
Kini Ciara masuk ke dalam ruang UGD tempat Libra dirawat saat ini, Ciara sebelumnya telah diizinkan oleh dokter untuk menjenguk suaminya itu. Ciara pun sangat senang karena Libra telah sadarkan diri, meski kondisinya masih belum membaik. Itulah mengapa dokter hanya memberi izin satu orang untuk masuk kesana, sehingga Ciara lebih dulu menemui Libra dan membuat Cyra harus mengalah.
Libra tampak menoleh ke arah Ciara begitu ia mendengar suara pintu dibuka, senyuman sontak muncul di pipinya begitu ia melihat Ciara mendekat dan menatap wajahnya. Libra hendak bangkit, namun ia merasa berat sekali untuk mengangkat kepalanya karena sakit yang ia rasakan. Ciara meminta Libra agar tidak banyak bergerak, mengingat kondisi pria itu yang belum membaik.
"Mas, kamu jangan banyak gerak dulu! Aku gak mau luka kamu makin parah, udah ya kamu baring aja dulu disitu!" pinta Ciara.
Akhirnya Libra menurut dan tidak lagi memaksa untuk bisa bangkit mendekati Ciara, sebenarnya Libra sangat ingin memeluk istrinya itu karena ia menyesal dengan apa yang ia lakukan. Meski Ciara masih belum mengetahui apa-apa, namun Libra tetap saja merasa bersalah dan tidak seharusnya Libra melakukan itu di belakang istrinya.
"Aku mau tanya deh sama kamu mas, kamu itu kenapa bisa terluka kayak gini sih? Dokter tadi juga bilang, kamu dalam keadaan mabuk. Apa kemarin itu kamu pergi ke club, mas?" tanya Ciara penasaran.
Libra tersenyum dibuatnya, "Ya sayang, itu dia kesalahan yang aku lakukan ke kamu. Maafin aku ya, aku benar-benar nyesel udah ngelakuin itu!" jawabnya lirih sembari meraih satu tangan Ciara dan menggenggamnya erat.
"Kamu gak perlu minta maaf mas, sekarang kamu pulihkan dulu kondisi kamu! Aku benar-benar gak tega lihat kamu kayak gini," ucap Ciara.
"Makasih sayang, dalam keadaan aku yang udah berkhianat di belakang kamu aja, kamu masih perduli sama kondisi aku! Padahal, aku ini pergi ke bar tanpa sepengetahuan kamu loh," ucap Libra.
"Gapapa mas, aku ngertiin kok kondisi kamu. Aku tahu kamu pasti lagi banyak pikiran, makanya kamu memilih pergi kesana," ucap Ciara.
"Kamu gak marah sama aku?" tanya Libra.
Ciara menggeleng disertai senyuman manisnya, lalu ia dengan lembut menaruh punggung tangan suaminya di pipinya. Tak lupa juga Ciara mengusap serta memberi kecupan pada tangan sang suami, Ciara begitu menyayangi Libra dan tidak ingin kehilangan sosok suaminya itu. Apalagi, mereka sudah bersama-sama dalam waktu cukup lama.
"Mana mungkin aku bisa marah sama kamu mas, aku aja takut kehilangan kamu!" ucap Ciara.
Libra dapat bernafas lega kali ini, "Aku senang banget dengarnya, tadinya aku kira kamu bakal marah sama aku loh. Ya tapi aku tetap akan minta kamu untuk hukum aku sayang, karena aku ini sudah melakukan kesalahan besar," ucapnya.
"Hm, kamu ini kenapa sih mas? Emang di bar itu kamu ngapain aja coba sampai kamu bilang kamu udah lakuin kesalahan besar?" tanya Ciara.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Libra, pria itu mengalihkan pandangannya dan terlihat bingung harus mengatakan apa. Libra menyesal telah mengatakan hal itu tadi, karena akhirnya Ciara kini malah menanyakan padanya apa yang sudah ia lakukan sebenarnya. Tentu saja Libra tak ingin Ciara tahu mengenai kelakuan buruknya, sebab ia khawatir Ciara akan kecewa dan marah padanya.
