
Libra tiba di parkiran rumah sakit, dengan cepat ia langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju halaman tempat itu. Ia mencari-cari dimana Gita, karena sebelumnya gadis itu lah yang menghubunginya dan mengatakan jika Sulistyo selaku atasan disana memanggilnya. Meski Libra sudah bertekad mengundurkan diri dari sana, tetapi ia masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Ya tidak mungkin jika Sulistyo memecat dokter Syifa begitu saja tanpa alasan yang jelas, itu sebabnya ia datang kesana karena ingin mengetahui apakah memang Sulistyo telah mengetahui semuanya. Selain itu, Libra juga penasaran apa niat Sulistyo ingin menemuinya saat ini. Untuk itu, Libra pun masuk ke dalam rumah sakit tanpa menyadari bahwa ia sedang dipantau dari jauh.
Baru melangkah beberapa detik, Libra sudah langsung bertemu dengan Gita yang tengah bersama Sulistyo di depan sana. Tanpa menunggu lama, pria itu segera menghampiri mereka berdua untuk menanyakan ada hal apa yang sampai membuat dirinya dipanggil disana.
"Permisi!" ujar Libra menegur kedua manusia yang seperti tengah berbicara itu.
Sontak baik Sulistyo maupun Gita sama-sama menoleh ke arahnya, mereka tersenyum melihat Libra telah datang. Tentu saja Sulistyo langsung mendekat ke arah Libra berada dan meminta Libra untuk ikut bersamanya, karena penasaran akhirnya Libra menurut saja dan berjalan bersama-sama menuju ruang pribadi Sulistyo. Sedangkan Gita, memilih tetap disana menunggu mereka kembali.
Di dalam sana, kedua pria itu terduduk saling berhadapan dan tampak tersenyum satu sama lain. Sulistyo menyesali keputusannya kemarin yang membiarkan Libra keluar dari rumah sakit, padahal kinerja Libra sungguh luar biasa dan amat dibutuhkan disana. Apalagi, setelah ia tahu jika dokter Syifa adalah orang yang tidak benar.
"Eee Libra, saya sungguh menyesal dengan kejadian kemarin. Seharusnya saya lebih berpikir jernih untuk menyikap masalah kamu dan dokter Syifa, maafkan saya ya Libra!" ucap Sulistyo.
Libra mengernyitkan dahinya, "Maksud bapak gimana ya?" tanyanya bingung.
"Iya Libra, saya sudah tahu kebenarannya. Dokter Syifa itu memang orang jahat, dia yang sengaja memalsukan hasil tes kamu dan istri kamu waktu itu. Saya sungguh kecewa dengan sikap dia, itu sebabnya saya memecat dia dari sini," jelas Sulistyo.
Libra cukup terkejut mendengarnya, ternyata benar dugaannya bahwa Sulistyo telah mengetahui semua kebusukan dokter Syifa itu. Ia senang karena itu, tetapi tentu saja ia masih kebingungan. Ya Sulistyo belum menjelaskan apa maksud dan tujuan pria itu mengajaknya bertemu disana, untuk itu Libra kembali bertanya padanya kali ini.
"Maka dari itu, saya meminta kamu untuk mau kembali bekerja disini. Rumah sakit ini membutuhkan kamu Libra, dan hanya kamu yang bisa melakukan itu. Kamu mau kan?" ucap Sulistyo.
Libra terkekeh kecil, ia sudah menebak jika ini pasti terjadi. Memang menjadi dokter adalah impiannya sejak kecil, tetapi jika pihak rumah sakit sudah pernah meragukannya dan membuatnya kecewa maka pasti Libra tidak akan pernah mau lagi untuk bekerja disana. Tentu saja Libra menolak, ia bangkit dari kursinya dan berbicara dengan tegas.
"Maaf pak, kalau untuk itu saya tidak bisa. Saya ini orang yang memegang teguh prinsip, dan saya tidak akan mau kembali bekerja disini!" ucap Libra.
