Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 53. Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

TOK TOK TOK...


Pagi ini, Leon mengetuk pintu dengan tergesa-gesa sembari memanggil-manggil nama Nindi yang ada di dalam sana. Pria itu tampak sangat panik, sebab ia sudah jauh dari kata terlambat untuk menjemput sang gadis di rumahnya. Padahal semalam ia sudah berjanji pada Nindi bahwa ia akan menjemputnya di rumah pagi ini dan mengantarnya ke sekolah, tetapi nyatanya kini ia justru terlambat sampai disana.


Bukan tanpa alasan Leon datang terlambat, sebab pagi-pagi sekali tadi ia sudah diberi perintah oleh Galen yang merupakan bosnya itu untuk mengirim berkas penting perusahaan. Sehingga Leon terpaksa melakukan perintah dari Galen terlebih dahulu dan mengesampingkan Nindi, mungkin saja gadis itu nantinya akan sangat kecewa padanya karena dia menganggap Leon telah membohongi dirinya.


"Nindi, kamu masih ada di dalam kan? Buka pintunya dong cantik, ini aku loh Leon. Ayo kita berangkat ke sekolah sekarang, kalau enggak nanti kamu terlambat loh!" ucap Leon dengan nada panik.


Sementara itu, tampak di dalam sana Rifka yang merupakan sahabat Tiara tengah memasak dengan santai untuk makan siang Nindi nanti. Tiba-tiba, gadis itu dikejutkan dengan suara ketukan serta teriakan dari arah luar. Sontak Rifka langsung mematikan kompornya untuk mencari tahu siapa yang datang, sungguh ia penasaran sekaligus kesal karena ada orang yang mengganggu aktivitasnya.


"Haish, siapa sih itu? Pagi-pagi gini udah bertamu ke rumah orang aja, gak tahu apa kalau gue tuh lagi sibuk gini?" geram Rifka.


Dengan wajah mengkerut, Rifka berjalan ke arah depan tanpa melepas apron yang ia kenakan. Gadis itu segera membuka kunci pintu dan menarik gagangnya, lalu ia terperangah ketika melihat Leon lah yang berdiri di depan sana. Akhirnya amarah Rifka hilang saat itu juga, bahkan wajahnya juga berubah jadi lebih sumringah.


Ceklek


"Eh pak Leon? Waduh, kok kesini gak ngabarin saya dulu sih pak? Tahu gitu tadi saya kan dandan yang cantik buat nyambut bapak," ucap Rifka.


"Eee maaf mbak Rifka, tapi saya kesini pengen jemput Nindi. Dia masih ada di dalam kan, mbak? Soalnya saya tadi ada urusan sebentar, makanya saya terlambat kesini," ucap Leon.


"Oalah, jadi kamu kesini cari Nindi? Bukan mau temuin saya gitu? Huft, padahal saya sudah berharap tadi. Kalau kamu mau temuin Nindi, kamu telat pak Leon! Barusan aja Nindi berangkat ke sekolah pake ojek online yang saya pesan," ucap Rifka.


"Apa? Yah berarti saya beneran terlambat banget dong, duh Nindi pasti kecewa ini mah!" ujar Leon.


"Ya kayaknya sih gitu, soalnya tadi muka Nindi emang cemberut mulu pas mau berangkat sekolah. Lagian kamu sih pake telat segala, harusnya kalo udah janji ya ditepati dong!" ucap Rifka.


Leon menunduk bingung, "Saya juga gak mau terlambat, tapi ini semua gara-gara pak Galen! Kalau aja dia gak nyuruh saya tadi, mungkin saya bisa tepat waktu sampai kesini," ucapnya.


"Ahaha, oh jadi kamu nyalahin pak Galen nih ceritanya? Wah parah sih kamu, nanti aku bilangin ke Tiara loh!" ucap Rifka terkekeh.


