
Cyra saat ini masih terdiam bingung dan tak tahu harus berbuat apa, ia yang tadinya hendak pergi dari rumah neneknya itu malah tak sengaja dipanggil oleh mamanya yang kebetulan juga ada disana. Sontak Cyra menghentikan langkahnya, tak mungkin ia langsung berlari begitu saja kali ini. Apalagi, Ciara juga telah melihat kehadirannya disana dan tengah berjalan mendekat ke arahnya dengan perlahan.
Dengan sangat terpaksa, Cyra pun berbalik dan menatap wajah mamanya sambil tersenyum. Ia berusaha keras menyeka air matanya, karena tidak ingin Ciara mengetahui bahwa ia habis menangis. Cyra memang kecewa pada Libra tadi, namun ia tak akan bisa melakukan hal yang sama pada mamanya. Selama ini ia sangat dekat dengan Ciara, bahkan Ciara lah yang selalu mengurus segala keperluan dirinya disaat Libra sibuk dengan pekerjaannya.
"Cyra sayang, kamu kok baru pulang sih nak? Darimana aja kamu, hm?" tanya Ciara yang kini sudah berdiri tepat di hadapan putrinya itu.
Cyra terdiam tak menjawab, ia sungguh gugup dan bingung saat hendak membuka mulutnya. Namun, untung saja Faiz cepat-cepat turun dari mobil lalu menghampiri mereka. Ya pria itu berniat membantu Cyra, sebab dia tahu kalau Cyra saat ini tengah membutuhkan bantuannya.
"Ah mbak Ciara!" tiba-tiba, Faiz muncul dan menyapa kakaknya sambil tersenyum.
Sontak pandangan Ciara beralih ke arah sang adik yang baru turun dari mobil, ia tampak senang ketika melihat Faiz telah kembali ke negaranya dan sudah tumbuh semakin besar. Bahkan, Faiz juga yang mengantar Cyra pulang kesana dengan selamat dan membuatnya amat lega. Setidaknya, Cyra tidak akan berdekatan lagi dengan sosok Davin.
"Eh Faiz, duh aku kangen banget sama kamu! Jadi kamu yang antar Cyra pulang kesini? Makasih ya Faiz, aku lega deh jadinya!" ucap Cyra yang langsung mendekat dan memeluk adiknya.
"Sama-sama mbak, kasihan juga kan kalau Cyra pulang sendirian!" ucap Faiz.
"Heleh, tadi bukannya om bilang terpaksa ya jemput aku karena disuruh oma? Kenapa sekarang ngakunya karena kasihan? Labil dasar!" cibir Cyra.
"Cyra, gak boleh gitu ah sama paman kamu! Harus sopan loh!" tegur Ciara.
Cyra menundukkan kepalanya, sedangkan Faiz hanya tersenyum dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja walau Cyra berbicara seperti itu padanya. Setelah melepas pelukannya, kini Ciara pun kembali mendekati putrinya untuk bertanya pada gadis itu mengapa dia tadi hendak pergi.
"Nah Cyra sayang, kamu sekarang jawab deh pertanyaan mama! Kenapa kamu tadi mau pergi lagi, hm? Terus kenapa muka kamu kok kelihatan sedih begitu?" tanya Ciara penasaran.
"Aku gapapa kok ma, aku lagi pengen sendiri aja. Tapi, om Faiz malah bawa aku kesini. Padahal, aku gak mau datang kesini," jawab Cyra.
__ADS_1
Ciara mengernyitkan dahinya, "Kok gitu sih sayang? Emangnya kenapa kalau kamu disini? Kamu lagi ada masalah ya, hm? Sini cerita aja sama mama, jangan malah menghindar!" ucapnya.
"Umm...."
Ciara semakin curiga melihat ekspresi putrinya yang seperti itu, ia yakin kalau ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Cyra darinya. Akhirnya Ciara bergerak memeluk tubuh Cyra dengan erat sembari mengusap punggungnya dengan lembut, ia ingin agar Cyra merasa tenang dan dapat menceritakan semua kepadanya.
"Ikut mama yuk sayang, kita bicara di dekat kolam! Dulu waktu mama kecil, oma selalu tenangin mama disana. Kamu mau kan?" bujuk Ciara.
Cyra hanya mengangguk kali ini, ia tak banyak bicara dan memilih menurut saja pada kemauan mamanya. Mereka pun mulai melangkah secara perlahan menuju kolam renang, dengan Ciara yang terus merangkul pundak putrinya sambil sesekali mengecup keningnya.
