Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 207. Ditemukan


__ADS_3

Hari berganti, Ciara yang hendak pergi ke sekolah untuk mengajar tiba-tiba saja dikejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti di depannya saat ini. Mobil itu seolah sengaja menghalangi jalannya, sehingga Ciara tidak bisa lanjut pergi dan tampak bingung harus melakukan apa.


Ciara sungguh penasaran siapa pemilik mobil di depan itu, apalagi ia merasa kalau dirinya tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun. Namun, kini tanpa diduga ia malah dihadang oleh seseorang yang entah siapa. Ciara pun terus menatap ke arah mobil tersebut, matanya sampai tidak bisa berkedip ketika menantikan pemilik mobil itu muncul.


"Bu, kita berbuat apa sekarang? Mobil itu kelihatannya sengaja menghalangi jalan kita bu," ucap Liam bertanya pada majikannya.


Ciara menggeleng pelan, "Tidak tahu, kita tunggu saja sampai orang itu keluar!" ucapnya singkat.


"Baik bu!" ucap Liam patuh.


Lalu, akhirnya sang pemilik mobil yang sedari tadi ditunggu-tunggu itu muncul juga. Ciara pun terbelalak seketika begitu melihat siapa orang yang keluar dari dalam mobil itu, karena ia tahu betul bahwa itu adalah Davin. Ciara tak mengerti mengapa Davin menemuinya, ia juga bingung apakah ia harus menemui Davin saat ini atau tidak.


"Itu pak Davin, bu. Apa saya turun aja ya buat bicara sama beliau?" tanya Liam.


"Jangan Liam! Ini urusan saya, kamu sebaiknya tunggu disini dan jangan ikut campur! Biar saya yang keluar temui dia, saya yakin dia pasti ada urusan dengan saya!" titah Ciara.


"Tapi bu—"


"Sudahlah Liam, kamu dengarkan saja perintah saya!" Ciara menyela dengan cepat dan tegas.


"I-i-i-iya bu, maaf!" ucap Liam gugup.


Setelahnya, dengan cepat Ciara turun dari mobilnya untuk menemui sosok Davin yang ada di luar sana. Meski ragu, Ciara terpaksa melakukan itu agar ia dapat segera pergi ke sekolahnya. Jika situasinya terus begini, maka Ciara bisa saja terlambat datang ke sekolah dan tidak dapat mengajar muridnya.


"Om, om itu mau apa lagi sih?" Ciara langsung mengajukan pertanyaan itu dengan nada ketus dan berdiri tepat di dekat pamannya.


Davin menyeringai, "Haha, saya cuma mau tanya ke kamu Ciara. Ini sih untuk mastiin aja ya, kenapa gitu kamu cerita semuanya tentang kita ke Cyra anak kamu?" ucapnya.


"Maksud om apa? Saya gak cerita apa-apa tuh ke Cyra," ucap Ciara terlihat bingung.


"Kemarin Cyra bilang ke saya, katanya kamu sudah cerita ke dia kalau saya melecehkan kamu. Benar begitu Ciara?" ucap Davin.


Deg


Ciara tersentak mendengarnya, ia tak mengira jika Cyra memberitahukan semua itu pada Davin kalau ia baru saja menceritakan kejadian masa lalunya bersama Davin. Ciara pun benar-benar kesal dengan tingkah putrinya itu, padahal harusnya Cyra tidak berkata seperti itu di hadapan Davin.


"Kenapa kamu malah diam Ciara? Kamu gak bisa jawab ya? Berarti benar kan kalau kamu sudah menceritakan semua itu ke Cyra?" tanya Davin.


"Iya om, emang aku udah cerita semua ke Cyra. Salahnya dimana? Itu semua kan benar, kamu emang udah lecehin aku kan dulu!" jawab Ciara dengan tegas dan lantang.


Davin menggeleng pelan, "Aku gak ngerti ya sama jalan pikiran kamu, Ciara. Seharusnya kamu itu rahasiakan ini dari anak kamu, bukan malah kamu bongkar ke semuanya. Kalau begini, Cyra jadi salah paham sama aku dan menjauh dari aku!" ujarnya.


