Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 148. Ada yang datang, ada yang pergi


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....


"Eeeuungghh aakkhh!!!"


Ciara terus mengerang keras sembari mencengkram tangan Libra yang berada tepat di dekatnya, dengan bantuan dokter dan para perawat kini Ciara tengah berusaha melahirkan bayi pertamanya setelah mengandung selama sembilan bulan. Ya kini tiba saat yang telah dinanti-nanti oleh mereka sejak lama, dimana Ciara akhirnya akan dapat melahirkan putrinya dan membuat hidupnya bertambah ceria.


Wanita itu tak bisa melepaskan cengkeramannya pada tangan sang suami, ia terus mengerang sekuat tenaga dengan tuntunan dari dokter di dekatnya. Libra sendiri juga terlihat tidak tega menyaksikan secara langsung momen istrinya menahan sakit seperti itu, namun mau tidak mau ia terpaksa melakukan itu demi bisa mengurangi beban di dalam diri Ciara yang harus kesakitan saat ini.


"Kamu kuat ya sayang, kamu pasti bisa! Ayo semangat Ciara!" Libra terus membisikkan kalimat itu di telinga istrinya sebagai pemacu.


Ciara pun semakin terpacu dengan kalimat yang dibisikkan suaminya, ia terus berusaha untuk bisa menuntaskan semua ini dan hidup bahagia bersama suami serta putrinya nanti. Ciara tidak sabar akan hal itu, sudah sekian lama Ciara menantikan momen dimana ia menjadi sosok ibu seutuhnya yang bisa membahagiakan anak-anaknya kelak.


"Eengghh..."


Satu usaha terakhir yang dilakukan Ciara dengan sekuat tenaga, akhirnya berhasil membuat putri tercintanya itu lahir dengan semangat. Sontak tangis dari sosok bayi terdengar dan membuat Ciara tersenyum lebar di sela-sela keletihannya, begitu juga dengan Libra yang sangat senang dengan kelahiran putri pertamanya.


"Wah selamat ya pak, bu! Anaknya lahir dengan sehat dan selamat, cantik sekali seperti ibunya!" ucap dokter yang kini menggendong bayi itu.


Libra tersenyum melihatnya, ia mengucap syukur dan benar-benar bahagia karena akhirnya ia resmi menjadi sosok ayah. Tak lupa Libra menatap Ciara yang masih terlihat sangat letih itu, ia usap wajah istrinya dan memberikan kecupan singkat disertai ucapan terimakasih atas semua usaha yang telah Ciara lakukan saat ini.


"Makasih sayang, kamu sudah melahirkan sosok bayi yang cantik buat aku!" bisik Libra.


"Syukurlah mas!" ucap Ciara lirih.


Tak lama kemudian, pandangan Ciara mulai kabur dan rasanya ia sudah tak mampu lagi menahan diri saat ini. Ciara pun jatuh pingsan, tangannya yang tadi menggenggam kuat telapak Libra kini terlepas dan tergeletak begitu saja. Seketika Libra panik, ditatapnya wajah sang istri yang tak sadarkan diri itu sambil berkali-kali memanggil dokter.

__ADS_1


"Dok, ini istri saya kenapa dok? Kok dia bisa tiba-tiba pingsan kayak gini? Apa yang terjadi?" tanya Libra dengan cemas.


"Tenang ya pak, biar saya periksa dulu dan pastikan kondisi bu Ciara!" ucap sang dokter.


Libra mengangguk paham dan menyingkir sejenak, ia benar-benar khawatir dan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya itu. Apalagi saat ini adalah momen bahagia bagi mereka, tentunya Libra ingin Ciara tetap baik-baik saja. Namun, kini Libra tak bisa berbuat banyak dan hanya dapat mendoakan yang terbaik bagi Ciara.


"Duh Ciara, ayo kamu harus sadar sayang! Kamu harus kuat demi anak kita, kan kamu udah bilang kalau kamu pengen gendong anak kita begitu dia lahir!" batin Libra.


