
Cyra akhirnya dapat pergi menonton konser bersama Daiva malam ini, setelah upaya Cyra sebelumnya untuk meminta uang pada neneknya telah berhasil. Sehingga, Cyra kini tak memiliki alasan lagi untuk tidak mengikuti konser tersebut bersama Daiva dan menikmati penampilan boyband yang menarik perhatiannya itu. Meski baru pertama kali, namun Cyra tidak canggung dan malah tidak sabar ingin segera menyaksikan penampilan mereka nantinya.
Daiva pun mengajak Cyra ke dekat panggung agar lebih leluasa menikmati tampilan para boyband yang ada di atas sana, selain itu mereka juga bisa berjoget ria sambil meminum minuman yang sudah disiapkan sebelumnya. Daiva serta Cyra kompak berjoget ria saat ini, bagi mereka tidak ada lagi rasa malu walaupun di sekitar sana juga banyak orang yang hadir dan tengah menonton konser tersebut.
"Gimana Cyra, kamu suka kan? Bener kan apa kata aku? Konser ini tuh asyik banget, musiknya enak buat kita joget. Lihat aja tuh yang lain, mereka pada kompak ikutan dance!" ucap Daiva.
Cyra mengangguk antusias, "Iya kak, aku gak nyesel ikut kakak kesini!" ucapnya.
"Bagus Cyra, ini baru adik aku!" Daiva langsung merangkul gadis itu dan mengajaknya meloncat riang sembari menikmati konser itu.
Cyra tersenyum lebar dan mengikuti gerakan Daiva untuk berjoget ria, kedua gadis itu sama-sama bergoyang menikmati lagu yang indah tanpa perduli dengan kondisi sekitar. Akan tetapi, sentuhan tangan seseorang di bagian dadanya membuat Cyra tersadar dari gerakannya dan coba menoleh untuk mencari tahu ulah siapakah itu.
"Hey! Kamu ngapain sentuh-sentuh aku? Mau berbuat cabul ya? Dasar cowok aneh!" tegur Cyra yang tampak begitu kesal.
Lelaki itu malah tersenyum dan tidak berbicara apapun, ia juga mengedipkan matanya seolah menggoda Cyra yang menurutnya amat cantik dan seksi malam ini. Sedangkan Cyra terlihat makin kesal, gadis itu pun bingung karena lelaki di dekatnya sama sekali tak menggubris ucapannya.
"Cyra, kamu kenapa sih?" tanya Daiva yang merasa bingung dengan sikap adiknya.
"Itu kak, cowok itu tadi sentuh-sentuh aku sembarangan. Aku gak terima lah kak, itu sama aja dia mau lecehin aku!" geram Cyra.
"Biarin aja sih Cyra, kamu gausah mikirin orang kayak gitu! Kita fokus aja ke konsernya ya?" ucap Daiva coba menenangkan gadis itu.
Cyra pun mengangguk saja dan menuruti perintah kakaknya, meski ia masih was-was karena lelaki tadi terus saja menatapnya seolah menunjukkan tanda aneh di matanya. Cyra tak tahu apa maksud dari pria itu saat ini, namun rasanya ia yakin sekali kalau pria asing itu hendak melakukan tindakan di luar nalar kepadanya nanti.
"Aku harus hati-hati sama orang itu, dia kayaknya emang punya niat gak baik deh," batin Cyra.
Akhirnya Cyra memilih agak menjauh dari orang itu dan coba fokus ke arah panggung yang mana para boyband kesukaannya sedang tampil, tapi ia tak sadar jika posisinya makin lama semakin berjauhan dengan Daiva yang juga keasyikan berjoget sambil merekam penampilan boyband itu.
Seketika disaat Cyra hendak meminta minumnya yang dipegang oleh Daiva, ia baru tersadar kalau posisinya saat ini sudah jauh dari tempat ia berada sebelumnya. Bahkan, ia juga tak melihat sosok Daiva di sekitar sana karena memang areanya yang luas dan juga ramai. Ada banyak orang disana, sehingga Cyra tak bisa fokus menemukan kakaknya.
Gadis itu amat panik, ia sama sekali tidak mengira hal ini akan terjadi padanya. Tentu ia tak mau berpisah dari Daiva, karena akan sulit baginya untuk bisa pulang ke rumah neneknya nanti. Apalagi, ia tidak hafal jalan pulang dan tadi ia pergi kesana hanya bersama Daiva.
