Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 119. Disekap


__ADS_3

Galen sendiri sedang kebingungan harus mencari Tiara kemana, ia sudah memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mengitari satu kota hanya demi bisa menemukan keberadaan Tiara serta putranya. Kini Galen kembali ke rumah dengan penuh penyesalan, karena hampir setengah hari ia mencari Tiara dan belum berhasil menemukannya dimanapun.


Saat Galen keluar dari mobilnya, tiba-tiba sudah berdiri sosok Leon di hadapannya dengan tanpa menggunakan seragam seperti biasa. Galen terlihat bingung menatapnya, ia menghampiri asistennya itu dan bertanya dengan wajah heran mengapa saat ini Leon tak mengenakan baju seragamnya.


"Ada apa ini, kenapa kamu kelihatan lesu begitu? Terus dimana seragam kamu yang saya kasih waktu itu, ha?" tanya Galen dengan ketus.


Leon beralih menghadap ke arah bosnya dengan wajah menunduk serta kedua tangan terlipat di depannya, Leon sungguh gemetar saat hendak menjelaskan apa maksudnya datang ke tempat itu. Ya biar bagaimanapun, ia sudah cukup lama bekerja untuk Galen sebagai seorang asisten.


"Maaf pak, saya kesini justru ingin mengembalikan baju seragam itu! Ini saya sudah siapkan di dalam tas ini, bajunya juga sudah saya cuci bersih kok pak!" ucap Leon dengan gugup.


Galen mengernyitkan dahinya, "Apa maksudnya? Kamu sudah gak mau bekerja lagi untuk saya gitu?" tanyanya penasaran.


"Betul pak, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Saya rasa sekarang sudah waktunya bagi saya untuk keluar dari zona nyaman saya, sekali lagi maafkan saya pak!" jawab Leon.


Galen menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya bahwa Leon akan mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini, padahal Leon sudah cukup lama bekerja padanya dan selalu membantunya untuk mengurus beberapa masalahnya. Namun, kali ini Leon malah ingin berhenti dari pekerjaan itu.


"Mohon maafkan saya pak, saya tidak ada maksud apa-apa kok!" ucap Leon sekali lagi.


Galen tampak terpancing emosinya, langsung saja pria itu mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul wajah Leon. Tapi belum sampai ia berhasil melakukan itu, tiba-tiba suara teriakan adiknya terdengar dari arah belakang dan membuat Galen mengurungkan niatnya.


"Kak Galen!!"


Pria itu segera menolehkan wajahnya ke asal suara tersebut, ia melihat Ciara berdiri disana dan mendekatinya sambil menatap penuh heran saat mengetahui Galen hendak memukul Leon. Ya tentu saja Ciara sangat heran saat ini, sebab yang dia tahu Leon adalah karyawan paling setia bagi kakaknya.


"Kak, apa yang kakak mau lakuin? Kenapa kakak pengen pukul kak Leon coba?" tanya Ciara.


"Eee bukan apa-apa kok sayang, kamu gausah ambil pusing ya!" bohong Galen.


Ciara masih tampak heran dengan perlakuan Galen saat ini, tetapi ia melupakan sejenak hal itu karena ada yang lebih penting untuk bisa ia beritahukan kepada kakaknya sekarang. Ya Ciara harus memberitahu mengenai apa yang ia dengar di rumah sakit tadi, agar Galen bisa waspada terhadap kedua orang tersebut.


"Oh ya, ada apa kamu kesini Ciara? Terus kok kamu bisa sama om Keenan, emangnya suami kamu kemana?" tanya Galen kebingungan.


Ciara melirik ke arah Keenan sambil menunjukkan ekspresi cemasnya, lalu ia kembali menatap wajah kakaknya dan mendekatinya sembari mengumpulkan nafas untuk menceritakan semua yang ia dengar tadi kepada Galen saat ini. Jujur Ciara agak ragu untuk berbicara kali ini, sebab ia khawatir Galen akan langsung emosi nantinya.


