
Libra yang terluka terus memaksa dan meminta pada Keenan untuk dibawa menemui istrinya, ia bahkan tidak mau diajak ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi tubuhnya saat ini yang tampak terluka parah akibat perkelahian tadi. Libra hanya ingin bertemu dengan Ciara dan juga Cyra, pria itu terlihat begitu mencemaskan keluarganya dan tidak bisa tenang sebelum melihat mereka secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Mau tidak mau, Keenan ditemani Galen tak memiliki pilihan lain saat ini selain menuruti permintaan Libra yang keras kepala itu. Mereka pun memilih membawa Libra ke rumah Galen yang mana disana saat ini Ciara dan Cyra berada, keduanya itu juga terus memastikan bahwa kondisi Libra baik-baik saja. Ya ini seperti sebuah dejavu bagi Keenan, karena dulu ia juga harus mengantar Albert ke tempat Nadira dan bukan menuju rumah sakit.
Namun, kala itu Albert harus meregang nyawa akibat keegoisan dirinya yang tidak mau dibawa ke rumah sakit lebih dulu. Albert justru ingin menemui Nadira istrinya dan juga Ciara yang dahulu masih di dalam kandungan Nadira, tentunya hal ini sama persis dengan apa yang diminta Libra barusan. Keenan merasa khawatir pada kondisi Libra saat ini, ia tidak mau apa yang menimpa Albert dialami juga oleh Libra dalam perjalanan menuju rumah Galen.
"Om, ayo lebih cepat lagi om! Saya gak sabar mau ketemu Ciara dan Cyra, saya harus pastikan sendiri kalau mereka baik-baik saja om! Saya khawatir mereka terluka, saya gak akan bisa maafkan diri saya sendiri kalau sampai itu terjadi!" ucap Libra.
"Ya, om paham dengan kecemasan kamu. Tapi, apa tidak lebih baik kalau kita periksa dulu kondisi kamu ke rumah sakit?" ucap Keenan menyarankan.
"Tidak usah om, saya baik-baik saja dan saya kuat kok. Saya hanya mau memastikan kondisi istri dan anak saya sekarang om, saya mohon om!" ucap Libra memelas.
"Baiklah, om akan bawa kamu bertemu dengan istri dan anak kamu!" ucap Keenan pasrah.
Libra tersenyum mendengarnya, ia semakin tidak sabar untuk menemui istrinya saat ini dan melihat secara langsung bahwa mereka baik-baik saja. Jujur Libra sangat khawatir dengan kondisi istri serta anaknya, apalagi tadi mereka hampir saja terkena ledakan bom yang luar biasa akibat kelakuan dari Bagas yang benar-benar di luar dugaan.
"Libra, kondisi kamu udah cukup parah loh. Kamu yakin masih bisa kuat nahan diri sampai kita tiba di rumah saya nanti? Apa kamu gak mau diperiksa dulu ke rumah sakit?" tanya Galen.
Lagi-lagi Libra menggeleng dan mengatakan bahwa ia tidak perlu berobat lebih dulu ke rumah sakit atau memeriksa kondisinya, karena hingga kini yang Libra inginkan hanya bertemu dengan Ciara dan juga Cyra serta memastikan kondisi mereka. Bagi Libra, tak ada yang lebih penting di dalam hidupnya selain kedua manusia itu.
"Om salut sama rasa sayang kamu dan kepedulian kamu itu, Libra. Kamu sama seperti almarhum tuan Albert dulu, yang lebih mementingkan istri dan anaknya dibanding keselamatan dirinya sendiri. Kamu memang luar biasa!" ucap Keenan memuji.
"Biasa aja ah om, aku jauh kalau dibandingkan dengan papa Albert," elak Libra.
"Tapi bener loh, dulu itu tuan Albert masih sempat mikirin keluarganya dibanding keselamatan dia sendiri. Padahal, kondisi tubuhnya udah penuh darah dan perlu dikhawatirkan," ucap Keenan.
