
Keesokan harinya, Ciara memutuskan pergi bersama supirnya untuk menyelidiki semua kebenaran mengenai kejadian antara Libra dan Bella. Jujur Ciara masih tak percaya jika itu benar terjadi, ia berharap kalau semuanya hanya akal-akalan Davin saja. Ciara pun sangat yakin pada Libra, tetapi apa yang ada di video itu membuatnya sedikit ragu.
Sebenarnya Galen serta Gavin tadi sudah memaksa ingin mengantar Ciara, namun gadis itu menolak dengan alasan ia ingin menenangkan diri dan pergi sendiri tanpa ikut campur siapapun. Ciara juga tidak mau membebani orang lain dalam masalahnya sendiri, Ciara ingin semua ini ia selesaikan sendiri supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
"Eee non, ini kita mau kemana ya? Daritadi saya bingung non pengen diantar kemana, makanya saya cuma bisa muter-muter di sekitar sini," ujar supirnya.
Ciara terdiam saja saat ini, sebab dirinya pun juga bingung harus pergi kemana. Ciara tak tahu dimana Davin berada, itulah mengapa ia bingung harus mengatakan apa pada sang supir. Namun, sesaat kemudian tanpa disengaja Ciara malah melihat keberadaan pamannya itu di pinggir jalan yang tengah menelpon seseorang sambil minum.
"Loh, itu kan om Davin." Ciara bergumam di dalam hatinya begitu melihat keberadaan sang paman.
Lalu, Ciara pun meminta pada supirnya untuk berhenti lantaran ia hendak menghampiri Davin di luar sana. Ya setelah itu, langsung saja tanpa banyak berpikir Ciara pun turun dari mobilnya untuk memastikan lebih lanjut apakah memang yang tadi ia lihat adalah benar Davin atau bukan. Dan ternyata benar dugaannya, pria yang ia lihat di dekat warung itu memang Davin alias pamannya.
"Iya benar itu om Davin, aku harus pantau dia dan terus awasi dia supaya aku bisa cari tahu kebenaran video om Libra!" gumam Ciara.
Dikala ia tengah sibuk mengawasi pergerakan pamannya, tak lama kemudian satu mobil lagi muncul dan berhenti tepat di sebelah Davin berada. Seorang perempuan terlihat turun dari mobil tersebut lalu menghampiri Davin, ya Ciara terbelalak jelas ketika menyadari perempuan itu merupakan Bella alias mantan dari kekasihnya saat ini.
"Kak Bella, dia mau apa ketemu sama om Davin? Atau jangan-jangan mereka emang benar kerjasama buat hancurin hubungan aku dan om Libra?" Ciara terus menerka-nerka di dalam pikirannya, ia masih tak menyangka jika semua itu benar terjadi.
Akhirnya Ciara memilih terus mengawasi mereka berdua dari jauh, gadis itu juga melangkah lebih dekat untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Davin dan Bella disana. Tapi tentunya, Ciara dapat menjaga jarak agar dirinya tidak diketahui oleh Davin maupun Bella, karena jika itu terjadi pasti mereka akan menangkapnya.
•
•
Sementara itu, Davin kini tersenyum begitu melihat kehadiran Bella di hadapannya. Ya pria itu senang karena semua rencana yang mereka buat telah berhasil terlaksana dengan baik, apalagi saat ini ia tahu kalau Ciara tengah kecewa pada Libra. Davin pun tampak mengucapkan terimakasih ke Bella, karena bantuan wanita itu kini usaha Davin untuk mendekati Ciara semakin terbuka lebar.
"Bella, akhirnya kamu datang juga manis. Saya sudah menunggu daritadi loh, supaya kita bisa merayakan keberhasilan kamu ini dengan membuat pesta kecil-kecilan!" ucap Davin tersenyum lebar.
Wanita itu tersenyum saja dan menatap ke sekeliling sambil berharap tidak ada siapapun yang melihat mereka, ya tentu Bella tak ingin rencananya dengan Davin diketahui oleh orang lain yang nantinya bisa membahayakan mereka. Setelah dipastikan aman, barulah Bella berhenti tepat di hadapan Davin dan turut berjabat tangan dengannya.
