
Waktu demi waktu berlalu, hari ini tibalah saatnya Ciara pergi berkemah bersama teman-teman satu sekolahnya sesuai yang sudah dikatakan oleh para wali kelas mereka sebelumnya. Ciara pun diantar oleh sang paman sampai ke tempat berkumpul, sebelum nantinya mereka semua akan berangkat bersamaan dengan bus yang disewa pihak sekolah. Tentu saja Ciara tampak amat bahagia, sebab baru kali ini ia bisa merasakan camping.
Libra pun menghentikan mobilnya tepat di area berkumpul itu, ia menatap wajah Ciara yang tengah asyik memandang sekeliling sambil tersenyum. Jujur Libra tak bisa berpisah dari gadis itu, apalagi dalam waktu yang lumayan lama. Namun, tak mungkin Libra sampai tega melarang Ciara untuk mengikuti kegiatan itu karena sekarang saja gadis itu sudah sangat antusias dan tidak sabar ingin segera tiba di lokasi kemah nanti.
"Sayang, beneran ini kamu gak mau om aja yang antar kamu sampai ke lokasi kemah? Om khawatir loh sama kamu, kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" tanya Libra memastikan.
Ciara beralih menatap pamannya itu dan tersenyum, ia juga menggenggam satu tangan sang paman sembari mengusapnya. Diperlakukan seperti itu, sontak saja Libra semakin merasa sulit untuk melepaskan Ciara kali ini. Apalagi Libra akui kalau memang dirinya sudah mulai kecanduan dengan wajah cantik ponakannya itu, hanya saja hingga kini ia belum berani mengungkapkan secara langsung kepada Ciara bahwa ia sangat mencintainya.
"Om tenang aja, aku kan gak pergi sendiri! Aku sama teman-teman aku dan banyak lagi, ada para guru juga kok yang bisa jagain aku. Udah ya om gausah khawatir, lagian aku kan cuma pergi tiga hari om!" ucap Ciara menenangkan.
"Ah iya sih, tapi tetap aja om khawatir. Emang gak boleh apa ya kalau om ikut sama kamu?" ujar Libra.
Ciara mengernyitkan dahinya, "Ikut gimana maksud om? Om mau kemah bareng sama aku dan yang lain gitu?" tanyanya keheranan.
Libra mengangguk tanpa ragu, "Iya begitu, biar om bisa jaga kamu secara langsung," jawabnya.
Bukannya menjawab, Ciara justru terkekeh mendengar ucapan pamannya barusan dan membuat Libra merasa heran. Gadis itu sepertinya tak menyangka jika Libra begitu khawatir padanya, padahal ia sudah mengatakan jika dirinya pasti aman karena selama disana ia akan bersama teman-teman dan juga para guru.
"Kenapa kamu malah ketawa? Emang apa coba yang lucu, hm? Om ini serius loh, om khawatir sama kamu Ciara. Apalagi om kan diminta buat jagain kamu," ucap Libra tegas.
"Iya om aku ngerti, tapi gak kayak gini juga kali," ucap Ciara terkekeh.
Libra mendekat dan menangkup wajah Ciara secara tiba-tiba, hal itu sontak membuat Ciara terkejut apalagi Libra menatapnya sangat tajam. Tampaknya pria itu benar-benar serius kali ini, sehingga Ciara hanya bisa diam melongok memandangi wajah sang paman yang sungguh tampan. Ciara sampai salah fokus dibuatnya, entah mengapa dari posisi sedekat ini membuat Ciara begitu dapat menyadari bahwa pamannya itu memang sangat tampan.
"Okay, om gak akan maksa buat temenin kamu disana. Om cuma minta sama kamu buat jaga diri, terus juga jangan lupa kabarin om!" ucap Libra.
Ciara mengangguk perlahan, "Iya om, aku paham. Om tenang aja ya!" balasnya.
