Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 129. Bercerai


__ADS_3

Libra dan Ciara tengah menghadiri acara pemakaman Gita yang telah meninggal dunia dalam keadaan mengerikan itu. Keduanya pun tampak bersedih saat ini, terutama Libra yang memang melihat langsung bagaimana kejadian tabrakan di rumah sakit tadi. Libra menyesal, karena ia gagal dalam menyelamatkan sahabatnya itu.


Ciara pun terus menenangkan suaminya, meminta Libra agar ikhlas dan tidak terus bersedih. Ia paham betul apa yang dirasakan Libra saat ini, karena kehilangan sosok sahabat terdekat adalah suatu hal yang menyedihkan. Meski, dahulu Ciara sempat merasa cemburu dengan kedekatan antara Libra dan juga Gita yang terlalu berlebihan itu.


"Mas, sabar ya! Aku yakin Gita pasti tenang di atas sana sekarang, kamu gak perlu sedih dan menyalahkan diri kamu sendiri sekarang!" ucap Ciara membujuknya.


Libra mengangguk perlahan, mengiyakan ucapan istrinya itu dan coba menyeka air mata yang keluar di wajahnya. Libra tidak mau juga terus larut dalam kesedihan, apalagi sekarang ada Ciara di sampingnya yang bisa saja merasa cemburu. Libra pun ingat betul pesan Gita tadi, bahwa ia harus bisa menjaga dan melindungi Ciara.


"Yaudah, semuanya kan udah selesai sekarang. Gimana kalau kita pulang? Tapi, kita pamit dulu sama orang tua Gita!" ucap Libra.


"Iya mas."


Setelahnya, mereka sama-sama mendekati kedua orang tua Gita yang tengah menangis di depan batu nisan makam putrinya itu. Baik Libra maupun Ciara, sama-sama merasa tak tega melihat kesedihan yang dialami kedua orang tua itu. Apalagi, Libra cukup mengenal keduanya karena beberapa kali ayah serta ibu Gita itu sering datang ke rumah sakit.


"Permisi om, tante! Saya dan istri saya mau pamit pulang, sekali lagi kami turut berdukacita ya om! Saya juga berharap, om sama tante bisa mengikhlaskan kepergian Gita!" ucap Libra.


Sang ayah dari Gita menoleh ke arahnya, ia bangkit dan menghadap ke tubuh Libra dengan tatapan tajam. Sedangkan ibu Gita masih terus menangis disana sembari memeluk papan nisan, sepertinya wanita itu amat merasa kehilangan atas kepergian putri tercintanya.


"Libra, kamu tahu siapa yang sudah menyebabkan Gita seperti ini? Katakan Libra!" ucap sang ayah.


"Eee saya belum tahu sih om, tapi saya janji kalau saya akan cari tahu semuanya. Saya akan cek cctv di rumah sakit, lalu mencari siapa pelaku yang membawa mobil itu!" ucap Libra.


"Iya Libra, kamu harus lakukan itu! Saya tidak akan pernah bisa tenang, sebelum pelaku yang sudah menabrak Gita ditangkap!" geram sang ayah.


"Itu benar!"


Tiba-tiba saja, sang ibu pun turut bangkit dan berdiri di dekat mereka. Tampak wanita itu masih terus menangis mengeluarkan air mata, namun saat ini sepertinya ia sangat emosi dan ingin pelaku yang sudah menyebabkan anaknya meninggal itu tertangkap dan dihukum seberat-beratnya.


"Kamu harus bisa tangkap orang itu, Libra! Tante percaya sama kamu, tolong bantu kami!" ucap sang ibu dengan tegas.


Libra hanya bisa menganggukkan kepalanya, tak mungkin ia menolak permintaan dari kedua orang tua sahabatnya yang sedang berduka itu. Apalagi, Libra pun juga belum bisa menerima kepergian Gita yang menurutnya terlalu cepat dan mengerikan. Meski, akan sulit bagi Libra untuk mencari tahu dan menangkap si pelaku itu.


