
Saat pulang sekolah, Ciara yang sudah tidak sabar ingin melihat kondisi kakaknya di rumah sakit pun terpaksa pergi begitu saja meninggalkan area sekolah tanpa mengikuti perintah Libra yang memintanya menunggu disana sampai jemputan datang. Pasalnya Ciara begitu khawatir pada Galen, sehingga ia memilih pergi sendiri sembari memesan ojek online pada ponselnya.
Namun, ojek yang ia pesan tak kunjung datang dan membuatnya geram. Gadis itu terus melangkah mencoba mencari titik dimana ojeknya berada, tentu ia terus menunduk menatap ke layar ponsel sampai tak memperhatikan sekitar. Ciara sungguh lengah, ia tak sadar kalau sedari tadi ada dua orang yang mengamatinya dari jarak jauh dengan motor yang mereka kenakan.
Dan benar saja, tak lama kemudian dua orang itu mulai beraksi mendekatinya dengan membawa motor dalam kecepatan tinggi. Satu orang yang dibonceng pun dengan mudah meraih ponsel milik Ciara dari tangan gadis itu, sontak Ciara terkejut dan reflek berteriak karena kesal sekaligus tak menyangka kalau ia akan bertemu jambret disana.
"Eh jambret, jambret! Tolong ada jambret! Tolong!" teriak Ciara sambil berusaha lari mengejar jambret tersebut, ya tapi ia kehilangan jejak sebab laju motor mereka yang sangat kencang.
Ciara pun membungkuk memegangi lututnya seraya mengambil nafas, ia sungguh kesal bercampur sedih karena ponsel kesayangannya dijambret oleh orang yang tidak dikenal. Tentu saja Ciara sekarang bingung, ia tak bisa lagi melihat dimana posisi ojeknya atau menghubungi seseorang untuk meminta bantuan dan menjemputnya.
"Ada apa neng? Kenapa lari-larian gitu?" tiba-tiba saja, muncul empat orang pria dari arah belakangnya dan menegur gadis itu.
"Eee anu, itu hp saya dijambret sama orang. Saya coba kejar jambretnya, tapi saya gak berhasil karena mereka bawa motornya cepat banget," jawab Ciara sambil terengah-engah.
"Ohh, ya gak mungkin bisa dikejar dong neng, mereka kan pake motor. Udah yang sabar aja ya, mungkin ini takdir!" ucap orang itu.
Ciara mengangguk perlahan, "Iya makasih pak, saya juga ikhlas kok hp saya dijambret. Ya walaupun saya kesal banget sekarang, karena saya jadi gak bisa pulang!" ucapnya.
"Sabar ya neng! Apa mau kita bantu sesuatu? Supaya neng bisa pulang ke rumah," tawar orang itu.
"Gausah deh pak, makasih. Saya mau pulang sendiri aja cegat angkot di dekat sini," ucap Ciara menolak.
"Permisi!" sambungnya sekaligus pamit.
Disaat Ciara berbalik dan hendak pergi, empat orang pria itu malah terus mengejarnya dan mepet ke arahnya seperti hendak bertindak jahat. Tentu saja Ciara sadar akan itu, ia mempercepat langkahnya agar empat pria itu tidak bisa mengejar atau melakukan yang aneh-aneh padanya.
Akan tetapi, salah seorang dari mereka berhasil mendekat lalu memegang bagian belakang tubuhnya dengan sedikit menekan. Sontak Ciara berbalik bermaksud protes, siapa yang terima jika bagian tubuhnya disentuh seperti itu oleh pria asing yang ia tidak tahu siapa.
"Kalian mau apa sih? Siapa kalian sebenarnya?" tanya Ciara dengan lantang.
Keempat pria itu malah tersenyum puas dan beralih mengelilingi Ciara, membuat Ciara sungguh ketakutan dan bingung harus melakukan apa. Terlebih orang-orang itu berdiri di sekitarnya seolah tak membiarkan Ciara untuk pergi, tak ada yang bisa dilakukan Ciara saat ini.
"Hey manis, kamu gausah takut sama kita! Disini kita cuma mau bantuin kamu kok, udah tenang aja ya!" ucap orang itu sembari terus memepet tubuh Ciara.
"Ih jangan kurang ajar ya! Saya bisa teriak loh biar kalian semua dikejar warga!" ancam Ciara.
"Oh ya? Memangnya apa salah kami? Toh kami gak melakukan apa-apa, kamu gak bisa teriak dan memfitnah kami dong," ucap orang itu dengan mencolek dagu Ciara.
__ADS_1
Ciara yang tak tahan lagi, langsung menginjak kaki orang tersebut dan berusaha melarikan diri. Namun, tiga orang lainnya berhasil dengan mudah menangkap tubuh gadis itu kembali dan mendekapnya erat sampai Ciara berteriak ketakutan berusaha meminta tolong warga sekitar.
"Akh tolong! Tolong!!" teriak Ciara sebelum mulutnya dibekap oleh orang itu dengan telapak tangan.
"Mmpphh mmpphh!!" Ciara masih terus berontak, tapi tenaga keempat pria itu memang sangat kuat dan tidak bisa diatasi olehnya.
"Heh! Berani banget kamu injak kaki saya, dasar cewek sialan!" geram orang itu.
Ciara menggelengkan kepalanya saat pria itu mengusap wajahnya dengan tangan kasar yang membuat tubuhnya merinding, lalu mereka berempat membawa paksa Ciara menjauh dari sana menuju tempat yang agak sepi. Tentu Ciara tak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.
"Hiks hiks, kenapa ini semua terjadi sama aku sih?" batin Ciara.