"Begini kak, ada yang mau aku kasih tahu ke kakak. Jadi, tadi tuh aku gak sengaja dengar omongan dua orang di rumah sakit yang sebut-sebut nama kakak. Nah mereka itu mau balas dendam ke kakak," jawab Ciara dengan perlahan.


"Hah balas dendam? Siapa yang punya dendam sama kakak?" kaget Galen.


"Mereka itu anak dari Harrison musuh papa kamu dulu, saya juga gak sangka kalau Harrison ternyata masih punya keturunan selain kamu," sela Keenan.


Deg




Setelah mengetahui cerita dari Ciara serta Keenan, kini Galen memutuskan pergi ke apartemen tempat Jessica berada. Ia terlihat sangat emosi dan kedua tangannya sudah terkepal kuat, tanpa banyak berpikir langsung saja ia mengetuk pintu tersebut dan menunggu sampai Jessica keluar menemuinya.


Tak lama kemudian, pintu itu terbuka lalu memperlihatkan sosok Jessica yang muncul dari dalam apartemennya dengan senyum merekah di kedua pipinya. Jessica tampak heran melihat kedatangan Galen disana, karena biasanya lelaki itu akan datang pada malam hari.

__ADS_1


"Eh mas, kamu kok tumben sore-sore begini datangnya? Apa kamu mau dilayani sekarang? Maaf ya mas, aku kan lagi hamil muda. Aku gak bisa ngelakuin itu sekarang," ujar Jessica.


Galen terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya, "Kamu pikir saya mau melakukan itu sama kamu, ha? Saya juga gak sudi buat bersentuhan dengan wanita murah seperti kamu, Jessica!" ucapnya tegas.


"Apa sih maksud kamu, mas? Kamu kok jadi kayak gitu sekarang?" heran Jessica.


"Emang iya begitu kan, kamu itu perempuan yang gak bener Jessica! Saya sudah tahu semua rencana yang kamu lakukan untuk saya, jadi kamu tidak akan bisa memperdayai saya lagi!" geram Galen.


"Hah? Aku sama sekali gak ngerti loh sama maksud kamu, gausah aneh-aneh deh!" elak Jessica.


"Sudah ya Jessica, jangan drama lagi di depan saya! Akui saja semua itu sekarang, karena saya gak akan pernah percaya sama kamu!" tegas Galen.


"A-aku beneran gak ngerti mas, kamu bicara apa sih?" ujar Jessica.


Galen menggeleng perlahan dan benar-benar tak habis pikir dengan sikap Jessica saat ini, wanita itu selalu saja mengelak setiap kali ia meminta Jessica untuk mengakui perbuatannya. Galen pun semakin sulit menahan emosinya, rasanya ia ingin memberi tamparan keras ke arah wajah wanita itu saat ini.


"Jessica, kamu akui saja semua itu sekarang! Benar kan kamu mau hancurin aku? Dan bayi itu juga bukan anak kandung aku, iya kan?" ujar Galen emosi.


Bugghhh


Tanpa disadari olehnya, seseorang tiba-tiba muncul dan memukul tengkuknya sampai pingsan dengan menggunakan balok kayu. Galen pun tergeletak di atas lantai dengan posisi telungkup sembari memegangi tengkuknya itu, sedangkan orang yang datang tersebut adalah sosok Bagas.


Jessica sampai menutupi mulutnya karena terkejut, ia tak menyangka jika Bagas tega memukul Galen dan membuat pria itu tak sadarkan diri. Jessica pun bergerak mendekati kekasihnya itu, lalu coba bertanya mengapa Bagas malah melakukan itu kepada Galen di depan apartemennya.


"Gas, kamu apa-apaan sih? Kok kamu pukul dia, kalau dia mati gimana?" tanya Jessica cemas.


"Hahaha, udah santai aja sayang! Dia gak mungkin mati kok, justru ini bisa jadi sebuah keuntungan buat kita. Dengan dia pingsan sekarang, kita bisa sekap dia di suatu tempat!" jelas Bagas.