"Duh, gimana ini? Kak Daiva kemana ya?" Cyra berusaha menghubungi kakaknya itu dengan ponsel miliknya, tetapi ia malah tidak mendapatkan sinyal saat ini.
"Ish, kok gak ada sinyal sih? Ah elah!" kesalnya.
"Ehem ehem!" tiba-tiba saja, seseorang berdehem di dekatnya dan mengejutkan gadis itu.
"Hah kamu??" Cyra terkejut dibuatnya.
•
•
Disisi lain, Ciara pergi ke rumah mamanya bersama Lia serta Lio. Ia sengaja turut membawa kedua anaknya itu kesana karena tidak ingin Libra tiba-tiba?muncul lalu membawa keduanya dari sana, sebab bagaimanapun ia tahu kalau Libra masih berusaha untuk mendekati anak mereka itu dan juga mencari cara untuk merebut Lia dan Lio darinya.
Ketiganya kini bergandengan tangan dan langsung memasuki halaman rumah Nadira itu, tapi kemudian langkah mereka terhenti saat Faiz serta Nadira keluar dari dalam rumah itu. Sontak Ciara tersenyum, ia memerintahkan kedua anaknya mencium tangan Nadira dan juga Faiz yang merupakan keluarga mereka itu tanpa terkecuali.
"Halo oma!" baik Lia maupun Lio, keduanya itu sama-sama mendekat dan berpelukan dengan Nadira sambil tersenyum.
"Eh cucu cucu oma, aduh si ganteng sama si cantik dateng lagi! Oma senang banget ketemu sama kalian, duh gemes banget oma ih!" ucap Nadira terlihat sangat bahagia saat ini.
"Hehe, siapa dulu mamanya.." Ciara menyela ucapan mamanya itu disertai kekehan kecilnya.
"Ah iya deh iya, kamu mamanya juga gemesin banget. Makanya sampe nular nih semuanya ke anak-anak kamu," ucap Nadira memuji anaknya.
"Makasih mamaku yang cantik!" ucap Ciara sambil mencium tangan mamanya.
Lalu, Nadira tampak beralih menatap Ciara dan penasaran mengapa putrinya itu datang ke rumahnya malam-malam begini. Ia yakin sekali ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan oleh Ciara padanya, karena terlihat wanita itu cukup cemas seolah ada masalah yang terjadi.
__ADS_1
"Ciara sayang, kamu lagi ada masalah ya? Kenapa lagi sih, hm?" tanya Nadira penasaran.
"Eee..." Ciara menggeleng perlahan dan bingung harus mengatakan apa kali ini.
"Udah jujur aja sayang! Ada apa sih? Kamu masih kepikiran sama libra?" ujar Nadira.
Faiz menghela nafasnya, ia turut mendekati kakaknya itu dan berdiri di dekatnya sambil memandangi wajahnya. Perlahan Faiz juga merangkul Ciara dan mengusapnya lembut, karena ia tahu kalau Ciara sedang amat bersedih mungkin setelah berpisah dengan suaminya.
"Mbak, kalau ada yang nyakitin kamu bilang aja sama aku sih! Siapapun itu, pasti aku kasih pelajaran kalau berani nyakitin mbak. Aku gak rela lah kakak aku disakitin begitu," ucap Faiz.
Ciara tersenyum dibuatnya, "Haha, makasih banyak ya Faiz! Aku percaya kok kalau kamu perduli sama aku, thanks ya!" ucapnya dengan lembut.
"Iya mbak, terus sekarang kamu bilang aja sama aku apa masalah kamu yang bikin kamu jadi sedih kayak gini! Aku yakin mama juga pasti pengen tahu, cerita yuk di dalam!" ucap Faiz.
"Umm, aku mau cerita soal mas Libra sih. Soalnya waktu itu dia datang lagi ke rumahku dan maksa mau ketemu sama anak-anak," ucap Ciara lirih.
"Apa??" Nadira dan Faiz sontak terkejut.
Mereka sama-sama tak percaya jika Libra masih saja ingin mengganggu kehidupan Ciara, akhirnya kali ini Nadira memaksa Ciara beserta kedua anaknya untuk masuk ke dalam dan berbicara bersamanya. Rasanya Nadira begitu penasaran, sebab ekspresi Ciara menunjukkan bahwa wanita itu amat bersedih.
"Oh ya ma, Cyra ada disini juga kan? Dia soalnya bilang sama aku katanya mau nginep di rumah mama," tanya Ciara.