"Waduh, saya jadi kangen sama papa, om! Andai aja papa masih hidup sampai sekarang, gak mungkin tuh ada yang berani serang kira," sahut Galen.
"Ya begitulah." Keenan mengangguk perlahan.
•
•
Singkat cerita, akhirnya Libra tiba di tempat Ciara berada dan bergegas turun dari mobil yang ia tumpangi bersama Keenan serta Galen. Libra tampak berjalan tertatih-tatih sembari berteriak memanggil istrinya, ia berharap Ciara bisa segera keluar menemuinya karena saat ini hanya wanita itu yang ingin Libra temui.
Galen kini terlihat membantu Libra melangkah menuju rumahnya di depan sana, ia tidak ingin jika Libra terjatuh atau terjadi hal yang buruk padanya. Mereka sama-sama berhenti melangkah ketika tiba di depan pintu, apalagi setelah Ciara muncul dan tampak syok melihat suaminya datang kesana dengan tubuh penuh luka.
"Hah mas Libra??" Ciara benar-benar terkejut, ia mendekat ke arah suaminya itu dengan wajah panik sambil berusaha memeriksa kondisi sang suami.
Libra yang melihat Ciara keluar dari rumah itu sontak tersenyum lebar, ia senang lantaran Ciara baik-baik saja dan tidak ada luka di sekujur tubuhnya. Mereka berdua kini saling berhadapan, Ciara yang panik terus saja mengusap bagian tubuh Libra untuk memastikan luka-luka di tubuh lelaki itu tidak infeksi dan menyebar ke bagian yang lainnya.
"Mas, kamu kenapa bisa luka-luka kayak gini sih? Aku gak tega loh lihatnya, harusnya kamu langsung ke rumah sakit aja mas biar bisa diobatin!" ucap Ciara dengan cemas.
Libra menggeleng, "Gapapa sayang, aku cuma butuh kamu ada di samping aku. Luka ini mah gak seberapa kok, asalkan kamu mau selalu ada di sebelah aku dan temenin aku terus," ucapnya.
"Iya mas, aku bakal selalu ada di dekat kamu kok. Tapi, kamu tetap harus diperiksa biar gak ada luka yang parah!" ucap Ciara.
"Cyra mana? Aku mau ketemu dong sama dia," ucap Libra yang malah mengalihkan pembicaraan.
Ciara pun tampak kesal dan memutar bola matanya karena Libra yang tidak ingin dibawa ke rumah sakit, padahal Ciara tahu kalau saat ini Libra pasti tengah menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat luka yang dia alami. Namun, kecemasan Libra terhadap putrinya jauh lebih besar dan membuat Libra tidak merasakan kesakitan di tubuhnya.
"Mas, gausah nanyain Cyra dulu! Aku yakin Cyra juga pasti marah kalau kamu gak mau dibawa ke rumah sakit, udah ayo aku anterin kamu ya buat periksa!" ucap Ciara memaksa.
Bukannya menurut, Libra justru menarik tubuh Ciara dan memeluknya erat sembari menciumi area wajah serta leher wanita itu. Ciara terbelalak kaget dibuatnya, seolah tak percaya suaminya akan melakukan hal itu di hadapan Keenan serta Galen. Tentu saja Ciara merasa malu, namun ia juga tidak bisa melarang Libra untuk menciumi tubuhnya.
"Aku gak mau ke rumah sakit sayang, kamu aja ya yang rawat aku disini! Lagian luka aku ini gak ada apa-apanya kok, kamu harus percaya kalau aku akan baik-baik aja!" ucap Libra meyakinkan istrinya.
__ADS_1
"Ta-tapi mas—mmpphh..."
Belum sempat Ciara menyelesaikan ucapannya, Libra sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan ganas dan bergairah. Libra sangat menikmati semua ini, rasanya ia tidak ingin melepas pagutan mereka karena kelembutan bibir Ciara. Apalagi, Libra telah lama juga tidak mencium Ciara seperti ini sejak wanita itu melahirkan putri mereka.