Bagas memang sama jahatnya dengan sang ayah dulu, demi bisa membalaskan dendamnya pada Albert ia sampai rela melakukan apapun itu. Ia tentu tidak tahu jika Galen adalah putra dari kakaknya yang bernama Vanessa, sekaligus juga merupakan keponakan kandungnya.


Setelah itu, Bagas pun langsung menyeret tubuh Galen yang sudah pingsan dan membawanya ke dalam unit apartemen Jessica. Nantinya mereka berdua akan sama-sama menyekap Galen, lalu membuat lelaki itu berada dalam pengaruhnya agar bisa membalaskan dendam.




Sementara itu, Libra baru pulang ke rumah setelah menyelesaikan dinasnya di rumah sakit dan membantu cukup banyak pasien. Ia terlihat sangat lelah kali ini, bahkan ia langsung terduduk di sofa begitu memasuki rumahnya dan tampak bersandar seraya mengambil nafas dalam-dalam.


Ciara yang melihatnya sontak bergegas menghampiri lelaki itu, tak lupa ia membawa secangkir kopi untuknya yang sudah ia persiapkan sejak melihat mobil sang suami muncul dari jauh. Ya karena mereka sekarang sudah pindah lagi ke sebuah rumah yang tak terlalu besar, Libra lah yang membelinya untuk mereka berdua saat ini.


"Mas, ini kopinya buat kamu. Aku lihat-lihat kamu capek banget, mau aku siapin air panas buat mandi atau mau habisin kopinya dulu?" ucap Ciara dengan lembut sembari duduk di sampingnya.


Libra menoleh ke arah Ciara dengan senyum mereka di pipinya, pria itu senang sekali melihat Ciara yang begitu perhatian padanya. Bahkan, Ciara kini membantu melepaskan jas dokter yang dikenakan Libra itu dari tubuh sang suami. Ciara memang sengaja melakukannya, sebab ia ingin berusaha menjadi istri yang baik meski tidak bisa memberikan keturunan berupa seorang anak kepada Libra.


"Eee aku mau istirahat dulu deh sayang, lagian kopinya kan juga udah dibuatin. Kalau aku tinggal buat mandi, yang ada kopinya bakal dingin. Kayak sikap kamu waktu itu deh," sarkas Libra.


"Hahaha, bisa aja kamu mah. Yaudah deh, kalo gitu aku ke belakang dulu ya taruh ini di tempat cucian? Kamu ngopi aja dulu disini!" ucap Ciara.


"Okay sayang."

__ADS_1


Setelahnya, Ciara pun bangkit dan pergi ke belakang sembari membawa jas suaminya. Namun, ia tampak menghentikan langkahnya dan memandangi sang suami dari balik tembok. Wajahnya berubah sedih, air mata juga menetes membasahi pipinya saat ia membayangkan penyakit yang ada di tubuhnya.


"Mas, maafin aku karena aku gak bisa kasih keturunan buat kamu! Justru sekarang aku malah kena penyakit ini, aku juga gak tahu aku bisa bertahan berapa lagi sekarang. Aku takut banget kalau aku bakal kehilangan kamu!" gumamnya.


Namun, Ciara segera menghapus air matanya dan pergi begitu saja sebelum Libra mengetahui keberadaannya. Ciara berusaha tetap tenang dikala kesedihan tengah melandanya, ia tak mau membuat Libra ikut sedih jika mengetahui bahwa dirinya saat ini sedang menderita penyakit mengerikan.


Sementara Libra juga masih bersantai di sofa seorang diri seraya memainkan ponselnya, ia menerima pesan dari Gita yang menanyakan apakah ia sudah sampai di rumah atau belum. Entah mengapa Libra tersenyum dibuatnya, ia lalu membalas pesan itu dan saling berbalas pesan.


Disaat Ciara kembali ke ruang tamu untuk menemui suaminya, ia terheran-heran melihat Libra yang tampak serius dan senyum-senyum sembari memandang layar ponselnya. Ciara pun coba mendekat dan duduk di sebelahnya, lalu menegur suaminya itu dengan perlahan.