Setelah semuanya selesai, mereka pun kembali berpamitan pada kedua orang tua Gita itu. Libra kini masuk ke dalam mobilnya bersama sang istri, keduanya berniat untuk langsung kembali ke rumah sambil memikirkan cara yang tepat agar bisa menangkap pelaku tersebut.




Di dalam perjalanan, entah mengapa Libra masih saja terus memikirkan kepergian Gita yang begitu cepat itu. Sehingga, ia pun merasa tidak fokus dan memilih menghentikan mobilnya sejenak ke pinggir untuk bisa menenangkan diri terlebih dahulu. Ya karena Libra tidak ingin membahayakan Ciara, apalagi istrinya itu dalam kondisi hamil.


Ciara sendiri merasa bingung melihat sikap Libra saat ini, ia tak mengerti mengapa tiba-tiba Libra malah menghentikan mobilnya dan tidak melanjutkan lajunya. Ciara pun menatap ke arah Libra dengan penasaran, sekaligus coba mendekati suaminya itu untuk membantu membuat pria itu tenang sekaligus bertanya padanya.


"Mas, kamu masih kepikiran sama Gita ya? Aku tahu kamu sedih banget kan karena kepergian Gita, tapi kamu harus bisa ikhlas sayang!" ucap Ciara.


Libra manggut-manggut kecil mendengar ucapan istrinya itu, ia merasa senang karena Ciara begitu paham dengan kondisinya dan tidak jealous atau cemburu karena ia masih terus memikirkan Gita. Padahal, Ciara berhak merasakan kecemburuan itu karena Ciara adalah istrinya dan Libra memang harus bisa menahan diri.


"Iya sayang, aku ikhlas kok. Aku cuma belum bisa lupain kejadian tabrakan tadi, menurut aku si pengendara mobil itu pasti sengaja mau tabrak Gita. Aku juga gak tahu apa alasannya," lirih Libra.


"Yaudah, kita sekarang ke rumah sakit aja yuk! Disana kan ada cctv, kamu pasti bisa lihat semua dari sana!" usul Ciara.


"Kamu betul sayang, tapi kita pulang dulu ya? Aku gak mau kamu kecapekan, jadi biar aku aja yang urus semuanya. Nah, kamu istirahat deh di rumah!" ucap Libra.


Ciara menggeleng, "Enggak mas, aku mau ikut sama kamu. Pokoknya aku pengen temenin kamu!" ucapnya kekeuh.


Libra terdiam beberapa saat memikirkan permintaan Ciara, akhirnya mau tidak mau ia terpaksa mengizinkan Ciara untuk ikut dengannya menuju rumah sakit. Meskipun Libra sangat khawatir pada kondisi istrinya, tetapi pria itu tak memiliki pilihan lain karena sulit bagi dirinya untuk bisa menolak keinginan sang istri yang juga sangat kekeuh itu.

__ADS_1


"Yaudah, kamu boleh ikut deh. Tapi ingat, kamu jangan kecapekan ya!" ucap Libra.


Ciara pun mengangguk dan mengangkat jari kelingkingnya sembari mengucap janji, ya hal itu membuat Libra tersenyum dan percaya kalau Ciara tidak akan macam-macam. Tanpa menunggu lama lagi, Libra bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang. Karena, saat ini Libra ingin segera mengungkap identitas si pelaku dan memberi hukuman padanya.


Pria itu tidak akan diam saja tentunya, sebagai seorang sahabat sejati maka Libra pasti akan membantu membalaskan dendam Gita. Libra yakin kalau ini semua adalah ulah dokter Syifa, namun ia tetap ingin mencari tahu lebih lanjut dan tidak mau menuduh tanpa bukti. Jika sampai itu terjadi, maka pasti dokter Syifa masih bisa mengelak.


Namun, begitu Libra memiliki bukti melalui rekaman cctv saat tabrakan kemarin, siapapun pelakunya tak akan mungkin bisa mengelak lagi. Libra sendiri tampak sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah sakit, karena saat ini bayangan Gita seolah terus tampil di kepalanya dan membuat Libra merasa tidak tenang.


"Mas, jangan terlalu emosi kayak gitu! Kamu lagi nyetir loh, bahaya nanti buat aku dan anak kita!" ucap Ciara mengingatkan.


