Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 217. Diancam


__ADS_3

Cyra tampak mondar-mandir di depan sekolahnya karena menunggu jemputan tiba, pasalnya sedari tadi ia tak melihat Askha di sekitar sana yang membuatnya merasa jengkel. Sudah hampir setengah jam Cyra menunggu disana, namun Askha tak kunjung datang sampai saat ini. Akibatnya, Cyra yang merasa kesal memilih untuk berjalan lebih dulu meninggalkan gerbang sekolahnya itu.


Cyra berniat untuk pulang ke rumah dengan menaiki kendaraan umum, karena ia sudah malas jika harus menunggu Askha lebih lama lagi. Selain itu, Cyra juga ingin menenangkan dirinya di tempat yang jauh tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Askha atau mamanya. Cyra pun terus melangkah dengan cepat, sampai tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok Carlo yang muncul bersama motornya itu.


Tin tin...


Ya Cyra terkejut ketika Carlo membunyikan klakson motornya itu tepat di sebelahnya, sontak ia menoleh dan menemukan sosok pria yang selama ini selalu menolongnya itu. Tanpa sadar Cyra tersenyum, karena sepertinya ia sudah mulai nyaman dengan Carlo yang selalu memberi perhatian padanya. Meski begitu, Cyra tak mau terlalu banyak berharap karena khawatir akan dikecewakan nantinya.


"Hai Cyra! Kok kamu jalan kaki sih? Bareng aku aja yuk, aku antar kamu sampai ke rumah!" ucap Carlo.


"Eh kak Carlo, beneran nih boleh? Kalau ada yang marah, gimana? Apalagi kamu kan ketua osis yang banyak disukai cewek-cewek di sekolah," ucap Cyra terlihat ragu.


Carlo tersenyum kali ini, "Kamu gausah mikirin soal itu, aku kan punya hak buat ajak siapapun yang aku mau. Ayo sekarang kamu naik ke motor aku, sebelum aku berubah pikiran loh! Kamu mau kan?" ucapnya.


"Umm, ya mau mau aja sih. Lagian kalau harus jalan kaki juga kelamaan, terus kaki aku bakal pegal semua nanti," ucap Cyra.


"Nah bener itu, udah ayo naik!" ajak Carlo.


Cyra mengangguk setuju, tanpa berlama-lama lagi ia pun segera mendekat ke arah Carlo dan bersiap menaiki motor itu. Tak lupa Carlo memberinya sebuah helm, tentu supaya Cyra lebih aman nanti. Akan tetapi, niat Cyra terhenti ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya dan menampakkan seorang pria yang turun dari mobil tersebut.


"Cyra!!" suara itu berasal dari si pria yang baru datang, ya tak lain ia merupakan Faiz alias paman dari gadis itu sendiri.


"Om Faiz?" Cyra tampak terkejut, ia heran mengapa pamannya itu bisa ada disana.


"Cyra, pulang bareng aku aja yuk! Oma udah nungguin kamu di rumah, ada yang mau dibicarain katanya sama kamu," ucap Faiz.


"Eee...." Cyra pun terlihat bingung saat ini, ia melirik ke arah Carlo dan merasa tidak enak hati.


"Gapapa Cyra, kalau kamu mau pulang bareng dia ya terserah kamu. Aku gak maksa kok, tapi aku mau kasih tau aja kalau oma kamu udah nungguin di rumah," ucap Faiz.


Ya Faiz menyadari keraguan di wajah Cyra, sehingga ia mengatakan hal itu agar Cyra tidak perlu ragu lagi harus memilih pulang dengan siapa. Namun, Cyra tetap merasa bingung dan tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat ini. Pasalnya, Carlo sudah lebih dulu menawarkan tumpangan kepadanya tadi.


"A-aku bareng kamu aja," ucap Cyra sembari menatap wajah pamannya.


Faiz tersenyum senang mendengar jawaban dari Cyra, setidaknya Cyra lebih memilih dirinya dibanding Carlo yang belum jelas siapa identitasnya itu. Tanpa berpikir lagi, Faiz kini meraih tangan Cyra dan mengajaknya ke mobil. Cyra menurut saja, lagipula ia telah mengembalikan helm milik Carlo kepada pria itu.


"Hadeh, gagal deh gue buat deket sama Cyra!" gumam Carlo dalam hatinya.




Malamnya, Cyra yang menginap di rumah sang nenek tampak sedang asyik berbincang dengan Daiva yang juga kebetulan tinggal disana selama beberapa hari ke belakang ini. Tentu saja Cyra sangat senang satu kamar bersama Daiva, karena wanita itu merupakan sosok yang asyik dan selalu berhasil membuatnya tertawa.