"Okay Davin, kita bisa merayakan ini di salah satu tempat favorit aku nanti. Tapi untuk saat ini, aku mau bicara sesuatu sama kamu," ucap Bella.
"Apa itu?" tanya Davin penasaran.
"Aku mau bilang, sebetulnya malam itu aku gak melakukan apa-apa ke Libra. Aku cuma melucuti bajunya dan setelahnya kita langsung tidur berdua di ranjang," jelas Bella.
"Hah? Duh Bella, kamu gimana sih? Kenapa bisa kamu gak ngelakuin apa-apa ke Libra? Saya kan sudah bilang sama kamu, buat apapun yang kamu mau ke dia! Supaya nanti kamu bisa meminta tanggung jawab dari dia," geram Davin.
"Maaf Vin, tapi aku gak bisa ngelakuin itu. Mungkin karena aku merasa bersalah sama Libra, setelah aku mengkhianati cintanya," ucap Bella.
"Haish, kamu tuh bodoh atau gimana sih Bella? Bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu, padahal ini satu-satunya kesempatan kita buat mendapat cinta dari orang yang kita mau!" kesal Davin.
"Kamu tenang aja Vin, kita pasti tetap bisa dapetin mereka kok!" ucap Bella.
"Gimana caranya??" tanya Davin jengkel.
"Selama Libra gak tahu tentang kebenaran ini, aku yakin dia bakal percaya sama aku. Dia pasti tahunya aku sudah melakukan hal itu ke dia sebelumnya," jawab Bella.
"Yasudah, kamu atur aja saja semuanya! Intinya saya gak mau rencana kita ini rusak!" ujar Davin.
Bella mengangguk paham, kemudian mengajak Davin untuk pergi ke salah satu cafe favoritnya dan merayakan keberhasilan mereka. Namun sebelum mereka dapat pergi, Ciara sudah lebih dulu muncul di hadapan mereka dan terlihat menatap ke arah mereka dengan penuh emosi. Bahkan dua tangan gadis itu juga terkepal kuat, menandakan bahwa dirinya saat ini benar-benar kesal pada mereka.
__ADS_1
"Kalian pikir kalian mau kemana? Setelah apa yang kalian berdua lakuin ke aku dan om Libra, terus sekarang kalian mau enak-enakan gitu?" ujar Ciara.
"Hah Ciara? Sejak kapan kamu disini?" Davin tentu sangat kaget melihat keberadaan Ciara disana.
"Ahaha, aku pikir om itu orang pintar. Tapi ternyata om juga bodoh, ya? Aku daritadi sudah disini loh om, dan aku dengar semua pembicaraan kalian berdua tentang om Libra tadi," ucap Ciara.
Deg
Davin serta Bella terkejut bukan main mendengarnya, mereka khawatir jika Ciara telah mengetahui semua pembicaraan mereka tadi. Terlebih Bella mengungkap bahwa malam itu dia tidak melakukan apa-apa pada Libra, pastinya itu bisa dijadikan Ciara sebagai alasan untuk memaafkan Libra dan kembali pada pria itu.
"Kamu dengar apa Ciara? Kami berdua ini tidak bicara apa-apa kok tentang Libra," elak Davin.
"Iya Ciara, aku sama om kamu ini cuma ngobrol biasa kok. Kita ini juga enggak bahas mengenai Libra," sahut Bella.
"Mau kalian ngeles kayak gimanapun, aku tetap gak percaya sama usapan kalian berdua. Aku udah rekam semua obrolan kalian di hp aku, dan sekarang kalian gak bisa ngelak lagi!" ucap Ciara seraya menunjukkan ponselnya.
Ciara pun menyetel rekaman suara yang tadi ia ambil itu, seketika Bella serta Davin menganga terkejut karena mereka tak menyangka jika Ciara telah merekam semuanya. Tentu saja mereka tampak panik, lalu berusaha mengambil ponsel itu dari tangan Ciara. Tetapi dengan santainya, Ciara menghindar dari sergapan Bella barusan.
