
Leon datang ke ruangan Galen sesuai permintaan bosnya itu, ia berdiri tepat di hadapan pria itu sambil menunduk dengan kedua tangan ia lipat di depan. Leon tampak penasaran apa yang membuat Galen sampai harus memanggilnya seperti ini, apalagi wajah Galen terlihat tengah memendam sesuatu yang Leon sendiri tak tahu apa penyebabnya.
Galen langsung meminta Leon untuk duduk, ia hentikan sejenak pekerjaannya saat ini dan fokus menatap sang asisten yang ada di hadapannya. Galen sungguh tidak sabar, ingin sekali rasanya ia melayangkan pukulan ke arah Leon saat itu juga. Namun, Galen tak mau terlalu gegabah karena ia harus bertanya lebih dulu pada Leon mengenai kehamilan yang menimpa Nindi.
Ya sebelumnya Galen dan Tiara memang mendapat desas-desus seperti itu, karena Rifka tak sengaja menemukan alat tes kehamilan di dalam kamar Nindi saat sedang membersihkan kamarnya. Oleh karena itu, Tiara menduga jika adiknya tengah hamil dan berupaya menyembunyikan itu. Sedangkan Galen juga mengira kalau Leon lah pelakunya, untuk itu kini ia meminta Leon bertemu dengannya.
"Eee jadi pak, apa yang bapak mau bicarakan sama saya ya?" tanya Leon perlahan.
Galen menatap tajam ke arah asistennya, dua tangannya sudah ditekuk dan ditempelkan di bawah dagu sambil menyandarkan punggungnya. Galen ingin tahu, seperti apa reaksi Leon jika diberitahu mengenai kehamilan Nindi. Meskipun semua itu baru dugaan, tetapi Galen berniat menggali informasi sekecil apapun dari Leon untuk menemukan bukti apakah dugaannya benar atau tidak tentang Nindi yang sedang mengandung.
"Saya mau tanya sama kamu, apa kamu tahu kalau Nindi sedang hamil? Dan apakah kamu pelaku yang sudah menghamili Nindi?" ujar Galen to the point.
Leon tersentak dan menganga lebar karena terkejut, "Hah? Ini seriusan pak? Bapak tahu darimana kalau Nindi hamil? Jangan ngada-ngada deh pak, gak mungkin lah dia begitu!" ujarnya seolah tak percaya.
"Ya makanya saya tanya sama kamu, saya mau mastiin dia beneran hamil apa enggak!" ujar Galen.
"Gimana ceritanya sih pak? Kok bapak bisa bilang Nindi hamil gitu loh? Atas dasar apa bapak menuduh yang enggak-enggak ke Nindi?" heran Leon.
"Saya gak menuduh, saya bisa mengambil kesimpulan ini karena testpack yang ada di kamar Nindi dan itu hasilnya positif," jelas Galen.
"Apa??" Leon terkejut bukan main mendengarnya.
Leon pun langsung menggeleng tak percaya dengan apa yang diucapkan bosnya, baginya tidak mungkin tentu jika Nindi tengah hamil karena usianya yang masih belia. Namun, Galen bergegas menunjukkan bukti testpack yang Rifka temukan di kamar Nindi itu kepada Leon. Sontak Leon membelalakkan matanya, rupanya perkataan Galen tadi memang benar kalau ada sebuah testpack dengan hasil positif disana.
"Ini buktinya Leon, testpack ini ditemukan oleh Rifka di kamar Nindi. Kamu lihat sendiri kan hasilnya? Positif, itu artinya Nindi sekarang sedang hamil. Apa kamu masih mau pura-pura tidak tahu lagi mengenai hal ini, hm?" geram Galen.
"Apa sih pak? Bapak menuduh saya yang melakukan ini gitu, iya? Sumpah demi apapun pak, bukan saya pelakunya! Bahkan kalau gak dikasih tahu sama bapak, saya juga gak tahu soal ini!" ucap Leon.
"Gausah bawa-bawa sumpah kamu, mending kamu jujur aja ke saya sekarang Leon!" sentak Galen.
"Beneran pak saya gak bohong, saya juga syok dengar kabar ini pak! Saya gak nyangka kalau Nindi ternyata begitu," ucap Leon menahan sedihnya.
"Begitu apa maksud kamu? Kamu mau bilang kalau Nindi wanita murahan gitu?" tanya Galen.
__ADS_1
Deg
Leon tampak kebingungan harus menjawab apa, ia benar-benar kecewa dengan fakta yang ia temukan hari ini mengenai gadis yang ia cintai. Tapi tentu tak mungkin Leon mengatakan semuanya di hadapan Galen, pastinya Galen tak akan menerimanya dan malah memarahinya. Untuk itu Leon pun memilih diam tak menjawab dan menundukkan wajahnya berusaha menahan tangis yang hendak keluar.
•
•
"Eeuungghh..."
Ciara melenguh perlahan ketika merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya, gadis itu pun membuka matanya dan syok saat melihat Libra yang tengah mengulum puncak gunung miliknya di hadapannya saat ini. Sontak Ciara spontan melotot dengan mulut terbuka, tapi sesaat kemudian ia menutupi mulutnya itu menggunakan telapak tangan karena tak ingin berisik, sebab ia amat menikmati sensasi itu.