•
•
Disisi lain, Adrian dan Tiara tiba di sebuah hotel dekat lokasi proyek mereka saat ini dan berencana akan menginap disana untuk malam ini. Ya suasana hari sudah gelap dan tidak mungkin mereka akan kembali ke Jakarta dalam kondisi seperti sekarang, pastinya akan cukup berbahaya dan Adrian tidak ingin mengambil resiko tersebut.
Kali ini Tiara diminta menunggu di kursi terlebih dulu, sampai Adrian selesai memesan kamar disana untuk mereka berdua. Tak ada kecurigaan di wajah Tiara saat ini, karena yang ia kira Adrian tak mungkin bersikap buruk padanya. Tiara tahu bahwa Adrian adalah orang yang baik, meski mereka baru kenal selama beberapa Minggu ini.
Tak lama kemudian, Adrian kembali dengan membawa satu kunci kamar di tangannya dan tampak amat merasa jengkel. Sontak Tiara merasa heran sekaligus penasaran, wanita itu tak mengerti mengapa bosnya bersikap seperti itu. Tanpa banyak berpikir lagi, Tiara bergegas bangkit lalu bertanya secara langsung pada Adrian disana.
"Pak, ada apa pak? Kok bapak kelihatan sedih kayak gitu sih, emangnya kamarnya udah habis ya?" tanya Tiara dengan wajah terheran-heran.
Adrian menggeleng perlahan, "Bukan Tiara, tapi ini kamarnya cuma sisa satu yang kosong. Jadi, mau gak mau ya kita bakal satu kamar nanti. Kamu gak masalah kan sekamar sama saya?" jawabnya.
Deg
Betapa syoknya Tiara mendengar ucapan bosnya, ia tak menyangka semua akan jadi seperti ini dan ia harus tidur satu kamar bersama bosnya sendiri. Tentu Tiara merasa amat sungkan, tak mungkin ia akan tidur di kamar yang sama dengan sang bos. Apalagi, mereka berbeda jenis dan sangat dilarang untuk tidur berdua dalam satu kamar yang sama.
"Kenapa Tiara? Kamu pasti gak nyaman ya kalau harus tidur satu kamar dengan saya? Umm, kamu tenang aja nanti saya gak akan macam-macam kok sama kamu!" ucap Adrian.
"I-i-iya pak, saya juga tahu soal itu. Tapi, tetap aja saya ngerasa gak enak pak," ucap Tiara gugup.
"Kenapa harus gak enak? Setahu saya, kamu ini sudah bercerai kan? Berarti gak masalah dong dan gak akan ada yang marah atau cemburu?" ucap Adrian sambil tersenyum.
"Bu-bukan itu pak, tapi soal bapak. Saya takut nanti mbak Salma tahu dan malah salah paham ke kita berdua pak," jelas Tiara.
"Gapapa Tiara, gausah mikirin soal Salma! Yasudah, ayo kita langsung ke kamar aja sekarang! Saya yakin kamu pasti lelah, kamu bisa istirahat dan saya akan belikan makan malam untuk kita," ucap Adrian.
Setelah itu, mau tidak mau Tiara mengikuti saja langkah kaki Adrian dan menerima semua yang pria itu katakan. Tiara juga tak dapat berbuat apa-apa, lagipun hanya satu malam ini ia akan tidur berdua dengan Adrian dalam kamar yang sama. Menurutnya, hal itu mungkin tidak akan terlalu berbahaya karena mereka tak akan melakukan hal-hal yang buruk tentunya.
"Maafkan saya Tiara, semua ini terpaksa saya lakukan karena saya ingin lebih dekat dengan kamu! Jika kamu hamil, maka saya punya alasan untuk tidak menikah dengan Salma. Lalu, saya bisa memilih kamu Tiara!" gumam Adrian dalam hatinya.
Mereka pun sama-sama masuk ke dalam kamar yang Adrian pesan, meski perasaan Tiara masih terasa tidak enak dan khawatir saat ini.
