Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 136. Tewas bertiga


__ADS_3

Libra dan Ciara datang ke rumah Nadira untuk sekedar bersilaturahmi sekaligus melepas rindu yang mereka rasakan selama ini, keduanya juga ingin menikmati indahnya sore hari dengan pergi berjalan-jalan ke luar rumah. Ya lagi pula Ciara juga bosan kalau terus-terusan berada di rumah, wanita itu lah yang terus merengek pada suaminya untuk dibawa pergi jalan-jalan mencari angin segar.


Begitu mereka sampai disana, keduanya langsung disapa oleh Nadira dan juga Askha yang berada dalam gendongan wanita itu. Sontak baik Ciara maupun Libra tampak mendekat ke arah Nadira, mereka mencium tangan sang ibu secara bergantian serta juga menyapa Askha disana. Ya Ciara amat gemas dengan pria kecil, yang tidak lain adalah termasuk keponakan pertamanya dari sang kakak.


"Ututu, gemesin banget sih kamu Askha! Aku jadi gak sabar deh pengen punya anak juga," ucap Ciara.


"Hahaha, sabar dong sayang! Baru juga masuk bulan ketiga itu kandungan kamu, masih butuh setengah tahun lagi!" ucap Nadira.


"Iya sih ma, tapi ini kok Askha sama mama? Emang kak Tiara kemana?" tanya Ciara keheranan.


"Tiara lagi pergi cari kerja katanya, terus dia titipin Askha ke mama. Lagian mama juga senang kok bisa main sama Askha cucu mama ini," jawab Nadira.


"Ohh, kak Tiara mau kerja ma? Buat apa?" tanya Ciara lagi.


"Kita lanjut bicaranya di dalam aja yuk, sekalian mama buatin minuman buat kalian berdua!" ajak Nadira yang diangguki pasangan suami-istri itu.


Ketiganya sama-sama masuk ke dalam rumah sesuai ajakan Nadira tadi, Ciara juga tak berhenti menggoda Askha yang digendong mamanya itu karena merasa gemas. Sedangkan Libra sendiri hanya senyum-senyum saja sambil menggeleng pelan melihat tingkah istrinya, ia sendiri juga merasa gemas pada kelakuan wanita itu.


Kini mereka terduduk di sofa dan dengan cepat bik Vita membawakan minuman untuk mereka disana, tiga gelas pun diletakkan di atas meja lalu setelah itu bik Vita bangkit dan kembali pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Ciara amat senang saat melihat minuman itu, langsung saja wanita itu mengambil gelasnya dan meminum dengan cepat.


Libra serta Nadira sampai terkekeh melihat tingkah Ciara saat ini, entah mengapa Ciara terlihat seperti seorang anak kecil lagi sekarang ini. Namun, Libra membiarkan saja dan malah merasa gemas jika Ciara terus seperti itu. Memang dari dulu, Libra selalu menyukai sifat Ciara yang kekanak-kanakan dan terlihat gemas di matanya.


"Ciara, kamu minumnya pelan-pelan dong jangan buru-buru kayak gitu nanti keselek loh!" ucap Nadira memperingati.


Ciara tersenyum saja mendengar ucapan mamanya, ia menyisakan setengah air di dalam gelasnya dan meletakkan kembali gelas itu di atas meja lalu kembali menatap ke arah Askha. Kini Askha ada dalam pangkuan Nadira, sehingga Ciara bisa bebas mencubit serta mengecupi pipi ponakannya itu karena gemas tak tertahan.


"Ma, aku mau gendong Askha dong. Aku pengen ngerasain juga gendong ponakan aku yang gemas ini, buat pelajaran juga sebelum nanti aku gendong anak aku," ucap Ciara.


"Iya iya sayang, tapi kamu kayak gini aja ya? Gausah sambil berdiri segala, nanti kamu takutnya capek terus malah sakit!" ucap Nadira.


"Iya mama." Ciara mengangguk paham.