Tanpa diduga, layar monitor menunjukkan garis lurus yang membuat Libra terbelalak dan semakin cemas dengan kondisi Ciara saat ini. Pria itu tak menyangka hal ini akan terjadi, namun ia masih terus berharap kalau Ciara bisa selamat dan tidak terjadi hal-hal yang buruk padanya. Dokter bersama perawat disana pun terus melakukan tindakan yang mereka bisa, bahkan Libra sendiri juga tak tinggal diam mengingat nyawa istrinya yang menjadi taruhan.




Disisi lain, Tiara masih terjebak dalam kemacetan jalan raya yang padat itu bersama bosnya yakni Adrian. Sebelumnya mereka baru mengikuti meeting penting yang membuat Tiara tidak bisa turut hadir ke rumah sakit menyaksikan momen bahagia bagi Ciara dan juga Libra, ya namun tentunya saat ini Tiara berharap jika ia dapat hadir disana.


"Duh, gimana ini pak? Saya harus buru-buru sampai di rumah sakit sebelum terlambat, saya juga mau tahu kondisi Ciara sekarang!" ucap Tiara panik.


Adrian menoleh ke arahnya, "Sabar ya Tiara! Ini saya juga lagi usahakan cari cara supaya kita bisa sampai disana tepat waktu, tapi mau gimana lagi jalanan disini emang rame banget!" ucapnya kebingungan.


"Apa gak ada jalan tikus gitu pak? Yang lebih cepat dari ini gitu," tanya Tiara.


Adrian hanya menggeleng sebagai jawaban, jujur ia sendiri pun belum banyak tahu mengenai jalur yang ia lalui saat ini. Sedari tadi pria itu juga hanya mengandalkan maps di handphonenya, sehingga ia tidak tahu apakah ada jalan pintas di sekitar sana yang bisa mereka lalui atau tidak.


"Huft, semoga kamu baik-baik aja Ciara dan kamu bisa melahirkan anak kamu dengan selamat!" ucap Tiara terus berdoa.

__ADS_1


"Aamiin." dengan cepat Adrian mengaminkannya.


Disaat yang sama, akhirnya mobil di depan mereka melaju dan membuat Adrian serta Tiara kompak tersenyum merasa senang. Namun, mereka hanya bisa melaju perlahan sekitar sepuluh kilometer perjam yang tentunya terasa sangat lambat. Tiara pun kembali mendengus kesal, mengerucutkan bibirnya dan merasa emosi.


"Kapan sampainya nih kita kalau kayak gini pak? Bisa-bisa Ciara keburu selesai melahirkan dan dibawa pulang, saya terlambat deh lihat dia berjuang di rumah sakit," ucap Tiara cemberut.


"Ya mau gimana Tiara? Saya juga kan gak bisa bawa mobil ini terbang melewati mobil-mobil di depan itu," ucap Adrian.


Tiara malah terkekeh mendengar ucapan bosnya, spontan ia memukul lengan pria itu dari samping sembari menahan tawanya. Adrian mengaduh kesakitan sambil mengusap lengannya, tetapi rasa sakit itu tak seberapa dibanding kebahagiaan yang ada di dalam hatinya saat ini ketika Tiara mau mengikuti perintahnya.


Drrrtt drrrtt....


Tiba-tiba saja, ponsel milik Tiara berdering dan membuat wanita itu mengalihkan pandangannya lalu mengambil ponsel tersebut dari dalam tas. Ia lihat nama Nadira terpampang disana, karena penasaran ia pun segera mengangkatnya. Sedangkan Adrian yang duduk di sebelahnya, hanya fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arahnya.


📞"Halo ma! Ada apa? Gimana, Ciara udah selesai melahirkannya?" tanya Tiara penasaran.


Suasana begitu sepi disana, Tiara merasa heran karena Nadira tak kunjung menjawab pertanyaan darinya. Justru sekarang ini ia malah mendengar suara tangis yang samar-samar dari dalam telponnya, tentu saja Tiara amat bingung dan heran dibuatnya.


📞"Ha-halo ma! Mama kenapa, kok nangis? Apa yang terjadi, ma?" Tiara kembali bertanya.


📞"Hiks hiks Ciara sayang, Ciara udah gak ada..."


Deg


Jantung Tiara seolah hendak copot mendengar ucapan Nadira barusan, matanya terbelalak lebar dan tubuhnya melemas seketika.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2