Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 95. Jengkel


__ADS_3

Pagi harinya, pasangan muda Ciara dan Libra kini tengah sama-sama menikmati sarapan mereka di salah satu restoran mewah sebagai perayaan atas hari pertama mereka menikah. Meski semalam gagal mendapat jatah, namun Libra tetap merasa bahagia karena dirinya berhasil mempersunting gadis secantik dan sepintar Ciara. Dikala ada banyak lelaki yang mengincarnya, tetapi Ciara lebih memilih Libra dibanding para lelaki lainnya itu.


Saat sedang asyik menikmati makanan mereka, tiba-tiba saja seorang wanita datang mendekat ke meja mereka dan terlihat menyapa sosok Libra dengan ramah disertai senyuman lebar. Sontak Ciara terperangah melihatnya, bisa-bisanya ada wanita lain yang muncul disana dan langsung menyapa suaminya itu. Tentu saja Ciara tampak jengkel, gadis itu tak terima bila Libra dekat dengan wanita lain.


Sementara Libra malah tersenyum melihat kehadiran wanita itu disana, ia juga beranjak dari kursinya lalu bersalaman dengannya. Tak bisa dipungkiri, saat ini Ciara merasa sangat jengkel dengan sikap suaminya. Namun, gadis itu mencoba untuk sabar dan coba mendengar penjelasan dari Libra terkait siapa wanita tersebut. Jujur saja Ciara sudah amat emosi, meski dia belum tahu siapa wanita itu.


"Ah Ciara sayang, kenalkan ini itu salah satu suster alias perawat di rumah sakit tempat aku kerja! Namanya Gita, dia juga yang biasa nemenin aku kalau lagi tangani pasien," ucap Libra.


Ciara membuka mulutnya membentuk huruf 'o' seraya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan perlahan, hal itu menandakan tingkat kecemburuan darinya yang sudah meningkat dan merupakan sinyal bahaya bagi Libra. Apalagi baru saja ia tahu kalau wanita bernama Gita itu, ialah seorang perawat di rumah sakit tempat suaminya bekerja.


Ya sebelum mereka menikah, Libra memang sudah diterima sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit yang cukup terkenal dan mewah. Lelaki itu tentunya membuat semua orang di dekatnya merasa bangga, terutama Ciara yang merupakan kekasih tercinta sekaligus support system nomor satu yang dia miliki.


"Oh nama kamu Gita? Salam kenal ya Gita, aku Ciara!" ucap Ciara mengenalkan dirinya di hadapan Gita sembari mengulurkan tangan ke arahnya.


"Halo Ciara, salam kenal juga!" balas Gita yang juga menggerakkan tangannya meraih telapak tangan milik Ciara, mereka pun berjabat tangan disana dengan saling memandang dan tersenyum.


"Syukurlah, aku senang kalian bisa saling kenal! Tapi omong-omong, Gita kamu kok bisa ada disini juga? Mau cari sarapan ya?" ucap Libra.


Gita mengangguk sambil tersenyum, "Iya dong pak dokter Libra, masa saya kesini mau ngamen sih? Kebetulan resto ini tuh makanannya paling enak tau," ucapnya santai.


"Waw beruntung dong saya dan istri saya ini datang kesini!" ucap Libra dengan bangga.


Lalu, tampak Libra turut mengajak Gita bergabung dengan mereka di meja itu dan melaksanakan sarapan bersama. Seketika wajah Ciara berubah, tentu saja gadis itu tak terima dengan apa yang dilakukan Libra. Bagaimana bisa pria itu malah mengajak wanita lain saat ini?


Namun, Ciara tak mungkin mengatakan bahwa ia menolak kemauan pria itu di depan Gita. Akhirnya Ciara terpaksa mengiyakan saja perkataan suaminya, bahkan Gita juga dengan santainya ikut duduk disana tanpa merasa canggung. Sesekali Ciara menatap sinis ke arah wanita itu, menunjukkan betapa tidak nyamannya ia saat ini.


"Ish, gak tahu diri banget sih tuh suster! Emang sih dia dekat banget sama om Libra, tapi kan ini hari pertama pernikahan aku!" batin Ciara.




Setelah selesai sarapan bersama, Ciara serta Libra kini kembali ke hotel tempat mereka menginap. Namun, terlihat betul jika Ciara masih kesal dengan kejadian di restoran tadi. Ya siapa yang tidak jengkel saat suaminya malah lebih banyak berbincang dengan wanita lain, di hadapan istrinya sendiri. Apalagi Ciara tahu betul kalau Gita adalah perawat di rumah sakit tempat Libra dinas.


