Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 212. Kekecewaan Cyra


__ADS_3

Libra mengajak Cyra untuk bicara berdua dengannya di tempat yang agak jauh dari Faiz, ya Libra tak ingin Faiz mengetahui apa yang hendak ia bicarakan dengan putri cantiknya itu. Cyra pun menurut saja, karena ada banyak juga yang ingin Cyra tanyakan pada papanya itu. Libra sejujurnya masih bingung kali ini, ia tak tahu apakah ini saatnya bagi ia untuk jujur pada Cyra atau masih belum bisa.


Cyra terus menatap wajah papanya dengan bingung, ia menanti jawaban dari sang papa terkait apa yang ia tanyakan saat di restoran tadi. Ya Cyra sungguh penasaran, kemana Libra selama ini dan mengapa Libra tidak kunjung pulang ke rumah. Padahal, ia dan adik-adiknya selalu menunggu kehadiran Libra yang merupakan ayah mereka. Namun, Libra justru tak pulang dan membuat mereka sangat sedih.


"Pa, gimana jawabannya? Papa kemana aja selama ini? Kenapa papa gak pulang ke rumah coba? Aku sama adik-adik tuh kangen loh sama papa, kita pengen ketemu sama papa lagi," ucap Cyra.


"Ya sayang, maafin papa ya! Papa belum bisa pulang ke rumah buat ketemu sama kalian, tapi nanti papa akan jelaskan semua ke kamu kok!" ucap Libra.


"Kenapa harus nanti, pa? Sekarang dong, aku minta papa jelasin semuanya sekarang! Aku bingung deh, kenapa sih papa sampai gak mau pulang ke rumah beberapa hari ini?" pinta Cyra.


"I-i-i-iya Cyra sayang, pelan-pelan papa akan jelasin ke kamu kok," ucap Libra gugup.


Cyra menghela nafasnya dan memalingkan wajahnya dari tatapan sang ayah, ia rasanya malas sekali mendengar kata-kata Libra yang selalu saja mengelak dan tidak mau memberi penjelasan yang jelas kepadanya. Cyra pun tampak kesal, tetapi coba menahan dirinya mengingat pria di depannya itu adalah ayahnya.


Perlahan Libra meraih dua tangan putrinya, lalu menggenggamnya dengan erat. Ia mengurung tubuh Cyra di dekat tembok dan menatapnya serius, kali ini Libra tak akan berbohong lagi pada Cyra dan akan menceritakan semua secara jujur. Bagaimanapun, Cyra berhak tahu mengenai perceraiannya dan Ciara.


"Pa, gimana? Papa dorong aku kesini cuma buat diam aja gitu, hm? Papa gak mau ceritain semua yang terjadi sama papa dan mama?" tanya Cyra.


Libra menggeleng pelan, "Ini papa mau cerita kok, tapi kamu harus janji sama papa kalau kamu gak akan ceritakan semua ini ke siapapun itu, termasuk adik-adik kamu!" ucapnya.


"Iya pa, aku janji sama papa. Sekarang buruan papa ceritain dong!" ucap Cyra sudah tak sabar lagi.


"Okay Cyra sayang, papa jujur sama kamu. Jadi papa itu sebenarnya sudah cerai sama mama kamu, itu alasan kenapa papa gak bisa pulang ke rumah kalian. Gak mungkin kan papa tinggal satu atap sama mama kamu lagi?" ucap Libra.


Deg


Cyra sungguh syok mendengar penjelasan papanya barusan, ia kini tahu betul apa alasan Libra tak kunjung pulang ke rumah dan juga tidak pernah mengabari mereka lagi. Cyra amat kecewa karena ternyata papa dan mamanya sudah resmi bercerai, padahal ia menentang keras perceraian itu.


"Apa pa? Papa sama mama udah resmi cerai?" Cyra sangat terkejut, bahkan air mata sampai menetes di wajahnya saat mendengar itu.


"Hey hey hey, Cyra jangan nangis ya sayang! Papa terpaksa ngelakuin semua ini demi kebaikan mama kamu, karena papa udah gak bisa meyakini mama kamu lagi untuk bertahan sama papa!" Libra langsung panik dan menangkup wajah putrinya.

__ADS_1


Namun, Cyra berontak dan melepaskan diri dari pegangan papanya itu.


"Enggak pa, aku kecewa sama papa! Aku gak mau dengar apa-apa lagi dari papa!" sentak Cyra dengan penuh emosi.


Libra tersentak, kemudian berusaha menahan putrinya untuk tidak pergi dari sana. Akan tetapi, usahanya gagal lantaran Cyra berhasil kabur lebih dulu dan berlari cepat meninggalkan papanya. Cyra sepertinya sangat syok setelah mengetahui semua itu, sehingga ia tidak bisa bertahan disana bersama orang yang sudah mengecewakannya.




Cyra yang kabur dari kejaran papanya, kini kembali ke meja tempat sebelumnya ia bersama Faiz. Ia hendak mengambil barangnya yang tertinggal disana, sebelum berlanjut pergi meninggalkan tempat itu. Namun, tentunya Faiz tampak heran ketika Cyra tergesa-gesa dan menangis seperti itu.


"Hah Cyra? Kenapa kamu nangis begini, ha? Dimana papa kamu? Apa yang terjadi?" tanya Faiz.