•
•
Sesampainya di pinggir kolam, Ciara langsung mengajak Cyra duduk tanpa melepas rangkulannya. Ciara ingin putrinya itu menjelaskan semua masalah yang terjadi kepadanya, sebab ia yakin sekali kalau Cyra tengah mengalami sesuatu. Meski begitu, entah kenapa rasanya cukup sulit bagi Cyra untuk menjelaskan semua kepada mamanya.
Cyra menggeleng, "Bukan ma, tapi tadi aku ketemu papa. Aku senang banget bisa ketemu papa dan peluk papa lagi, setelah cukup lama papa gak pulang ke rumah kita kan, ma?" jawabnya.
Deg
Ciara tersentak dan kebingungan saat ini, ia cemas jikalau Libra mantan suaminya itu menjelaskan semua pada Cyra mengenai perceraian mereka. Apalagi, ekspresi Cyra sangat mendukung semua dugaannya itu. Ciara pun semakin khawatir, namun berusaha tetap tenang dan mendengarkan ucapan putrinya sampai selesai.
"Terus terus, kok kamu malah sedih gini sih sayang? Katanya kamu senang ketemu papa, harusnya kamu sekarang bahagia dong. Tapi, kenapa kamu cemberut terus nangis begini?" heran Ciara.
"Iya ma, aku awalnya senang banget bisa ketemu papa. Tapi setelah aku tahu semua tentang kalian, aku langsung sedih dan kecewa banget, ma. Aku dari dulu selalu khawatir dengan ini semua, dan sekarang akhirnya kejadian juga," ucap Cyra.
__ADS_1
"Ma-maksud kamu apa sayang? Emangnya kamu tau apa tentang mama dan papa?" tanya Ciara.
"Mama sekarang jujur deh sama aku, mama sama papa udah cerai kan! Kalian berpisah dan udah gak perduli lagi sama aku ataupun adik-adik, iya kan?" ucap Cyra dengan tegas.
Ciara benar-benar syok ketika Cyra berkata seperti itu, ternyata dugaannya benar bahwa Libra telah menceritakan semuanya kepada Cyra. Kini tak ada yang bisa dilakukan oleh Ciara, ia tak mungkin berbohong pada Cyra karena gadis itu sudah mengetahui semua dari Libra.
"Ka-kamu jangan bicara begitu sayang! Mama masih perduli kok sama kamu dan adik-adik kamu, jangan pernah bilang kayak gitu lagi ya!" ucap Ciara.
"Ah cukup ma!" Cyra terlihat kesal dan menyingkirkan tangan mamanya.
Lalu, Cyra pun bangkit dari posisinya dan berdiri tegak menatap wajah mamanya yang juga ikut beranjak. Cyra terlanjur kecewa dengan kedua orangtuanya itu, karena mereka sudah bercerai tanpa meminta pendapat darinya. Tetes air mata kembali mengalir di wajahnya, rasa kecewa itu terlalu besar dan amat membuatnya bersedih.
"Tunggu dulu sayang, kamu jangan salah paham! Kamu harus tau apa alasan mama berpisah sama papa kamu, itu semua karena hubungan kami tidak bisa dipertahankan lagi sayang!" ucap Ciara.
"Tetap aja ma, harusnya mama bilang dulu dong sama aku dan minta pendapat aku sama adik-adik. Kalau begini caranya, itu sama aja mama gak anggap aku ada. Aku itu gak mau mama sama papa pisah, karena aku gak bisa harus memilih salah satu diantara kalian!" ucap Cyra.
"Hiks hiks hiks..." setelah meluapkan emosinya, gadis itu menangis terisak dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ciara tidak tega melihatnya, ia mendekat dan berusaha memeluk putrinya. Akan tetapi, Cyra justru berontak dan tidak ingin disentuh oleh mamanya karena masih kecewa. Justru Cyra berlari menjauh kali ini, sehingga Ciara memutuskan mengejar putrinya itu dan terus berusaha membujuk Cyra agar tidak salah paham atau malah membencinya.
"Cyra, Cyra tunggu sayang! Biar mama jelasin ke kamu semuanya, berhenti sayang!" Ciara berteriak kencang, berusaha meminta pada Cyra untuk berhenti dan mendengarkan penjelasannya.
Namun, Cyra tampaknya tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mamanya untuk saat ini. Rasa kecewa dan emosi menyatu di dalam dirinya, Cyra benar-benar tidak bisa menahan diri jika terus berada di dekat mamanya. Sampai sekarang ini, gadis itu masih tak menyangka kalau kedua orangtuanya itu akan berpisah.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...