Gadis itu tampak merengut, terduduk di sofa sembari menopang pipinya dan membuang muka karena kesal. Libra yang sadar, langsung ikut duduk di sebelahnya untuk berusaha membuat istrinya itu tersenyum kembali. Meski Libra masih belum tahu apa yang membuat Ciara begitu, namun Libra tetap tidak suka melihat Ciara yang terus merengut dan tidak mau memandang ke arahnya.

__ADS_1


"Hey, cantikku ini kenapa sih?" Libra pun bertanya sembari mencolek dagu istrinya.


Bukannya menjawab, Ciara justru menghentak tangan Libra yang baru saja menyentuh dagunya itu dan ia juga terus saja membuang muka seolah tak ingin memandang wajah suaminya. Ciara tampak begitu emosi, rasa cemburunya telah membuat gadis itu amat kesal dan jengkel. Terlebih, Libra seperti lupa diri saat bersama Gita tadi.


"Sayang, aku serius loh ini. Aku gak tahu kamu kenapa, apa aku ada salah sama kamu? Kalau iya, kamu kasih tahu dong salah aku apa sayang! Biar aku gak kebingungan kayak gini," ucap Libra.


"Cih, pake segala pura-pura gak tahu! Padahal kamu sendiri yang ajak musibah itu pas kita lagi sarapan berdua tadi," cibir Ciara.


"Hah musibah? Apanya yang musibah sayang? Aku cuma ajak Gita rekan kerja aku loh, dia yang kamu maksud musibah?" tanya Libra terheran-heran.


"Udah tahu pake nanya!" ketus Ciara.


Libra terkejut, rupanya sedari tadi Ciara seperti itu karena dirinya mengajak Gita bergabung bersama mereka saat sarapan. Pantas saja Ciara terlihat sangat emosi, sepertinya gadis itu sedang mengalami gejala yang dinamakan cemburu. Tentu Libra senang mendengar itu, karena cemburu berarti Ciara mencintainya dan itulah yang Libra inginkan.


"Kamu cemburu nih ya? Iya deh maaf, aku gak maksud bikin kamu cemburu. Aku itu cuma mau kenalin kamu sama Gita, lagian dia itu orangnya asyik kok," ucap Libra.


"Tuh kan, masih aja kamu bahas terus puji-puji dia. Iya emang aku gak sehebat dia, aku cuma wanita biasa yang gak punya pekerjaan atau gelar apa-apa. Beda sama si Gita yang perawat itu, aku mah kalah jauh dibanding dia," ucap Ciara kesal.


Libra tersenyum mendengarnya, lalu ia coba mendekat dan hendak memeluk istrinya itu dari samping. Meski awalnya menolak dan berontak, tapi akhirnya Ciara pasrah karena tenaganya kalah kuat jika dibandingkan dengan Libra. Akibatnya, pria itu berhasil menguasai tubuh Ciara sepenuhnya. Ia dekap dengan erat, sembari mengusap tubuhnya perlahan dan memberikan kecupan penenang.


"Justru itu Ciara, aku gak mau kamu marah terlalu lama sama aku. Aku ini kan sayang sama kamu, aku paling gak bisa lihat wanita yang aku cintai ini marah terlalu lama," ucap Libra santai.


"Ya salah sendiri, kamu sih malah muji-muji wanita lain di depan aku!" ucap Ciara.


"Loh aku gak muji, aku cuma bicara fakta. Kan emang si Gita itu anaknya asyik, tapi kalau kamu gak suka yaudah deh aku berhenti ngobrolin dia," ucap Libra mengalah.


"Emang itu harus, awas aja ya kalau kamu omongin dia terus di depan aku!" pinta Ciara.


"I-i-iya Ciara, aku janji sama kamu kalau aku gak akan ngelakuin itu lagi! Sekarang kamu jangan ngambek terus dong, senyum ya sayang!" ucap Libra mengangkat dua jarinya.


"Umm, gimana ya??"


Ciara sengaja bertingkah seperti itu, agar membuat Libra suaminya itu merasa cemas dan kebingungan harus melakukan apa. Akhirnya Libra terus memajukan wajahnya, menatap Ciara dari jarak sangat dekat seolah hendak menciumnya. Hidung mereka bahkan nyaris saling menempel, deru nafas Libra juga terasa di wajah Ciara yang sampai membuat detak jantungnya bergerak sangat cepat.


"Senyum, atau aku cium kamu sekarang!" ucap Libra memberi dua pilihan pada istrinya.