•
•
Sementara itu, Libra masuk ke kamarnya menemui Ciara yang tengah menyusui Cyra disana dalam posisi miring. Libra pun tersenyum melihat milik istrinya yang terpampang dengan jelas, apalagi ukurannya yang saat ini membesar. Rasanya Libra ingin menyusu juga seperti Cyra, itulah sebabnya Libra kini ikut terduduk di sebelah Ciara.
Ciara cuek saja ketika melihat suaminya ada di sebelahnya, ia tahu Libra pasti akan dengan sengaja menggodanya setelah mengetahui semua itu. Namun, Ciara tetap fokus menyusui putrinya tanpa perduli dengan Libra di sampingnya. Libra pun memilih berbaring tepat di dekat sang istri, menatap ke arahnya lalu tersenyum dengan lebar.
"Cantik banget sih istri aku ini! Kamu abis melahirkan bukannya kelihatan gendut atau jelek, eh ini malah tambah cantik! Aku takut kamu bisa direbut orang nantinya," ucap Libra memujinya.
Ciara merotasi bola matanya mendengar kata-kata rayuan dari sang suami, ia sudah muak dengan apa yang dikatakan Libra barusan. Meski begitu, Ciara tetap tersenyum menghargai pujian dari suaminya agar Libra tidak kecewa. Setelah itu, Libra kembali mendekatinya dan mengusap rambut serta mengecup kening istrinya dengan lembut.
Cup
"Aku juga haus nih sayang, boleh dong aku ikut nyusu bareng Cyra?" pinta Libra.
"Hah??" Ciara terkejut bukan main.
Libra terkekeh melihat ekspresi kaget dari wajah istrinya, rasanya Ciara begitu menggemaskan dan Libra ingin sekali menghajarnya di atas ranjang sekarang juga. Akan tetapi, Libra harus bisa menahan diri mengingat Ciara masih belum dapat diajak bermain untuk memuaskan gairah di dalam dirinya.
__ADS_1
"Oh ya mas, aku tahu kamu pasti kepengen banget kan ngelakuin itu? Aku takut deh kamu bakal selingkuh di belakang aku, seperti apa yang kak Galen lakuin dulu waktu kak Tiara baru melahirkan Askha," ucap Ciara lirih.
Libra mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu apa sih sayang? Aku gak mungkin kayak gitu lah, aku ini lelaki setia beda sama Galen yang suka selingkuh di belakang istrinya!" ucapnya dengan tegas.
"Kamu yakin mas? Bukannya gairah kamu itu gampang mencuat ya?" tanya Ciara memastikan.
"Umm....."
Libra terlihat mengetuk-ngetuk jarinya ke dagu seraya berpikir keras, yang dikatakan Ciara memang benar kalau gairah di dalam dirinya mudah sekali naik setiap kali ia melihat Ciara dalam kondisi seksi seperti sekarang. Ya tapi tentunya Libra hanya merasakan itu kepada Ciara, jika dengan wanita lain maka Libra tak akan merasakan apapun.
"Mas, kalau kamu mau aku puasin bilang aja ya! Bagian tubuh aku yang lain kan masih tersedia buat kamu, jadi kamu gak perlu sungkan!" ucap Ciara.
"Of course baby, sekarang mah aku pengen ikut nyusu aja deh. Boleh kan aku barengan nyusunya sama Cyra?" ucap Libra dengan pandangan mesumnya.
"Ahaha, boleh aja kok mas. Asalkan Cyra gak merasa terganggu, terus kamu juga gak ganggu dia!" ucap Ciara terkekeh kecil.
"Siap istriku tercinta!" ucap Libra dengan tegas.
Dengan penuh semangat Libra membuka baju yang dikenakan istrinya itu dan menyusu sama seperti Cyra, kali ini Ciara hanya bisa pasrah karena tak mungkin wanita itu melarang keinginan suaminya setelah apa yang dia katakan tadi. Lagipula, tidak ada salahnya Ciara menuruti kemauan suaminya untuk satu malam ini saja.
