng.


"Gue Arkana, ketua the flash penguasa daerah sini. Dan gue gak suka kalau ada orang-orang bejat kayak kalian berkeliaran di daerah kekuasaan gue, jadi mending kalian mundur deh sebelum gue abisin kalian satu persatu!" jawab pria yang memakai seragam sekolah berbalut jaket hitam itu.


"Ah banyak omong lu, dasar bocah bau kencur! Rasain nih!"


Pria bertopeng itu pun beralih menyerang Arkana dan meninggalkan Libra begitu saja, begitupula dengan kedua rekannya yang lain. Ya mereka bertiga menyerang Arka secara membabi buta, tetapi dengan santainya Arka mampu melawan mereka semua tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Libra yang tadinya pasrah, kini mulai bangkit kembali dan membantu Arka menghadapi ketiga orang itu.


Bruuukkk


Akhirnya tiga pria bertopeng itu pun terjatuh dan berhasil dikalahkan oleh Arka serta Libra, dua orang dapat melarikan diri karena takut dengan kekuatan Arka yang luar biasa. Sedangkan satu orang yang lain masih tertinggal disana, tentu saja Libra langsung mendekatinya dan menangkap pria tersebut agar tidak bisa pergi dari sana.


"Heh! Jawab saya, siapa yang suruh kamu? Dan kenapa kamu mau membunuh saya, hm?" tanya Libra dengan tegas.


"Lo gak perlu tahu, lagipun gue gak bakal kasih tahu ke lu!" ucap orang itu kekeuh.


"Saya bilang jawab ya jawab, jangan bantah! Kamu mau saya habisin? Cepat kasih tahu saya sekarang, sebelum saya berubah pikiran!" ancam Libra.


"Hahaha, gue gak takut. Lo bunuh aja gue, gue gak akan pernah bilang sama lu!" ucap orang itu.


"Kurang ajar!" baru saja Libra hendak menghajar orang tersebut, tetapi dengan cepat Arka menghalanginya.


"Tahan bang, gak baik hajar orang yang udah gak berdaya!" ucap Arka.


Libra terdiam menatap wajah Arka dengan bingung, rasanya ia seperti tidak asing dengan sosok pemuda tersebut, tetapi entah kenapa Libra sangat sulit mengenali siapa dia. Akhirnya Libra melepaskan pria bertopeng itu, namun tetap saja Libra tak membiarkan pria itu untuk kabur sebelum dia mengaku dan membuka mulutnya.


"Sekali lagi saya kasih kesempatan, kasih tahu saya siapa yang udah suruh kamu buat bunuh saya!" ucap Libra penuh emosi.


"Gu-gue disuruh...."


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2