
"Hai Cyra!"
Disaat tengah berpelukan bersama sahabatnya, Cyra dibuat terkejut saat tiba-tiba Carlo muncul di depannya dan menyapanya begitu saja sambil tersenyum lebar. Sontak Cyra melepas pelukannya dan menyeka air matanya, Cyra juga membalas sapaan pria itu disertai senyuman manisnya.
"Eh iya kak, ada apa ya?" tanya Cyra sambil berusaha tetap tenang agar tak membuat pria itu curiga.
"Gak ada kok, aku cuma mau sapa kamu aja. Tadi aku gak sengaja lihat kamu lagi pelukan sama Rachel disini, terus aku ngerasa aneh waktu kamu sedih begitu. Kamu ada masalah ya?" ujar Carlo.
"Ah enggak, bukan begitu. Aku cuma pelukan biasa aja kok sama Rachel, ya kan?" elak Cyra.
"Bener tuh kak!" sahut Rachel.
Carlo menatap serius ke arah dua gadis itu, rasanya ia tak yakin jika Cyra dalam keadaan baik-baik saja kali ini. Tampak sekali dari raut wajahnya, Cyra seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan memiliki masalah yang besar. Akan tetapi, Cyra terlihat tidak ingin menceritakan semua itu padanya walau ia sangat penasaran.
"Yaudah, syukur deh kalau kamu gapapa. Sekarang ikut aku yuk ke kantin! Kamu mau kan temenin aku makan?" ucap Carlo.
Cyra terlihat bingung dan menatap wajah sohibnya untuk meminta saran darinya, tentu saja Rachel mengangguk memberi kode pada Cyra untuk menerima ajakan Carlo. Rachel seolah tahu apa yang dirasakan Carlo saat ini, karena tampak jelas memang kalau Carlo begitu menginginkan Cyra dan ingin gadis itu menjadi kekasihnya.
"Umm, aku mau-mau aja sih ikut sama kamu. Tapi, Rachel juga harus ikut. Aku gak mau kalau kita cuma pergi berdua, nanti yang ada pada salah paham," ucap Cyra.
"Oh gitu ya, jadi kamu mau aku ajak Rachel juga gitu?" tanya Carlo yang dijawab dengan anggukan kecil oleh Cyra.
Namun, Rachel tampak tidak setuju dengan usulan sahabatnya itu. Menurutnya, Cyra harus pergi seorang diri bersama Carlo ke kantin tanpa ada yang menemani. Rachel yakin sekali kalau Carlo pasti bisa membuat Cyra merasa tenang seperti semula, mengingat saat ini perasaan gadis itu sedang sangat kacau akibat memikirkan orangtuanya.
"Eh eh Cyra, gu-gue gak bisa. Gue juga udah makan tadi, sekarang masih kenyang lah. Mending lu aja deh sana yang pergi sama kak Carlo!" ucap Rachel.
"Loh Cel, kok gitu sih?" kesal Cyra.
Rachel tersenyum, "Iya Cyra, sorry ya? Gue gak bisa temenin lu, udah lu pergi aja berdua sama kak Carlo! Gue duluan ya, bye!" ucapnya.
"Loh loh, Rachel tunggu! Aku ikut kamu aja!" Cyra berteriak dan berusaha mengejar sahabatnya itu, tetapi Carlo dengan cepat mencekal lengannya.
Cyra sontak terkejut, lalu menatap ke arah cakep yang tampak tersenyum lebar memandangnya. Pria itu mencengkram kuat lengannya, membuat Cyra tidak bisa banyak bergerak. Kini Cyra pun pasrah untuk ikut bersama Carlo, karena tidak ada lagi yang dapat ia lakukan selain mengikuti kemauan pria itu.
"Cyra, ikut aja sama aku yuk! Aku traktir kamu deh di kantin," paksa Carlo.
"Eee i-i-iya deh..." Cyra terpaksa menuruti kemauan pria itu, meski sebenarnya ia masih merasa sedih dan tidak ingin pergi dengan siapapun.
Akhirnya Carlo dan Cyra pergi bersama-sama kali dengan kedua tangan mereka yang saling bertaut, namun di tengah jalan tiba-tiba saja Cyra menarik lepas tangannya dari genggaman Carlo karena tidak mau ada orang yang salah paham jika melihat mereka bergandengan tangan nantinya.