Lina hanya mengangguk paham dan menghela nafasnya bermaksud untuk menenangkan diri, ya karena saat ini kondisinya masih begitu panik setelah melihat langsung tragedi dimana Gita ditabrak secara sengaja oleh sebuah mobil yang entah milik siapa.




Sesampainya di rumah sakit, Libra dan Ciara bergegas menuju ruang cctv untuk memeriksa rekaman kemarin saat Gita tertabrak. Mereka pergi bersama seorang pengawas cctv, tentunya Libra juga telah meminta izin pada Sulistyo selaku atasan rumah sakit untuk mengecek cctv disana. Tentu saja Sulistyo mengizinkan, karena ini semua demi menemukan pelaku penabrak Gita kemarin.


Saat video rekaman disetel, Libra begitu fokus mengamati layar komputer saat ini. Pria itu bahkan tidak berkedip sama sekali, dan di beberapa menit awal tampak dokter Syifa keluar dari rumah sakit tersebut lalu menuju ke parkiran. Disitu lah Libra merasa janggal, pasalnya ekspresi dokter Syifa tampak sangat kesal seolah habis bertengkar.


Di menit selanjutnya, Libra melihat dirinya sendiri yang baru datang ke rumah sakit karena panggilan dari Sulistyo. Sampai saat itu saja mereka belum melihat mobil milik dokter Syifa lewat, ya lagi-lagi kecurigaan Libra makin menguat. Apalagi, sebelum ini Sulistyo sempat bercerita bahwa Gita lah yang sudah membongkar semua kebusukan dokter Syifa kepada Libra dan juga Ciara.


Akhirnya video itu sampai pada saat dimana Libra berjalan keluar dari rumah sakit dengan perasaan jengkel dan hendak pulang ke rumahnya, tapi tanpa ia sadari Gita mengikutinya dari belakang dan terus berteriak memanggilnya. Sesaat Libra merenung, ia menyesal karena telah mengabaikan teriakan Gita itu dan tidak menghentikan langkahnya.


Dan tibalah saat dimana video menunjukkan Gita yang ditabrak dengan sengaja dari belakang oleh mobil berwarna putih, video pun berhenti karena Libra memang meminta hal itu. Libra mencatat nomor plat mobil tersebut pada ponselnya, kemudian tak lupa memotretnya untuk dijadikan barang bukti.


"Benar, ini memang mobilnya dokter Syifa. Gak salah lagi sih, dia pelaku yang udah tabrak Gita sampai meninggal!" ucap Libra emosi.


Ciara yang ada di sebelahnya merasa bingung, ia takut suaminya salah kira dan hanya asal menebak. Ciara tentu tak mau jika Libra sampai menuduh yang tidak-tidak pada dokter Syifa, maka dari itu Ciara coba bertanya pada Libra untuk memastikan semua. Biar bagaimanapun, ini bukanlah sebuah kasus yang kecil dan sulit untuk dibongkar.


"Mas, beneran kamu yakin kalau itu mobil dokter Syifa? Apa kamu gak salah lihat? Siapa tahu aja kan cuma mirip, mobil kayak gitu mah di negara ini banyak mas. Kamu jangan asal tuduh loh!" ucap Ciara agak ragu.


"Iya mas, itu lebih baik. Udah yuk kita pulang aja biar kamu bisa istirahat!" ajak Ciara.


Kali ini Libra menurut dengan ajakan istrinya, pria itu pun berniat pulang bersama Ciara karena memang seharian ini mereka sudah bepergian untuk mengurus jenazah Gita sampai ke pemakaman dan membantu penyelidikan tabrakan itu. Libra juga hanya menyuruh anak buahnya untuk menyerahkan bukti cctv itu pada polisi, karena ia ingin mengantar Ciara pulang dan menikmati waktu bersamanya.


"Sabar ya Gita, sebentar lagi pelakunya akan segera ditangkap! Kamu yang tenang disana, aku beruntung pernah punya teman seperti kamu!" batin Libra.




