Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 149. Mukjizat


__ADS_3

Libra tengah terduduk di depan ruang bersalin, matanya berkaca-kaca dengan wajah sembab akibat menangis secara terus-menerus setelah ia mendengar kabar dari dokter bahwa nyawa Ciara istrinya tidak bisa diselamatkan. Libra sungguh bersedih, ia tak percaya semua ini akan terjadi kepada Ciara. Tentunya ia belum bisa jika harus berpisah dengan Ciara secepat ini, apalagi wanita itu baru saja melahirkan putri pertama mereka.


Nadira dan Gavin yang ada disana juga turut merasakan kesedihan yang dialami Libra, terutama Nadira karena wanita itulah yang telah melahirkan Ciara dan amat menyayangi Ciara sepenuh hatinya. Nadira tak menyangka semua ini akan terjadi, Ciara pergi menyusul papanya lebih cepat daripada dirinya. Rasanya Nadira tak sanggup dengan apa yang terjadi saat ini, sebab Ciara adalah putri satu-satunya yang amat ia sayangi.


Mereka bertiga terus menangis disana, meratapi kepergian Ciara yang begitu cepat dan amat membuat mereka bersedih. Libra sangat-sangat terpukul dengan kejadian ini, ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti bila tidak ada Ciara di sisinya. Tak mungkin Libra bisa melakukan itu seorang diri, apalagi Ciara adalah segala-galanya baginya.


Pria itu menangis terisak sembari menyandarkan kepalanya, segala ingatan mengenai hubungannya dengan Ciara muncul di pikirannya. Senyuman wanita itu seolah hinggap di kepalanya, membuat Libra semakin tak bisa menahan kesedihannya. Ia bingung, mengapa di hari yang seharusnya membahagiakan ini justru ia malah dibuat bersedih dengan kepergian istri tercintanya itu.


"Ciara, kenapa ini semua bisa terjadi sih? Kita sudah berjanji untuk selalu bersama-sama sampai tua nanti, tapi kenapa kamu malah pergi lebih dulu ninggalin aku sekarang?" gumam Libra dalam hati.


Tanpa diduga, ia malah melihat sosok Ciara di hadapannya dan membuat ia langsung bangkit dari duduknya untuk menghampiri istrinya itu. Libra tersenyum menatapnya, perlahan-lahan ia mendekat ke arah Ciara dengan wajah tak percaya. Libra benar-benar saat ini, karena ternyata Ciara masih hidup dan tengah berdiri di depannya.


"Ci-Ciara??" lirihnya dengan mulut menganga.


"Iya mas, kamu gausah sedih kayak gitu ya! Aku selalu ada di samping kamu kok, ayo dong kamu senyum ya mas!" ucap Ciara sambil tersenyum.


"A-aku senang banget sayang, aku senang karena kamu masih hidup dan semua yang terjadi tadi cuma mimpi! Aku kira semua itu nyata, tapi aku bersyukur banget sekarang kamu ada di depan aku!" ucap Libra.


Libra pun melangkah semakin dekat, lalu memeluk erat tubuh Ciara sembari menghirup aroma tubuhnya untuk melampiaskan kesedihannya. Ia benamkan wajahnya pada leher sang istri, pelukan itu sangat erat dan sampai membuat Ciara kesulitan bergerak. Tampaknya Libra sungguh bahagia dengan momen yang terjadi saat ini, ia berjanji tak akan pernah melepaskan Ciara dari pelukannya.


"Ta-tapi sayang, kamu kok langsung bangun kesini kayak gini sih? Emangnya luka bekas kamu lahiran udah sembuh, hm?" tanya Libra pada istrinya.


Ciara tersenyum saja sambil terus menatap wajah suaminya itu, dua tangannya bergerak mengusap lembut kedua pipi sang suami. Libra sangat menikmati itu, dia sangat bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Meski, rasanya Libra masih cukup heran mengapa Ciara bisa tiba-tiba berada disana dan berdiri dengan sehat.


"Aku gak kenapa-napa kok mas, aku sehat. Aku kesini karena ada yang mau aku bicarakan sama kamu, tolong jaga anak kita dengan baik ya mas! Aku yakin sama kamu, pasti kamu bisa didik dan rawat dia sebaik mungkin!" ucap Ciara.


Libra mengernyitkan dahinya, "Gimana maksud kamu? Kenapa cuma aku yang didik anak kita? Kamu emangnya mau kemana sayang? Kita harus jaga dia bareng-bareng ya?" ucapnya keheranan.