"Ehem ehem, kamu lagi ngapain sih mas? Kok sampai senyum-senyum gitu, hm?" tegur Ciara.


Libra terkejut dan ponsel di tangannya sampai terlempar hingga jatuh ke lantai, samar-samar Ciara melihat nama Gita ada di layar ponsel itu dan membuat hatinya merasa sakit. Namun, Libra segera mengambil ponselnya kembali dan tersenyum menatap wajah Ciara serta mengusapnya lembut.


"Eh sayang, kamu ngagetin aja sih. Ini aku cuma lagi terima chat dari teman, omong-omong kamu udah siapin air panas buat aku?" ucap Libra.


Ciara mengangguk perlahan, "Udah kok mas, nanti kamu siap-siap aja buat mandi ya!" ucapnya.


"I-i-iya, terimakasih ya cantik. Oh ya satu lagi, tadi kamu gimana hasil tesnya? Udah baikan dong kondisi kamu?" ujar Libra mengalihkan topik.


Ciara pun terdiam dan menundukkan kepalanya, ia bingung harus menjawab apa kepada Libra saat ini. Pasalnya, hasil tesnya tadi siang tidak memenuhi ekspektasi suaminya itu dan pasti akan membuat Libra merasa sedih jika mendengarnya. Akhirnya Ciara memutuskan menjawab dengan berbohong, dan mengatakan bahwa ia tidak kenapa-napa.


"Aku gapapa kok mas, kamu gak perlu khawatir lagi sama aku! Kan aku juga kelihatan baik-baik aja sekarang, tenang ya mas!" ucap Ciara berbohong.


"Oh syukurlah, aku lega deh dengarnya!" ucap Libra tersenyum penuh kelegaan.


Libra pun menarik tubuh Ciara, lalu memeluknya erat sembari mengusap puncak kepalanya dan memberi kecupan singkat yang lembut. Satu jarinya bergerak menaikkan dagu sang istri, ia tatap sejenak mata indah wanita itu sebelum mulai menempelkan bibir keduanya dan terjadilah percumbuan panas disana.




Dikala Ciara dan Libra tengah asyik saling mencumbu satu sama lain, Gita yang masih berada di rumah sakit justru merasa geram lantaran Libra tak kunjung membalas pesan darinya. Ia heran apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan pria itu, dan mengapa Libra tidak memberikan balasan padanya.


Gadis itu pun akhirnya terpaksa menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu berniat pergi karena kesal dengan kelakuan Libra. Akan tetapi, ia terkejut saat tiba-tiba dokter Syifa sudah berdiri tepat di hadapannya dan tengah tersenyum sembari memandangi wajahnya.


"A-ada apa ya dok? Kok dokter ngeliatin saya begitu sih?" tanya Gita dengan wajah gugup.


Syifa terkekeh melihat kegugupan di wajah Gita, ia sampai menutupi mulutnya karena tak tahan dengan ekspresi gadis itu. Tadi Syifa dengar jelas saat Gita bergumam seorang diri dan menyebut nama Libra dengan mulutnya, maka dari itu Syifa sekarang mencoba mencari tahu dan bertanya langsung pada Gita mengapa gadis itu tampak kesal.


"Gapapa, saya cuma bingung aja sama kamu. Tadi saya dengar kamu sebut nama dokter Libra ya sambil marah-marah, memangnya ada apa sih? Kalian lagi marahan?" ujar dokter Syifa.


Deg


Wajah Gita berubah panik saat ini, ia tak menyangka kalau Syifa ternyata mendengar apa yang ia katakan tadi. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, ia benar-benar gugup dan bingung harus menjawab apa di hadapan dokter Syifa. Apalagi, Syifa terlihat terus menatapnya seolah menantikan jawaban darinya.


"Eee sa-saya...." Gita terlihat sangat gugup, ia terus berpikir keras agar tidak membuat dokter Syifa curiga kepadanya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2