Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 220. Mau dijual?


__ADS_3

Adrian masih terus menggenggam tangan sang sekretaris kali ini, ia tak akan pernah melepaskan wanita itu apalagi membiarkan Tiara keluar dari kantor tempatnya bekerja. Sampai kapanpun, Adrian akan terus mengejar Tiara serta menahan wanita itu agar dekat bersamanya. Apalagi, dari dulu hingga sekarang hanya Tiara lah yang berhasil membuat Adrian merasa jatuh cinta dan nyaman padanya.


Berulang kali Tiara mencoba melepaskan diri, tetapi berulang kali juga Adrian berhasil menahan Tiara agar tetap disana dan tidak pergi kemana-mana sesuai perintahnya. Cengkraman di tangan Tiara juga semakin kuat, sehingga Tiara tak dapat melakukan apapun saat ini. Meski begitu, Tiara juga masih tetap tidak ingin berada disana bersama Adrian karena pria itu telah menipunya tadi.


"Aku minta sama kamu Tiara, tolong kamu tetap disini dan jangan kemana-mana ya! Aku cuma pengen bicara berdua sama kamu, tapi kalau aku jujur tadi pasti kamu gak akan mau datang kesini. itu sebabnya aku terpaksa bohong," ucap Adrian.


"Maaf pak, aku gak bisa! Aku harus pulang ke rumah, kasihan anak aku sendirian disana!" pinta Tiara.


"Sebentar aja Tiara, aku mohon sama kamu! Aku janji gak akan ganggu lagi setelah ini, percaya sama aku!" ucap Adrian memohon.


"Yaudah, sekarang bapak juga jangan ganggu saya ya!" ucap Tiara.


Adrian menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin mau melepaskan Tiara dan membiarkan wanita itu pergi dari sana malam ini. Ia sudah bersusah payah menyiapkan semua itu untuk Tiara, maka paling tidak ia harus berhasil juga menyatakan cintanya dan melamar Tiara secara resmi di depan banyak pengunjung restoran itu.


"Aku sekali lagi minta sama kamu, kita bicara sebentar ya Tiara!" ucap Adrian.


Dengan sangat terpaksa, Tiara pun kembali duduk di kursi itu setelah Adrian berulang kali meminta padanya. Ya Tiara tak memiliki pilihan lain, karena ia juga malu jikalau terus menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disana. Namun, wanita itu tampak masih tidak senang dengan kelakuan Adrian yang menurutnya sangat tak pantas itu.


"Terimakasih ya Tiara, aku senang banget karena kamu akhirnya mau turutin kemauan aku!" ucap Adrian sambil tersenyum.


Kini tanpa diduga, Adrian menekuk kakinya dan merendahkan posisi tubuhnya di hadapan Tiara. Ia menyodorkan bunga di tangannya kepada Tiara seraya tersenyum memandangi wajah wanita itu, kelakuan Adrian sungguh membuat Tiara merasa malu dan kebingungan kali ini.


"Tiara, terima bunga dari aku ini ya! Ini spesial loh buat kamu Tiara," ucap Adrian.


Tiara menghela nafasnya, tanpa banyak berdebat ia meraih tangkai bunga itu dari tangan Adrian dan menggenggamnya. Tiara tak ingin membuat keributan disana, apalagi sejak tadi ia melihat sudah banyak orang yang menatap ke arah mereka akibat pertikaian singkat yang terjadi sebelumnya.


"Udah kan? Sekarang bapak duduk di atas aja, jangan di bawah kayak gitu! Saya gak enak tau pak, nanti dikiranya saya ini bawahan yang gak sopan sama atasannya," ucap Tiara.


Adrian menggeleng perlahan, "Tidak Tiara, mulai saat ini saya gak mau kamu bicara begitu lagi. Hubungan diantara kita bukan sekedar atasan dan bawahan seperti sebelumnya, karena saya mau melamar kamu disini," ucapnya.


Tiara terbelalak seketika, apalagi saat ia melihat Adrian merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak cincin dari dalam sana. Benar saja, begitu dibuka kotak tersebut memperlihatkan sebuah cincin yang indah dengan balutan emas yang mengkilap disertai berlian di atasnya yang membuat Tiara sampai tidak bisa berkedip.


"Tiara, kamu mau kan menikah dengan saya dan menjadi istri saya?" ucap Adrian sambil tersenyum.


Deg


Tiara terkejut bukan main dan tidak tahu harus menjawab apa kali ini.