"Ta-tapi Libra, saya—"
"Sudah cukup pak, sekarang waktunya saya pergi. Tolong bapak hargai keputusan saya, permisi!" sela Libra sebelum berbalik dan melangkah keluar.
Sulistyo tak bisa berbuat apa-apa untuk menahan Libra, karena Libra adalah orang yang berkomitmen dan tidak akan mudah untuk bisa membujuk pria itu agar mengganti keputusannya. Selain itu, Libra juga sudah memutuskan bahwa ia tidak akan mau lagi bekerja di rumah sakit itu. Meski, Libra sendiri belum tahu apa yang hendak ia lakukan nantinya.
•
•
Di luar, Libra berpapasan dengan Gita yang rupanya sudah menunggu sedari tadi di depan sana. Gita pun tampak gugup ketika melihat Libra keluar dari ruangan tersebut dan berdiri tepat di hadapannya, gadis itu langsung memalingkan wajahnya serta terlihat kikuk dan tak tahu harus mengatakan apa pada Libra saat ini.
Begitupun dengan yang Libra rasakan, pria itu merasa penasaran mengapa Gita berdiri di luar sana menunggunya. Baru saja ia hendak berbicara, tetapi tiba-tiba Gita sudah langsung menarik tangannya dan membawa pria itu menjauh dari sana. Libra yang terkejut hanya bisa diam kali ini, setelahnya Gita pun mengajaknya untuk terduduk disana.
"Gimana Libra, pak Sulistyo tawarin kamu buat balik kerja disini lagi kan? Terus pasti kamu terima kan tawaran pak Sulistyo itu?" tanya Gita antusias.
__ADS_1
Libra menggeleng disertai senyuman tipisnya, saat itu juga Gita merasa heran sekaligus penasaran mengapa Libra malah menggelengkan kepalanya dan juga menatap ke arah lain. Gita curiga jika Libra tengah menyembunyikan sesuatu darinya, untuk itu Gita coba mencari tahu dan bertanya langsung pada Libra agar mengetahui jawabannya.
"Tidak Gita, saya tidak menerima tawaran itu. Pak Sulistyo memang menawarkan saya untuk kembali bekerja disini, tetapi saya tetap kekeuh tidak ingin melanjutkan pekerjaan di rumah sakit ini," jawab Libra dengan santai.
"A-apa? Lalu, kamu mau kerja dimana dong Libra? Padahal disini kan kamu dibutuhin banget tau, apalagi kinerja kamu bagus!" ucap Gita kecewa.
"Umm, saya belum tahu sih. Mungkin saya akan buka praktek sendiri di tempat lain, karena saya kapok bekerja dengan orang lain seperti ini. Maaf ya Gita, rasanya saya harus pergi!" ucap Libra.
"Hah? Kalau gitu aku boleh gak ikut sama kamu? Misal kamu mau buka praktek sendiri, biar aku yang jadi perawatnya bantu kamu!" usul Gita.
Libra tersenyum dibuatnya, "Tidak Gita, kamu disini aja ya! Lagian saya kan belum pasti mau bikin praktek sendiri, saya juga belum tahu apa usaha saya akan berhasil nantinya!" ucapnya.
"Eee gapapa kok, aku mah gak mikirin soal uang. Aku juga udah bosen disini," ucap Gita gugup.
Libra tampak kebingungan saat ini, ia merasa aneh lantaran Gita terus saja membujuknya supaya mau mengizinkan wanita itu ikut dengannya. Padahal, Libra sendiri saja belum yakin apakah nanti tempat prakteknya akan ramai dengan pasien. Lagipula, Libra saat ini masih ingin mengurus Ciara yang sedang hamil muda.
Akhirnya Libra beranjak dari tempat duduknya, kemudian kembali pamit pada Gita dan langsung melangkah tanpa menunggu izin dari gadis itu. Libra tidak mau terus-terusan berada di dekat Gita seperti sekarang, karena ia khawatir jika nantinya terjadi sesuatu pada mereka dan akan menjadi salah paham yang berikutnya.