Ciara menggeleng perlahan, "Gak bisa mas, waktu aku gak banyak lagi. Aku harap kamu bisa ngerti ini, kamu jangan sedih ya! Kamu harus kuat demi anak kita, dia pasti bakal ikut sedih kalau lihat kamu menangis seperti tadi!" ucapnya.


"Kamu bicara apa sih sayang? Aku gak mau ya kalau kayak gini, kamu jangan bicara yang aneh-aneh deh!" ucap Libra panik.


Tiba-tiba saja, Ciara merasa kesakitan dan memegangi perut bagian bawahnya. Sontak Libra semakin panik dibuatnya, pria itu mendekat dan menanyakan kondisi istrinya. Namun, Ciara justru mencegahnya serta mengatakan kalau saat ini sudah tiba baginya untuk pergi. Tentu Libra menggeleng dengan cepat, ia tak akan membiarkan Ciara pergi darinya saat ini.


"Mas, udah ya aku harus pergi? Kamu ingat pesan aku tadi, jaga anak kita dengan baik!" ucap Ciara.


"Gak gak, kamu jangan pergi Ciara! Aku gak akan biarin kamu pergi, kamu harus sama aku selamanya! Kamu udah janji sama aku, kalau kita akan sama-sama menjaga dan merawat anak kita sampai dia besar!" ucap Libra histeris.


"Maaf mas, tapi aku gak bisa! Aku harus pergi sekarang, kamu jangan sedih terus ya! Kamu pasti bisa hidup tanpa aku!" ucap Ciara.


Libra terus menggeleng dan enggan melepaskan telapak tangan Ciara, tetapi lambat laun Ciara juga berhasil melepaskan diri dan terus melangkah mundur menjauh dari Libra. Bahkan, kini Libra pun tak bisa menyentuh tubuh wanita itu lagi. Ciara terus melambai ke arahnya, perlahan-lahan anggota tubuhnya menghilang dari pandangan sang Libra.


"Ciara, Ciara jangan pergi! Ciara!!" Libra terus berteriak histeris dan terjatuh ke lantai, ia menangis deras setelah kepergian istrinya itu.



__ADS_1


"CIARAAA!!"


Libra tersadar dari tidurnya, ia menatap sekitar dan mencari-cari dimana istrinya. Akan tetapi, yang ada disana hanyalah Nadira serta Gavin. Ya mereka berdua kompak menghampiri lelaki itu, lalu bertanya apa yang terjadi padanya. Libra berusaha menetralkan nafasnya, meski rasanya cukup sulit bagi Libra mencerna semua mimpinya tadi.


"Libra, kamu kenapa? Kok tiba-tiba kamu teriakin nama Ciara kayak gitu? Ada apa?" tanya Nadira penasaran.


"Haaaahh haaaahh, Ciara mana ma? Ciara baik-baik aja kan?" ucap Libra dengan panik.


Nadira terdiam seraya menatap wajah suaminya, sontak Gavin langsung merangkulnya dan mengusap lembut punggung Nadira untuk menenangkannya. Gavin tahu bahwa Nadira pasti masih amat sedih, sulit tentu bagi Nadira untuk menjelaskan semua kepada Libra yang baru saja tersadar dari tidurnya setelah mengetahui kabar mengenai Ciara.


"Libra, kamu tenangin dulu diri kamu! Kamu harus bisa ikhlas, papa yakin kamu kuat kok!" ucap Gavin.


Libra bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah Gavin, ia tak mengerti apa maksud Gavin mengatakan itu padanya tadi. Sedangkan Nadira hanya bisa terdiam di dalam pelukan suaminya, wanita itu tidak mungkin kuat menceritakan pada Libra kalau Ciara saat ini telah tiada lagi di dunia dan pergi menyusul papa kandungnya.


"Maksud papa bicara kayak gitu apa? Ikhlas gimana sih? Emangnya Ciara kemana pa, apa yang terjadi sama Ciara?" tanya Libra terheran-heran.


"Eee sudah kamu tidak usah bahas soal Ciara dulu, lebih baik kamu temui anak kamu yang sekarang sedang menunggu kamu! Dia juga butuh nama dari kamu Libra," ucap Gavin.


Libra menggeleng perlahan, "Enggak pa, aku akan kasih nama anak aku nanti sama Ciara. Makanya sekarang aku tanya ke papa, dimana Ciara?" ucapnya.