"Lepas, lepasin! Kamu siapa? Jangan sentuh aku, aku gak mau! Lepasin aku, tolong!" Cyra terus meronta-ronta dan berteriak meminta dilepaskan, ia sungguh ketakutan karena pria asing itu terus menariknya ke jalan yang sepi.


Cyra masih tak menyangka ini semua akan terjadi padanya, niat awalnya datang ke tempat itu adalah ingin menonton konser boyband favoritnya, tetapi ia justru ditangkap oleh seseorang tidak dikenal yang sepertinya merupakan orang jahat, karena pria itu terus saja memaksanya ikut bersamanya dan tidak mau mendengarkan permohonannya.


"Aku mohon sama kamu, lepasin aku! Aku akan beri kamu uang yang banyak, nenek aku pengusaha kaya raya loh," ucap Cyra tampak ketakutan.


"Hahaha, dasar bodoh! Buat apa saya minta uang dari kamu, ha? Kalau saya bisa dapatkan uang yang lebih banyak dengan menjual kamu," ucap lelaki itu disertai tawa jahatnya.


"Apa? Kamu mau jual aku? Ja-jangan, tolong jangan! Aku gak akan laku dijual, aku ini cuma gadis biasa yang gak tau apa-apa," rengek Cyra.


"Ah sudah, diam kamu! Ayo ikut saya!" sentak si pria.


Pria itu terus menyeret Cyra secara paksa, kebetulan memang kondisi disana sangat sepi karena hari sudah malam dan para warga kebanyakan sudah tertidur pulas. Hal itu memudahkan si pria untuk leluasa membawa Cyra tanpa takut ketahuan, apalagi sekarang ia sudah lebih dekat dengan orang yang menyuruhnya melakukan itu.


Sesampainya disana, terlihat tiga orang lelaki berbadan kekar sudah menunggunya. Sontak si pria mempercepat langkahnya dengan menarik tubuh Cyra yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang tenaga pria itu jauh lebih besar dibanding dirinya yang hanya seorang gadis kecil.

__ADS_1


"Tolong, tolong! Tolong aku!!" Cyra tak henti-hentinya berteriak, sehingga membuat pria itu kesal.


"HEH DIAM!" bentak si pria.


"Gak mau, aku gak mau dijual. Lepasin aku, lepasin aku! Kalian orang jahat, awas loh kalian nanti bakal kena balasannya dari Tuhan karena kalian udah jahat sama aku!" ucap Cyra.


"Hahaha, ini cewek yang lu bilang tadi, Bil?" tanya seorang lelaki di depannya.


"Iya benar Tom, gue yakin banget cewek ini pasti laku di pasaran. Lihat aja nih, bodynya bagus terus kulitnya mulus! Apalagi dia masih muda, gue jamin banyak yang suka sama dia, terutama om-om kaya raya langganan kita itu," jelas si penculik.


"Bener juga lu, gue tertarik sih sama dia. Tapi satu pertanyaan gue, dia ini masih pw apa enggak?" ucap lelaki bernama Tom tersebut.


"Masih lah bro, ini gadis polos yang lagi coba ikut-ikutan dunia liar," jawab Billy tanpa ragu.


"Umm, gue gak bisa percaya gitu aja. Gue butuh buktiin semuanya sendiri, ayo bawa dia ke mobil biar gue bisa tau dia beneran masih pw apa enggak!" ucap Tom.


"Yeh modus aja lu, bilang aja lu mau main sama nih cewek!" cibir Billy.


Tom tersenyum, lalu kembali memerintahkan Billy untuk membawa Cyra ke dalam mobil agar mereka bisa menuntaskan aksinya. Sontak perkataan para pria tersebut mengundang rasa takut di hati Cyra, tapi apa daya gadis itu sudah terjebak dan tidak bisa melarikan diri dari tempat itu.


"Ja-jangan, kalian tolong jangan apa-apain aku! Aku gak mau, aku takut!" rengek Cyra.


"Sssttt, jangan takut sayang! Siapa nama kamu? Sebelum kita main nanti, aku mau tau dulu nama kamu biar gak salah sebut nanti," ucap Tom yang kini menangkup wajah gadis itu.


Cyra menggelengkan wajahnya, berusaha menyingkirkan telapak tangan pria itu darinya karena ia merasa jijik disentuh oleh pria seperti itu. Ia juga tidak sudi menyebutkan namanya pada mereka, apalagi ia tahu bahwa laki-laki tersebut adalah orang yang sangat jahat.


"Kenapa malah diam aja? Daritadi kamu berisik teriak-teriak, giliran ditanyain malah diam. Nama kamu siapa, hm?" ujar Tom.


"Kamu gausah tau nama aku, mending kamu lepasin aja aku dari sini!" sentak Cyra.