__ADS_1


"Nah Cyra, ini nih nama boyband yang lagi viral. Mereka bakal ngadain konser dalam waktu dekat loh, kamu mau ikut gak?" ucap Daiva.


"Wah ganteng-ganteng ya mereka, kak? Aku mau sih sebenarnya nonton konser kayak gini, pasti seru. Tapi, aku gak tahu deh bakal dibolehin sama mama atau enggak," ucap Cyra.


"Loh loh, kamu gausah takut Cyra! Kalau soal itu mah gampang, yang penting kamu beli dulu nih tiketnya biar gak kehabisan!" ucap Daiva.


"Gampang gimana kak? Kakak kan tau sendiri mama aku itu kayak apa, aku gak bakal mungkin dibolehin buat keluyuran malam-malam. Pulang sekolah telat dikit aja ditanyain," ucap Cyra.


"Ya pokoknya gampang deh itu mah, nanti bisa aku atur biar kamu diizinin," ucap Daiva.


"Serius kak? Gimana caranya?" tanya Cyra.


"Ada deh, kamu percaya aja sama aku! Sekarang kamu mau ya ikut nonton bareng aku? Dijamin bakal seru dan pecah abis deh!" ucap Daiva.


Cyra mengangguk antusias, "Mau mau kak! Tapi, aku gak ada uang buat beli tiketnya," ucapnya lirih.


"Ahaha, aduh Cyra kamu ini payah banget sih! Kamu itu kan punya orang tua yang kaya raya, terus nenek kamu juga banyak uangnya tuh. Kamu tinggal minta aja sama salah satu dari mereka," ucap Daiva.


"Umm, kalo minta sama mama atau papa sih gak mungkin ya kak. Tapi kayaknya kalo sama oma boleh deh, oma kan sayang banget sama aku. Sebentar deh, aku mau coba bicara sama oma dulu soal ini," ucap Cyra.


"Nah iya tuh, kamu minta aja sama oma ya! Sekalian buat aku, lumayan lah itung-itung buat hemat pengeluaran," ucap Daiva.


"Iya kak." Cyra mengangguk patuh.


Tapi sebelum sempat keluar, tanpa sengaja Cyra melihat Daiva meminum sesuatu disana yang membuatnya begitu penasaran. Sontak Cyra mengurungkan niatnya, ia malah menatap ke arah Daiva yang sedang menenggak sesuatu seperti sebuah pil. Cyra sangat penasaran, ia ingin tahu sejak kapan Daiva mengkonsumsi pil yang juga entah apa khasiatnya itu.


"Loh kak, itu kakak minum apa? Aku kok baru tau ya kalau kakak suka minum pil begituan?" tanya Cyra dengan wajah penasaran.


"Ohh, ini vitamin biasa aja kok Cyra. Ya aku belakangan ini emang ngerasa agak lemes gitu, makanya aku minum ini biar seger terus," jawab Daiva sambil tersenyum.


"Eh itu vitamin ya? Aku mau coba dong kak, soalnya aku juga suka ngerasa lemes nih!" ucap Cyra.


Deg


"Eh jangan Cyra, kamu gak boleh ikutan minum ini!" ucap Daiva dengan tegas.


Cyra mengernyitkan dahinya, "Kenapa kak? Kan itu cuma vitamin biasa kata kakak, boleh dong aku coba juga?" ucapnya terheran-heran.


"Eee...." Daiva terlihat kebingungan saat ini.


Reaksi yang ditunjukkan Daiva sungguh membuat Cyra amat penasaran, ia tak mengerti mengapa Daiva sampai gugup seperti itu dan melarangnya untuk meminum obat tersebut. Padahal, jika memang itu adalah pil biasa seharusnya Daiva tak perlu sampai sepanik itu ketika Cyra hendak mencobanya.


"Duh, Cyra gak boleh tau kalau pil ini sebenarnya pil pencegah kehamilan. Gue ceroboh banget sih, harusnya gue gak minum ini di depan Cyra tadi!" batin Daiva.

__ADS_1




Disisi lain, Libra muncul secara tiba-tiba di depan rumah mantan istrinya. Ia berniat menemui ketiga anaknya yang saat ini memang tinggal disana bersama ibu mereka, ya sudah lama Libra tak bertemu dengan mereka dan rasanya ia begitu merindukan ketiganya. Apalagi, waktunya untuk bisa bersama anak-anaknya itu sangat jarang dan tidak akan bisa terus terlaksana.


