
Galen benar-benar terkejut ketika satu tembakan yang mengarah ke tubuhnya hanyalah sebuah peluru angin, sontak pria itu menatap wajah pamannya dan tersenyum menyeringai penuh kepuasan. Kini Galen tak perlu lagi merasa khawatir, sebab senjata yang digunakan mereka bukanlah senjata asli, dan Galen akan bisa menghadapi pasukan pamannya itu walau jumlah mereka lebih banyak dibanding dirinya.
Tentu saja Davin sangat kesal kali ini, apa yang dilakukan salah seorang anak buahnya tadi adalah sebuah kesalahan besar. Ya orang itu tidak sengaja menembak tubuh Galen saat terpancing emosinya, sehingga akhirnya Galen mengetahui bahwa isi peluru di dalam senjata itu hanya peluru kosong dan tidak perlu ditakuti olehnya.
"Hahaha, ternyata om Davin itu gak modal ya? Bisa-bisanya om pake senjata dengan peluru kosong kayak gini, terus sekarang gimana coba caranya om buat tangkap saya?" ledek Galen.
Davin terdiam membisu, ia benar-benar malu dan mencoba menahan emosinya saat ini. Sedangkan Surya serta pasukannya terlihat tidak lagi menodongkan senjata ke arah Galen karena dianggap percuma, mereka semua kini kebingungan harus bagaimana untuk bisa menangkap Galen dan membawanya masuk ke rumah itu.
"Kamu jangan terlalu berlagak sombong begitu, Galen! Ingat, kamu disini cuma sendiri dan kami ada lima belas orang! Dengan jumlah kami yang sebanyak ini, kami tidak perlu menggunakan senjata asli untuk menangkap kamu!" ucap Surya.
Davin menyeringai, "Benar itu, lebih baik kamu menyerah saja Galen atau kami akan habisi kamu disini saat ini juga!" ucapnya.
"Walau sebanyak apapun jumlah kalian, saya tetap tidak takut dan akan menghadapi kalian semua demi adik saya! Kalian sudah menipu saya, itu artinya kalian harus mendapat pelajaran!" geram Galen.
"Kamu bisa lakukan apa, Galen? Kamu hanya sendiri, paling-paling kamu akan menjadi bulan-bulanan kami disini!" tantang Davin.
"Hahaha..." semua disana menertawakannya, tetapi tak membuat Galen gentar sama sekali.
"Siapa bilang dia sendiri?" tiba-tiba saja suara lelaki terdengar di telinga mereka, sontak semua disana langsung menoleh ke asal suara dan sama-sama terkejut ketika melihat keberadaan Terry.
"Pak Terry?" Galen tersentak kaget, seolah tak percaya jika Terry bisa berada disana.
"Siapa kamu? Dan mau apa kamu datang kesini?" tanya Davin dengan tegas.
Terry hanya tersenyum sembari merapihkan bajunya, tak lama kemudian dua orang anak buah Surya muncul dengan kondisi terluka dan nafas yang terengah untuk menghadap pada Davin. Sontak baik Surya maupun Davin kompak terkejut ketika melihat anak buah mereka terluka, padahal mereka tak mengetahui jika ada perkelahian tadinya.
"Hah? Ada apa ini? Kenapa kalian bisa terluka seperti ini?" tanya Surya pada dua anak buahnya.
"Ampun tuan! Kami tadi berusaha menghalangi orang ini agar tidak masuk, tetapi dia berhasil mengalahkan kami, tuan!" jawab mereka.
"Apa? Dasar payah!" geram Surya.
Davin kini beralih menatap Terry seolah menantangnya, "Siapapun kamu, lebih baik kamu pergi sebelum kamu babak belur di tangan kami!" ucapnya lantang.
"Saya hanya akan pergi, jika kalian mau membebaskan pak Galen. Kalau tidak, maka saya akan tetap disini dan membantu pak Galen untuk menghadapi kalian semua!" ucap Terry.
__ADS_1
"Kurang ajar! Serang dia!" ucap Davin memberikan perintah.
Tanpa basa-basi lagi, para pasukan Davin disana langsung menyerang ke arah Terry dengan tangan kosong. Jumlah mereka cukup banyak dan menyulitkan bagi Terry tentunya, tetapi pria itu tetap berusaha untuk melawan mereka walau harus mengalami kesulitan.
Sementara Galen menatap dari tempatnya ketika melihat Terry dikeroyok oleh orang-orang itu, ingin sekali ia membantunya, namun tangannya dicekal oleh Davin yang sengaja menahannya untuk tetap disana. Tentu saja Galen menggeram kesal, ia menepis tangan pamannya dan bersiap berkelahi dengan Davin serta Surya sekaligus.
"Kamu mau kemana Galen? Urusan kita belum selesai, lebih baik kamu hadapi saya dan biarkan teman kamu itu mati di tangan anak buah saya!" ucap Davin terkekeh.
"Banyak omong!" kesal Galen.
Akhirnya Galen langsung menyerang Davin secara membabi buta, pertarungan pun tidak dapat dihindarkan lagi disana. Galen kali ini benar-benar emosi dan seperti berniat untuk membunuh pamannya itu, tentu saja semuanya karena Galen begitu perduli pada Ciara, adiknya tercinta.
•
•
Disisi lain, Ciara bersama Libra telah sampai di lokasi tempat gadis itu diculik sebelumnya. Sontak gadis itu langsung mengajak sang paman untuk turun dan segera memeriksa kondisi disana, mereka berdua pun turun secara bersamaan, disusul juga oleh Gavin yang ada di belakang mereka.