Selanjutnya Libra tersenyum, perlahan ia mendekati wajah Ciara sampai diantara mereka hampir tidak ada jarak. Jantung Ciara berdegup sangat kencang kali ini, gadis itu benar-benar gugup terlebih saat Libra membisikkan sesuatu di telinganya dan meminta hadiah sebelum perpisahan mereka. Ciara langsung terbelalak dengan lebar, tubuhnya merinding seketika dan nafasnya tak karuan.
"Boleh ya, om minta bibir kamu ini sebagai hadiah terakhir sebelum kita berpisah? Cukup kali ini kok, setelahnya kita gak akan melakukan ini lagi. Om janji sama kamu!" bujuk Libra.
__ADS_1
Entah setan apa yang merasukinya, Ciara justru mengangguk setuju pada permintaan pamannya itu. Tentu saja Libra terlihat sangat senang, pria itu dengan cepat mulai menyatukan bibir mereka dan memainkan lidahnya di dalam sana. Tak lupa juga Libra menahan tengkuk gadis itu, supaya penyatuan itu lebih dalam dan semakin panas tentunya.
•
•
Setelah ciuman panasnya dengan sang paman di dalam mobil tadi, kini Ciara sudah berada di dalam bus bersama teman-temannya. Ia duduk berdua dengan Anin yang merupakan sahabat sejatinya, sedangkan Cleo ada di barisan sebelahnya bersama temannya yang lain. Mereka semua terlihat cukup bahagia dan terus bernyanyi sepanjang jalan, hanya saja Ciara masih lebih banyak diam memikirkan kejadian tadi seolah tak percaya.
Ya bayangan mengenai ciuman Libra tadi berhasil mengusik pikirannya, baru kali ini Ciara merasakan nikmat saat berciuman dengan lelaki dan bahkan ia sampai tidak ingin itu berakhir. Namun, Ciara tetap saja merasa bersalah atas apa yang ia lakukan tadi. Menurutnya, semua itu tidak benar dan harusnya ia tak melakukan itu bersama pamannya.
"Duh, kok tadi aku malah setuju ya sama permintaan om Libra? Sekarang kan semuanya jadi repot, aku malah jadi makin susah buat lupain dia. Terus ciuman tadi juga bikin aku bingung, gimana ya cara menjauh dari om Libra?" gumam Ciara dalam hati.
Anin yang berada di sebelahnya tampak kebingungan saat menyadari Ciara terus melamun, ia pun memutuskan menggodanya untuk mencari tahu apa penyebab gadis itu terdiam. Ya Anin dengan tingkah usilnya, mencolek wajah serta dagu Ciara yang sedang melamun sembari bersandar ke dekat jendela itu. Sontak saja Ciara terkejut, lalu menoleh ke arah Anin dengan tatapan kaget.
"Ish, kamu ngapain sih kayak gitu Anin? Hampir aja aku jantungan gara-gara kamu tau!" protes Ciara.
"Ahaha, iya maaf ya Ciara? Abisnya lu bengong terus sih dari awal kita masuk bus, lu kenapa? Apa lu gak senang sama kemah ini?" ujar Anin.
Ciara menggeleng perlahan, "Bukan gitu, aku cuma kepikiran sesuatu aja," ucapnya.
"Eee gak kok, bukan apa-apa." Ciara menggeleng dan menolak menjawab pertanyaan sohibnya itu.
"Haish, lu gimana sih Ci? Tadi katanya lagi kepikiran sesuatu, giliran ditanya mikirin apa malah gak mau jawab. Harusnya lu kasih tahu gue, kan kali aja gue bisa bantu tenangin lu!" ucap Anin.
"Hehe, iya gue gapapa kok. Udah ya gue mau nikmatin pemandangan disini dulu?" ucap Ciara.
Anin menutup mulutnya dan menggeleng heran melihat kelakuan sahabatnya tersebut, ia sungguh bingung sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Ciara sampai dia seperti itu. Namun, Anin juga tak bisa memaksa jika memang Ciara tidak ingin bercerita padanya. Akhirnya Anin memilih mengambil earphone miliknya dan memasang di telinga, sedangkan Ciara tampak fokus menatap pemandangan dari balik kaca bus itu.