"Libra!" tanpa diduga, Tiara akhirnya datang bersama Adrian ke rumah sakit itu.


Mereka spontan menoleh secara bersamaan ke arah wanita itu, kini Tiara menghampiri Libra dengan wajah sendunya. Tiara benar-benar tak menyangka semua ini akan terjadi pada Ciara, Tiara pun ikut merasakan kesedihan yang dialami Libra saat ini. Begitu juga dengan Adrian, meski pria itu belum terlalu mengenal siapa Ciara dan Libra.


"Libra, aku turut berdukacita ya! Aku benar-benar gak nyangka semuanya bisa terjadi secepat ini, maaf ya aku baru bisa datang sekarang!" ucap Tiara.


Deg


Tiara kini beralih menghampiri Nadira serta Gavin, saat itu juga Nadira langsung memeluk Tiara dengan erat dan menangis meluapkan segala kesedihan yang ada di dalam dirinya saat ini. Nadira masih tak menyangka bahwa ia akan kehilangan sosok orang yang paling ia cintai secepat ini, setelah Albert dan kini malah ia ditinggal pergi oleh Ciara.


"Hiks hiks, mama sedih banget sayang! Semua ini terjadi begitu cepat, mama gak nyangka di hari ini semua bisa terjadi menimpa Ciara! Mama gak percaya Ciara akan pergi secepat ini, padahal mama sayang banget sama dia!" rengek Nadira.


"Iya ma, aku juga gak nyangka Ciara akan tinggalin kita secepat ini. Aku syok berat waktu dengar telpon dari mama tadi, padahal harusnya hari ini akan jadi hari yang membahagiakan bagi kita semua dengan kelahiran putri dari Ciara. Tapi, sekarang Ciara malah lebih dulu tinggalin kita," ucap Tiara.


"Aaakkhhhh!!" Libra berteriak secara histeris, ia mengamuk dan memukul kursi serta tembok di dekatnya sambil menangisi kepergian istrinya.


"Kenapa ini harus terjadi? Kenapa? Harusnya semua gak begini, aku gak mau kehilangan kamu Ciara!" teriak Libra yang terus memukul-mukul dinding sampai melukai punggung tangannya.


Adrian serta Gavin kompak berusaha menenangkan pria itu, mereka memegangi tubuh Libra dan mencegah Libra untuk melakukan tindakan yang justru akan membahayakan dirinya sendiri. Namun, Libra seolah tak perduli karena baginya saat ini hidupnya sudah terasa hancur setelah kepergian sosok wanita yang amat ia cintai.


"Libra, kamu harus tenang Libra! Papa yakin Ciara juga gak akan senang di atas sana kalau kamu terus begini, tolong kamu tahan diri kamu! Kamu yang kuat ya Libra, demi anak kamu!" ucap Gavin.


Kini Libra hanya bisa diam dan menangis terisak, ia tak mungkin bisa tenang setelah kehilangan Ciara alias wanita yang sangat ia cintai itu. Perlahan Libra terduduk lemas di lantai, tangisan kesedihan masih terus ia rasakan. Hidupnya seolah hancur saat ini, kepergian Ciara benar-benar meninggalkan luka yang amat sangat di dalam hatinya.



__ADS_1


Disisi lain, Galen datang membawa bayi di dalam gendongannya. Ia menghampiri Jessica yang masih terbaring di brankar, sontak Jessica tersenyum lebar saat melihat lelaki itu kembali bersama bayi yang baru saja dia lahirkan. Galen pun terduduk di samping wanita itu, lalu menunjukkan bayinya kepada Jessica yang berjenis kelamin laki-laki.


"Mas, makasih ya kamu masih mau temenin aku sampai aku melahirkan putra-putra aku yang gemesin ini? Aku bahagia banget deh, tadinya aku kira aku bakal sendirian disini!" ucap Jessica.


Ya Jessica memang baru saja melahirkan kedua putranya sekaligus, karena ternyata Jessica memiliki anak kembar yang tampan dan menggemaskan. Namun, sepertinya Galen hanya bersikap dingin saat ini. Tak ada kebahagiaan apapun di dalam dirinya setelah kelahiran dua bayi kembar itu, sangat jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Jessica.


"Sama-sama, tapi kamu harus ingat kalau tugas saya hanya sampai disini! Setelah ini, saya tidak akan muncul lagi di kehidupan kamu. Begitu juga kamu, sesuai janji kamu harus menjauh dari saya dan jangan pernah kembali!" ucap Galen dingin.