"Ya bagus dong om, emang itu yang aku mau. Aku juga gak suka ngeliat Cyra dekat sama om Davin," ucap Ciara.


Pria itu terdiam saat ini, tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya untuk melawan atau mendebat Ciara yang memang sangat ahli dalam membuat lawan bicaranya kebingungan.




"Cyra!"


Sementara itu, Cyra yang baru sampai di area sekolahnya dibuat kaget saat seseorang menyapa dirinya dan menghampirinya. Cyra pun berhenti melangkah kali ini, lalu berbalik dan menatap ke arah sosok pria yang tadi memanggilnya. Setelah dilihat, rupanya Carlo sang ketua osis lah yang ada disana dan tengah tersenyum ke arahnya.


"Eh kak Carlo, iya ada apa kak? Apa aku buat salah ya?" tanya Cyra kebingungan.


"Ahaha, enggak kok Cyra. Kamu gak ada salah apa-apa hari ini, justru aku samperin kamu mau tanya soal kondisi kamu. Kamu baik-baik aja kan setelah aku antar pulang kemarin?" ucap Carlo.


Cyra mengangguk, "Baik kok, emang kamu mikir apa tentang aku coba?" ujarnya.

__ADS_1


"Eee ya aku khawatir aja kalau kamu disamperin lagi sama pak Davin, siapa tau kan dia ngikutin kita sampe rumah kamu?" ucap Carlo.


"Ohh, enggak kok kak. Lagian di rumah aku kan ada mama yang bisa jagain aku!" ucap Cyra.


Carlo merasa senang mendengar jawaban dari Cyra, ia lega karena setidaknya dapat menyelamatkan Cyra kemarin dari cengkraman Davin. Entah kenapa belakangan ini Carlo juga terlihat begitu perduli pada Cyra dan tidak ingin gadis itu terluka, sepertinya Carlo juga sudah mulai terpesona pada Cyra.


Setelah dirasa obrolan mereka cukup, Cyra pun pamit pada Carlo dan berniat kembali ke kelasnya karena sebentar lagi bel akan berbunyi. Selain itu, Cyra juga khawatir kalau akan ada yang salah paham nantinya apabila melihat mereka berdua disana. Apalagi, jika sampai mereka bertemu dengan Davin yang memang sering berjalan di dekat sana.


"Kak, aku duluan ya? Aku mau ke kelas takut keburu bel bunyi, sekali lagi makasih karena kemarin kamu mau anterin aku!" ucap Cyra.


Carlo sedikit kecewa lantaran Cyra justru ingin pergi darinya, padahal tadinya ia berniat mengajak gadis itu ke kantin bersamanya untuk menikmati sarapan atau sekedar mengobrol. Namun, Cyra sudah lebih dulu mengatakan kalau dia akan pergi ke kelas dan membuat Carlo harus mengurungkan niatnya.


"Oh iya gapapa, mau aku antar gak? Kali aja nanti pas ke kelas ketemu pak Davin kan," ucap Carlo.


Cyra menggeleng pelan, "Gausah kak, aku bisa sendiri kok. Pak Davin itu gak mungkin berani macam-macam lagi kok," ucapnya.


"Kamu yakin Cyra?" tanya Carlo tampak ragu.


Cyra pun hanya mengangguk untuk meyakinkan Carlo bahwa kali ini ia akan baik-baik saja, lagipula Cyra tidak ingin merepotkan pria itu lagi karena sudah banyak Carlo membantunya. Meski, sebenarnya Carlo sendiri merasa senang setiap kali bisa membantu Cyra.


"Yaudah, aku ke kelas ya kak?" Cyra kembali pamit pada Carlo sebelum lanjut berjalan.


"I-i-i-iya Cyra..." Carlo tergagap dibuatnya.


Tanpa berlama-lama lagi, Cyra langsung melangkah pergi meninggalkan Carlo dan menaiki tangga menuju kelasnya. Cyra sengaja mempercepat langkahnya kali ini, karena jujur sejak berpapasan dengan Carlo tadi jantungnya terus berdetak kencang lebih dari biasanya. Cyra juga tak tahu apa alasannya, tapi bisa saja semua itu terjadi karena Carlo memang sangat tampan.