•
•
Di kantin, tanpa diduga Amar muncul menghampiri Cyra serta Carlo yang sedang terduduk dan bersiap menikmati makanan mereka. Sepertinya Amar sengaja ingin mengganggu momen berdua diantara mereka, sebab ia tidak suka melihat Cyra dekat dengan lelaki lain. Kini Amar langsung ikut duduk di samping Cyra, tak lupa ia juga menyapa gadis itu sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Cyra, kamu kok ke kantin gak bilang-bilang dulu sama aku? Harusnya kamu kasih tau ke aku dong, kan biar aku bisa temenin kamu," ucap Amar.
Carlo spontan menatap wajah Amar dengan ekspresi tidak suka, begitu juga yang dilakukan Cyra mengingat gadis itu sama sekali tak menyukai tindakan Amar yang selalu saja memaksanya. Padahal, sudah berulang kali Cyra meminta Amar untuk menjauh darinya. Namun, sampai saat ini Amar masih saja sering mengganggunya.
"Ehem ehem, lu gak lihat ada gue disini? Cyra udah ada yang nemenin kali, jadi lu gak perlu sok perduli sama dia! Lagian Cyra lebih suka pergi sama gue," tegur Carlo.
"Ck, emang lu siapanya Cyra? Gue rasa Cyra juga gak nyaman tuh sama lu," ujar Amar.
"Kata siapa? Emang lu bisa tebak isi hati orang, ha? Mending lu pergi deh, jangan ganggu Cyra!" sentak Carlo tampak emosi.
Amar menyeringai dan tidak semudah itu baginya untuk pergi dari sana, apalagi Amar sangat senang setiap kali ia berada di dekat Cyra karena ia menyukai gadis itu. Tentu saja Amar akan tetap berada disana, walau Carlo serta Cyra sama-sama memintanya untuk pergi.
"Gue gak mau, ini kan tempat umum. Jadi gue berhak dong buat ikut duduk disini?" ucap Amar.
"Oh iya lu berhak kok, tapi kita juga berhak usir lu kalau kita ngerasa gak nyaman sama keberadaan lu. Gue sama Cyra kan udah duluan duduk disini, jadi lu harusnya ngalah dong!" ucap Carlo.
"Kenapa kita gak barengan aja? Kalau berduaan itu biasanya yang ketiga setan loh," ucap Amar.
Carlo terkekeh, "Haha, ya berarti setannya lu dong. Kan lu orang ketiganya," ucapnya sambil menahan tawa.
Amar terdiam tanpa bisa menjawab, apa yang dikatakan Carlo telah membuatnya harus menahan malu di depan Cyra. Sontak Amar beranjak dari kursinya, lalu menatap sekilas ke arah Cyra sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Ya sepertinya Amar sudah tidak tahan lagi, karena Carlo telah membuatnya emosi.
"Nah gitu dong, bagus deh kalo lu nyadar. Lain kali jangan gangguin orang yang lagi berduaan ya, lu bisa jadi setan loh!" Carlo masih terus mengejeknya.
Carlo pun reflek menatap wajah Cyra di dekatnya, ia tersenyum dan meraih satu tangan gadis itu. Ia mengusapnya dengan lembut, lalu menggenggam telapak tangan Cyra yang terasa sangat halus. Bisa dibilang, Carlo amat menyukai setiap bagian tubuh gadis yang ada di sebelahnya itu.
"Gapapa, sekali-kali orang kayak dia itu perlu diberi pelajaran. Abisnya gak sopan banget main duduk di samping kita, padahal kan jelas-jelas tempat ini udah ditempatin sama kita," ucap Carlo.
"Iya kak, aku juga bingung kenapa Amar masih aja terus deketin aku. Padahal udah sering banget aku minta dia buat menjauh loh," ucap Cyra.
"Kamu tenang aja, mulai sekarang aku bakal terus jagain kamu kok! Siapapun itu, gak akan bisa deketin kamu. Jujur aku juga gak suka lihat cowok yang begitu itu," ucap Carlo.
Cyra mengangguk perlahan, "Makasih kak, tapi tangan aku lepasin dong!" ucapnya.
"Eh iya iya, maaf Cyra!" Carlo pun segera melepaskan tangan gadis itu sesuai permintaannya.
"Yaudah, kita makan yuk!" sambungnya.
Cyra setuju saja dengan ucapan pria itu, tanpa banyak bicara lagi Cyra segera menyantap makanan yang sudah ia pesan sedari tadi bersama Carlo. Rasanya ia bisa lebih tenang saat ini, karena berada di dekat Carlo merupakan sesuatu yang menyenangkan baginya.