Jessica mengangguk paham, "Aku ngerti kok mas, aku gak akan melupakan itu. Sekali lagi terimakasih atas semua bantuan kamu!" ucapnya tersenyum.


"Iya Jessica, terimakasih juga karena kamu sudah ada di samping saya selama saya mengalami lumpuh! Sampai sekarang saya sudah pulih, itu semua berkat kamu!" ucap Galen.


Seperti yang sudah dikatakan Galen barusan, pria itu memang telah pulih dari kelumpuhan yang sempat ia derita. Semua itu terjadi ketika Galen nyaris meregang nyawa karena kejaran dari Bagas, beruntung ia mendapat mukjizat dari Tuhan yang membuatnya sembuh dari kelumpuhan dan dapat berlari menjauhi Bagas.


Jessica tersenyum dibuatnya, entah mengapa wanita itu merasa bahagia setiap kali ada di dekat Galen. Sekarang Galen meletakkan dua bayi itu di atas ranjang bersama ibunya, lalu ia kembali menatap wajah Jessica disana. Jessica masih tampak pucat dan lemas, kondisinya saat ini juga memang belum terlalu pulih.


"Sekarang kamu bisa kasih mereka asi untuk pertama kalinya, saya yakin mereka pasti butuh itu!" ucap Galen.


Jessica mengangguk kecil, "Iya mas, tapi gak mungkin dong aku kasih susu ke mereka di depan kamu. Aku malu lah mas, kita kan udah lama gak begituan sejak kamu lumpuh," ucapnya.


"Haha, kamu benar juga. Baiklah, saya tunggu di luar ya? Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja sama saya!" ucap Galen beranjak dari tempat duduknya.


Wanita itu hanya tersenyum dan mengiyakan ucapan Galen, setelahnya Galen pun keluar dari ruangan itu untuk memberi ruang bagi Jessica yang ingin menyusui putra-putranya. Galen kini menunggu di luar, ia sendiri juga heran mengapa rasanya begitu sulit bagi dirinya meninggalkan Jessica saat ini. Padahal, ia telah mengetahui fakta sebenarnya bahwa putra kembar yang dilahirkan Jessica itu bukanlah anak kandungnya.


"Haish, saya kok jadi lemah begini ya? Harusnya saya itu benci sama Jessica, dia yang sudah merusak rumah tangga saya dan Tiara! Bahkan, dia juga udah membohongi saya soal bayi yang dia kandung itu!" geram Galen.


Galen terlihat menundukkan wajahnya, ingatan masa lalunya kembali muncul di kepalanya.


"Tapi, kenapa ya saya sulit banget buat benci sama Jessica dan anak-anaknya sekarang? Saya malah selalu gugup setiap kali ada di dekat dia, apa yang terjadi sama saya sih?" sambungnya.




Suster yang sebelumnya membantu proses persalinan Ciara, kini kembali ke tempat jenazah Ciara berada. Tampak Ciara memang telah ditutupi oleh kain dan hendak dibawa menuju ruang mayat, tapi suster itu begitu terkejut saat ia melihat lengan Ciara yang keluar dari dalam kain dan menggantung di bawah brankar.


Suster itu pun menutup mulutnya, ia coba menghilangkan rasa takut di dalam dirinya dan membenarkan semula posisi tangan itu. Akan tetapi, betapa syoknya ia ketika merasakan denyut nadi Ciara yang kembali berdetak disana. Sontak ia berteriak memanggil dokter beserta perawat yang lain, ya ia tak ingin salah mengira tentunya.


"Dok, dokter! Dokter!!" teriaknya cukup keras.


Tak lama kemudian, seorang dokter bersama satu perawat lainnya muncul disana. Mereka menghampiri suster itu dengan wajah heran dan bertanya padanya apa yang terjadi, disaat sang suster menjelaskan semuanya tentu saja dokter itu spontan terkejut seolah tak percaya. Kemudian, dokter pun memeriksa sendiri kondisi Ciara saat ini.


"Ini mustahil, detak jantung pasien kembali muncul. Nafasnya juga bisa saya rasakan, pasang kembali alat infusnya suster!" ucap sang dokter.


"Baik dok!" suster itu bergerak cepat mengikuti perintah dokter.


"Ini mukjizat dari Tuhan, sungguh luar biasa!" ucap dokter itu tersenyum sembari memandangi wajah cantik Ciara yang masih terpejam itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2