"HEY LEPASIN DIA!" tanpa diduga, suara lantang seseorang terdengar di telinga mereka dan membuat kelimanya menoleh ke asal suara secara bersamaan.
Mata Ciara terbelalak melihatnya, ada rasa senang dan harapan yang besar saat ia melihat pria itu datang untuk menolongnya. Ciara tentunya tak ingin dibawa oleh keempat pria asing tersebut ke tempat yang entah dimana, sehingga ia sangat bersyukur dengan kedatangan seseorang tersebut.
•
•
Disisi lain, Libra terpaksa mengajak Bella ke sekolah Ciara untuk menjemput keponakannya itu. Jujur saja sebenarnya Libra tak ingin Bella ikut dengannya, sebab Libra lebih suka jika ia berdua saja dengan Ciara yang menggemaskan. Namun, Libra tak memiliki pilihan lain dan terpaksa menuruti kemauan Bella daripada terjadi kesalahpahaman lagi.
"Duh, kok Ciara gak ada ya? Ini semua gara-gara kamu Bella! Andai aja kamu gak maksa buat ikut tadi, pasti aku udah sampai lebih cepat disini dan Ciara gak akan pergi!" ujar Libra panik.
"Lah kenapa kamu jadi nyalahin aku? Lagian kok kamu kelihatannya perduli banget sama dia, ada apa sih emang?" ucap Bella tak kalah galak.
"Ya jelas lah aku perduli sama Ciara, dia itu ponakan aku. Dia anak kakak aku yang sangat aku sayangi, makanya aku gak mau Ciara kenapa-napa!" tegas Libra.
"Yaudah, terus kenapa kamu malah nyalahin aku coba?" protes Bella.
"Bukan begitu, aku cuma cemas dan khawatir aja sama Ciara. Aku takut dia diculik lagi seperti kemarin, harusnya kamu tuh tadi jangan maksa buat ngikut sama aku!" ucap Libra.
"Iya iya, aku minta maaf sama kamu. Sekarang kita cari aja Ciara di sekitar sini, atau kamu coba hubungi hp dia!" usul Bella.
"Okay." Libra mengangguk menurut.
Pria itu mulai mencoba menghubungi nomor Ciara, akan tetapi ponselnya tidak aktif dan berkali-kali Libra mencoba juga hasilnya tetap sama. Sontak pria itu bertambah panik, apalagi ia tahu betul kalau Davin masih berkeliaran di luar sana setelah bebas dari kejaran polisi semalam.
__ADS_1
"Hp nya gak aktif, aku jadi makin khawatir sekarang sama Ciara!" ucap Libra.
"Sabar sayang! Ayo kita cari Ciara di sekitar sini, atau mungkin aja dia masih di dalam sekolah kan? Coba deh kamu tanya sama satpam!" ucap Bella.
"Iya, sebentar ya? Kamu tunggu disini aja!" ucap Libra yang diangguki oleh Bella.
Tanpa menunggu lama lagi, Libra segera menghampiri satpam penjaga sekolah untuk bertanya mengenai Ciara. Sedangkan Bella menunggu di dekat mobil sambil terus menggerutu kesal, karena melihat kekasihnya yang begitu perduli pada gadis lain.
"Eee permisi pak, bisa saya minta waktunya sebentar?" ucap Libra menegur satpam itu dengan ramah dan lembut.
"Eh iya pak, ada apa ya?" tanya satpam yang langsung bangkit dari duduknya.
"Begini pak, saya niatnya kesini mau jemput ponakan saya, Ciara Chereena. Kira-kira bapak tahu gak ya Ciara kemana?" jelas Libra.
"Oalah, neng Ciara toh? Ya tadi sih dia sempat nunggu disini pak, tapi gak lama dia langsung pergi gitu aja dan gak bilang apa-apa sama saya. Kayaknya dia mau nyari ojek deh pak," ucap satpam memberitahu pada Libra.
"Apa? Ciara pergi pak? Duh, kira-kira bapak ingat gak Ciara pergi lewat mana? Terus dia perginya udah lama atau baru?" tanya Libra makin cemas.
"Dia ke arah kanan sih pak, dan kayaknya sih udah lumayan lama deh. Mungkin sekitar lima belas atau dua puluh menitan yang lalu," jawab satpam itu.
"Oh okay, makasih ya pak atas informasinya?" ucap Libra.
"Iya sama-sama, pak. Semoga neng Ciara nya cepat ditemukan dan dalam keadaan baik-baik saja ya pak!" ucap satpam itu.
"Aamiin." setelahnya, Libra pun kembali ke tempat Bella dengan wajah murung dan gusar.
Sontak Bella menatap bingung ke arah kekasihnya itu, ia tak mengerti mengapa Libra terlihat seperti orang yang panik dan mencemaskan sesuatu. Bella langsung saja mendekati Libra dan meraih tangannya berusaha mencari tahu apa penyebab Libra menjadi seperti itu.
"Sayang, kamu kenapa? Apa jawaban satpam tadi? Ciara masih ada di dalam kan?" tanya Bella.
Libra menggeleng lesu, "Enggak sayang, Ciara udah pergi duluan katanya. Aku khawatir banget sama dia, ayo sayang kita cari dia sekarang!" jawabnya.
"I-i-iya, ayo sayang! Tapi udah ya, kamu jangan sedih terus kayak gini!" ucap Bella menenangkan.
Libra mengangguk setuju, kemudian mengajak Bella masuk ke dalam mobil dan dengan segera langsung menancap gas mencari keberadaan Ciara. Tentu saja Libra sangat panik, ia tidak mau jika sampai terjadi sesuatu pada gadis itu. Pastinya Libra akan sangat menyesal karena ia telah gagal menjaga Ciara, sesuai permintaan Nadira.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...