•
•
Tiara baru menyelesaikan mandinya di malam yang dingin ini, Tiara pun keluar dari toilet dengan satu set bathrobe berwarna biru muda yang ia kenakan. Wanita itu tampak melangkah menuju ranjang dimana ia meletakkan tas miliknya, ia langsung mengambil pakaian dari dalam sana dan bersiap memakai pakaiannya karena tidak tahan dengan hawa dingin yang terasa di sekitarnya.
Akan tetapi, baru saja ia hendak melepas bathrobe dari tubuhnya tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang terbuka dan membuatnya terkejut. Tiara pun mengurungkan niatnya, ia menoleh ke arah pintu lalu menemukan Adrian disana. Tampak Adrian baru kembali dari membeli makan malam untuk mereka, sehingga pria itu tersenyum dan berhenti tepat di hadapan Tiara yang begitu mengagumkan.
"Ah Tiara, maaf ya kalau saya mengganggu! Pasti kamu baru ingin berganti pakaian ya? Kalo gitu saya keluar dulu, supaya kamu bisa bebas pakai baju dan rok kamu!" ucap Adrian merasa gugup.
"I-i-iya pak, gapapa. Saya juga gak buru-buru kok pak," ucap Tiara tersenyum lebar.
"Yaudah, ini makanannya sudah saya belikan. Kalo gitu saya mau mandi aja deh, kamu gak masalah kan kalau saya nunggu di toilet?" ucap Adrian.
Tiara menggeleng, "Gak dong pak, yang penting bapak gak ngintip aja!" ucapnya.
"Hahaha..."
Adrian terkekeh mendengarnya, lalu tanpa menunggu lama ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Tiara tentunya tetap berada disana, ya wanita itu segera berganti pakaian saat ini. Tanpa disadari oleh Tiara, rupanya Adrian sengaja mengintip melalui celah pintu kamar mandi dan terlihat sangat menikmati pemandangan yang ada walau sedikit.
"Kamu seksi sekali, Tiara!" batin Adrian.
Setelah beberapa menit, Adrian pun keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap dan handuk di pundaknya. Pria itu tampak tersenyum melihat Tiara yang tengah menikmati makan malam sembari menonton televisi, ia sontak mendekat dan ikut terduduk di sebelah sang sekretaris sambil mengambil mangkuknya.
"Wih ibu-ibu emang sukanya nonton sinetron ya?" celetuk Adrian begitu melihat apa yang ditonton Tiara saat ini.
"Ahaha, iseng aja pak soalnya saya bosan tadi. Kalau bapak mau tonton yang lain, silahkan aja diganti pak!" ucap Tiara agak gugup.
"Gausah, saya mah gak suka nonton tv. Saya temenin kamu aja disini," ucap Adrian.
Tiara mengangguk lemah, ia tampak begitu menikmati makanan yang dibelikan Adrian tadi tanpa tahu bahwa pria itu telah mencampurkan sesuatu di dalamnya. Ya kini Adrian tersenyum menyeringai ke arahnya, seolah menunggu reaksi dari obat panas yang telah ia masukkan ke dalam makanan untuk Tiara itu.
Tiba-tiba saja, Tiara merasakan panas di sekujur tubuhnya yang membuat ia tidak bisa menahan diri. Padahal, sebelumnya hawa di sekitar sana sangat dingin dan bahkan Tiara sempat merasa kedinginan setelah mandi tadi. Namun, entah mengapa sekarang rasanya Tiara begitu kepanasan sampai mengeluarkan banyak keringat.
"Duh, kok gerah banget ya? Kenapa mendadak jadi panas begini sih?" gumam Tiara dengan heran.
Adrian yang mendengar itu merasa sangat bahagia, obat yang ia berikan telah bereaksi dan membuat Tiara kepanasan serta sebentar lagi bisa jatuh ke dalam pelukan Adrian tentunya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...