"Hah? Duh duh jangan dong mbak Rifka! Saya tadi kan cuma bercanda, ya walau emang semuanya gara-gara pak Galen sih. Buktinya sekarang saya jadi telat sampai kesini dan gak bisa jemput Nindi," ucap Leon seraya menggaruk kepalanya.


"Yaudah, kamu sabar aja! Kan masih bisa jemput dia nanti siang pas pulang sekolah," usul Rifka.

__ADS_1


Sontak Leon tersenyum sumringah dibuatnya, "Oh iya benar, oke deh saya gak akan sedih lagi. Kalau gitu saya permisi ya, mbak?" ucapnya.


"Yah kok permisi sih? Apa kamu gak mau sarapan dulu disini? Pasti belum sarapan kan?" tanya Rifka.


"Gausah deh mbak, saya mau permisi aja. Lagian saya harus pergi ke kantor sekarang, mungkin lain kali baru saya mampir lagi kesini," jawab Leon.


"Hm, it's okay gak masalah. Kalo gitu kamu hati-hati ya ganteng, jangan ngebut-ngebut!" ucap Rifka.


"I-i-iya mbak.." Leon mengangguk gugup dan kemudian berbalik badan.


Setelahnya, Leon pun berjalan pergi meninggalkan rumah itu dan menuju mobilnya. Sedangkan Rifka tersenyum lebar menatap punggung pria itu sampai tak terlihat lagi dari bola matanya, sungguh Rifka menyukai Leon yang merupakan asisten Galen itu. Namun, Rifka tidak ingin egois karena ia tahu kalau Nindi pun menyukai pria tersebut.


"Huh cinta bertepuk sebelah tangan emang menyakitkan, tapi gapapa deh demi kebahagiaan Nindi yang udah aku anggap seperti adik aku sendiri!" gumam Rifka.




Sementara itu, Ciara masih terus memikirkan kejadian semalam dimana dirinya yang sudah melakukan tindakan tidak terpuji kepada pamannya. Tentunya Ciara merasa amat malu pada kelakuan dirinya sendiri yang seolah tak memiliki rasa malu, karena bisa-bisanya ia melepas baju di depan sang paman dalam kondisi ia tak mengenakan apa-apa lagi dibalik pakaiannya. Ya meski kala itu memang lampu masih belum menyala, dan Libra tak akan dapat melihat aset indahnya dengan jelas.


Akibat pikirannya yang mengarah kemana-mana, Ciara pun sulit berkonsentrasi dalam pelajaran kali ini. Gadis itu justru lebih banyak terdiam dan melamun sembari memegangi pipinya, ia juga tak memperhatikan penjelasan guru yang ada di depan sana saat ini. Bayangan mengenai kejadian semalam terus saja menghantuinya, terlebih ia sadar kalau dirinya ikut menikmati perbuatan sang paman.


"Oke murid-murid, sekarang siapa yang bisa jawab pertanyaan di papan ini? Ayo angkat tangan yang mau!" ucap bu Lisa, guru yang mengajar kali ini.


Tidak ada satupun murid yang mau mengangkat tangannya, karena pertanyaan tersebut cukup sulit bagi mereka dan membuat mereka tidak percaya diri untuk bisa menjawabnya. Karena jengkel, bu Lisa pun memilih untuk akan menunjuk salah seorang dari murid-muridnya itu. Ia celingak-celinguk ke kanan dan kiri, sampai ia menemukan Ciara yang melamun dan tidak melihat ke arahnya.


"Ciara, apa kamu bisa menjawab pertanyaan ini?" tanya bu Lisa pada gadis itu.


Sontak semua murid kompak menatap ke arah Ciara, dan seperti yang sudah diduga Ciara tak merespon pertanyaan bu Lisa karena masih asyik membayangkan kejadian itu. Tentunya bu Lisa tampak sangat geram, dengan tergesa ia bergerak mendekati Ciara sambil memberikan tatapan tajam seolah hendak membunuhnya. Sepertinya nasib Ciara tidak akan aman kali ini, meski dia merupakan murid paling pintar di sekolahnya.