"Siniin hp kamu, jangan macam-macam ya Ciara! Kamu harus hapus rekaman itu, atau aku akan kasih pelajaran ke kamu!" geram Bella.
"Apa sih kak Bella? Kamu mau ini? Nih, ambil aja!" ejek Ciara.
"Kurang ajar kamu!" Bella yang kesal kembali berusaha merebut ponsel itu, tetapi gagal karena kecerdikan Ciara.
"Ciara berikan ponsel itu!" sahut Davin.
Akhirnya setelah bersusah payah, Davin pun berhasil merebut ponsel tersebut dari tangan Ciara. Ya tentu Davin segera menghapus rekaman suara tadi dari ponsel tersebut agar Ciara tak memiliki bukti apa-apa, disaat Ciara hendak merebutnya kembali dengan cekatan Bella berhasil menahan tubuh gadis itu untuk tetap berdiam di tempatnya.
"Akh lepasin! Om emang jahat, kalian berdua itu licik!" geram Ciara.
"Sssttt, kamu diam Ciara! Suruh siapa kamu mau bermain-main dengan kami? Padahal saya ini cinta loh sama kamu Ciara, tapi kenapa kamu malah lebih memilih Libra yang mesum itu?" ujar Davin.
"Om Libra gak begitu, justru om Davin yang mesum! Balikin hp aku om!" sentak Ciara.
"Lepaskan dia!" titah Davin.
Bella menurut, kemudian melepaskan tubuh Ciara dari dekapannya. Davin juga memberikan ponsel itu kembali pada Ciara, dan tampak Ciara menatap tajam ke arah mereka berdua seolah menunjukkan bahwa dia sangat emosi. Sedangkan Bella serta Davin justru kompak tertawa, mereka puas karena berhasil menggagalkan usaha Ciara tadi.
"Sekarang kamu bisa pergi, saya gak akan lukai kamu Ciara karena saya cinta sama kamu!" ucap Davin sembari mengusap wajah gadis itu.
Ciara menghindar, lalu pergi dengan perasaan jengkel atas semua perlakuan Davin tadi. Kini ia pun tampak bersedih sekaligus kecewa, karena ia telah kehilangan barang bukti yang sangat penting. Sedangkan Davin bersama Bella tampak tertawa puas di belakang sana, mereka juga senang karena menganggap bahwa mereka aman kali ini.
•
•
Disisi lain, Nindi keluar dari kamarnya dengan lesu sembari mengusap perutnya yang sudah semakin membesar. Ia pun menghampiri Rifka di dapur yang memang tengah memasak untuk makan siang mereka, sontak Rifka terkejut melihat kemunculan Nindi di dekatnya. Lalu, wanita itu tersenyum dan membantu Nindi berjalan dengan hati-hati.
"Nindi, kamu kenapa keluar? Katanya kamu pusing, istirahat aja dong di kamar!" ucap Rifka lirih.
Nindi menggeleng dengan perlahan, "Aku bosen kak, aku pengen jalan-jalan juga biar seru gitu. Kak Rifka mau gak anterin aku?" ucapnya.
__ADS_1
"Ohh, yaudah nanti aku temenin deh. Nih sekarang kamu minum susunya dulu ya?" ucap Rifka.
Kali ini Nindi mengangguk setuju, lalu ia duduk di kursi yang tersedia sembari mengambil gelas berisi susu yang sudah dibuatkan oleh Rifka tadi. Dengan perlahan, Nindi pun menghabiskan susu tersebut sampai tak bersisa. Setelah itu, Nindi kembali memberikan gelas bekas susu tersebut kepada Rifka untuk segera dicuci.
Ya Nindi sebetulnya ingin sekali pergi berdua dengan Leon, tetapi tidak mungkin ia mengatakannya pada lelaki itu karena khawatir mengganggu pekerjaannya di kantor. Apalagi belakangan ini Leon juga sudah sering membantunya, tentu Nindi tak mau membuat Leon semakin kesusahan karenanya. Untuk itu, Nindi pun meminta pada Rifka saja kali ini.