Saat itu juga Nadira terdiam, begitupun Faiz. Mereka tak tahu harus menjawab apa pada Ciara, mengingat Cyra sekarang tengah pergi menonton konser bersama Daiva tanpa sepengetahuan mamanya itu. Nadira tahu betul, Ciara pasti akan cemas dan panik jika ia mengatakan yang sejujurnya.
•
•
Di dalam, Nadira berusaha mengalihkan perhatian Ciara dengan menanyakan kembali mengenai apa yang dilakukan Libra saat datang ke rumah Ciara sebelum ini. Nadira memang penasaran dengan niat dan maksud Libra mengunjungi rumah putrinya itu kembali, apalagi tadi Nadira juga mendengar sendiri kalau Ciara mengatakan Libra hendak merebut anak-anak dari tangannya.
Selagi Ciara berada bersama mamanya di sofa ruang tamu, Faiz sengaja membawa Lia serta Lio menjauh dari sana agar tidak mengganggu obrolan antara anak dan ibu itu. Apalagi, mereka juga masih kecil dan belum boleh mengerti masalah yang dibicarakan orang dewasa.
"Nah sayang, kamu cerita sekarang sama mama ya! Gausah takut takut begitu, mama pasti akan bantu kamu selalu kok!" ucap Nadira.
"Apa? Kurang ajar banget tuh Libra! Dia emang anak gak tau diuntung, harusnya dulu kakek dan nenek kamu gak mengadopsi dia!" sentak Nadira.
"Sabar ma, mama gak perlu emosi seperti itu! Aku gak mau mama malah jadi jatuh sakit nanti, karena terus memikirkan ini. Mama sebaiknya tenang aja ya, jangan terlalu dipikirin!" ucap Ciara.
"Sayang, mama loh yang harusnya bilang begitu ke kamu! Kan kamu yang lagi diancam sama mantan suami kamu," ucap Nadira.
"Iya sih ma, tapi gak tahu kenapa dari kemarin aku selalu mikirin itu. Aku takut banget ma, aku gak mau kalau mas Libra sampai merebut anak-anak dari aku!" ucap Ciara bersedih.
"Hey, kamu gak perlu takut sayang! Libra itu gak ada apa-apanya dibanding kamu, dia pasti juga akan kalah di persidangan nanti!" bujuk Nadira.
"Kenapa bisa gitu, ma?" tanya Ciara.
"Ya jelas dong sayang, mama kan pasti akan bantu kamu nanti. Bukan cuma mama, bahkan papa Gavin juga bakal bantu kamu kok pasti. Kamu gak perlu takut, ada banyak orang yang dukung kamu di persidangan nanti!" jawab Nadira.
"Makasih ya ma? Tapi tetap aja, aku agak was-was karena mikirin ini semua," ucap Ciara.
Akhirnya Nadira mendekap erat tubuh putrinya dan berulang kali mengecupnya, ia usap secara lembut punggung serta puncak kepala wanita itu supaya Ciara tidak terus bersedih. Bagaimanapun, pastinya Nadira akan selalu membantu Ciara apapun yang terjadi dan ia tak mau Ciara merasa takut dengan Libra karena ancaman yang diberikan pria itu.
"Udah gausah takut, kalau dia berani macam-macam ke kamu bilang aja sama mama! Dia itu kan bisa jadi sebesar ini juga karena bantuan keluarga mama," ucap Nadira.
"Iya ma." Ciara mengangguk paham.
Tak lama kemudian, Ciara malah kembali tersadar kalau ia tidak melihat keberadaan Cyra di sekitar rumah itu. Pasalnya, sebelum ini Cyra sempat pamit padanya untuk pergi menginap di tempat omanya selama beberapa hari. Akan tetapi, hingga kini Ciara tak kunjung menemukan sosok putrinya itu baik di dalam maupun luar rumah.
"Tapi ma, ini daritadi aku gak lihat Cyra deh. Dia kemana ya?" tanya Ciara begitu heran.
__ADS_1
Deg
Seketika Nadira terkejut dan reflek membulatkan bola matanya, ia mengalihkan pandangan ke arah lain karena tidak tahu harus mengatakan apa kepada putrinya itu. Jujur Nadira cemas jika Ciara akan mengkhawatirkan Cyra nantinya, apabila ia memberitahu padanya kalau Cyra sedang pergi menonton konser.
"I-i-iya sayang, sebenarnya Cyra itu lagi diajak pergi sama Daiva. Kebetulan Daiva juga nginep disini, jadinya ya mereka barengan terus tuh," jawab Nadira dengan gugup.