"Haish, perasaan aku kenapa begini banget ya? Kayak gak pernah lihat cowok ganteng aja, masa harus deg-degan kayak gini mulu tiap deketan sama kak Carlo?" gumam Cyra dalam hatinya.




Tiara tampak sangat panik kali ini ketika Galen membawanya pergi entah kemana, apalagi mobil yang pria itu kendarai melaju sangat kencang. Tiara benar-benar bingung, pasalnya ia khawatir kalau Galen akan melakukan tindakan yang buruk padanya.


Galen hanya tersenyum ke arahnya tanpa menjawab apapun, ia sengaja menambah kecepatan mobilnya untuk membuat Tiara semakin cemas dan ketakutan kali ini. Galen juga menunjukkan raut yang mengerikan ketika Tiara menatap wajahnya, pria itu seperti telah kehilangan akal sehatnya dan sampai melupakan resiko yang bisa terjadi nantinya.


"Mas, udah dong mas stop! Aku takut banget ini, kamu kenapa tega banget sih sama aku? Gini-gini aku juga ibu dari anak kamu loh, berhenti mas!" rengek Tiara.


"Kamu mau aku berhenti, hm? Tandatangani dulu surat perjanjian yang menyatakan kamu setuju kalau Askha akan tinggal sama aku," ucap Galen.


"Apa??" Tiara terbelalak mendengarnya.


Tentu saja Tiara tak akan pernah mau menyetujui perkataan Galen tadi, bagaimanapun Tiara tidak mungkin bisa berjauhan dari putranya yang sangat ia sayangi itu. Namun, Tiara juga bingung harus bagaimana caranya untuk bisa lepas dari bahaya yang saat ini mengancamnya.


"Mas, kamu jangan gila deh! Aku gak bakalan mau tandatangani surat semacam itu, lagian Askha juga udah besar mas, dia berhak nentuin mau tinggal sama aku atau kamu!" ucap Tiara.


"Gak juga, asalkan kita sama-sama sepakat bisa dong Askha tinggal sama aku," ucap Galen.


Tiara sudah tak tahu lagi harus mengatakan apa pada mantan suaminya itu, sikap Galen memang keras kepala dan sulit diberitahu. Rasanya Tiara juga sangat pusing meladeni kelakuan pria itu, padahal saat ini diantara mereka sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Tetapi, Galen masih saja mencari gara-gara di dalam hidupnya.


"Aku gak mau tanda tangan apapun, mas. Kamu berhenti sekarang, atau aku bakal loncat dari mobil ini!" ucap Tiara mengancam.


Galen menyeringai, "Ck, kamu susah banget dibilangin ya?" ujarnya tampak kesal.


Galen menambah kecepatan mobilnya agar Tiara semakin merasa ketakutan, tapi tanpa diduga sebuah motor muncul dari gang dan masuk ke jalan utama yang membuat Galen terkejut. Sontak Galen reflek menginjak rem untuk mencegah terjadinya tabrakan, sehingga Tiara sangat syok.


Ciiittt


"Haaaahh haaaahh....." Tiara menghela nafasnya dan mengusap dadanya kali ini, ia sungguh cemas karena mobilnya nyaris menabrak pemotor.

__ADS_1


"Tuh kan mas, apa aku bilang tadi? Kamu sih ngeyel banget jadi orang, hampir aja kita nabrak tuh pemotor! Mending sekarang kamu keluar, kasihan itu dia jatuh karena kaget!" ucap Tiara.


"Yah elah, dia akting doang itu mah! Kena aja kagak, masa jatuh sih?" ucap Galen.


"Ck, mas buruan keluar! Nanti kalo keduluan warga bisa gawat, kamu harus bantu orang itu sekarang!" titah Tiara.


"Iya iya, kamu diem disini ya jangan kemana-mana!" ucap Galen.


Tiara mengangguk saja mengikuti perintah Galen, meski ia memiliki rencana untuk bisa kabur dari sana selagi Galen menemui pemotor itu. Namun, matanya terbelalak lebar ketika melihat si pemotor melepas helmnya dan menunjukkan wajahnya. Tiara sungguh terkejut, karena ternyata yang ada di depan sana adalah Askha alias putranya.


"Askha? Iya itu kan Askha!" ujarnya benar-benar syok dan panik.




