
Ciara dengan sangat terpaksa harus mengikuti kemauan Davin yang mengajaknya ke sebuah cafe saat ini, ia pun duduk bersama pria itu dan terlihat saling bertatapan dengan serius. Jujur Ciara amat malas untuk melakukan itu, tetapi ia tak ada pilihan lain selain menurutinya. Meski, Ciara tadi sudah sempat menolak ajakan Davin karena ia harus pergi ke sekolah untuk mengajar murid-muridnya.
Davin tampak tersenyum lebar dan terus menatap wajah cantik wanita di depannya, ia merasa beruntung karena dapat bertemu dengan Ciara dan berbincang berdua dengannya. Masih banyak yang ingin ia bahas bersama wanita itu, terutama mengenai kabar perceraian Ciara dan Libra. Davin tentu sangat berharap semua itu benar, karena ia akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bisa mendekati Ciara seperti dulu lagi.
"Aku dengar-dengar kamu mau cerai sama suami kamu itu ya, Ciara? Benar gak sih kabar yang aku dapetin itu?" tanya Davin memastikan.
Ciara terbelalak lebar, ia tak menyangka kalau Davin masih mencari informasi tentang dirinya. Wanita itu pun menggelengkan kepalanya, merasa heran mengapa Davin tak henti-henti mengganggu hidupnya. Ciara juga heran darimana Davin bisa mengetahui masalah itu, padahal ia tak pernah menyebarkan kabar perceraiannya itu ke media.
"Kamu tau darimana? Apa Cyra yang kasih tau semua ini ke kamu?" tanya Ciara.
Davin menggeleng, "Enggak kok, bukan Cyra yang cerita tentang ini. Aku tau semua ini dari orang suruhan aku yang memantau kamu, dia sih bilang kalau kabar ini pasti benar," jawabnya.
"Ck, apa maksud kamu? Berarti selama ini kamu masih cari tahu tentang aku?" geram Ciara.
"Oh ya, aku ini kan sayang banget sama kamu Ciara. Aku gak mau sesuatu yang buruk terjadi dengan kamu, makanya aku suruh orang buat terus pantau kamu dari jauh. Tapi, kamu gak akan pernah tau siapa orang itu sayang," ucap Davin santai.
"Om, mau sampai kapan sih om terus kayak gini sama aku? Apa yang om mau coba dan apa tujuan om sebenarnya?" tanya Ciara keheranan.
Davin tersenyum mendengar pertanyaan dari wanita itu, ia tak mungkin mengatakan niatnya yang ingin memiliki Ciara kembali seperti dulu saat ini. Jika Ciara mengetahui itu, bukan tidak mungkin Ciara akan ikut menjauh darinya atau malah menyuruh Davin untuk tidak lagi mendekati dirinya.
"Kamu pasti bisa menebak itu sayang, karena kamu kan tau kalau saya masih cinta sama kamu. Jadi, tujuan saya yang untuk mengamankan kamu dari marabahaya," ucap Davin.
"Cukup ya om, alasan om itu gak jelas banget tau! Mending om jujur aja deh sama aku sekarang, apa niat om ngelakuin ini ke aku!" pinta Ciara.
__ADS_1
"Kalau saya bilang saya mau kamu menikah dengan saya, apa kamu akan menjawab ya ke saya sekarang? Atau justru kamu malah emosi dan meminta saya menjauh nantinya?" ujar Davin.
Deg
Ciara terkejut bukan main, menikah dengan pria itu adalah sebuah hal yang tidak mungkin ia lakukan sampai kapanpun. Davin sudah pernah membuat hidupnya menderita, terutama ketika Davin menyebarkan video syur mereka ke media sosial dan mengancamnya berulang kali.
"Menikah? Om udah lupa ya apa yang om lakuin ke aku waktu itu, hm? Kenapa sekarang bisa-bisanya om ngajak aku nikah?" ucap Ciara dengan tegas.