Setelah Libra pergi, Gita tak berdiam begitu saja dan malah ikut mengejar lelaki itu keluar. Gita tetap berusaha mengikuti kemana Libra pergi, karena ia tahu kalau sekarang ini dirinya tidak akan bisa berjauhan dengan Libra. Bahkan, Gita rela jika ia harus mengundurkan diri dari rumah sakit itu sama seperti apa yang dilakukan Libra.
Saat berhasil keluar dari rumah sakit itu, Libra langsung melangkah menuju tempat parkir dimana mobilnya berada. Gita yang masih mengejarnya turut mengikuti langkah pria itu dan tak membiarkannya pergi lebih jauh, ia terus saja berlari menghampiri Libra di sebrang sana tanpa menyadari jika seseorang di dalam mobil tengah mengincarnya.
"Libra, tunggu Libra! Sebentar dulu, aku mau bicara sama kamu!" teriak Gita sambil berlari kencang.
"Aaaaa...." begitu menoleh, Gita terkejut ketika mobil itu sudah ada di dekatnya dan melaju begitu kencang lalu menabraknya.
Braakkk
Begitulah suara tabrakan itu terdengar di telinga Libra, ya seketika ia menoleh dan terbelalak saat itu juga setelah mengetahui bahwa Gita ditabrak oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Langsung saja Libra menghampiri Gita yang tergeletak di jalan sana dengan kondisi memburuk, sedangkan mobil itu sudah melaju pergi tanpa memperdulikannya.
"Gita, Git sadar Gita!!" Libra tampak histeris dan tidak tahu harus melakukan apa.
•
•
Disisi lain, Galen akhirnya tersadar dari koma setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akibat perlakuan buruk yang dilakukan Jessica dan juga Bagas kepadanya. Galen pun membuka matanya sembari memegangi keningnya yang terasa sakit, ia melihat ke sekeliling secara perlahan-lahan dan menemukan Tiara yang tengah duduk di sofa dekat sana sambil memainkan ponselnya.
Ketika berusaha menggerakkan kedua kakinya untuk bangkit, Galen merasa bingung lantaran tanpa diduga ia merasa sangat sulit untuk bisa melakukan itu. Galen pun tampak kebingungan saat ini, ia heran karena seolah-olah kakinya mati rasa dan tidak bisa digerakkan. Untuk itu, Galen mencoba memanggil Tiara dan menanyakan mengenai kondisinya.
"Sayang, Tiara!" lirih Galen.
__ADS_1
Tiara terkejut ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya, saat itu lah ia menaruh sejenak ponselnya dan menatap ke arah sang suami. Ia terbelalak melihat Galen telah sadar dan kini tengah memandangnya, tanpa basa-basi lagi Tiara bergegas mendekati suaminya itu lalu tersenyum lebar karena melihat Galen sudah sadarkan diri.
"Mas, syukurlah kamu udah sadar! Udah lama banget aku menunggu momen ini, akhirnya sekarang aku bisa lihat kamu sadar dan bicara lagi mas!" ucap Tiara tampak antusias.
"Makasih sayang, kamu masih mau perduli sama aku setelah apa yang aku lakukan di belakang kamu! Tapi, kaki aku kenapa gak bisa digerakin ya? Aku tadi mau coba bangun, tapi susah dan malah aku kayak mati rasa," ujar Galen.
Seketika Tiara terdiam bingung, ia berpikir keras mencari jawaban yang tepat untuk menjelaskan pada suaminya saat ini. Ia khawatir Galen akan kecewa jika ia mengatakan semuanya mengenai kondisi pria itu, tapi tentu Galen juga tidak mungkin mau dibohongi oleh istrinya itu dan terus memaksa Tiara untuk berkata jujur padanya.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu diam seperti itu?" tanya Galen penasaran.
