
Ciara terbangun dari tidurnya, ia membuka mata dan terkejut saat menyadari bahwa dirinya sedang tidak berada di kamarnya. Ia pun menatap ke sekeliling berusaha mengenali tempat itu, namun ia masih belum bisa tahu dimana ia sekarang ini. Perlahan ia juga coba mengingat-ingat kejadian semalam, entah mengapa rasanya sulit sekali bagi Ciara untuk bisa mengetahui apa yang ia lakukan malam tadi.
Kini Ciara beranjak dari tempat tidurnya, jujur wanita itu sangat panik dan ketakutan karena berpikir ia sedang diculik oleh seseorang saat ini. Ciara pun melangkah mendekati pintu, membuka gagangnya dan melangkah keluar dari kamar itu untuk mencari tahu dimana ia sekarang. Ciara terus menyusuri rumah besar tersebut, ia benar-benar merasa asing dengan rumah yang sekarang ia tempati itu.
"Loh Ciara, kamu sudah bangun?" tiba-tiba, suara seorang lelaki terdengar menyebut namanya dari arah belakang.
Sontak Ciara menoleh, betapa terkejutnya ia melihat bahwa Seno lah yang tadi memanggilnya. Kini ia pun teringat bahwa kemarin memang ia pergi bersama pria itu saat ia sedang kesal dengan Libra, tapi ia masih bingung bagaimana mungkin ia bisa berada di rumah itu saat ini.
"Eh kak Seno, huh lega rasanya! Aku kira tadi aku diculik loh, ternyata aku emang sama kak Seno disini. Maaf banget ya kak, tadi aku hampir ngira kamu culik aku!" ucap Ciara gugup.
Leon tersenyum dibuatnya, "Haha, ya gak mungkin lah Ciara. Aku kan udah minta izin sama kamu semalam buat bawa kamu ke rumah aku, ya ini dia tempatnya. Kamu gak sadar, mungkin karena terlalu banyak minum semalam," ucapnya.
"Ohh, ya iya sih sekarang aku baru ingat. Sekali lagi aku minta maaf kak, aku jadi ngerepotin kamu gara-gara aku mabuk semalam!" ucap Ciara.
"Gapapa Ciara, aku ikhlas kok ngelakuin itu. Justru aku senang bisa bantu kamu, karena kamu itu kan perempuan yang aku cintai. Ya walau aku tahu kalau aku gak akan bisa miliki kamu," ucap Seno.
"Kak, udah dong jangan dibahas terus! Aku jadi gak enak tahu sekarang," ucap Ciara.
"Iya iya, yaudah sekarang kita makan dulu yuk! Kamu pasti lapar kan?" ajak Seno.
Ciara mengangguk setuju dan mengikuti kemauan pria itu, lalu mereka sama-sama melangkah menuju meja makan yang sudah disediakan. Ciara cukup kagum melihat seisi rumah Seno, semua yang ada disana benar-benar luar biasa dan mahal-mahal. Namun, Ciara heran mengapa Seno malah menyewa apartemen yang sama dengannya.
"Eee kak, ini apa gak kebanyakan makanannya? Aku gak bakal bisa habisin ini semua," ujar Ciara.
Seno tersenyum dibuatnya, "Iya gapapa, sengaja aku minta koki untuk masakin yang banyak dan beragam. Soalnya kan aku belum tahu kesukaan kamu, jadinya aku masak aja semuanya biar kamu bisa pilih sendiri," ucapnya.
"I-i-iya deh kak, makasih banyak ya! Kalo gitu kita bisa langsung makan sekarang?" ucap Ciara.
"Oh jelas, ayo ayo!" ucap Seno dengan cepat.
Ciara tersenyum lebar saat Seno menarik kursi disana dan mempersilahkan ia untuk duduk, Ciara menurut lalu terduduk disana bersama Seno dan mulai memakan semua makanan itu. Akan tetapi, pikirannya tiba-tiba kembali mengarah kepada sosok Libra yang saat ini entah sedang apa.