Singkat cerita, perjalanan mereka akhirnya usai setelah mereka tiba di sebuah tempat perkemahan yang dekat dengan hutan liar. Rombongan sekolah itu pun turun dari bus masing-masing, termasuk Ciara dan juga teman-temannya. Mereka tampak sangat menikmati pemandangan disana, bahkan ada yang sampai menghirup udara segar di tempat itu secara brutal sangking segarnya.
Ciara sendiri begitu nyaman berada disana, dan lagi ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti acara kemah seperti ini setelah beberapa waktu yang lalu harus gagal. Anin serta Cleo pun mendekati gadis itu, merangkulnya bersamaan sambil tersenyum lebar dan sesekali menggoda Ciara yang sedang asyik melamun. Rupanya mereka tahu kalau sedang ada yang dipikirkan oleh gadis itu saat ini, sebab sikapnya seolah berbeda.
__ADS_1
"Ci, gimana nih perasaan lu sekarang begitu kita sampai disini? Keren gak sih tempat kemping kita ini?" tanya Anin penuh semangat.
Ciara tersenyum dibuatnya, "Keren banget! Gue gak nyesel ikut kesini, lagian bosan juga lah kalau kita cuma ada di lingkungan sekolah terus. Yang kayak gini emang perlu buat refreshing," jawabnya.
"Bener banget lu!" ujar Anin.
"AYO AYO SEMUA, BARIS DISINI KUMPUL SESUAI KELAS MASING-MASING!" teriakan itu membuyarkan momen mereka bertiga.
Ya Ciara, Anin dan juga Cleo pun sama-sama bergegas menuju barisan kelas mereka. Disana mereka diberi instruksi apa-apa saja yang akan mereka lakukan selama perkemahan ini berlangsung, tak lupa para wali kelas juga memberikan arahan serta pembagian kelompok untuk mendirikan tenda.
Dan sialnya, Ciara harus terpisah dari kedua temannya itu. Justru Ciara dikelompokkan dengan Hanum, Kania, Elma dan juga beberapa siswi lainnya yang berjumlah enam orang. Karena dalam satu kelas terdapat sebelas perempuan, maka dari itu wali kelas membagi dua kelompok untuk mereka saat ini. Hanya saja Ciara merasa jengkel lantaran tidak bisa sekelompok dengan teman-temannya.
"Yah Ci, kita gak satu tenda lagi. Gue jadi khawatir deh sama lu, soalnya lu kan sekelompok sama si Hanum itu. Gimana kalau dia nyakitin lu lagi ya?" ucap Anin cemas.
"Iya Ci, gue juga cemas sama lu. Apa gak bisa ditukar gitu ya pesertanya? Ya minimal gue deh yang gantiin posisi lu," sahut Cleo.
"Guys, udah lah kalian gausah khawatir begitu! Hanum kan udah berubah, dia gak kayak dulu lagi. Aku percaya kok kalau dia bakal baik-baik aja sama aku," ucap Ciara santai.
"Huft, oke deh kalo emang lu berpikir begitu!" ucap Anin pasrah.
Tak lama kemudian, Hanum bersama rombongannya datang menghampiri mereka dan menyapa Ciara disertai senyum manisnya. Sontak ketiga gadis itu menoleh bersamaan ke arahnya, ada rasa benci di dalam hati Anin serta Cleo begitu melihat Hanum di depan mata mereka. Akan tetapi, mereka terpaksa harus menahan emosi karena tidak ingin membuat keributan disana.
"Hai Ciara! Kita satu kelompok tenda nih, yuk langsung aja ngumpul disana dan cari tempat yang bagus!" ucap Hanum dengan lembut.
"Eee..." Ciara terlihat gugup dan sebenarnya ragu untuk pergi bersama Hanum, karena ia juga khawatir Hanum belum berubah seratus persen.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
__ADS_1
...•...
...APA YANG AKAN TERJADI YA KALAU CIARA SATU KELOMPOK SAMA HANUM DISANA🤔...