Galen yang keluar dari mobil, kini berjalan mendekat ke arah si pemotor yang tergeletak di jalan karena nyaris bertabrakan dengannya itu. Galen pun berhenti tepat di dekatnya, lalu mengulurkan tangan ke arahnya sambil tersenyum.


"Hey, kamu gapapa?" tanya Galen pada si pemotor.


Pemotor itu menggeleng, kemudian melepas helm di kepalanya dan memperlihatkan wajahnya kepada Galen. Saat itu juga Galen terkejut, ia tak menyangka kalau ternyata pemotor yang nyaris ia tabrak itu adalah anaknya alias Askha yang selama ini ia ributkan bersama mantan istrinya.


"Askha, ternyata kamu. Ma-maaf ya Askha, papa gak lihat kamu tadi pas keluar gang! Sini sini papa bantu kamu!" ucap Galen yang langsung panik.


"Gausah pa!" dengan cepat Askha menepis tangan papanya itu yang hendak menyentuhnya.


Askha pun bangkit dengan sendirinya, ia tatap wajah papanya itu dengan tajam seolah menunjukkan kekesalan di dalam dirinya. Galen tampak bingung kali ini, tak mengerti mengapa putranya terlihat begitu emosi padanya. Galen pun mengira jika itu semua terjadi karena ia nyaris menabrak Askha, meski ia belum yakin pasti apa penyebabnya.


"Pa, mama dimana? Aku yakin papa pasti tau kan?" tanya Askha dengan tegas.


Galen terdiam seketika, matanya membulat lebar dan tak percaya kalau putranya justru menanyakan mengenai mamanya yang sudah lama tidak pulang ke rumah. Galen sungguh bingung, sebab tak mungkin ia berkata jujur pada Askha kalau saat ini Tiara ada bersamanya.


"Askha!" tiba-tiba saja, Tiara yang diminta menunggu di mobil justru keluar dari mobil dan kini memanggil putranya dengan lantang.


"Hah mama??" sontak Askha menoleh ke asal suara, dengan cepat ia bergerak menghampiri mamanya itu walau kondisi kakinya terasa sakit.


"Askha, udah udah jangan maju lagi! Biar mama aja yang deketin kamu," pinta Tiara.


Akhirnya Tiara bergerak mendekati putranya dan langsung memeluknya dengan erat, ia senang sekaligus sedih karena dapat bertemu dengan Askha disana saat ini. Rasa sedihnya tentu berasal dari kondisi kaki Askha yang terluka akibat tertimpa badan motor, tapi ia juga senang lantaran Askha saat ini ada di hadapannya.


"Mama senang banget bisa ketemu lagi sayang, mama kangen sama kamu!" ucap Tiara.


"Iya ma, aku juga senang ketemu sama mama sekarang. Selama ini aku cariin mama kemana-mana loh," ucap Askha.


"Maafin mama ya sayang, mama gak bisa apa-apa karena papa kamu itu!" ucap Tiara.


Tiara melirik ke arah Galen, saat itu juga Galen merasa panik karena ia khawatir Askha akan berbuat sesuatu yang tidak-tidak padanya. Apalagi, sekarang Askha telah mengetahui bahwa selama ini Tiara ada bersamanya. Galen pun berpaling ke arah lain, seolah berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Jadi benar dugaan aku, selama ini mama ada sama papa?" ucap Askha begitu emosi.


Askha langsung melepaskan pelukannya dan beralih menatap Galen, tangannya sudah terkepal akibat pengakuan mamanya tadi. Namun, Tiara mencegah putranya itu dengan mencekal lengannya karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


Terpaksa Askha menuruti kemauan mamanya, ia pun hanya berbicara dari tempatnya dan tidak jadi mendekati sang ayah. Meski begitu, tetap saja emosi di dalam dirinya mencuat kali ini. Askha tak senang dengan kelakuan papanya, apalagi ia sangat menyayangi mamanya itu.


"Pa, kenapa papa ngelakuin ini ke mama? Apa maksud papa culik mama, ha? Gak puas papa udah sakitin aku dan mama selama ini?" tanya Askha.


Deg


Galen tersentak, apa yang dikatakan putranya itu sungguh melukai hatinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2