__ADS_1


"Cium aja kalo bisa!" Ciara malah menantang pria itu, seketika Libra pun merasa tertantang dan langsung saja melahap bibir istrinya.


"Mmpphh mmpphh..."


Ciara mengerang tertahan, bibirnya sudah lebih dulu ditutup oleh bibir Libra dan kedua tangannya juga dalam penguasaan lelaki itu. Kini Ciara hanya bisa pasrah, menikmati cumbuan nikmat dari sang suami yang sangat bergairah itu.




Disisi lain, Tiara tengah menggendong putranya yang berusia dua tahun lebih beberapa bulan itu di depan rumahnya. Ia tak sendiri, karena tampak di sebelahnya juga ada sosok Galen yang sudah rapih dan bersiap pergi bekerja. Tentu saja Galen bergegas menghampiri istri serta anaknya, ia colek dengan lembut pipi Tiara maupun putranya yang ada dalam gendongan wanita itu.


"Sayang, aku mau berangkat kerja dulu ya? Kamu sama Askha disini aja ya, jangan kemana-mana tanpa seizin aku loh!" ucap Galen mengingatkan.


Tiara tersenyum mendengarnya, "Iya mas, santai aja kali. Lagian biasanya juga aku diam di rumah kok sama Askha, mana berani aku pergi tanpa izin dari kamu sayang," ucapnya.


"Bagus deh, aku percaya sama kamu. Kalo gitu aku berangkat dulu ya?" ucap Galen.


Tiara menganggukkan kepalanya, lalu Galen kini beralih pamit pada putranya yang masih kecil dan mungil itu. Tak lupa Galen mencium pipinya karena gemas, ya tentu ia sangat bangga karena memiliki seorang anak yang tampan seperti Askha. Ia berharap nantinya sang putra akan bisa tumbuh menjadi lelaki yang hebat dan kuat, tentunya seperti mendiang ayahnya dahulu.


Setelah puas berpamitan, akhirnya Galen pergi dari rumah itu bersama supirnya. Sedangkan Tiara serta Askha masih tetap berada disana, tampak juga Tiara menurunkan tubuh Askha dan menaruhnya di atas roda yang disediakan. Wanita itu pun merendahkan posisi tubuhnya, menatap serta mengajak bicara Askha yang masih belum bisa berbicara itu.


Saat ia sedang asyik berbincang-bincang dengan sang putra, tanpa diduga sebuah mobil muncul di depan pagar rumahnya. Sontak Tiara terkejut, apalagi ketika melihat seorang lelaki turun dari mobil tersebut sambil melepas kacamatanya. Tiara amat mengenalinya, pria itu merupakan Nico alias sang mantan yang telah lama menghilang. Tiara tak mengerti, apa sebenarnya niat Nico datang kembali kesana dan darimana pria itu tahu rumahnya.


Tiara tampak berdiam di tempatnya, menatap ke arah Nico yang sedang berdiskusi dengan satpam di rumah itu. Karena penasaran, akhirnya Tiara kembali bangkit dan berdiri tegak. Ia berniat menghampiri lelaki itu disana, sebelum terjadi keributan yang malah akan membuatnya pusing. Kebetulan juga suster Askha alias orang yang membantunya mengurus anak itu muncul, sehingga Tiara bisa pergi menemui Nico disana tanpa khawatir.


"Berhenti Nico!" suara teriakan dari mulut Tiara itu membuat Nico yang sedang tersulut, kini mulai mereda dan beralih dengan senyuman begitu melihat Tiara muncul.


Keduanya pun saling bertatapan, apalagi Tiara telah berada tepat di hadapan lelaki itu. Nico kini beralih memandang wanita yang masih sangat ia cintai itu, ia juga melangkah mendekatinya dan tak perduli pada sang satpam yang terus saja menghalanginya. Tiara mencegah satpamnya yang hendak memukul Nico, ia malah meminta satpam itu membuka pagar dan melangkah keluar mendekati pria itu.


"Ada apa sih Nico? Kenapa kamu datang ke rumah aku sekarang? Gak puas kamu udah pernah ganggu rumah tangga aku, ha?" tanya Tiara tegas.


Lelaki itu tersenyum lebar mendengar pertanyaan yang dilontarkan Tiara, ia menggelengkan kepala dan juga mengusap wajahnya sembari berjalan terus mendekati wanita itu. Bahkan Nico sampai berniat meraih tangan Tiara, hanya saja Tiara lebih dulu menarik tangannya sehingga Nico tidak bisa menyentuh ataupun menggenggamnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2