"Dengan ini, hakim menyatakan bahwa saudara Galen Ivander dan saudari Tiara Maharani resmi bercerai!"


TOK TOK TOK....


Bunyi palu sudah terdengar, hakim pun telah menyatakan keputusannya. Kini resmi lah sudah perceraian diantara Galen dan Tiara, mereka terpaksa berpisah lantaran Tiara memang sudah tidak sanggup meneruskan rumah tangganya dengan lelaki itu. Meski, awalnya wanita itu sangat tahu untuk berpisah dari Galen.


Galen sendiri lah yang menjatuhkan talak pada istrinya, hal itu dikarenakan ia merasa tak pantas bila terus bertahan bersama Tiara. Apalagi dalam kondisinya yang saat ini mengalami kelumpuhan total, Galen berniat menyerahkan putranya pada Tiara karena ia rasa hanya wanita itu yang bisa menjaga dan merawat putra mereka.


Sungguh keputusan yang berat bagi Tiara, karena sebenarnya wanita itu sangat mencintai suaminya. Tiara tak menyangka kalau semua ini akhirnya terjadi, perpisahan yang dahulu ia inginkan kini sudah terwujud. Dirinya dan Galen pun sudah bukan menyandang status pasangan suami-istri lagi, mereka berdua telah resmi berpisah.


Tiara tampak menghampiri Galen yang masih berada disana dengan kursi rodanya, pria itu nampak murung dan terus menunduk menahan kesedihan di dalam hatinya. Tiara paham betul apa yang dirasakan Galen saat ini, namun itu semua terjadi karena kesalahan Galen sendiri yang lebih memilih bermain api di belakangnya kala itu.


"Mas, setelah ini kamu mau kemana? Kamu lumpuh loh mas, apa kamu yakin bisa hidup sendiri?" tanya Tiara yang masih menaruh kepeduliannya.

__ADS_1


Galen menoleh dengan mata berkaca-kaca, dapat disadari oleh Tiara kalau sedari tadi pria itu menangis. Wajar saja bila Galen begitu, apalagi Galen tengah mengalami masalah yang bertubi-tubi di dalam hidupnya. Perusahaan miliknya telah diambil alih oleh Bagas, kedua kakinya mengalami lumpuh, dan sekarang Galen resmi berpisah dari istri yang sangat ia cintai.


"Tentu, saya ini bukan laki-laki yang lemah Tiara. Kamu gak perlu mengkhawatirkan saya, saya janji kalau saya akan baik-baik saja di luar sana!" ucap Galen dengan senyum palsunya.


"Iya mas, aku percaya kok sama kamu. Tapi, gimana dengan Askha? Dia masih butuh sosok ayah di hidupnya, kalau kamu pergi lantas siapa yang bisa menggantikan kamu? Askha pasti sangat sedih nanti mas," ucap Tiara.


"Saya percayakan urusan Askha pada kamu, saya juga berjanji kalau saya tidak akan lepas dari tanggung jawab saya pada Askha!" ucap Galen.


"Itu memang kewajiban kamu, Galen!" Nadira tiba-tiba muncul dari belakangnya.


Keduanya sama-sama menoleh ke arah Nadira yang kini berdiri menghadap mereka, ya terlihat jelas kalau Nadira memang masih belum bisa memaafkan kesalahan putranya itu. Dibanding Tiara, Nadira justru yang paling benci dan kesal lantaran Galen berselingkuh. Padahal, Tiara lah yang diselingkuhi oleh Galen saat ini.


"Betul ma, itu memang kewajiban aku sebagai ayah. Aku juga gak akan lari kok dari semua itu, aku akan berusaha menafkahi Askha nantinya," ucap Galen.


"Gimana caranya? Kamu itu lumpuh Galen, terus kamu juga udah kehilangan semua aset perusahaan kamu. Apa kamu mau jadi perampok cuma buat biayain hidup Askha, hm?" cibir Nadira.


"Eee...."


Galen kebingungan dibuatnya, memang benar yang dikatakan Nadira kalau saat ini ia sudah tidak memiliki apa-apa. Bahkan, seluruh hartanya telah ludes diambil oleh Bagas tanpa menyisakan apapun untuknya. Galen pun tak tahu harus bagaimana, karena sekarang ia juga harus menghidupi anaknya yang masih kecil itu.