"Gak akan, yasudah biar nanti waktu yang menjawab. Intinya saat ini aku mau cobain kamu cantik, jadi kamu jangan berontak ya karena kamu gak akan bisa lepas dari sini!" ucap Tom.


Akan tetapi, semua usaha yang dikeluarkan Cyra seolah sia-sia saja karena ia kini dipegangi oleh tiga pria sekaligus. Ia dipaksa masuk ke dalam mobil yang terparkir disana, lalu duduk bersama dengan empat orang pria yang ada di dekatnya. Hanya saja, ia ditinggal berdua dengan seorang lelaki yang tak lain adalah Tom itu.


"Nah cantik, sekarang kita hanya tinggal berdua. Aku pengen buktiin kamu itu beneran masih perawan, atau udah enggak," ucap Tom.


"Untuk apa kamu ngelakuin itu? Emangnya kalau aku udah gak perawan, kenapa? Terus gimana caranya kamu mau buktiin aku ini perawan apa enggak, ha?" tanya Cyra.


"Hahaha, ya dengan masukin kamu lah. Nanti kan aku bisa tau sendiri jawabannya," ucap Tom.


"Dih, aku gak mau ngelakuin itu sama kamu! Perawan aku ini cuma buat suami aku nanti, jadi kamu jangan harap ya bisa dapetin aku!" ucap Cyra dengan tegas.


"Aku gak perduli cantik," Tom menyeringai dan semakin mendekat ke arah gadis itu.


Dengan sigap Tom berhasil mencengkram kedua tangan Cyra, ia memaksa gadis itu agar mau menurut padanya. Perlahan Tom memulai aksinya dengan mengecupi leher Cyra yang harum, seketika Tom terbuai karena memang wangi Cyra sungguh luar biasa dan membuat siapapun pasti tergoda.


"Akh lepas, jangan! Kamu gak boleh lakuin itu, lepasin aku!" rengek Cyra.


"Tenang cantik, kamu jangan banyak gerak ya kalau gak mau aku kasarin! Udah kamu nurut aja, ini bakal enak kok," bisik Tom menggodanya.


"Ih gak mau, gak boleh!" Cyra kekeuh berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu.


Pada akhirnya, Cyra pun berhasil menemukan cara yakni dengan menendang keperkasaan milik Tom menggunakan lututnya. Saat itu juga Tom mengerang kesakitan, sehingga cengkraman pada lengan Cyra terlepas dan membuat gadis itu berhasil keluar dari mobil tersebut.


"Aaarrrgghhh, hey tunggu!!" erang lelaki itu.


Tanpa berlama-lama lagi, Cyra bergegas melarikan diri karena kebetulan Billy serta dua rekannya sedang berbincang agak jauh dari mobil supaya tidak mengganggu aktivitas Tom. Tentunya ini kesempatan besar bagi Cyra, cepat-cepat ia berlari meninggalkan tempat itu walau tenaganya sudah hampir terkuras karena perlawanan tadi.

__ADS_1




Cyra terus berlari dan berlari, sampai kemudian ia nyaris tertabrak sebuah mobil yang melaju dari arah berlawanan karena tidak memperhatikan jalan. Beruntung mobil itu sempat menginjak rem, sehingga Cyra tidak tertabrak kali ini. Tetapi, gadis itu sangat terkejut dan detak jantungnya bergerak begitu cepat setelah dua peristiwa mengerikan yang nyaris menimpanya itu.


Cyra sungguh ketakutan, tangisan pecah di wajahnya ketika ia hampir saja menjadi korban pemerkosaan dan penjualan manusia yang dilakukan oleh sekelompok orang tak bertanggung jawab itu. Apalagi, baru saja ia juga nyaris tertabrak sebuah mobil yang menambah kesengsaraan di dalam hidupnya malam ini.


Tak lama kemudian, sang pengemudi mobil itu turun keluar menghampiri Cyra di pinggir jalan. Ia terlihat syok saat menyadari Cyra tengah menangis terisak di depan sana sambil menutupi wajahnya, karena penasaran ia pun mendekat dan coba menegur wanita itu. Awalnya tak berhasil, tapi akhirnya Cyra mau menoleh ke arahnya meski dengan air mata yang menggenangi wajahnya.


"Hey, halo! Kamu siapa? Kenapa kamu nangis? Sudah ya, kamu gak perlu nangis lagi nak! Maafin om ya, tadi om mengemudi gak lihat jalan dan hampir aja mobil om tabrak kamu!" ucap pria itu.