Akhirnya Ciara mengambil alih tubuh Askha dari mamanya, ia gendong dan pangku pria kecil itu sambil tersenyum lebar seolah-olah sangat bahagia setelah keinginannya terwujud. Libra terkekeh melihat kebahagiaan istrinya, memang cukup mudah untuk membuat Ciara tersenyum meski mudah juga wanita itu bersedih.


"Oh ya Libra, kamu kan udah resign dari rumah sakit. Terus kamu mau kerja apa nanti?" tanya Nadira pada menantunya itu.


"Eee aku..." Libra terlihat bingung, ia sendiri juga belum tahu harus bagaimana nantinya.


Sementara Ciara masih asyik sendiri bersama Askha disana, ia tak memperdulikan obrolan mamanya dan sang suami yang tengah membahas mengenai pekerjaan. Libra pun terus berpikir keras, karena pria itu tidak mau dianggap tak becus menjadi seorang suami yang baik bagi Ciara. Apalagi, saat ini Ciara tengah mengandung calon anaknya.


"Kalau kamu belum tahu mau kerja apa, kenapa kamu enggak masuk ke kantor mama aja? Mama kan udah mulai tua, jadi mama perlu pengganti yang bisa mengurus perusahaan itu," ucap Nadira.


Libra mengernyitkan dahinya, "Tapi ma, aku kan gak ngerti apa-apa soal mengurus perusahaan. Aku aja ikut sekolah kedokteran," ucapnya.

__ADS_1


"Ahaha, iya juga sih. Tapi sayang loh perusahaan mama itu kalau gak ada yang urus, apalagi kan cuma kamu yang bisa mama andalkan. Gak mungkin kan mama kasih perusahaan itu ke orang lain?" ucap Nadira.


"Bener sih ma, tapi kan aku gak ngerti apa-apa. Gimana kalau Ciara aja yang pimpin perusahaan mama? Abis itu aku mau buka praktek kedokteran aja sebagai pekerjaan aku," usul Libra.


Nadira spontan melirik ke arah Ciara yang tengah asyik bermain bersama Askha, ada rasa tak percaya di dalam dirinya dengan putrinya itu. Meski Ciara memang anak yang pandai, namun Nadira merasa kalau Ciara belum bisa mengurus perusahaan. Disaat seperti inilah Nadira menyesali tindakan Galen yang memutuskan berselingkuh di belakang Tiara, karena jika tidak maka ia bisa menyerahkan perusahaannya itu kepada Galen.


"Usul kamu boleh juga sih Libra, tapi mama agak ragu sama Ciara ini. Lagian emang kamu udah fix mau buka praktek?" ucap Nadira.


"Ya itu baru rencana sih ma, tapi mama doain aja supaya semua bisa terealisasi!" ucap Libra.


Nadira mengangguk sambil tersenyum, ia tentu bahagia bila keluarganya bahagia dan tidak menderita seperti dirinya dulu. Namun, Nadira juga masih bingung siapa kiranya orang yang tepat untuk bisa menggantikan posisinya di perusahaan. Lambat laun, Nadira juga pasti akan kesulitan untuk bisa mengatur semua urusan di kantornya itu.


Tiba-tiba saja, ponsel milik Nadira berbunyi dan mengejutkan wanita itu sendiri yang sedang berbincang asyik dengan menantunya. Nadira pun menghentikan sejenak obrolannya, lalu mengambil ponsel itu dari saku dan mengecek siapa yang menghubunginya. Terdapat nama Liam disana, tanpa basa-basi Nadira langsung mengangkatnya.


📞"Halo Liam! Kenapa kamu telpon saya, apa ada kabar soal Tiara?" tanya Nadira di telpon.


📞"Begini bu, ada kabar kurang mengenakkan mengenai non Tiara. Sekarang saya sedang di rumah sakit bu," jawab Liam dari sebrang.


📞"Apa? Kenapa sama Tiara? Ada apa Liam?" tanya Nadira langsung panik.


📞"Umm saya baru mendapat kabar bu, kalau ternyata terjadi kecelakaan di persimpangan kereta api yang menimpa Nindi adik dari non Tiara," jelas Liam dengan lirih.