"Eee ya itu tadi sayang, aku kan udah ke bar dan minum tanpa izin dari kamu. Itu kesalahan besar loh yang aku lakukan, ya kan?" ucap Libra berkelit.
Ciara tersenyum saja sembari terus mengusap punggung tangan suaminya, ia tak menganggap itu sebagai kesalahan besar dan memberi maaf pada Libra tanpa berpikir panjang.
•
__ADS_1
•
Di luar sana, Cyra masih ditemani oleh Askha yang juga terlihat panik dan mencemaskan kondisi Libra di dalam sana sambil terduduk berdampingan. Beberapa kali Askha menatap wajah Cyra, ia tampak berusaha membuat gadis itu lebih tenang. Saat ini kondisi Libra sudah membaik, sehingga Cyra harusnya tidak terlalu panik seperti sebelumnya.
Namun, sepertinya Cyra belum bisa tenang karena ia masih tetap ingin menemui papanya lebih dulu dan melihat secara langsung. Cyra begitu khawatir dengan sang ayah, untung itu ia ingin memastikan sendiri bahwa papanya sudah baik-baik saja. Sayangnya, dokter hanya memberi izin satu orang saja untuk bisa masuk menjenguk Libra.
"Cyra, lu kenapa masih cemas aja sih? Tenang dong Cyra, kan dokter bilang kondisi om Libra udah lebih baik dari sebelumnya! Kalo lu begini terus, gue jadi ikutan cemas tau!" ucap Askha.
Cyra menatap wajah Askha dari posisi duduknya saat ini, ia menarik lepas tangannya dari genggaman si pria dan menggeser menjauh. Entah apa alasan Cyra melakukan itu, padahal Askha tadi hanya bermaksud untuk menenangkan Cyra. Akan tetapi, sepertinya Cyra menganggap Askha terlalu berisik dan tak bisa mengerti kondisinya.
"Kamu gausah banyak omong deh, kamu tuh gak ngerti perasaan aku gimana sekarang!" ucap Cyra dengan ketus.
Askha menggeleng saja sembari menyunggingkan senyumnya, kemudian ia kembali meraih satu tangan Cyra dan menggenggamnya dengan erat. Askha juga menarik wajah Cyra agar menatap ke arahnya, lalu mendekatkan dirinya pada gadis itu. Cyra mencoba berontak, tetapi cengkraman Askha terlalu kuat baginya.
"Lo gak perlu secemas ini Cyra, tenangin diri lu! Gue tau perasaan lu gimana, tapi lu kan tau sendiri kalau om Libra udah membaik. Gue gak mau aja lu terus begini, nanti yang ada lu bisa stress karena mikirin bokap lu itu," ucap Askha membujuknya.
"Tapi kak, aku tuh belum tenang kalau belum ketemu langsung sama papa!" rengek Cyra.
"Iya gue ngerti, tapi lu tenang dulu Cyra! Abis tante Ciara, kan lu bisa masuk tuh temuin bokap lu. Udah lah gausah cemas begini, santai aja ya Cyra cantik!" ucap Askha sembari merangkul sepupunya itu.
"Nah gini dong senyum, kan cantiknya nambah tuh. Pasti banyak cowok-cowok yang ngincer lu nanti, terus lu gak perlu jadi jomblo melulu," kekeh Askha.
"Ish, aku mah emang belum pacaran kak. Lepasin ah, nanti malah kamu macam-macam lagi sama aku. Mending kamu pergi aja deh, ini kan masih waktu sekolah tau!" ucap Cyra berontak.
"Hah? Lu ngusir gue nih ceritanya? Tenang aja Cyra, gue gak bakal pergi kok dari sini! Gue udah izin sama guru gue buat gak pergi sekolah," ucap Askha.
"Terserah, tapi lepasin aku!" pinta Cyra.
Askha hanya tersenyum dan terus menggoda Cyra dengan cara mencolek dagu serta pipinya, ia tak akan melepaskan gadis itu karena sekarang ia begitu mengkhawatirkan sepupunya tersebut.