"Sudah Galen, jangan terlalu dipikirkan! Urusan Tiara dan Askha biar jadi tanggung jawab mama, mama yang akan biayai mereka! Dan kamu, sekarang kamu cukup pergi aja dari sana lalu jangan pernah kembali lagi ke hadapan kami!" tegas Nadira.


Deg




Di luar gedung, Ciara yang baru datang dibuat kaget karena sidang ternyata telah usai dan Tiara kini tengah berjalan ke luar bersama yang lain. Sontak Ciara bergegas menghampiri mereka, dengan perasaan panik ia bertanya pada kakak iparnya itu mengenai hasil dari persidangan yang baru saja ia lewati karena terlambat.


"Kak, ini sidangnya udah selesai ya? Gimana hasilnya, kak Tiara jadi cerai sama kak Galen?" tanya Ciara penuh cemas.


Tiara terkejut melihat kehadiran Ciara disana, ia baru sadar kalau sedari tadi memang Ciara belum datang ke tempat sidang. Padahal, sebelumnya baik Tiara maupun Nadira sudah memberitahu pada Ciara mengenai sidang itu. Tapi entah kenapa, pagi tadi Ciara malah hampir lupa dan berujung terlambat menyaksikan sidang itu.


"Kamu kemana aja Ciara? Kakak kamu ini udah resmi bercerai sama Galen, mereka sekarang bukan suami-istri lagi. Makanya sekarang mama mau bawa Tiara pulang ke rumah," ucap Nadira.


"Hah? Kenapa begitu sih kak? Kok harus ada perceraian segala?" tanya Ciara pada iparnya.


Tiara hanya bisa diam menundukkan wajahnya dan tak tahu harus menjawab apa, pasalnya pertanyaan Ciara itu begitu membingungkan baginya. Tiara sejujurnya memang tidak ingin berpisah dengan Galen, namun kelakuan bejat pria itu telah membuat Tiara amat kesal dan tak bisa memaafkannya. Dengan cepat, maka Tiara setuju saja saat Galen mengatakan ingin bercerai dengannya.


Akhirnya Nadira lah yang memberi penjelasan pada Ciara, sebab wanita itu tidak tahan dengan sikap Ciara yang terus saja membela Galen padahal kelakuan kakaknya jelas-jelas salah. Galen sudah berselingkuh di belakang Tiara selama beberapa kali, bahkan sampai memiliki anak bersama wanita selingkuhannya itu.


Ciara pun mengangguk paham, ia tak mungkin mendebat perkataan mamanya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam Ciara masih merasa kasihan pada kakaknya itu. Apalagi, sekarang ini kondisi Galen tengah mengalami lumpuh dan pasti membutuhkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya untuk bisa semangat menjalani hidup.


"Tapi ma, terus kak Galen nanti bakal tinggal dimana? Dia itu kan lagi sakit ma, aku khawatir sama kak Galen!" ucap Ciara.


"Kamu gak perlu khawatir sama dia, karena dia itu bisa mengurus dirinya sendiri!" ucap Nadira.


Kali ini Ciara lah yang menunduk karena sedih memikirkan kakaknya, tapi sesaat ia bingung kemana Galen sekarang dan apakah pria itu sudah pergi dari lokasi persidangan. Ciara terus menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan kakaknya, tetapi ia tak berhasil menemukan Galen di sekitar sana karena areanya yang sepi.


"Kamu cari siapa? Galen tadi udah pergi duluan sama anak buahnya yang gak tahu siapa, mungkin sekarang dia lagi mau temuin selingkuhannya yang gak tahu diri itu!" ucap Nadira.


Deg


Ciara terkejut, ia begitu cemas pada kakaknya dan tidak akan setuju apabila Galen masih bersama wanita selingkuhannya. Ciara telah mengetahui semua kebusukan Jessica, dan Ciara tidak mau jika kakaknya kembali tersakiti. Namun, Ciara sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2