Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 77. Pahlawan


__ADS_3

"Hiks hiks..."


Libra terkejut mendengar suara tangisan dari dalam kamar mandinya, sontak saja pria itu langsung bangkit dan coba mencari tahu apa yang terjadi. Ia tentu tak ingin jika Ciara menangis karena salah paham dengannya, ia harus menjelaskan semua pada Ciara agar gadis itu berhenti mengira kalau dirinya sudah tidak suci lagi.


Ya Libra bergegas mengetuk pintu, berteriak keras meminta Ciara membukanya karena ia ingin bicara. Namun, tak ada jawaban apapun dari Ciara yang malah menangis lebih deras. Suara air dari shower juga membuat Libra kebingungan, pria itu tak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa masuk ke dalam dan menghentikan tangisan dari gadisnya itu.


Akhirnya Libra dengan sekuat tenaga terpaksa mendobrak pintu tersebut, tapi tidak berhasil karena cukup kuat. Libra hampir saja menyerah, namun tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan menampakkan Ciara dengan tubuh polosnya. Libra menganga saat itu juga, sungguh indah pemandangan yang ada di depannya itu dan membuat gairah pria itu mencuat seketika.


"Ci-Ciara, ka-kamu apa-apaan sih? Kamu jangan kayak gini dong sayang! Aku takut gak bisa tahan diri nantinya," ucap Libra gugup.


"Kenapa om? Bukannya om semalam udah perkosa aku ya? Harusnya om gak perlu ragu buat ngelakuin itu lagi, toh sekarang aku udah gak suci gara-gara ulah om aku sendiri!" cibir Ciara.


"Dengerin aku dulu Ciara, semua yang kamu bilang itu gak bener loh!" ucap Libra.


"Maksud om?" tanya Ciara terisak.


Libra tersenyum, kemudian ia mengambil bathrobe berwarna putih yang tersedia disana dan memakaikannya ke tubuh Ciara dengan perlahan. Gadis itu diam saja memandangi wajah pamannya, dia tak mengerti mengapa Libra malah menutupi tubuhnya. Namun, Libra juga mengajak Ciara keluar dari kamar mandi dan terduduk bersama di sofa.


"Aku akan jelasin semuanya ke kamu, jadi semalam itu aku emang sempat nyentuh kamu sampai bagian atas kamu. Tapi—"


"Tuh kan, om emang mesum! Dasar jahat!" sela Ciara sambil memukuli bahu pamannya.


"Awhh Ci-Ciara tunggu, tahan dulu! Kamu jangan emosi begitu dong, aku kan belum selesai ceritanya!" pinta Libra menahan tangan gadisnya.


"Tahan apa? Udah pasti terusan nya ya om perkosa aku, aku kan tau sikap om gimana!" ucap Ciara.


"Ih sok tahu banget kamu, semalam itu keburu asisten aku datang bawain obat penawar buat kamu. Jadi, aktivitas kita gagal deh sayang. Soalnya setelah dikasih penawar, kamu langsung sembuh dan tidur deh," ucap Libra.


"Masa sih? Terus kenapa aku telanjang tadi pas bangun?" tanya Ciara.


"Eee ya itu aku akui, emang aku yang lepasin baju sama rok kamu. Karena aku lihat kamu tuh kayak gerah banget, terus juga kondisi seragam kamu udah jelek gak pantas dipake lagi. Tapi, aku beneran deh gak apa-apain kamu!" jawab Libra.

__ADS_1


"Gak apa-apain gimana? Tadi aja aku mergokin om lagi nyusu kok, pasti pas aku tidur om juga udah ngelakuin lebih kan!" ucap Ciara.


"Hah? Enggak Ciara, beneran deh enggak. Aku cuma nyusu, gak lebih kok. Bahkan nyentuh bagian kamu yang lain aja enggak, kamu percaya dong sama aku sayang!" ucap Libra.


"Masa?" Ciara masih tak percaya pada Libra, sontak ia menatap tajam ke arah pria tersebut.


Libra meraih satu tangan Ciara dan menciumnya, ia berusaha meyakini gadis itu kalau ia tidak melakukan apa-apa padanya. Akhirnya Ciara mau percaya pada lelaki itu, karena dia juga tak merasakan sesuatu yang aneh pada bagian tubuh bawahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Karena yang Ciara tahu, seorang perawan ketika habis diperkosa pasti akan merasakan sakit yang amat sangat.


"Iya deh aku percaya sama om, soalnya aku juga gak ngerasa nyeri sih kayak orang-orang," ucap Ciara.


"Nah iya kan, buat apa coba aku bohong? Emang aku gak ngapa-ngapain kamu kok," ucap Libra tersenyum lebar mendengar ucapan gadisnya.


"Yaudah, sekarang gimana ini om? Aku gak bisa ke sekolah dong hari ini," tanya Ciara keheranan.