"Yuk! Kamu mau jalan-jalan sekarang kan? Mumpung belum terlalu panas nih, masih cocok lah buat kita pergi berdua," ajak Rifka.
"Iya kak, kita keliling di sekitar sini aja. Tapi, aku gak mau ke tempat yang ramai. Aku takut banyak orang yang bully aku lagi seperti waktu itu, karena kehamilan aku ini," ucap Nindi.
"Kamu gak perlu takut, kalau ada yang berani bully kamu nanti biar aku yang lawan dia!" ucap Rifka.
Nindi tersenyum mendengarnya, "Makasih ya kak, aku senang deh bisa kenal dan punya sahabat sebaik kak Rifka!" ucapnya.
"Sama-sama sayang, aku kan udah anggap kamu seperti adik aku sendiri," balas Rifka.
Rifka pun memeluk Nindi dengan penuh kasih sayang, jujur Rifka merasa sangat kasihan dengan Nindi yang harus menderita seperti sekarang ini akibat hamil muda. Seharusnya diusia saat ini, Nindi fokus pada pendidikannya dan belajar dengan giat bukan malah mengurus anak sampai tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena malu.
Akhirnya mereka pun sama-sama melangkah ke luar rumah dengan saling merangkul, rasanya Rifka ingin menangis saat itu juga melihat kondisi Nindi. Namun, Rifka tak ingin membuat Nindi kembali bersedih ketika melihatnya menangis. Ya untuk saat ini Rifka ingin membuat Nindi ceria kembali, karena hingga kini Nindi lebih banyak melamun.
Ceklek
Disaat Rifka membuka pintu, mereka langsung terkejut karena ternyata Leon sudah ada di depan sana dengan membawa bunga yang indah di tangannya. Tentu saja Nindi sampai terbelalak melihat keberadaan lelaki tersebut, apalagi ketika Leon menatapnya dan tersenyum seraya menyodorkan bunga ke arahnya.
"Hai Nindi! Kamu mau kemana, kok keluar rumah?" sapa Leon.
"Iya pak Leon, jadi kita tuh mau jalan-jalan sebentar. Katanya Nindi bosan di kamar terus, makanya dia minta aku buat temenin keluar," jawab Rifka.
"Oh gitu, pas banget dong aku kesini. Nindi, biar aku aja ya yang temani kamu?" ucap Leon.
"Hah??" Nindi menganga terkejut, jujur sebenarnya ia senang sekali mendengarnya, tetapi entah kenapa ia tak mau merepotkan pria itu lagi.
"Nah bener tuh Nindi, kamu perginya sama pak Leon aja ya?" sahut Rifka.
"Ta-tapi kak, aku maunya sama kak Rifka. Aku gak mau pergi sama kak Leon, aku takut orang malah salah paham," ucap Nindi.
"Maksud kamu salah paham gimana?" tanya Rifka keheranan.
Nindi pun beralih menatap Leon disana, "Iya kak, aku gak mau orang-orang mikirnya kalau aku ini hamil anak kak Leon," jawabnya gugup.
"Hah? Bukannya itu emang anak pak Leon ya Nindi? Kamu gimana sih maksudnya?" heran Rifka.
"Enggak kak, ini bukan anak kak Leon. Selama ini yang dia katakan itu bohong, kak Leon sama sekali gak pernah menghamili aku. Jadi, dia gak seharusnya bertanggung jawab atas apa yang tidak dia lakukan," jelas Nindi.
Deg
Rifka benar-benar terkejut, pengakuan Nindi barusan membuatnya sangat bingung dan heran harus bersikap bagaimana. Rifka tak mengerti mengapa ini semua bisa terjadi, jika bukan Leon yang menghamili Nindi lantas siapakah pelakunya itu dan mengapa Leon sampai harus mengakui hal yang tidak dia lakukan itu?
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1