📞"Hah??" betapa syoknya Nadira, ia tak menyangka hal itu akan terjadi kepada Nindi.


Seketika Ciara serta Libra kompak terkejut dan menatap ke arah mamanya, mereka heran mengapa bisa Nadira sampai begitu setelah menerima telpon. Bahkan, kini Nadira melepas ponselnya dan membiarkan terjatuh begitu saja. Sehingga, baik Ciara ataupun Libra sama-sama kebingungan tak mengerti apa yang terjadi.


•


•


Tiara sungguh sedih dan terus terisak mengetahui hal itu, Tiara tak menyangka kalau semua ini bisa terjadi pada adiknya. Ia paham betul Nindi memang sedang mengalami masalah besar, tapi ia tak mengira jika Nindi akan nekat melakukan hal ini. Menurut kesaksian para warga, mobil Nindi memang sengaja berhenti di tengah-tengah rel tadi.


Tak lama kemudian, polisi datang bersama seorang dokter di sebelahnya. Wajah mereka tampak begitu sendu saat menatap Tiara disana, seolah mereka tidak tega untuk menyampaikan kondisi Nindi. Biar bagaimanapun, mereka tetap harus mengatakan itu karena Tiara yang juga sudah menunggu sedari tadi mengenai adiknya saat ini.


"Pak, gimana adik saya? Apa benar kalau yang terlibat kecelakaan itu adik saya atas nama Nindita Fakhira?" tanya Tiara penasaran.


"Eee iya betul mbak, di dalam mobil itu kami menemukan kartu identitas atas nama Nindi. Selain itu, terdapat juga barang berupa handphone dan tas miliknya yang masih bisa dikenali," jelas polisi.


"Tapi dok, adik saya apa masih bisa diselamatkan?" tanya Tiara lagi.


"Untuk itu maaf mbak, kami tidak bisa melakukan apapun. Dalam lokasi kejadian saja, kondisi Nindita Fakhira sudah tidak utuh," jawab polisi itu.


Tiara begitu syok mendengarnya, ia reflek menutup mulut dan menggeleng seolah tak percaya. Air mata tidak bisa dibendung lagi olehnya, wanita itu terduduk dan menangis deras mengetahui kabar mengenai adiknya. Dapat dipastikan bahwa Nindi telah tiada, sehingga Tiara tidak bisa lagi bertemu atau berbicara dengan adiknya itu.

__ADS_1


"Nindi!!" wanita itu berteriak keras, melampiaskan betapa sedihnya ia setelah kehilangan sang adik.


Sang polisi masih berdiri disana, sepertinya mereka juga bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Tiara saat ini. Lalu, polisi itu kembali mendekati Tiara dan menyampaikan kabar lainnya yang mereka temui. Ya sontak Tiara mendongak ke arah mereka, seolah penasaran ada apa lagi yang akan disampaikan oleh para polisi itu.


"Selain jasad Nindi, kami juga menemukan adanya dua jasad pria di dalam mobil itu. Kami ingin bertanya, apa mbak Tiara tahu mengenai kedua pria itu?" ucap polisi lirih.


"Apa? Adik saya di mobil itu bersama dua pria pak?" kaget Tiara.


"Benar mbak, dan keduanya kami ketahui sudah dalam keadaan pingsan sejak di dalam mobil. Setelah dilakukan otopsi, mereka sepertinya terkena pengaruh obat tidur. Dari dugaan sementara, ini mungkin terjadi karena motif balas dendam," jelas polisi itu.


"Balas dendam? Tapi, kenapa bisa adik saya mau balas dendam ke dua orang pria itu? Saya aja gak tahu apa-apa loh pak," heran Tiara.


Para polisi itu juga bingung harus menjelaskan bagaimana lagi, karena hanya itu yang mereka ketahui sekarang dan belum bisa mendapatkan informasi lainnya. Sedangkan Tiara kembali menangis deras di atas kursi itu, ia benar-benar syok dan tak menyangka kalau akan kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.