Betapa syoknya Ciara ketika ia melihat dua mobil terparkir di depan sana, terlebih ia mendengar suara perkelahian dari arah rumah tersebut. Ciara pun sangat panik, ia khawatir kalau itu adalah perkelahian antara kakaknya dengan Davin dan ia tidak mau itu semua terjadi.
"Iya Ciara, aku juga lihat kok. Tapi, kamu gak perlu khawatir ya! Aku akan masuk buat cek semuanya, kamu disini aja sama mas Gavin ya!" ucap Libra menenangkan sembari memegang pundak Ciara.
Ciara menggeleng, "Gak om, aku juga mau ikut masuk kesana!" ucapnya meminta.
"Ini berbahaya Ciara, sebaiknya kamu tetap disini dan tunggu keadaan sampai aman!" pinta Libra.
Gavin pun mendekati mereka dan ikut berbicara, "Iya sayang, tunggu sebentar saja ya? Papa juga sudah hubungi polisi, mereka sedang dalam perjalanan menuju kesini," ucapnya pelan.
"Tuh, kamu dengar kan kata papa kamu? Tunggu disini aja, jangan kemana-mana!" ucap Libra.
"Iya om, tapi om hati-hati ya!" ucap Ciara.
Libra mengangguk perlahan, "Pasti!" ucapnya singkat seraya mengusap wajah gadis itu.
Setelahnya, Libra berjalan cepat menuju rumah besar tersebut untuk memastikan apa yang terjadi disana. Sedangkan Ciara menunggu di tempat bersama papanya, meski gadis itu terus merasa cemas pada kondisi sang kakak. Ya Ciara sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana kondisi kakaknya, sebab hingga kini ia belum bisa tahu seperti apa keadaan Galen di dalam sana.
__ADS_1
"Ciara, sudah ya jangan panik begitu! Galen dan Libra pasti akan baik-baik saja, kamu hanya perlu doakan mereka sekarang!" ucap Gavin.
Gadis itu pun mengangguk perlahan, lalu Gavin mulai mendekatinya dan memeluknya untuk membuat putrinya lebih tenang agar tidak terus memikirkan kakaknya. Biar bagaimanapun, Gavin sangat menyayangi Ciara seperti putri kandungnya sendiri, walau ia tahu Ciara bukanlah darah dagingnya.
"Sekarang kamu disini dulu, papa mau coba kabarin Tiara. Tadi papa lupa untuk telpon dia dan minta dia ke rumah temani mama kamu, sebentar ya sayang?" ucap Gavin.
"Iya pa," singkat Ciara lirih.
Gavin berbalik mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Tiara, hal itu dimanfaatkan oleh Ciara untuk berlari menyusul Libra menuju rumah besar itu. Ciara sudah tak tahan lagi, ia sangat khawatir pada kondisi kakaknya dan ingin tahu seperti apa dia saat ini. Tentunya Gavin tak menyadari itu, sebab pria itu sedang asyik menghubungi nomor Tiara.
Kini Ciara berjalan mendekati pagar rumah yang besar itu, suasana disana sangat sepi dan hampir tidak ada siapapun yang lewat. Memang Davin serta Surya sengaja mencari tempat yang sepi seperti itu untuk bisa melancarkan aksi mereka, namun Ciara sama sekali tak takut karena yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara untuk menyelamatkan kakaknya dari dalam sana.
"Duh, om Libra kayaknya udah masuk ke dalam deh. Apa aku susul dia aja ya? Aku cemas banget sama kak Galen, aku harus pastikan sendiri kalau dia baik-baik aja!" gumam Ciara.
Perlahan Ciara mulai membuka pagar yang memang tidak dikunci itu, ia mengintip ke dalam dan langsung terkejut ketika melihat Libra sudah bertarung dengan cukup banyak orang disana bersama Terry yang ternyata juga ikut berada di tempat itu. Padahal sebelumnya Terry sudah pamit akan pulang ke rumahnya.
"Pak Terry, om Libra? Aku harus bantu mereka, aku gak bisa diam aja!" ucap Ciara lirih yang mulai mencari cara untuk membantu kedua pria itu.
Bruuukkk
Baru saja Ciara hendak mengambil senjata, tiba-tiba satu orang anak buah Surya sudah tergeletak di depannya akibat terkena pukulan Libra. Sontak Ciara menjadi panik, terlebih saat orang itu menatapnya sembari tersenyum tipis. Ciara mencoba mundur dan pergi dari sana, tetapi orang itu berhasil bangkit lalu mengejar serta menangkapnya.
"Hayo mau kemana? Kamu gak bisa kabur lagi dari sini, kamu harus ikut saya!" ucap orang itu.
"Aaaaa gak mau, lepas! Aku gak mau!" Ciara berteriak keras sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan orang itu.
Suara teriakan Ciara barusan membuat Terry yang sedang berkelahi menjadi tidak fokus, pria itu melirik ke arah pagar dan melihat Ciara sedang ditangkap oleh seseorang disana. Tentu saja Terry tampak panik, ia berteriak memanggil Ciara dan tanpa sadar salah seorang anak buah Davin melayangkan tendangan keras ke arah punggungnya.
"CIARA!!" teriak Terry dengan lantang dan panik.
Bugghhh
Saat itu juga, Terry terjatuh ke jalan akibat menerima tendangan tiba-tiba itu. Terry masih bisa membuka matanya meski harus menahan sakit, ia terus menatap Ciara seakan ingin membantunya. Namun, kemudian anak buah Davin yang lain mendekatinya dan menginjak tubuhnya sembari terus memukulinya hingga tak sadarkan diri.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...