•
•
Disisi lain, Tiara dicegah oleh Adrian saat hendak masuk ke dalam ruangannya. Tiara begitu terkejut karena sebelumnya ia tak melihat Adrian sama sekali, tetapi sekarang tiba-tiba pria itu sudah ada di dekatnya. Namun, Tiara juga tak bisa berbuat apa-apa mengingat Adrian adalah bosnya dan ia harus menuruti tiap perintah pra itu.
__ADS_1
Adrian berhasil mencekal lengannya, membuat Tiara sangat gugup dan bingung apa sebenarnya yang hendak dilakukan pria itu. Kini Tiara hanya bisa diam menatap ke arah Adrian, karena ia tak tahu apa alasan Adrian mencegahnya. Apalagi, saat ini Adrian juga terlihat begitu serius dan tak ingin berpaling dari wajah sekretarisnya.
"Maaf pak, ada apa ya bapak tahan saya? Saya baru mau memeriksa berkas-berkas ini pak, sebelum nanti saya akan berikan semuanya pada bapak untuk diteliti dan ditandatangani," ucap Tiara.
"Saya tahu, tapi saya minta kamu untuk bicara sejenak dengan saya. Kamu masih punya banyak waktu, saya yakin kamu hanya perlu sebentar saja untuk bisa menyelesaikan itu semua. Sekarang ayo ikut saya, ada hal penting yang mau saya sampaikan ke kamu!" ucap Adrian dengan serius.
"Eee memangnya ada hal penting apa ya, pak? Saya kok jadi penasaran gini sih," tanya Tiara penasaran.
"Nanti kamu juga tau, untuk sekarang kamu ikut saja dengan saya dan nanti akan saya jelaskan begitu kita sampai di tempat yang pas!" ucap Adrian.
"Baik pak, tapi sebaiknya bapak lepasin tangan saya ya! Saya gak mau ada yang salah paham," pinta Tiara.
Adrian menurutinya, tak ada pilihan lain memang bagi Adrian karena ia memang ingin berbicara dengan wanita itu. Jika ia tidak menurut, maka pasti Tiara akan menolak ajakannya lalu Adrian tidak bisa bertanya pada Tiara mengenai hubungan mereka. Apalagi, sejak kejadian malam itu Adrian selalu saja memikirkan Tiara dan tidak bisa lepas darinya.
"Kita bicara di taman, kamu ikut saya sekarang!" titah Adrian.
"Baik pak!" ucap Tiara patuh.
Akhirnya Adrian bersama Tiara pergi dari sana menuju taman yang ada di halaman samping kantor tersebut, kali ini Adrian ingin memastikan sendiri apakah ada anak dari hasil hubungan satu malam mereka kala itu. Bagaimanapun, Adrian yakin kalau malam itu ia mengeluarkan benihnya di dalam rahim Tiara dan itu selalu mengganggunya.
Sesampainya disana, Adrian langsung mengajak Tiara untuk duduk di tempat yang tersedia. Tanpa menunggu lama lagi, pria itu segera berbicara pada Tiara karena ia merasa tidak ada banyak waktu bagi dirinya untuk membahas semua itu. Adrian curiga sekali kalau Tiara tengah menyembunyikan sesuatu darinya, dan ia harus mencari informasi tersebut.
"Tiara, sekarang aku mau tanya sesuatu ke kamu. Aku harap kamu jawab dengan jujur, karena aku tau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku!" ucap Adrian cukup tegas.
Tiara tampak heran mendengarnya, "Maksud bapak apa ya? Saya tidak menyembunyikan apa-apa loh dari bapak," ucapnya terheran-heran.
"Saya mau tau, apakah kamu pernah hamil sebelum ini?" tanya Adrian sembari menatap tajam wajah Tiara yang ada di dekatnya.
Deg
Seketika Tiara terkejut dengan pertanyaan yang diajukan bosnya, ia tak menyangka Adrian akan berpikir seperti itu tentang dirinya. Tiara pun dibuat tak berkutik, rasanya ia masih belum percaya kalau Adrian bisa bertanya begitu padanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1