Sontak Cyra menoleh ke arah si lelaki yang baru saja mengajaknya berbicara itu, ia sungguh merasa tak asing saat mendengar suara tersebut. Oleh karena itu, disaat menoleh Cyra langsung terbelalak karena melihat sosok Davin alias guru di sekolahnya itu berdiri di depannya dengan wajah cemas.


"Pak Davin??" Cyra tersentak dan berusaha menghapus air matanya.


"Cyra, ternyata ini kamu? Pantas aja saya ngerasa gak asing sama bentuk tubuh kamu tadi, kamu ngapain malam-malam ada di tengah jalan kayak gini?" tanya Davin.


Cyra tak menjawab, ia bingung sekali harus mengatakan apa kepada Davin karena kejadian yang baru ia alami sungguh menyakitkan. Andai saja ia tidak berhasil melarikan diri, maka bukan tidak mungkin dirinya sudah dilecehkan oleh Tom dan bahkan dijual sesuai perkataan mereka tadi.


"Yasudah, kalau kamu belum bisa jawab gapapa kok. Kita ke mobil saya sekarang ya? Ini sudah malam, gak baik gadis seperti kamu berkeliaran sendirian kayak gini. Ayo saya antar kamu pulang!" ucap Davin begitu cemas.


"I-i-iya pak.." Cyra hanya bisa mengangguk dan menyetujui ajakan gurunya itu.


Akhirnya Davin membawa Cyra secara perlahan ke dalam mobilnya, ia juga membantu gadis itu berjalan sambil berusaha terus menenangkannya agar tidak terus bersedih. Meski ia belum tahu apa yang terjadi pada Cyra saat ini, namun ia yakin kalau sepertinya ada yang sedang ditakuti oleh Cyra atau apalah itu.


Di mobil, mereka kini terduduk berdampingan dengan Davin yang terus memandangi wajah cantik Cyra dari tempatnya duduk saat ini. Davin melebarkan senyumnya, ia belai rambut gadis itu yang sangat halus dengan usapan lembut. Sedangkan Cyra masih tetap terdiam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Kamu mau diantar kemana sekarang? Rumah mama kamu, rumah nenek kamu? Atau mau nginep di apartemen saya aja?" tanya Davin.


Cyra reflek menoleh ke arahnya, "Ish, ke rumah mama aja pak!" jawabnya lirih.


"Hahaha, gitu dong kamu bicara. Saya tuh paling gak bisa melihat perempuan yang saya sayangi sedih seperti ini," ucap Davin.


Deg




Sementara itu, Ciara memasuki kamar tempat Cyra dan Daiva tertidur selama beberapa hari ini di rumah Nadira. Ya Ciara ingin tahu sebenarnya kemana putrinya itu pergi saat ini, karena sampai sekarang Cyra tak kunjung pulang dan ia tak tahu kemana perginya Cyra. Apalagi, Nadira juga tidak mau memberitahu apapun padanya saat ia bertanya tadi.


Begitu sampai di dalam kamar itu, dengan cepat Ciara mengobrak-abrik seluruh isi ruangan untuk bisa menemukan sesuatu. Ia membongkar lemari serta laci yang ada disana, bahkan ia juga mengecek meja dan barang-barang di atasnya. Namun, Ciara tetap tidak mendapatkan apa-apa kali ini.


"Huft, kok gak ada petunjuk apapun ya disini? Kemana sih kamu Cyra sayang? Telpon kamu juga gak aktif," gumamnya cemas.


Lalu tanpa sengaja, Ciara melihat tas milik putrinya yang tergeletak di lantai dekat meja belajar. Sontak Ciara bergegas mengambil tas tersebut dan membuka isinya, ia berharap di dalam tas itu ada petunjuk yang bisa ia dapatkan, karena biasanya Cyra pasti selalu menyimpan sesuatu disana.


"Ayolah, semoga aku bisa dapat petunjuk dari tas ini!" ucapnya berdoa.


Ketika ia sedang mengecek isi tas putrinya, tanpa diduga ia menemukan sebuah obat pencegah kehamilan yang ada di dalam tas itu. Dengan cepat Ciara mengambilnya, ia ingin memastikan apakah benar obat itu adalah obat pencegah kehamilan atau hanya sekedar mirip.


"I-ini, obat ini... kenapa obat ini bisa ada di tas Cyra? Apa yang udah anak itu lakukan selama ini? Kemana sebenarnya dia? Kenapa juga dia harus mengkonsumsi obat seperti ini?" gumamnya.


Ciara terus bertanya-tanya pada dirinya, ia amat syok dan berharap kalau semua itu hanyalah dugaannya semata dan tidak benar-benar terjadi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2