
Nadira masuk ke dalam ruang rawat bersama Tiara, mereka berniat menjenguk Ciara yang baru siuman itu dan tampak sangat bahagia. Keduanya duduk tepat di sebelah Ciara, memandang wajah wanita cantik itu sambil mengusapnya lembut. Air mata kebahagiaan menetes di wajah Nadira, ia bersyukur karena masih bisa melihat putrinya seperti saat ini.
Ciara mengernyitkan dahinya, ia heran mengapa sedari tadi orang-orang yang menemuinya selalu saja menangis. Mulai dari Libra suaminya, hingga kini Nadira dan juga Tiara turut menangis ketika muncul di dekatnya. Ciara pun terlihat penasaran, seolah meminta penjelasan dari mamanya tentang mengapa Nadira menangis dan bersedih saat ini bersama Tiara yang terlihat meneteskan air mata.
"Ma, mama kenapa sih kok nangis gitu? Ini kak Tiara juga sama ikut-ikutan mama, emang ada apa sih sebelumnya? Aku ketinggalan apa, ma?" tanya Ciara dengan wajah herannya.
Nadira menggeleng saja seraya mengusap air matanya, ia membungkuk mendekati putrinya dan membelai wajah cantik Ciara. Nadira sangat senang saat ini, tapi entah kenapa ia tidak bisa berhenti menangis karena momen membahagiakan ini. Rasanya Nadira masih tak percaya, Ciara kini dapat hidup kembali dan berbicara padanya.
"Gak ada apa-apa kok sayang, mama minta maaf ya kalau mama cengeng!" ucap Nadira berbohong.
"Tapi ma, kalau gak ada apa-apa kenapa mama sama kak Tiara nangis barengan begini? Terus tadi juga pas aku melek, aku lihat mas Libra lagi nangis di samping aku. Begitu aku tanya ke dia, dia juga bilang gak ada apa-apa," ucap Ciara.
"Ya karena emang gak ada apa-apa Ciara, kamu gausah mikir yang aneh-aneh ya! Mama nangis karena mama bahagia aja bisa lihat kamu sadar dan sehat kayak gini," ucap Nadira.
"Beneran ma, gak ada yang mama sama kak Tiara sembunyiin dari aku kan?" tanya Ciara penasaran.
"Enggak ada kok sayang, percaya deh sama mama! Mana mungkin mama sama Tiara bohongin kamu sih?" jawab Nadira sambil tersenyum.
"Iya deh, aku percaya sama mama." Ciara ikut tersenyum dan menggenggam tangan mamanya.
Lalu, Libra kembali muncul disana dengan membawa putrinya di dalam gendongan dan langsung menyapa ketiga wanita itu. Ya sebelumnya Libra memang pamit untuk mengambil putrinya dari ruang inkubator, karena sekarang kondisi Ciara telah membaik dan bisa memberikan asi pertama untuk putrinya yang cantik jelita itu.
"Halo semua!!" Libra menyapa ketiganya dan berdiri tepat di dekat Ciara, Nadira serta Tiara.
Sontak Nadira dan juga Tiara kompak bangkit dari kursi mereka, menatap ke arah Libra juga putrinya yang ada disana. Mereka tampak senang melihatnya, karena putri Ciara itu benar-benar mirip dengan ibunya. Hanya saja, Ciara kini belum bisa melihat putrinya karena ia kesulitan untuk beranjak dari brankar tempatnya berbaring.
__ADS_1
"Ututu, lucunya cucu oma ini! Duh, mama mau gendong dia dong Libra! Boleh ya?" ucap Nadira tampak sangat bahagia.
"Boleh dong ma," Libra tersenyum dan memberikan putrinya kepada Nadira.
"Wah cantik banget!" Tiara spontan memuji keponakannya itu yang saat ini tengah digendong oleh Nadira.
"Iya dong, cucu siapa dulu!" ucap Nadira pede.
