Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 156. Jadikan yang kedua


__ADS_3

Hari berganti, ini adalah hari kedua Libra beserta Ciara tinggal di rumah orang tua mereka dikarenakan kondisi rumah mereka yang dianggap tidak aman dan malah membahayakan bagi mereka. Ya kini Libra berniat mengajak istrinya jalan pagi menikmati udara segar dan juga pemandangan yang indah, selain itu sinar matahari pagi juga bagus untuk Cyra yang saat ini turut berada di gendongan mamanya.


Ciara pun sangat senang karena suaminya mau menemani ia untuk mengasuh putri mereka, memang Libra adalah tipe suami yang pengertian dan pastinya selalu mau membantu Ciara dalam melakukan sesuatu. Berbeda dengan para lelaki lainnya, Libra amat perduli pada istri dan juga anaknya. Pria itu tak mau jika Ciara merasa letih, apalagi kondisi Ciara yang masih terlalu lemah.


"Sayang, kita jalannya gausah jauh-jauh ya? Cukup keliling komplek sini aja, takutnya nanti kamu malah kecapekan kalau kejauhan!" ucap Libra.


"Iya mas." Ciara mengangguk sambil tersenyum.


Sepasang suami-istri itu pun melangkah keluar dari pintu gerbang rumah Gavin, mereka lalu berjalan santai menyusuri komplek yang masih asri dan tidak terlalu ramai itu. Kendaraan yang berlalu lalang juga tidak banyak, sehingga udara disana masih aman bagi bayi seusia Cyra. Apalagi, di sekitar mereka juga terdapat banyak sekali tanaman hijau yang menambah kesejukan udara di sekelilingnya.


"Mas, kamu gak ada rencana buat bawa aku sama Cyra jalan-jalan liburan gitu? Aku bosen tahu kalau di rumah terus, pengennya tuh kita pergi bertiga gitu biar seru. Kamu setuju gak?" tanya Ciara.


"Ya aku sih setuju aja, tapi nanti gak sekarang. Situasinya masih belum aman untuk kita pergi liburan sayang, aku aja kan belum tahu siapa orang yang kemarin itu nyerang rumah kita. Takutnya mereka nanti beraksi lagi," jawab Libra.


"Yah masih lama dong, padahal aku udah pengen banget jalan bertiga sama kamu dan Cyra!" ucap Ciara merengut.


"Nanti ya sayang, kita tunggu situasinya membaik dulu? Kamu gak mau kan kalau misal nanti Cyra kenapa-napa di jalan? Ini bahaya banget loh, jelas kemarin orang itu mau incar kamu dan juga Cyra!" ucap Libra coba meyakinkan istrinya.


Ciara mengangguk perlahan, "Aku ngerti kok mas, yaudah yuk lanjut lagi!" ucapnya.


Kali ini Libra setuju, keduanya mulai kembali melangkahkan kaki dan bergerak menyusuri jalan yang indah dan sepi. Akan tetapi, tanpa diduga mereka dicegat dengan sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di hadapan mereka. Libra sontak melebarkan bola matanya, ia penasaran sekali siapa yang ada di dalam mobil hitam tersebut.


Tak lama kemudian, seorang wanita tampak menuruni mobil itu dan melangkah menghampiri tempat dimana Libra serta Ciara berada. Libra spontan melongok tak percaya dengan apa yang dilihatnya, di depannya kini tengah berdiri sosok dokter Syifa yang merupakan buronan polisi dan diincar sedari lama.


"Syifa, apa yang kamu lakukan disini? Seharusnya tempat kamu itu di penjara, dan kamu gak boleh berkeliaran bebas seperti ini!" geram Libra.


"Hahaha, kenapa Libra? Kamu kok syok gitu sih lihat aku, hm? Aku ini kan dulu partner kerja kamu, santai aja dong! Aku cuma pengen ketemu sama kamu, aku kangen tahu!" ucap Syifa dengan manja.


Libra menggeleng perlahan, "Gausah ngaco kamu Syifa! Saya akan segera lapor polisi dan bilang kalau kamu ada disini," ucapnya mengancam.


"Eits, tunggu dulu Libra!" ucap Syifa menyela.


Libra yang hendak mengambil ponselnya pun mengurungkan niatnya, ia tidak jadi melakukan itu karena perkataan Syifa tadi. Ia kini kembali menatap ke arah wanita itu dengan wajah bingung, seolah tak mengerti mengapa Syifa menahannya.


"Sebelum kamu laporin aku ke polisi, aku bisa bikin satu keluarga kamu mati loh!" ucap Syifa disertai senyuman iblisnya.


Deg


Baik Libra maupun Ciara kompak melongok terkejut, mereka sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud Syifa barusan.