Melihat diamnya Ciara, Seno pun merasa bingung dan penasaran. Lelaki itu terlihat menatap Ciara dengan wajah serius, lalu mencoba bertanya pada Ciara apa yang sedang dia pikirkan sampai terbengong seperti itu. Jujur saja Seno khawatir pada wanita itu, karena ia tahu sekarang ini Ciara tengah dihadapkan dengan masalah besar.
"Kamu kenapa Ciara, ada masalah? Kalau memang iya, kamu bisa bebas cerita sama aku kok! Mungkin dengan begitu, kamu akan lebih baik lagi nanti," ucap Seno dengan pelan.
Ciara menoleh ke arah Seno dan tersenyum tipis, "Tidak kak, aku gapapa." bohongnya.
"Kamu bohong Ciara! Aku tahu kalau seseorang sedang bicara jujur atau bohong, dan sekarang ini kamu sedang bohong sama aku!" ujar Seno.
"Loh kok kamu bisa tahu?" heran Ciara.
Seno menyeringai kecil, lalu pura-pura menyendok makanannya seolah mengabaikan Ciara. Tampak Ciara terus kebingungan setelah Seno tahu kalau ia sedang berbohong, namun Seno mengalihkannya dengan kembali membahas mengenai masalah yang tengah menimpa Ciara.
"Ciara, sudah kamu jujur aja sama aku! Aku mungkin bisa bantu kamu menyelesaikan masalah kamu, ayolah Ciara!" bujuk Seno.
Ciara menghela nafasnya, "Huft, gimana coba cara kamu bisa selesaikan masalah aku? Yang aku lagi hadapi ini berat banget loh," ujarnya.
__ADS_1
"Hm, masa sih? Memangnya masalah apa yang lagi kamu hadapi sekarang ini?" tanya Seno penasaran.
Ciara terdiam sejenak memikirkan itu, ia ragu untuk menceritakan semuanya pada Seno karena khawatir akan dianggap menyebarkan aib dirinya kepada orang lain. Namun, mau tidak mau akhirnya Ciara terpaksa memberitahu pada Seno mengenai kebenaran bahwa dirinya tak bisa mengandung.
"A-aku dinyatakan mandul sama dokter, kak. Aku gak bisa kasih keturunan buat om Libra," jawab Ciara.
Seno terkejut, matanya langsung terbelalak lebar ketika mendengar pernyataan Ciara yang menyatakan bahwa dirinya mandul. Seno menatap seolah tak percaya, ia tak menyangka jika Ciara ternyata memiliki kekurangan yang begitu besar di dalam dirinya.
"Oh ya? Lalu, kamu tidak bisa mengandung karena apa? Kamu punya penyakit di rahim kamu, atau gimana?" tanya Seno lagi.
Deg
Ciara terdiam seketika, ia baru ingat kalau sebelumnya ia memang tidak tahu apa penyebab ia tak bisa mengandung. Kala itu, Ciara memutuskan pergi begitu saja dari ruangan dokter dan meninggalkan Libra tanpa bertanya apa yang menyebabkan dirinya tidak bisa hamil.
•
•
Libra kini masih sibuk mencari dimana Ciara, ia benar-benar bingung saat ini dan tidak tahu harus mencari Ciara kemana lagi. Hampir seluruh tempat yang berkaitan dengan Ciara sudah ia telusuri, tetapi ia tetap tidak berhasil menemukan keberadaan wanita itu. Memang masih ada satu tempat, yakni kediaman Nadira. Namun, tidak mungkin Libra pergi kesana karena itu sama saja ia akan terjebak ke dalam masalah yang lebih besar lagi.
Bisa saja Ciara memang datang ke rumah mamanya, namun Libra lagi dan tidak yakin kalau hal itu benar-benar terjadi. Justru, nantinya jika ia pergi menemui Nadira dan ternyata Ciara tidak ada disana, maka dapat dipastikan Libra akan mendapatkan masalah besar dari Nadira. Ya tentu Nadira pasti memarahinya, karena dianggap tidak becus dalam menjaga istrinya.