Ya pagi ini Libra seolah tengah menyusu seperti dahulu kala ketika ia masih kecil, pria itu tak ingin lepas dari milik Ciara yang begitu menggodanya. Warna pink yang mencuat, serta bentuknya yang lucu berhasil menggugah seleranya. Libra pun tak henti-hentinya memainkan bagian itu, sampai akhirnya ia tak sengaja mengganggu tidur Ciara dan membuat gadis itu terbangun.
Saat tengah asyik menyusu, Libra melirik ke atas dan sontak terkejut saat menyadari Ciara yang sudah terbangun. Tentu saja pria itu reflek bangkit dan melepas kulumannya begitu saja, yang tentu membuat Ciara merintih sakit karena ulah ceroboh sang paman. Sepertinya Libra benar-benar merasa malu pada Ciara, sebab ia kepergok saat tengah melakukan tindakan yang tak senonoh.
"Akh sakit tau om! Kenapa sih main dilepas gitu aja?" protes Ciara.
"Lagian om ngapain sih kayak gitu? Terus ini kenapa aku gak pake baju?" tanya Ciara.
Deg
Libra terdiam, mulutnya seolah tak bisa terbuka saat Ciara menanyakan itu. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana tentang kejadian semalam pada Ciara, sontak Ciara merasa heran sekaligus penasaran dengan tingkah Libra saat ini. Ciara pun terus mencecar pria itu dengan pertanyaan yang sama, sampai membuat Libra mau tak mau menjelaskan semua sesuai yang terjadi.
"Okay, baik aku akan cerita ke kamu semuanya sayang. Jadi semalam itu, kamu kena pengaruh obat pembangkit gairah dari paman kamu si Davin itu. Makanya aku bawa kamu kesini, terus..." Libra menggantung ucapannya.
"Terus apa om? Lanjutin dong! Om ngelakuin apa aja sama aku semalam?" ujar Ciara penasaran.
"Umm i-itu..."
Flashback
Malam itu, Libra benar-benar kalut dan bingung harus melakukan apa pada Ciara yang sudah amat kepanasan dan terus menggodanya. Bahkan pakaian yang dikenakan gadis itu sudah tak berbentuk, dapat Libra lihat dengan jelas belahan milik gadis itu yang mencuat dari dalam sangkarnya. Hal itu sungguh membuat kepemilikan Libra bangkit, rasanya dia ingin segera menerkam Ciara saat itu juga.
__ADS_1
Ya Libra sudah membawa Ciara ke apartemennya, ia sengaja meletakkan Ciara di atas ranjang dan menyalakan AC dengan sangat dingin untuk berusaha membantu mengobati gadisnya. Jika saja Libra tak memikirkan Ciara adalah putri dari Nadira, maka pasti sedari tadi Libra sudah menyerang Ciara dan melahap tubuh gadis itu. Namun, Libra sungguh tak mau merusak gadis yang ia cintai.
"Mmhhh oomm, sini om bantu aku! Aku mau om di dekat aku, sentuh aku om!" Ciara terus-menerus menggoda pamannya itu sembari mengusap bagian tubuhnya secara sensual.
Libra menggeleng dan berusaha untuk tidak melirik ke arah Ciara, karena jika itu terjadi maka dapat dipastikan kesadarannya akan goyah. Kedua tangan Ciara memang sudah diikat oleh Libra, begitupula dengan dua kakinya. Sehingga gadis itu hanya bisa bergerak seadanya dan tampak begitu menderita, sungguh Libra pun tak tega melihatnya. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Maafin aku Ciara, tapi aku beneran gak mau rusak kamu! Aku cinta sama kamu, dan aku cuma akan melakukan itu begitu kita menikah nanti!" ujar Libra.
"Ahhh om aku gak tahan!" tiba-tiba saja, Ciara berteriak sangat keras dan melengkungkan punggungnya sampai membuat Libra terkejut.
"Ci-Ciara?" lirih Libra.
"Om, tolong aku om! Ahhh..." Ciara merengek meminta untuk disentuh oleh pamannya.
"Enggak, saya gak boleh lakuin itu! Enggak!" sedangkan Libra juga berusaha menguatkan diri, meski miliknya di bawah sana sudah ingin sekali masuk ke sangkarnya.
"Ooommm aku mohon!!" lagi, teriakan gadis itu benar-benar membuat Libra bimbang.
Akhirnya pertahanan pria itu runtuh, ia beranjak dari tempat duduknya dan menatap tubuh indah Ciara yang sudah acak-acakan itu. Mulai dari kancing yang terlepas, lalu juga rok abu-abu miliknya yang begitu kusut dan basah karena keringat. Ya bahkan seluruh tubuh Ciara sudah dipenuhi oleh keringat, tampaknya gadis itu memang sangat menderita kali ini.
"Baiklah, aku akan bantu kamu sayang. Tapi, ini semata-mata karena aku kasihan sama kamu, bukan karena aku gak bisa tahan diri!" gumam Libra.
"Om, ayo sentuh aku om! Please!" rengek Ciara.
"Of course, baby."
Dengan langkah pasti, Libra bergerak maju mendekat Ciara dan mulai melucuti seragam atas gadis itu sampai menyisakan br4 hitam milik Ciara yang masih terbungkus. Libra menjilat bibirnya sendiri melihat pemandangan indah di depan matanya, lalu dengan cepat ia langsung menindih tubuh Ciara dan meraup bibirnya rakus.
"Mmpphh.."
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1