"Eee kamu yang sabar ya mas! A-aku dapat penjelasan dari dokter, kalau kaki kamu itu mengalami kelumpuhan permanen dan tidak bisa digerakkan," jawab Tiara dengan gugup.
"Apa??" betapa terkejutnya Galen mendengar semua pengakuan dari istrinya barusan, pria itu tak menyangka jika ia akan mengalami kelumpuhan.
Saat itu juga Galen merasa kecewa, ia histeris berat dan menangis sejadi-jadinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain memukul-mukul ranjang tempatnya saat ini untuk melampiaskan semua kekecewaan di dalam dirinya, ia merasa kalau semua penderitaan yang ia alami saat ini adalah akibat dari kesalahan yang sudah ia lakukan kepada Tiara alias istri sahnya itu.
"Mas, udah mas cukup! Kamu harus bisa menerima semua takdir ini, walaupun kamu mukul ranjang ini berkali-kali tetap aja takdir gak akan berubah. Kamu bakal tetap lumpuh selamanya, mas!" ucap Tiara.
Galen terus saja menangis kali ini, sehingga Tiara yang melihatnya menjadi amat kasihan dan tidak tega pada suaminya itu. Tiara pun berusaha menenangkan Galen dengan cara memeluknya, mengusap lembut puncak kepala pria itu serta mengatakan jika ia akan terus ada disisi Galen meski saat ini Galen tengah lumpuh.
"Kamu gausah khawatir mas, aku janji akan terus ada di samping kamu dan rawat kamu dengan baik! Tenang ya mas, kamu harus kuat demi Askha dan juga diri kamu sendiri!" bujuk Tiara.
"Tiara, makasih ya atas semua perlakuan baik kamu ke aku selama ini! Aku benar-benar nyesel udah berkhianat dari kamu, harusnya aku bersyukur karena Tuhan memberikan aku seorang istri yang baik dan cantik seperti kamu! Tapi, aku malah bermain api di belakang kamu," ucap Galen.
"Kita tidak usah bahas soal itu dulu ya, mas! Aku tahu kamu masih syok, sekarang kamu harus tenang dulu!" pinta Tiara.
Galen mengangguk perlahan, kini ia merasa lebih lega setelah mendengar kata-kata Tiara tadi. Ya meskipun, Galen tentu masih merasa sedih dengan semua yang ia alami saat ini. Kakinya dalam keadaan lumpuh, dan lalu ia juga masih harus mengurus masalah besar di luar sana mengenai Jessica serta calon anaknya itu.
Disaat yang sama, Nadira muncul dari balik pintu dan masuk ke dalam ruangan itu menemui putranya yang sedang mengalami sakit. Nadira terkejut lantaran melihat Galen sudah sadarkan diri dan kini tengah berpelukan mesra dengan Tiara disana, akhirnya Nadira menghampiri mereka lalu tersenyum menatap wajah Galen dengan penuh arti.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Galen! Setidaknya, dengan begini kamu tidak akan merepotkan Tiara lagi!" cibir Nadira.
Galen tersentak mendengar ucapan mamanya barusan, begitupun dengan Tiara yang langsung bangkit melepas pelukannya dari Galen dan menatap ke arah Nadira dengan bingung. Mereka berdua tak mengerti apa maksud Nadira mengatakan itu, dan mengapa Nadira sampai tega berbicara begitu di depan Galen saat ini.
"Semua sakit yang kamu alami sekarang ini, adalah hasil dari apa yang sudah kamu lakukan terhadap Tiara sebelumnya, Galen. Bahkan, ini saja belum cukup mengobati rasa sakit yang dirasakan Tiara setelah kamu selingkuh di belakangnya!" ujar Nadira.
Deg
Galen sampai tak berkutik dibuatnya saat Nadira mengatakan itu padanya, ia memang sadar kalau semua ini adalah akibat dari perlakuannya kepada Tiara. Ia pun menyesal dan terus melontarkan kalimat maaf kepada Tiara maupun Nadira, karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang untuk bisa menebus semua kesalahan yang ia perbuat.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...