Cyra menggeleng, "Jangan sekarang om! Ayo kita pergi dulu, nanti aku jelasin semuanya sama om!" ucapnya dengan nafas tersengal.


Faiz benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kali ini, tetapi ia memilih menurut saja dengan apa yang diminta oleh gadis itu. Ia dan Cyra kini sama-sama pergi ke luar dari restoran itu, karena Cyra tidak mau bertemu dengan papanya yang sudah membuatnya kecewa. Padahal, selama ini Cyra terus berharap kalau keluarganya akan selalu utuh dan tidak berkurang sampai kapanpun.


Disaat mereka tengah berlari, terdengar suara teriakan Libra di belakang sana yang tampak mengejar mereka. Cyra sontak mempercepat langkahnya menuju mobil, sedangkan Faiz juga menguatkan pegangannya pada lengan Cyra dan membawa gadis itu masuk ke mobilnya untuk menghindar dari kejaran Libra.


Beruntung Cyra dan Faiz berhasil lebih dulu masuk ke dalam mobil kali ini, lalu bergegas melaju kencang meningkatkan tempat itu. Sehingga, Libra pun tidak dapat mengejar mereka. Cyra merasa lega dan terus melirik ke belakang memastikan papanya tak mengejar mereka lagi, meski rasanya ia masih tidak percaya pada semua perkataan Libra tadi.


"Hiks hiks hiks..." gadis itu kembali menangis, kenyataan yang harus ia terima benar-benar membuatnya sangat sakit.


Faiz terus memandang ke arahnya, ia tampak bingung dan tak mengerti ada apa sebenarnya. Ingin sekali Faiz bertanya pada gadis itu, namun ia tak mau membuat Cyra semakin emosi. Faiz pun memutuskan untuk membiarkan Cyra menangis lebih dulu, supaya emosi di dalam diri gadis itu pudar dan dapat ditenangkan dengan mudah.


"Kenapa ini semua harus terjadi di keluarga aku sih? Apa salah aku coba? Aku cuma mau keluarga aku utuh, tapi kenapa Tuhan gak pernah kabulin doa aku?" gumam Cyra.


Faiz mendengar jelas ucapan gadis itu, ia tak mengerti apa maksud dari perkataan Cyra itu. Perlahan Faiz mencoba mendekati Cyra untuk menenangkannya, bagaimanapun Cyra juga merupakan saudaranya dan ia harus memastikan kalau Cyra baik-baik saja kali ini.


"Cyra, udah ya kamu jangan nangis terus! Aku jadi gak enak nih lihatnya," ucap Faiz kebingungan.

__ADS_1


"Hiks hiks, ya kalo gak enak gausah dilihat lah om! Aku juga kan gak minta om buat ngeliatin aku!" ketus Cyra.


"Eh buset, santai aja kali Cyra!" Faiz terkejut dengan ucapan gadis itu barusan.


Akhirnya Faiz memilih diam, ia khawatir Cyra kembali membentaknya dan malah sulit baginya untuk menenangkan gadis itu. Apalagi, suasana hati Cyra saat ini sedang tidak beres dan dipenuhi emosi. Bisa saja Cyra berbuat nekat nantinya, seperti turun dari mobil lalu pergi begitu saja.


Faiz pun terus mengendarai mobilnya menuju rumah Nadira, ia sengaja membawa Cyra kesana dengan harapan Nadira bisa membuat gadis itu merasa lebih tenang. Seperti yang ia tahu, Cyra adalah cucu kesayangan dari Nadira dan bukan tidak mungkin Cyra bisa lebih tenang ketika berada dalam pelukan neneknya nanti.


Begitu sampai di halaman rumah Nadira, Faiz kini menghentikan mobilnya dan menatap ke arah Cyra yang masih sibuk menangis. Ia ingin menegur gadis itu dan mengatakan mereka sudah sampai, tapi entah kenapa ia begitu ragu dan cemas kalau Cyra akan kembali memarahinya seperti tadi.


"Om, kok kita berhenti?" Cyra menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi itu tak berjalan lagi.


"I-i-iya Cyra, kita udah sampe. Kita turun yuk! Kamu pasti mau kan ketemu sama oma kamu?" ucap Faiz dengan lembut disertai senyum manisnya.


"Rumah oma?" Cyra terkejut dan menatap sekitar, benar ternyata ia sudah sampai di rumah Nadira.


"Kenapa om bawa aku kesini? Perasaan aku gak minta om buat bawa aku ke rumah oma deh? Oma itu sama aja kayak papa, oma gak bisa bikin mama dan papa aku tetap bersama! Aku kecewa sama oma!" ucap Cyra dengan kesal.


"Hah??" Faiz menganga tak mengerti, matanya terbelalak ketika Cyra membuka pintu dan turun dari mobilnya begitu saja.


"Hey Cyra! Kamu mau kemana?" lelaki itu berusaha menahannya, tetapi gagal.


Ya Cyra kini berhasil turun lebih dulu, ia menyeka air matanya dan berniat pergi dari rumah neneknya itu karena ingin menyendiri. Akan tetapi, sebuah teriakan dari seorang wanita mengejutkannya.


"Cyra!!"


Seketika langkah Cyra terhenti, ia kenal betul dengan suara yang memanggil namanya barusan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2