Semua disana kompak tertawa, namun Ciara malah cemberut dan merasa bete lantaran tidak diberi kesempatan untuk melihat putrinya. Ciara pun melayangkan protes kepada mereka, ia mengatakan kalau ia pun ingin melihat putri cantiknya itu. Ya karena sedari tadi, Ciara belum bisa melihat seperti apa wajah putri yang baru saja ia lahirkan itu.
"Ma, aku juga mau lihat anak aku dong! Masa daritadi aku yang ngelahirin malah belum pernah lihat dia sih," ucap Ciara sambil merengut.
"Eh iya iya, duh mama kamu ngambek tuh sayang! Nih deh mama bawa ke dekat aku," Nadira pun bergerak menghampiri putrinya sembari membawa cucunya di dalam gendongan untuk ditunjukkan kepada Ciara yang merupakan ibu kandungnya.
Nadira dan yang lainnya menggeleng saja melihat reaksi Ciara saat ini, mereka senang karena Ciara ternyata masih bisa menemui putrinya dan juga menyentuhnya. Beruntung juga bagi bayi itu, sebab dia tidak jadi kehilangan ibu kandung yang telah melahirkannya dan bisa merasakan kasih sayang yang diberikan seorang ibu kepada anaknya.
"Bukan mirip kamu doang kali, mirip aku juga. Kan itu anak kita berdua," celetuk Libra.
"Ish, komen aja kamu mas! Dia ini anak perempuan tahu, ya pasti mirip aku lah. Emangnya kamu mau dibilang cantik?" ucap Ciara.
"Gak gitu juga, maksudnya kan mukanya juga ada yang mirip aku," ucap Libra tak mau kalah.
"Ya tapi kan—"
Belum sempat Ciara selesai bicara, Nadira sudah lebih dulu memotongnya dan berniat menghentikan perdebatan diantara sepasang suami-istri itu. Meski Nadira merasa gemas melihat itu, tapi tetap saja tidak baik jika mereka terus berdebat di depan bayi mereka yang baru lahir ke dunia itu.
__ADS_1
"Hey sudah sudah, jangan pada debat terus! Daripada debat, mending kalian pikirin nih nama yang bagus buat bayi kalian!" sentak Nadira.
"Oh iya, aku sampai lupa kalau dia belum dikasih nama. Gimana nih mas, kamu mau kasih dia nama apa? Yang bagus loh, yang keren! Jangan cupu atau kampungan namanya!" ucap Ciara.
Libra terkekeh, "Haha, yaudah kamu bantuin dong mikir nama buat bayi kita ini!" ucapnya.
"Duh, aku bingung mas. Aku kan baru sadar dari pingsan, kalau disuruh mikir nanti yang ada kepala aku makin pusing!" keluh Ciara.
"Iya iya, tapi aku juga bingung sayang. Kita kemarin udah nanya ke readers, eh yang jawab cuma sedikit. Gimana ya sekarang?" ucap Libra ikut bingung.
Ciara menggeleng dengan wajah merengut, kini wanita itu kembali fokus membelai lembut kening putrinya yang berada tepat di sebelahnya itu. Ciara sungguh senang saat ini, akhirnya bayi yang telah lama ia nanti-nantikan itu lahir juga ke bumi. Meski kini Ciara belum tahu hendak memberi nama putrinya siapa, namun ia tetap yakin jika kelak bayi yang dilahirkannya itu akan menjadi anak berbakti.
"Eee mama ada usul nih, gimana kalau nama anak kalian itu Cyra aja? Itu gabungan dari nama kalian berdua loh, Ciara dan Libra," usul Nadira.
"Aku juga ada usul, kita kasih nama Anto aja!" sahut Libra dengan senyum lebarnya.
"Hus mas, kamu mah sembarangan aja! Anak kita itu cewek, lama-lama aku marah nih sama kamu!" tegur Ciara dengan kesal.
"Hehe..."
Libra terkekeh dan menunduk sambil menggaruk tengkuk kepalanya, lalu Ciara pun berkata bahwa dirinya setuju dengan usul dari Nadira dan ingin memberi nama kepada putrinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1