"Ohh, terus Cyra perginya kemana? Apa mama tau?" tanya Ciara lagi.
Nadira terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa, karena Ciara bisa saja akan langsung cemas jika mengetahui semuanya.
•
•
Sementara itu, Tiara datang ke sebuah restoran sesuai perintah dari atasannya. Tiara diberitahu oleh Adrian bahwa malam ini ada sebuah meeting penting bersama klien dari luar negeri, tentunya Tiara langsung bersiap-siap dan dengan cepat datang ke tempat yang sudah ditentukan oleh pria itu. Tak ada kecurigaan di dalam kepalanya, karena ia yakin Adrian tidak mungkin membohonginya.
"Permisi mbak, meja yang sudah dibooking atas nama Adrian Sasmita dimana ya mbak?" tanya Tiara pada salah seorang pelayan disana.
"Oh, dengan mbak Tiara ya? Mari mbak saya antar, mejanya sudah disiapkan disana!" jawab pelayan itu.
Tiara manggut-manggut paham, meski ada rasa heran di dalam hatinya mengapa pelayan itu bisa mengenali dirinya. Namun Tiara tak mau mengambil pusing mengenai hal itu, yang ia inginkan saat ini hanyalah segera menyelesaikan meeting dan kembali ke rumahnya.
Sesampainya di meja yang sudah dipesan oleh Adrian, kini pelayan itu menghentikan langkahnya dan memberitahu pada Tiara kalau tempat itu merupakan tempat yang dipesan Adrian sebelumnya. Ya dapat dilihat meja itu memang sudah terhias rapi, sehingga Tiara semakin bingung dibuatnya.
"Silahkan mbak, ini dia mejanya atas nama pak Adrian Sasmita!" ucap pelayan itu.
"Tapi mbak, beneran ini mejanya? Kok pake ada hiasan lilin dan bunga-bunga kayak gini segala? Apa mbak gak salah tempat?" tanya Tiara keheranan.
"Tidak kok mbak, memang benar ini mejanya. Silahkan duduk ya mbak, saya permisi kembali ke tempat saya!" ucap pelayan itu sambil tersenyum.
"I-i-iya deh mbak.." Tiara pun tampak gugup.
Setelahnya, Tiara terpaksa duduk di kursi tersebut masih dengan perasaan heran sambil terus menatap sekitar. Rasanya Tiara begitu penasaran kali ini, sebab Tiara belum pernah melaksanakan meeting dengan kondisi tempat yang dihias sampai semewah itu oleh Adrian.
"Ini maksudnya apa ya? Kenapa pak Adrian harus menghias meja ini dengan bunga-bunga kayak gini?" gumamnya merasa bingung.
Disaat ia sedang bingung memikirkan hal itu, tiba-tiba saja Adrian muncul membawa setangkai bunga mawar merah di tangannya dengan tampilan yang begitu rapih. Ia terus melangkah ke dekat Tiara sambil tersenyum lebar, seolah tidak sabar ingin mendekati wanita itu lalu mengatakan niatnya meminta Tiara datang kesini.
"Tiara!" pria itu memanggilnya, sehingga sang empunya nama menoleh ke arahnya.
Sontak Tiara bangkit dari tempat duduknya, "Pak Adrian??" ujarnya lirih dengan tatapan mata seolah tak percaya.
"Hai Tiara! Saya senang sekali bisa bertemu kamu malam ini," ucap Adrian.
Tiara mengernyitkan dahinya, "Ada apa ini pak? Mana klien luar negeri yang bapak bilang di telpon tadi?" tanyanya penasaran.
"Hm, saya minta maaf Tiara. Saya terpaksa bohong sama kamu soal itu," jawab Adrian.
"Apa? Jadi bapak malam-malam suruh saya kesini karena mau ada meeting penting, itu semua cuma bohong? Saya gak nyangka, ternyata bapak sejahat ini sama saya!" ucap Tiara dengan kesal.
Langsung saja wanita itu meraih tasnya di atas meja dan hendak pergi dari sana, akan tetapi dengan cepat Adrian mencekal lengannya.
"Tunggu Tiara, jangan pergi dulu!" pinta Adrian.
"Apa lagi sih pak? Saya malas ya berurusan sama orang seperti anda, saya juga akan mengurus surat pengunduran diri dari perusahaan anda secepat mungkin!" ucap Tiara.
Deg
Adrian membelalakkan matanya, ia tentu tak mungkin mengizinkan Tiara untuk mengundurkan diri dari kantornya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...