Libra pun sangat kebingungan, ia berhenti sejenak di sebuah cafe untuk sekedar membeli minuman. Tapi tanpa diduga, Gita justru juga berada di tempat itu dan langsung menghampirinya. Gita terlihat sangat bahagia dapat bertemu dengan Libra, bahkan gadis itu kini ikut duduk di sebelah Libra dan memberikan senyuman manisnya ke arah pria itu.
"Eh Libra, gak nyangka ya kita ketemu lagi disini? Kamu lagi apa Libra, kok sendirian sih? Istri kamu mana?" Gita langsung menanyakan itu, dan membuat Libra makin bingung.
"Eee ini saya juga lagi cari istri saya, dia semalam gak pulang ke rumah," jawab Libra gugup.
"Duh, parah banget dong ya masalah kalian ini? Sebenarnya ada apa sih Libra, kok aku jadi makin kepo ya?" ujar Gita.
Libra tersenyum tipis, "Gapapa Gita, udah kamu gak perlu tahu apa masalah saya dan Ciara. Kamu itu cuma rekan kerja saya, jadi kamu harus tahu batasan!" ucapnya dengan tegas.
"I-i-iya Libra, aku minta maaf kalau udah kelewat batas. Aku beneran gak maksud untuk ikut campur, tapi aku cuma kasihan sama kamu," ucap Gita.
"Gapapa, saya paham kok kamu perhatian sama saya. Tapi masalahnya, Ciara gak suka kalau saya terlalu dekat sama kamu. Jadi, saya mohon mulai sekarang kamu jaga jarak ya dari saya!" ucap Libra.
"Loh, jadi ini gara-gara aku Ciara sampai pergi dari rumah kalian?" tanya Gita terkejut.
"Bu-bukan begitu Gita, saya—"
"Ohh, aku beneran gak ada maksud loh buat bikin masalah di rumah tangga kalian. Sekali lagi aku minta maaf ya sama kamu, Libra? Aku gak nyangka kalau Ciara bakal semarah ini gara-gara aku yang terus deketin kamu," sela Gita.
"Ya memang Ciara itu anaknya cemburuan banget, dia gak bisa lihat saya dekat sama wanita lain termasuk kamu," ucap Libra.
"It's okay, mulai sekarang aku akan jauhi kamu. Hubungan kita memang cuma sebatas rekan kerja, aku tahu diri kok. Aku juga bakal bantu kamu jelasin ke Ciara nanti," ucap Gita.
"Terimakasih atas pengertiannya ya, Gita! Aku juga minta maaf kalau ini menyakiti perasaan kamu," ucap Libra.
__ADS_1
Gita mengangguk paham, ia juga ikut tersenyum lebar dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Memang Gita sedikit kecewa dengan itu, tetapi bagaimanapun ia tak mau dianggap sebagai pelakor yang sukanya merebut suami orang. Gita hanya sebatas mengagumi Libra, itu pun karena Libra adalah dokter termuda di rumah sakit yang sudah banyak berprestasi di usianya saat ini.
Setelah itu, Gita baru teringat bahwa sebelum ini ia sempat menemui dokter Syifa dan menanyakan mengenai keperluan Libra serta Ciara datang ke rumah sakit kemarin. Gita pun kembali menatap Libra, lalu membahas hal tersebut kepadanya karena ia sendiri belum mendapat jawaban yang jelas dari dokter Syifa sebelumnya.
"Oh ya, aku tuh sebenarnya udah sempat ketemu sama dokter Syifa kemarin. Aku tanya ke dia soal kamu sama Ciara yang datang ke rumah sakit itu, terus dia cuma jawab kalau kalian abis cek kondisi kesehatan," ucap Gita.
Libra agak kaget mendengarnya, "Ya Gita, itulah yang jadi penyebab saya dan Ciara bertengkar sampai dia pergi dari rumah," ucapnya.
"Hah? Maksud kamu gimana? Kalian cuma cek kesehatan kok bisa jadi ribut sih?" heran Gita.
"Eee sebenarnya Ciara...."