Namun, dengan cepat Ciara menghampiri pria itu sebelum memasuki rumahnya. Ya untungnya Ciara sempat melihat keberadaan Libra disana, sehingga ia bisa mencegah Libra yang ingin masuk ke dalam sana. Ciara tentu tak mengizinkan Libra berada di rumahnya, karena ia tidak mau anak-anaknya akan semakin sulit melupakan lelaki itu.


"Hai Ciara! Kamu apa kabar? Aku senang rasanya bisa lihat dan bertemu kamu lagi," ucap Libra.


Ciara menggeleng, "Aku gak baik-baik aja, mas. Aku lagi punya banyak masalah sekarang ini, jadi aku harap kamu jangan menambah masalah aku dengan datang kesini!" ucapnya ketus.


"Maaf Ciara, aku gak ada niatan kok untuk menambah masalah kamu! Aku kesini karena mau ketemu sama anak-anak, itu aja kok. Ini aku juga bawain makanan buat mereka, karena aku kangen banget sama mereka," ucap Libra.


"Apa??" Ciara tercengang dan merasa kesal dengan perkataan mantan suaminya itu.


Kini Ciara langsung menarik lengan Libra dan membawanya sedikit menjauh, ia tak mau anak-anaknya mendengar pembicaraan mereka nantinya. Apalagi, jika sampai kedua anaknya itu keluar menemui Libra dan bisa membuat situasi semakin kacau nantinya.


"Kamu itu mikir gak sih, mas? Kalau kamu temuin mereka sekarang, bakal susah buat mereka terima kenyataan kalau kita udah bercerai!" ucap Ciara.


"Emang apa salahnya sih Ciara? Aku ini kan ayah mereka, aku berhak dong ketemu sama mereka. Kamu juga udah janji loh sama aku, kalau kamu gak akan menghalangi aku ketemu mereka!" ucap Libra.


"Iya aku ngerti mas, tapi gak sekarang. Kamu tunggu dulu waktunya sampai mereka bisa terima semua keadaan yang terjadi!" ucap Ciara.


Libra tampak mengeluh dan mengusap wajahnya, ia menggeleng perlahan seolah tak terima dengan apa yang dikatakan mantan istrinya itu. Libra saat ini hanya ingin bertemu dengan anak-anaknya di dalam sana, tetapi tingkah Ciara seolah-olah tidak suka jika dirinya dekat dengan ketiga anak mereka.


"Cukup Ciara, aku gak butuh izin dari kamu buat ketemu sama mereka! Kamu minggir sekarang, jangan halangi aku!" ucap Libra tegas.


"Mas, tunggu dulu!" Ciara tetap tidak membiarkan Libra masuk ke dalam sana.


"Apa lagi sih Ciara? Aku udah ngalah loh sama kamu, aku setuju tentang perceraian kita. Aku juga tidak mengajukan tuntutan atas hak asuh Cyra dan yang lainnya, aku biarkan kamu mengurus mereka karena aku rasa mereka lebih butuh kamu daripada aku. Tapi apa, kamu malah begini sekarang sama aku. Kalau kamu gak mengizinkan aku masuk ke dalam, jangan salahkan aku kalau aku akan bawa masalah ini ke pengadilan!" ucap Libra mengancam.


Deg


Ciara tersentak dan reflek menggelengkan wajahnya, tentu tak mungkin ia setuju dengan apa yang ingin dilakukan Libra barusan. Jika sampai Libra melakukan itu, maka bisa saja dirinya akan kehilangan hak asuh atas anak-anaknya yang selama ini sangat ia sayangi.


"Ja-jangan mas, aku mohon jangan pisahkan aku sama anak-anak! Aku sayang sama mereka, aku gak bisa hidup tanpa mereka, mas!" pinta Ciara.


"Yaudah, permintaan aku simpel kok. Aku cuma mau ketemu mereka sekarang, kamu minggir atau aku akan menempuh jalur hukum dan menuntut kamu!" sentak Libra.


Akhirnya Ciara tak memiliki pilihan lain, ia tak bisa menghalangi keinginan Libra saat ini dan terpaksa mengizinkan pria itu untuk masuk ke dalam. Namun sebelum itu, tiba-tiba saja sebuah mobil muncul dan berhenti di depan pagar rumahnya. Bunyi klakson dari mobil itu membuat mereka terkejut, apalagi Ciara merasa tidak asing dengannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2