__ADS_1



Disisi lain, Tiara kembali bekerja setelah meminta izin selama dua hari ini untuk menemani Ciara yang baru melahirkan. Kini Tiara datang ke kantornya dan langsung disambut oleh beberapa karyawan yang juga rekan kerjanya, mereka tampak merindukan wanita itu karena cukup lama mereka tidak berjumpa dengannya.


Disaat mereka tengah berkumpul, tiba-tiba Adrian muncul di dekat mereka dan membuat para karyawan itu seketika menjauh dari Tiara. Tentu saja Tiara sendiri juga mengalihkan pandangannya ke arah sang bos, ia sapa pria itu disertai senyum manisnya yang berhasil membuat Adrian terpukau seketika dengan indahnya senyum sang sekretaris.


"Selamat pagi pak, maaf saya baru bisa kembali bekerja sekarang!" ucap Tiara dengan ramah.


Adrian tersenyum dibuatnya, ia mengangguk paham seraya menghela nafasnya. Tak mungkin Adrian akan memarahi sekretarisnya itu, apalagi selama ini Tiara bekerja dengan baik dan selalu menyenangkan tiap kali Adrian berada di sisinya. Itulah yang Adrian rindukan dari sosok Tiara, karena sejak Tiara cuti maka hidup Adrian terasa ada yang berbeda.


"Pagi juga! Gapapa Tiara, justru saya kaget kamu udah masuk kerja sekarang. Bukannya waktu itu kamu ajuin cuti lima hari ya? Ini baru hari ketiga, kok kamu udah masuk aja?" ujar Adrian keheranan.


"Ahaha, iya pak soalnya situasinya udah mendingan kok. Lagian saya gak enak lah kalau cuti terlalu lama, nanti bapak kesulitan kerjanya," ucap Tiara.


"Ya benar juga sih, yaudah ayo ke ruangan saya! Yang lain kembali bekerja, jangan malah pada ngerumpi atau gosipin orang lain loh!" ucap Adrian.


"Baik pak!" ucap semua karyawan serentak.


Setelahnya, Adrian membawa Tiara pergi dari tempat itu menuju ruangannya. Pria itu sangat senang lantaran Tiara telah kembali bekerja, setidaknya kini ia bisa lebih bahagia dan tidak akan murung lagi selama berada di kantor. Selain karena kecantikan Tiara, pria itu juga merasa jika Tiara selalu bisa membawa aura positif di tubuhnya.


"Silahkan masuk, Tiara!" ucap Adrian setelah membuka pintu ruangannya.


"Terimakasih pak."


Wanita itu terduduk di kursi berhadapan dengan sang bos, namun entah mengapa Adrian terus saja menatap ke arahnya dan membuat Tiara merasa canggung. Tidak biasanya Adrian bersikap seperti itu, apalagi kebaikannya terlalu berlebihan dan Tiara benar-benar takut jika ada rencana yang sedang dipersiapkan pria itu kepadanya.


"Kamu itu kenapa sih Tiara, kok kayak yang gak suka gitu sama saya? Apa karena kita udah lama gak ketemu, terus kamu jadi canggung dan lupa siapa saya ini?" tanya Adrian menegur sekretarisnya itu yang terus saja terdiam menunduk.


"Ah i-i-iya pak, maaf kalau saya gak sopan sama bapak! Saya tuh cuma bingung aja, kok bapak jadi sebaik ini sama saya?" ucap Tiara dengan gugup.


"Jadi karena itu daritadi kamu diam aja dan lebih banyak nunduk pas sama saya? Ya ampun Tiara, kamu gak perlu bingung kayak gitu kali! Saya ini kan emang orangnya friendly," ucap Adrian terkekeh.


"Ohh, tapi saya takut aja ada karyawan yang salah paham nanti sama kita," ucap Tiara.


"Tenang aja, yuk kita mending bahas agenda yang akan saya lakukan hari ini! Udah kamu gak perlu canggung dan gugup begitu!" ucap Adrian.


"Ba-baik pak!" ucap Tiara gemetar.


Akhirnya mereka mengalihkan pembahasan menjadi agenda yang akan mereka lakukan nantinya, tapi tetap saja pandangan Adrian tak pernah teralih dari wajah cantik Tiara yang mempesona. Meski sudah memiliki satu orang anak, tetapi kecantikan Tiara memang tak pudar dan mengalahkan para wanita lainnya yang masih berstatus lajang.


__ADS_1



Libra kini masih tercengang setelah mendengar perkataan Syifa mengenai dirinya yang bisa saja menghabisi satu keluarganya saat itu juga, tentu Libra tak mengerti apa maksud Syifa mengatakan itu dan apa yang sudah direncanakan wanita itu. Libra pun khawatir, ia mengira jika Syifa telah atau baru berencana untuk melakukan hal buruk pada anggota keluarganya yang ada di rumah sana.