•
•
Sesudah melakukan sarapan bersama Seno, kini Ciara memutuskan keluar dari rumah itu untuk mencari udara segar. Ia tampak berdiri memandangi keindahan tanaman yang ada di halaman samping rumah milik Seno, sungguh Ciara begitu kagum dengan berbagai keindahan yang ada disana dan berhasil membuatnya amat tenang saat ini.
Seno pun menyusul wanita itu dan berdiri tepat di sampingnya, kehadiran Seno tentu membuat Ciara terkejut karena tak menyangka jika lelaki itu akan mengikutinya. Namun, Ciara tersenyum saja dan membiarkan Seno berada di dekatnya mengingat ini adalah rumah pria itu.
"Ciara, gimana kalau untuk menenangkan diri kamu dan bikin kamu melupakan masalah kamu itu, sementara ini kamu tinggal dulu di rumah aku?" ucap Seno memberi tawaran spesial.
Ciara agak kaget mendengarnya, ia seolah tak percaya jika Seno mau menawarkan hal itu kepadanya. Padahal Seno sendiri tahu bahwasanya saat ini, Ciara sudah resmi menikah dan menjadi istri dari seseorang. Tapi sepertinya, Seno yang sudah gelap mata tidak perduli akan hal itu dan tetap menginginkan Ciara menjadi miliknya.
"Umm, gimana ya kak? Masalahnya aku gak enak kalau kelamaan numpang tinggal disini sama kamu, nanti yang ada aku bakal ngerepotin kamu. Lagipun, aku juga gak bawa baju dan barang-barang aku dari apartemen," ucap Ciara.
"Itu bukan suatu masalah yang besar, Ciara. Kamu bisa pakai semua baju yang ada di lemari kamar kamu, itu semua milik kamu!" ucap Seno.
Ciara terkejut, matanya menatap fokus ke arah Seno dengan dahi mengerut. Ciara masih tak mengerti bagaimana bisa Seno memiliki cukup banyak pakaian wanita di lemarinya, padahal selama ini yang ia tahu Seno hanya memiliki saudara kembar lelaki dan dia juga belum menikah.
"Kok bisa begitu? Emangnya semua itu sebelumnya pakaian siapa, kak?" tanya Ciara penasaran.
Seno menggeleng perlahan, "Bukan punya siapa-siapa kok, itu semuanya baru aku beli semalam khusus untuk kamu. Jadi, ya kamu bebas kalau mau pake itu semua," jawabnya.
"Apa? Ya ampun kak, jadi kamu udah persiapin semuanya buat aku? Duh, aku benar-benar gak enak banget deh sama kamu!" ucap Ciara.
"Iya Ciara, tapi aku gak ngerasa kamu repotin sama sekali kok. Justru aku senang kalau misal kamu memang mau tinggal disini, ya itung-itung aku dapat teman baru," ucap Seno.
Ciara tersenyum mendengarnya, ia senang sekali bisa mendapat bantuan dari Seno. Sehingga ia tidak perlu pusing-pusing mencari tempat untuk berlindung sekarang ini, karena jujur Ciara masih enggan kembali pulang ke rumahnya. Rasa bersalahnya pada Libra, membuat Ciara takut untuk bertemu kembali dengannya karena ia menganggap dirinya tidak pantas menjadi seorang istri.
"Bagaimana Ciara, apa kamu mau terima tawaran aku?" tanya Seno kembali.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Ciara memutuskan untuk mengiyakan tawaran dari Seno itu dan mau tinggal bersamanya di rumah itu. Bagaimanapun, Ciara memang butuh sekali tempat tinggal sementara waktu untuk saat ini. Ya setidaknya sampai ia bisa melupakan semua yang sedang ia alami, lalu dapat kembali pada Libra.
"Iya kak, aku mau tinggal disini untuk sementara waktu. Asalkan itu gak ngerepotin kamu, dan gak bikin kamu terbebani," jawab Ciara lirih.
Seno tampak bahagia kali ini, "Tentu saja tidak Ciara, aku senang banget kamu mau tinggal disini. Aku harap, kamu nyaman dan betah ya ada disini!" ucapnya sembari melebarkan senyumnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...