"Saya tahu Ciara, saya memang sudah melakukan hal yang tidak benar ke kamu waktu itu. Tapi, saya kan sudah minta maaf sama kamu. Saya juga sudah menebus semua kesalahan saya itu, bahkan membalikkan nama baik kamu," ucap Davin.
"Tetap aja, sampai kapanpun aku gak akan pernah bisa maafin om!" sentak Ciara.
Ciara mengatakan itu dengan suara lantang dan penuh ketegasan, sebab ia memang tidak akan mungkin bisa dan mau menikah dengan pria yang sudah melecehkannya itu.
•
•
"Pa, sekarang aku minta papa janji sama aku buat menjauh dari aku ataupun mama! Sekali lagi aku lihat atau dengar papa ganggu mama, aku gak akan segan-segan buat laporin papa ke polisi atas tuduhan penculikan!" ucap Askha mengancam.
Galen tersentak, "Apa yang kamu bicarakan Askha? Berani sekali bicara seperti itu kepada papa kamu sendiri!" ucapnya tak percaya.
"Kenapa aku harus takut, pa? Papa aja udah bikin hidup aku dan mama menderita, ini adalah jalan yang pas supaya papa gak berani lagi ganggu mama!" sentak Askha.
__ADS_1
"Tidak Askha, papa gak pernah sakitin kalian! Papa cuma mau kamu tinggal sama papa, karena papa ingin merawat anak papa juga!" ucap Galen.
Askha menggeleng pelan, ia menolak secara terang-terangan permintaan papanya itu. Semua yang dilakukan Galen terhadap Tiara dulu, membuat Askha sadar kalau ia tidak membutuhkan lagi sosok ayah di dalam hidupnya. Ia sudah mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari mamanya, dan ia hanya membutuhkan mamanya saat ini.
"Papa gak perlu susah-susah ngelakuin itu, pa. Aku udah dapetin semuanya dari mama, jadi kehadiran papa itu gak aku butuhkan lagi!" ucap Askha.
Deg
Galen tersentak dan melongok lebar dibuatnya, ia merasakan sakit hati yang amat sangat ketika putranya berkata seperti itu tepat di hadapannya. Padahal, jujur Galen sangat menyayangi Askha dan tak pernah terbesit sedikitpun di dalam pikirannya untuk menelantarkan putranya itu.
"Ka-kamu kenapa bicara seperti itu Askha? Biar gimanapun papa ini papa kamu!" ucap Galen.
"Enggak pa, aku gak mau punya papa seperti papa Galen! Kalau papa emang anggap diri papa itu sebagai orang tua aku, harusnya papa ubah sikap papa itu!" ucap Askha dengan tegas.
Galen terdiam saat itu juga, ia menundukkan wajahnya dan merasa malu setelah mendengar semua ucapan putranya barusan. Ia pun juga menyesal karena telah berkhianat dari Tiara kala itu, hanya karena ia tidak bisa menahan gairahnya yang sudah di ujung tanduk itu.
Sementara Tiara kini mendekat dan berusaha membujuk putranya agar menghentikan perdebatan itu, ia tak mau situasi makin memanas dan akibatnya malah lebih buruk daripada yang terjadi saat ini. Tiara juga sebenarnya tidak ingin Askha membenci papanya sendiri, namun ia pun tak bisa merubah sikap dari Galen yang keras kepala itu.
"Sayang, kita pulang aja yuk! Kamu anterin mama ke rumah ya? Kamu masih bisa kan bawa motor? Atau kita mau naik taksi aja?" ucap Tiara.
"Gapapa ma, aku masih bisa naik motor kok. Ayo kita pulang ma!" ucap Askha.
Tiara mengangguk setuju dan menggandeng tangan putranya itu untuk membantu berjalan menuju motornya disana, mereka berdua pun pergi begitu saja tanpa berbicara apapun kepada Galen yang masih berdiri meratapi nasibnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...