Anin serta Cleo pun berusaha menyadarkan Ciara dari lamunannya dengan cara memanggil-manggil gadis itu, akan tetapi Ciara malah diam saja tak memberikan respon apapun. Sehingga akhirnya bu Lisa tiba di dekat meja Ciara saat ini, semua murid pun mulai merasa cemas karena pastinya bu Lisa akan memarahi Ciara.


"HEY CIARA!!" sentak bu Lisa yang mengagetkan sang pemilik nama dan juga seluruh murid di kelas itu, ya suara bu Lisa memang cukup nyaring dan bisa membuat telinga terasa sakit.

__ADS_1


"Ah iya bu, kok ibu disini sih? Bukannya tadi ibu masih di depan ya?" kaget Ciara terheran-heran.


"Kamu ngapain ngelamun aja? Mikirin apa kamu, hm? Badan di sekolah, tapi pikiran kemana-mana!" geram bu Lisa.


"Ma-maaf bu..." Ciara menundukkan wajahnya karena malu menjadi bahan tatapan teman-teman kelasnya.


"Yasudah, sekarang kamu jawab pertanyaan di papan itu!" suruh bu Lisa seraya menyodorkan spidol kepada Ciara.


Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis, ia sedikit kaget karena pertanyaan yang ada disana belum pernah ia pelajari sebelumnya. Ciara pun kebingungan, ia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir bagaimana cara menjawab soal di papan tulis tersebut. Sedangkan sedari tadi Ciara diam saja tak memperhatikan, itu sebabnya Ciara tidak mengerti bagaimana menjawabnya.


"Kenapa diam? Ayo jawab!" ujar bu Lisa.


"Eee maaf bu, saya gak ngerti. Kayaknya saya gak bisa jawab soal itu deh bu, mungkin yang lain bisa," ucap Ciara gugup.


Braakk


"YA GIMANA MAU NGERTI? KAMU KERJANYA NGELAMUN AJA WAKTU SAYA JELASIN!" seisi kelas terkejut saat bu Lisa menggebrak meja dan membentak Ciara dengan keras.


Jantung Ciara berdebar-debar cukup kencang saat ini, baru pertama kali ia dibentak oleh seseorang sampai seperti itu. Ciara pun hanya bisa diam meratapi nasibnya, tampak juga Anin serta Cleo merasa kasihan pada sahabat mereka yang dibentak oleh bu Lisa barusan. Mereka berdua yakin kalau ada sesuatu yang dialami Ciara, sampai gadis itu melamun saja saat bu Lisa menjelaskan.


"Sekarang kamu keluar, saya gak mau lihat kamu ada di kelas saya! Sana kamu kemana kek, terserah!" ucap bu Lisa mengusirnya.


"Bu, jangan dong bu! Saya—"


"KELUAR!" ucapan Ciara terpotong karena bu Lisa lebih dulu membentaknya.


"Ba-baik bu!" ucap Ciara pasrah.


Gadis itu akhirnya pasrah, ia beranjak dari kursinya dan berjalan sedikit membungkuk ke luar kelas sambil menahan air matanya. Rasanya Ciara ingin menangis saat itu juga, tapi ia tidak bisa melakukannya karena ia sadar semua yang ia alami saat ini adalah karena kesalahannya sendiri.


"Hiks hiks, baru kali ini aku dibentak dan disuruh keluar sama guru. Apa kata kak Galen ya kalo dia tahu?" batin Ciara.


Tanpa disadari olehnya, seseorang tampak mengamatinya dari jauh dan terus mengikutinya dengan langkah perlahan. Bahkan sewaktu Ciara berbelok masuk ke toilet, ia pun menghentikan langkahnya seolah menunggu Ciara selesai dan keluar dari toilet tersebut. Barulah ia akan mengikuti Ciara secara diam-diam dan mengendap-endap.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2