Libra menggeleng pelan, "Aku juga gak tahu sayang, lagian udah jam delapan. Daripada kamu pusing mikirin sekolah, mending kita sarapan aja dulu yuk!" ucapnya santai.


"Ish, om mah gitu. Kalau aku ketahuan bolos sama mama papa, yang ada aku bisa dihukum tau!" ucap Ciara cemberut.


Ciara mendengus kesal dibuatnya, sedangkan Libra terkekeh saja melihat ekspresi Ciara yang menggemaskan dan membuatnya ingin sekali mencubit kedua pipi gadis itu. Akhirnya Ciara menurut, mereka pun sama-sama melangkah ke meja makan untuk menyantap sarapan yang sudah disediakan Libra. Tentunya Ciara masih hanya mengenakan bathrobe itu, sebab ia tak membawa pakaian ganti.




Singkat cerita, Ciara diantar pulang ke rumah Nadira oleh pamannya. Namun, gadis itu tampak ragu untuk masuk ke dalam karena khawatir mamanya akan curiga pada mereka. Ya pasalnya Ciara tak pulang dari semalam, pastinya Nadira serta Gavin amat cemas dan akan bertanya-tanya padanya kemana dirinya semalam sampai tidak pulang.


Setelah diyakinkan oleh Libra, akhirnya Ciara pun mau masuk ke dalam dengan ditemani paman sekaligus kekasihnya itu. Ya entah kenapa Ciara begitu mempercayai Libra, mungkin karena cintanya pada lelaki itu yang semakin membesar. Keduanya langsung mengeruk pintu, menanti sampai bik Vita keluar menemui mereka disertai senyum lebar.


Barulah mereka bertiga masuk bersama-sama ke dalam rumah itu, dan disana Ciara langsung dicegat oleh papa serta mamanya yang tampak sudah berdiri di depan mereka. Tentu saja Ciara amat gugup dan ketakutan dibuatnya, gadis itu pun berpegangan pada Libra serta meminta bantuan pria itu untuk menjelaskan semuanya.


"Darimana aja kamu Ciara? Kenapa semalaman kamu gak pulang? Terus barusan mama dapat telpon dari pihak sekolah, katanya kamu gak masuk sekolah, benar kan?" tanya Nadira tegas.

__ADS_1


Ciara terdiam bingung, matanya terus menatap ke arah Libra serta genggamannya yang semakin menguat. Libra pun juga tak tahu harus mengatakan apa pada Nadira saat ini, sebab wanita itu terlihat sangat kesal. Mungkin saja karena apa yang dilakukan Ciara sangat membuat Nadira jengah, tapi semua itu adalah kesalahan Libra.


"Eee mbak, tenang dulu mbak! Semalam itu Ciara sama aku kok, dan dia bangun kesiangan tadi makanya gak sempat sekolah," jelas Libra.


"Hah? Kok bisa Ciara sama kamu? Kenapa kamu gak ada kabarin mbak dulu kalau mau bawa pergi Ciara, ha? Terus kalian tidur dimana semalam?" tanya Nadira kebingungan.


"Di apartemen aku mbak, ta-tapi itu aku lakuin karena Ciara dalam bahaya," jawab Libra.


"Maksudnya? Bahaya gimana?" tanya Nadira lagi.


"Eee...."


Libra sempat melirik sejenak ke arah Ciara sebelum menjawab pertanyaan Nadira, ya pria itu ingin meminta persetujuan dari Ciara untuk bercerita mengenai kejadian kemarin yang dialami gadis itu. Ciara setuju saja, karena menurutnya tak ada yang harus ditutupi dari mamanya saat ini. Akhirnya Libra menjelaskan semua dari awal hingga akhir, sampai Nadira dan Gavin paham.


"Jadi, kemarin itu Davin datang lagi ke sekolah Ciara dan hampir menculik Ciara?" ujar Gavin terkejut.


Libra mengangguk lesu, "Betul mas, Ciara hampir aja kena sama perangkap si Davin. Untung aku datang tepat waktu buat bebasin dia dan bawa dia pergi dari sana," ucapnya.


"Tapi kenapa kamu gak ada kabarin kita sama sekali, ha? Kamu tahu kan kita ini orangtuanya Ciara, kita panik banget loh cariin dia!" ucap Gavin.


"Ma-maaf pa, jangan marahin om Libra ya! Om Libra gak salah kok, aku yang salah karena gampang banget percaya sama om Davin," ucap Ciara menyela.


"Yasudah, tidak usah diperpanjang lagi. Intinya kamu gapapa kan Ciara?" ucap Nadira.


"Iya ma, aku baik-baik aja kok. Om Libra kan semalam jagain aku," ucap Ciara sambil tersenyum.


Hati Libra langsung berbunga-bunga mendengar ucapan Ciara barusan, rasanya ia sangat senang karena Ciara menganggap dirinya sebagai pahlawan di hidupnya. Jika saja tidak ada Nadira maupun Gavin disana, pasti Libra sudah memeluk erat Ciara dan membawanya berkeliling area rumah.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2