
Berhari-hari setelah mengetahui bahwa mama dan papanya resmi bercerai, hidup Cyra makin tak karuan dan terus diselimuti kesedihan serta rasa kecewa yang amat sangat. Bahkan saat sendiri, Cyra terus saja menangis dan sulit baginya untuk bisa hidup normal seperti dulu lagi. Selama ini yang ia inginkan hanyalah kelengkapan keluarganya, tapi sekarang semua itu pupus sudah setelah mama papanya berpisah entah karena masalah apa.
Cyra seringkali melamun di dalam kelasnya saat pelajaran dimulai, bahkan nilai mata pelajarannya pun mendadak menurun dan jauh berbeda dibanding sebelumnya. Apalagi ketika tes kelulusan tiba, hasil yang didapat Cyra sungguh di luar dugaan dan sangat tidak memuaskan. Padahal, dulunya gadis itu merupakan juara di kelasnya dan berulang kali mendapat ranking satu pada setiap mata pelajaran.
Kini gadis itu tengah berada di dalam ruang BK, ia bersama dengan bu Melia yang dikenal sebagai guru BK di sekolahnya. Tentu saja pemanggilan ini bertujuan untuk membahas mengenai penurunan nilai yang dialami oleh Cyra, ya Melia terlihat bingung dan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Pasalnya, nilai yang didapat Cyra sungguh jauh berbeda jika dibanding nilai-nilai sebelumnya.
"Cyra, kamu pasti tau kan kenapa saya panggil kamu kesini?" ucap Melia yang diangguki oleh Cyra, saat ini gadis itu tepat terduduk di hadapannya.
Sebenarnya Cyra amat malas untuk datang kesana menemui gurunya itu, sebab ia yakin sekali kalau bu Melia hanya akan menasehatinya tanpa tau bagaimana perasaannya saat ini. Cyra sangat sedih dan kecewa pada kedua orangtuanya, itulah alasan kenapa belakangan ini ia selalu melamun di dalam kelas dan tidak pernah fokus belajar.
"Sudah banyak laporan yang masuk ke saya dari guru-guru yang mengajar disini, mereka semua cerita kalau kamu selalu melamun di setiap pelajaran mereka. Sebenarnya ada apa Cyra? Kenapa kamu jadi begini?" ujar bu Melia.
"Eee saya cuma gak bisa fokus aja bu, susah rasanya buat saya fokus dengerin penjelasan mereka. Apalagi, kadang cara mengajar mereka itu bikin saya ngantuk," bohong Cyra.
Melia mengernyitkan dahinya, "Kenapa baru sekarang kamu bilang begitu, Cyra? Biasanya kamu nyaman-nyaman aja tuh diajar sama mereka, bahkan kamu selalu berhasil dapat ranking satu di kelas. Kamu jujur aja sama saya, ada apa!" ucapnya.
"Gak ada kok bu, ya mungkin kemampuan saya aja yang berkurang kali," ucap Cyra.
Cyra tampaknya tak mau berkata jujur kepada guru BK itu, ia ragu kalau bu Melia bisa memberi solusi yang tepat padanya. Lagipula, ia tak mau menjadi bahan olok-olokan teman sekolahnya jika mereka semua tahu bahwa saat ini orangtuanya sudah berpisah. Meski begitu, terlihat jika bu Melia tak percaya begitu saja pada perkataan muridnya.
"Cyra, saya yakin pasti ada sesuatu penyebab yang bikin kamu jadi seperti ini. Kenapa kamu gak mau jujur sama saya, hm?" ucap bu Melia.
Cyra hanya diam dan memalingkan wajahnya, ia tak tahu harus menjawab apa karena hatinya saat ini terasa begitu sakit akibat perceraian kedua orangtuanya. Jika ia harus berkata jujur kepada bu Melia, pastinya rasa kecewa di dalam dirinya akan semakin terbakar dan membuatnya tidak bisa tenang dalam menjalani hidup.
"Yaudah, kalau gitu saya minta ketemu sama orang tua kamu. Ini dia surat panggilannya, tolong sampaikan ke mereka ya! Saya tunggu mereka besok disini," ucap Melia.
Deg
Cyra tersentak mendengarnya, tentu tak mungkin ia memberikan surat itu kepada mama atau papanya yang saat ini sudah bercerai dan tidak lagi tinggal serumah. Terlebih, Cyra masih sangat kecewa pada mereka.