•


•


Leon kini tengah bermain bersama Daiva di halaman rumahnya, ia tampak begitu asyik dan terus berusaha mengajak Daiva untuk bisa tersenyum. Tentunya sangat sulit bagi Leon menggantikan posisi Nindi di dalam hati Daiva, namun Leon yakin kalau lambat laun ia pasti bisa membuat Daiva melupakan ibunya itu.


Tak lama kemudian, Rifka tiba-tiba muncul membawa ponsel milik Leon di tangannya. Rifka terlihat menghampiri Leon dan menyerahkan ponsel itu kepadanya, Rifka juga mengatakan kalau ada pesan suara yang masuk dari Nindi. Awalnya Leon terlihat kesal dan malas sekali membukanya, tapi kemudian Leon pun terpaksa melihat pesan itu.


Selagi Leon mengecek pesan dari Nindi itu, Rifka pun mengambil alih Daiva untuk sementara dan menggendong gadis mungil itu. Rifka juga membawa Daiva menjauh dari sana, karena ia khawatir akan mengganggu Leon saat ini. Meski, Rifka sendiri tak tahu apa pesan suara yang diberikan Nindi kepada Leon.


Kini Leon membuka pesan dari istrinya itu dan menyetel rekaman suara yang Nindi berikan, ada rasa penasaran yang amat sangat di dalam dirinya sehingga Leon terpaksa melakukan itu. Padahal, Leon masih amat membenci Nindi setelah apa yang wanita itu lakukan padanya dan berkhianat di belakangnya dengan lelaki lain.


"Mas Leon, sekali lagi aku minta maaf sama kamu. Mungkin selama ini aku gak pernah bisa jadi istri yang baik untuk kamu, malahan aku lebih sering nyakitin kamu. Tapi aku mohon sama kamu mas, tolong jaga Daiva dengan baik! Jaga dia, dan jangan tinggalkan dia! Aku juga minta sama kamu, jangan beritahu pada Daiva mengenai siapa ibu kandungnya! Katakan saja ke dia, kalau mbak Rifka itulah ibunya! Yasudah mas, itu aja yang mau aku sampaikan ke kamu. Aku pergi dulu mas, i love you..."


Betapa terkejutnya Leon saat mendengar rekaman suara yang diberikan Nindi itu, entah mengapa tiba-tiba ia meneteskan air mata seolah merasakan kesedihan setelah mendengar langsung ucapan Nindi disana. Ia merasa heran, karena apa yang dikatakan Nindi seperti menunjukkan bahwa wanita itu hendak pergi untuk selamanya.


"Maksud Nindi apa sih? Kenapa dia bicara begini sama saya? Sebenarnya dia mau kemana sampai minta saya untuk tidak memberitahu Daiva kalau dia itu ibunya?" gumam Leon kebingungan.


Disaat yang sama, tanpa diduga Nadira menghubunginya dan membuat Leon terkejut bukan main. Tidak biasanya Nadira melakukan itu, bahkan kalau diingat-ingat jarang sekali Nadira mau menelpon ke nomornya seperti sekarang ini. Namun, Leon tetap mengangkatnya karena penasaran dan ingin tahu apa yang akan dibicarakan Nadira.


📞"Ha-halo bu Nadira! Ada apa ya?" ucap Leon dengan gugup di dalam telponnya.


📞"Ah iya Leon, halo juga! Begini, kamu udah dapat kabar belum mengenai istri kamu Nindi?" ucap Nadira sambil menahan sedihnya.


📞"Eee belum tuh bu, emangnya kenapa ya?" tanya Leon lagi.


📞"Kamu yang sabar ya Leon, ini barusan saya dapat kabar dari pihak kepolisian mengenai kecelakaan yang menimpa Nindi. Kalau kamu mau tahu kelanjutannya, kamu datang ya ke rumah sakit sekarang! Nanti saya shareloc ke kamu," ujar Nadira.


📞"A-apa bu? Nindi kecelakaan??" Leon terkejut bukan main, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka dengan lebar.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2