Kelicikan Syifa memang tidak bisa diremehkan lagi, bahkan wanita itu saja berhasil mengelabui para polisi dan menghindar dari kejaran polisi-polisi tersebut. Hingga kini statusnya masih buron, namun para polisi seolah tak memiliki petunjuk akan keberadaannya dan belum bisa menangkapnya. Justru, saat ini Syifa tiba-tiba muncul di hadapan Libra serta Ciara dan mengancam mereka berdua.


"Ya benar Libra, kamu gak mau kan kalau keluarga tercinta kamu itu mati semuanya tanpa sisa? Pikirkan keselamatan mereka sayang, jangan gegabah mau laporin aku ke polisi!" ucap Syifa.


Libra benar-benar dibuat bingung saat ini, ia tak tahu harus mempercayai ucapan Syifa atau tetap pada putusan pertamanya untuk melaporkan wanita itu. Matanya melirik sekilas ke arah sang istri, namun Ciara juga tampak menggeleng pertanda bahwa istrinya itu pun bingung harus melakukan apa demi bisa menyelamatkan nyawa mereka.


"Kamu tidak usah bingung Libra, cukup ikuti kata-kata aku dan keluarga kamu akan selamat!" ucap Syifa tersenyum seringai.


"Diam kamu Syifa, jangan mengancam saya seperti itu! Saya tidak pernah takut dengan ancaman kamu yang tidak jelas alasannya itu, lebih baik sekarang juga saya telpon polisi!" geram Libra.


"Kamu yakin Libra? Apa kamu sudah tidak perduli lagi dengan keluarga kamu, hm?" ucap Syifa.


"Kalau memang kamu punya sesuatu, katakan sekarang apa yang sudah kamu lakukan ke keluarga saya!" sentak Libra.


"Rahasia dong Libra, kalo gak gitu nanti kamu gak terkejut loh," kekeh Syifa.


Libra semakin kesal dibuatnya, ia mengepalkan kedua tangannya dan gemetar kuat menahan emosi yang hendak meledak. Pria itu masih bingung apa yang dimiliki Syifa sebagai senjata rahasianya, dan mengapa wanita itu terlihat begitu yakin kalau dia bisa menghabisi seluruh keluarga Libra dalam waktu sekejap.


"Jangan emosi gitu ah sayang! Kalau kamu gak pengen keluarga kamu terluka, kamu mending turutin deh permintaan aku sekarang!" ucap Syifa.


Libra mengernyitkan dahinya, "Apa yang kamu mau, Syifa?" tanyanya.


"Cabut semua laporan kamu ke polisi tentang aku, lalu biarkan aku hidup bebas lagi seperti dulu! Selain itu, jadikan aku istri kedua kamu sayang! Aku rela kok, asalkan aku bisa sama kamu," jawab Syifa.


Plaaakk


Satu tamparan langsung mendarat keras di wajah Syifa begitu wanita itu selesai bicara, bukan dari Libra melainkan tangan kokoh Ciara lah yang melakukannya. Hal itu sontak membuat Libra ikut terkejut, Libra sungguh tak menyangka istrinya akan bertindak seberani itu dengan menampar Syifa di hadapannya saat ini.


"Jaga ya bicara kamu, dasar wanita murahan! Bisa-bisanya kamu terang-terangan minta mas Libra buat nikahin kamu di depan aku, emang gak punya hati!" umpat Ciara.


Syifa tersenyum saja sembari memegangi pipinya, ia senang ketika Ciara terpancing emosinya dan tidak bisa dikendalikan. Meski rasanya Syifa sangat ingin membalas tamparan itu, tetapi kini ia terpaksa berdiam diri saja tanpa berbuat apapun. Sedangkan Ciara masih terlihat penuh emosi, ditatapnya wajah Syifa dengan tatapan tajamnya.


"Kamu jangan mimpi ya Syifa, kamu gak akan bisa jadi istri kedua mas Libra! Selagi masih ada aku disini, mas Libra cuma boleh punya aku dan kamu gak punya hak apa-apa untuk memiliki suami aku!" sentak Ciara.


Libra pun berusaha menenangkan istrinya, ia dekap dan bisikkan kalimat penenang kepada sang istri sembari mengecup pipinya. Beruntung Ciara mau menurut dengannya, sehingga kini wanita itu dapat ditenangkan dan tidak lagi terpancing emosi oleh perkataan busuk Syifa.


Tak lama kemudian, di sela-sela perdebatan mereka datanglah kembali sebuah mobil dari arah belakang yang berhenti tepat di hadapan mereka. Dari mobil itu kini muncul seorang pria dengan pakaian rapihnya, ya dia adalah Bagas alias musuh bebuyutan keluarga Nadira sampai sekarang ini.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2