•
•
Ciara tak sengaja bertemu dengan Davin saat ia sedang hendak membeli sesuatu di minimarket, sontak Ciara reflek menghindar dan pergi ke arah yang berlawanan dengan Davin. Akan tetapi, usahanya itu gagal karena Davin lebih dulu melihat keberadaannya dan mengejar wanita itu serta mencekal lengannya dengan kuat.
"Ciara, tunggu sebentar! Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, please!" teriak Davin.
__ADS_1
Akhirnya Ciara terpaksa menurut dan tidak berontak lagi dari cengkraman pria itu, ya karena Ciara pun penasaran apa kiranya yang hendak disampaikan Davin kali ini. Apalagi, nada suara Davin seolah menunjukkan ada sesuatu yang penting dan membuat Ciara begitu penasaran.
"Okay, apa yang mau kamu bicarakan? Gausah bertele-tele, kamu katakan aja semuanya sekarang!" ucap Ciara dengan tegas.
Davin tersenyum dibuatnya, "Ya Ciara, ini semua tentang anak kamu, Cyra. Asal kamu tau, Cyra sekarang sedang ada banyak masalah di sekolah. Kalau kamu gak segera bertindak, masalahnya bisa semakin besar!" ucapnya.
Deg
Ciara terkejut dan spontan menatap wajah Davin dengan serius, ia sangat penasaran apa masalah yang dialami putrinya sampai Davin harus berkata seperti itu padanya. Padahal, sebelumnya Ciara tak pernah mendengar apapun mengenai permasalahan Cyra di sekolahnya dan ia mengira jika Cyra selalu ada dalam kondisi yang baik-baik saja.
"Apa yang kamu maksud? Masalah apa yang dialami Cyra, ha?" tanya Ciara tampak penasaran.
"Belakangan ini Cyra selalu menyendiri, bahkan dia tidak pernah mau keluar kelas dan bergaul dengan yang lainnya. Dia juga sering melamun saat pelajaran, sampai nilai dia menurun drastis. Ini sangat bahaya Ciara, jika terus begini maka akan berdampak fatal pada Cyra nantinya. Sebentar lagi ujian kelulusan akan dilaksanakan, kalau kamu belum bisa tenangkan Cyra, maka akan sangat sulit buat Cyra untuk lulus dari ujian itu," jelas Davin.
"Apa??" Ciara benar-benar terkejut dan tak menyangka dengan apa yang dikatakan Davin barusan.
Davin menganggukkan kepalanya, ia lepas lengan Ciara begitu saja dan berjalan menjauhi wanita itu. Davin merasa jika ini semua ada kaitannya dengan perceraian antara Ciara dan Libra, itulah yang menyebabkan Cyra mengalami penurunan nilai dan selalu melamun di setiap pelajaran.
"Saya bisa menebak mengapa semua itu bisa terjadi pada Cyra, pasti ini karena perceraian kamu dan Libra kan. Kamu tenang aja Ciara, saya bisa bantu kamu menjelaskan ke Cyra kok!" ucap Davin.
"Jangan lakukan apapun, om! Aku gak mau sampai Cyra tau semuanya," sentak Ciara.
Ciara menggeleng, "Enggak, aku gak mau lakuin itu. Gak mungkin juga aku bilang semuanya ke dia, nanti dia bisa benci sama ayahnya sendiri!" ucapnya.
"Ya biarin aja, itu resiko yang harus diambil Libra karena dia sudah berkhianat dari kamu. Daripada Cyra terus salah paham kayak gini, kamu sendiri yang repot kan," ucap Davin.
"Udah deh om, om Davin gak perlu repot-repot urusin masalah aku lagi!" pinta Ciara.
Davin menggeleng tak mengerti mengapa Ciara berkata seperti itu padanya, niatnya untuk membantu wanita itu justru dianggap sebagai sebuah pengganggu olehnya. Bahkan, Ciara juga meminta padanya untuk pergi menjauh dari keluarganya dan berhenti mengganggunya. Tentu Davin sangat bingung, pasalnya ia tak mungkin bisa melakukan semua itu.
"Sampai kapanpun, saya tetap akan membantu kamu Ciara. Kalau kamu melarang saya sekarang, baiklah saya gak akan paksa kamu lagi untuk mengizinkan saya berbicara dengan Cyra. Tapi, saya masih punya banyak rencana," ucap Davin tegas.