•
•
Sementara itu, Tiara datang ke ruangan bosnya sesuai perintah. Tiara terlihat sedikit bingung, pasalnya tatapan Adrian saat ini menjurus begitu tajam ke arahnya dan tidak bisa berkedip sama sekali. Tiara pun terduduk di hadapan pria itu, ia mencoba bersikap tenang meski di dalam hatinya ia merasa sangat gugup dan ketakutan.
__ADS_1
"Permisi pak, ada apa ya bapak panggil saya?" tanya Tiara dengan gugup.
Bukannya menjawab, Adrian justru bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Tiara. Ia mengitari tubuh wanita itu sambil terus memberikan pandangan yang mengherankan. Hal itu membuat Tiara semakin tergugup, bahkan wanita itu sampai terus menunduk dan kesulitan menelan salivanya.
"Tidak ada kok Tiara, saya cuma mau tanya satu hal ke kamu. Apa kamu juga punya perasaan yang sama ke saya? Kamu cinta kan sama saya, Tiara?" ucap Adrian dengan serius.
Deg
Betapa syoknya Tiara mendengar kata-kata yang dilontarkan bosnya, ia tak menyangka kalau Adrian akan mengatakan itu kali ini. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai sosok pria yang sudah menikah? Apalagi, pria itu merupakan bosnya sendiri. Meski ia juga tak menampik, kalau dirinya pernah sempat tertarik pada ketampanan bosnya itu.
"Kenapa kamu diam Tiara? Saya butuh jawaban itu dari kamu sekarang, tolong kamu jawab dengan jujur!" ucap Adrian.
Tiara menggeleng, "Enggak pak, saya gak begitu kok. Mana bisa saya jatuh cinta dengan pria yang sudah beristri? Lagipula, saya belum bisa jatuh cinta lagi untuk saat ini," ucapnya mengelak.
"Kamu jangan bohong Tiara! Akui saja perasaan kamu itu, saya menginginkan jawaban yang lain dari kamu!" tegas Adrian.
"Tapi pak, saya sudah berkata dengan jujur. Saya tidak cinta dengan bapak, selama ini sikap yang saya tunjukkan semata-mata hanya karena saya menghormati bapak sebagai bos saya," ucap Tiara.
"Ayolah Tiara, katakan saja semuanya! Saya tahu isi hati kamu, pasti kamu cinta kan dengan saya!" ucap Adrian memaksa.
Tampaknya Adrian benar-benar menginginkan kalau Tiara juga mencintainya, karena hingga kini apa yang ia rasakan itu masih sama. Ya Adrian sangat mencintai Tiara, hanya saja keadaan lah yang memaksanya harus menikah dengan Salma dan terpaksa meninggalkan wanita itu.
"Pak, tolong jangan kayak gini!" pinta Tiara sembari beranjak dan ikut berdiri tegak.
Tanpa diduga, Adrian justru memeluk Tiara dan mendekapnya erat seolah tak mengizinkan wanita itu melepas pelukannya. Bahkan, Adrian juga menghirup aroma tubuh Tiara dan mengendus lehernya berkali-kali. Tiara mencoba berontak, tapi apa daya ia tak bisa melakukan apapun mengingat tenaganya kalah jauh dibanding bosnya itu.
"Pak, lepasin saya! Bapak apaan sih? Saya gak mau dianggap sebagai pelakor, saya juga gak mau ada yang salah paham nantinya!" ucap Tiara.
"Tiara, saya cinta sama kamu. Selama ini saya sudah berusaha membuang jauh-jauh perasaan itu, tapi saya gak bisa. Sekarang saya mohon sama kamu, menikahlah dengan saya! Kamu mau kan Tiara?" ucap Adrian di dalam pelukannya.
"A-apa??" Tiara sungguh terkejut, matanya terbelalak seketika seolah tak menyangka.
Ceklek
"Selamat siang sayang, ini aku bawain makan siang buat kam—"
Tiba-tiba saja, pintu dibuka dan Salma alias istri dari Adrian muncul disana dengan membawa rantang berisi makanan di tangannya. Namun, Salma dibuat terkejut saat melihat suaminya tengah berpelukan dengan Tiara disana. Ia sangat kecewa, jantungnya seolah berhenti berdetak dan dalam sekejap rantang itu pun terjatuh ke lantai.
Praanggg
"Salma??" Adrian reflek melepas pelukannya begitu mendengar suara sang istri, tapi semua terlambat karena Salma telah menyaksikan kejadian itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1