"Om, kenapa om susah banget dikasih tau sih? Aku kan udah bilang, jangan ikut campur lagi ke dalam masalah keluarga aku!" ucap Ciara.
"Saya gak perduli," singkat Davin sambil menyeringai dan melangkah pergi.
Saat Ciara hendak mengejarnya, ia justru tersandung dan terjatuh membentur lantai sehingga ia gagal untuk menahan kepergian lelaki itu.
__ADS_1
•
•
Cyra tengah berjalan di lorong sekolahnya sambil membawa sepucuk surat yang diberikan bu Melia padanya tadi, ia masih bingung dan tak tahu harus melakukan apa pada surat tersebut. Jika ia menyerahkan itu kepada mamanya, maka semua masalah yang terjadi padanya saat ini bisa diketahui oleh mamanya itu. Ya Cyra tak mau itu terjadi, karena pasti akan membuat mamanya merasa sedih dan cemas dengan dirinya.
"Duh, aku harus apain surat ini ya? Aku gak mau ganggu mama untuk saat ini, karena pasti mama lagi sedih banget setelah pisah dari papa," gumamnya lirih.
"Cyra!" tiba-tiba saja, pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang yang membuatnya terkejut.
Cyra sontak menoleh ke arahnya, ia merasa lega ketika Rachel lah yang tadi menepuknya dan kini berdiri di dekatnya. Namun, Cyra sangat kesal karena sohibnya itu baru saja membuatnya terkejut dan nyaris jantungan. Akibatnya, Cyra memukul lengan Rachel dengan kasar untuk melampiaskan kekesalan yang ia rasakan saat ini.
"Ish Rachel, kamu tuh bener-bener nyebelin ya! Aku pikir tadi orang yang punya niat jahat loh, emang dasar sahabat ngeselin!" geram Cyra.
"Hehe, sorry Cyra sorry! Btw lu udah selesai temuin bu Melia?" tanya Rachel.
Cyra mengangguk pelan, "Udah, tapi sekarang aku lagi bingung banget nih. Orang tua aku dipanggil sama bu Melia, nih terus dia kasih aku surat buat panggil mereka besok," jawabnya.
"Hah? Waduh, berarti parah juga ya masalah lu! Emang ada apa sih Cyra, kenapa lu jadi sering ngelamun kayak gitu?" ucap Rachel.
"Eee...." Cyra terlihat ragu untuk menjawabnya.
Kali ini justru Cyra melangkah perlahan menjauh dari sahabatnya, ia membuang surat di tangannya ke dalam tempat sampai dan kembali menatap wajah Rachel disana. Tentu saja apa yang dilakukan Cyra sangat membuat Rachel terkejut, Rachel pun mendekat dan coba bertanya pada Cyra mengapa ia malah membuang surat itu.
"Loh kok dibuang sih Cyra? Bukannya itu surat dari bu Melia buat ortu lu? Kenapa malah dibuang?" tanya Rachel penasaran.
"Aku gak bisa kasih surat itu ke mama atau papa aku, mereka sekarang lagi ada masalah berat. Aku gak mau surat ini bikin mereka tambah pusing nanti," jelas Cyra.
"Ohh, gue ngerti sekarang kenapa lu sering ngelamun. Pasti karena lu mikirin orang tua lu itu kan?" tebak Rachel.
Cyra mengangguk membenarkan tebakan Rachel barusan, ia memang tak bisa mengelak karena semua yang dikatakan Rachel adalah benar. Sampai saat ini, Cyra masih tidak percaya kalau kedua orangtuanya itu telah berpisah. Bahkan karena itu, ia sampai tidak bisa tenang dan terus saja merasa sedih serta kecewa.
Rachel seketika ikut merasa sedih setelah tahu apa yang menjadi penyebab sahabatnya sering melamun, dengan cepat ia mendekat dan lalu memeluk Cyra sambil mengusapnya lembut. Rachel tahu kalau Cyra saat ini pasti merasa sangat sedih, apalagi semua itu menyangkut orang tua dan keluarganya.
"Yang sabar ya Cyra, gue bakal selalu temenin lu kok dan bantu lu kapanpun dibutuhkan!" ucap Rachel.
"Thanks ya Rach!" balas Cyra.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...